21 Februari 2016

Koran Versi Cetak & Digital

oleh Andy Rustam

Bangun pagi, saya keluar kamar, membuat secangkir kopi dan kemudian membaca surat kabar langganan saya (harian K). Kalau kebetulan loper koran berlangganan saya berhalangan datang, maka saya akan minta tolong pembantu saya untuk membeli koran, dari kios koran di pojok jalan.

Lalu tentu timbul pertanyaan, mengapa saya harus membaca koran langganan saya itu, padahal saya juga bisa mengetahui informasi dan berita dari sebuah berita favorit, yang selalu saya kunjungi website-nya dari waktu ke waktu (d.com)?

Lho mengapa pula tidak menjadikan website harian K saja sebagai sumber bacaan pagi hari sebagai pengganti surat kabar versi cetaknya, toch sama persis isinya?

Mengapa Koran Media Cetak

Mungkin penjelasan saya ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang seusia saya juga. Bagi generasi anak-anak saya yang sudah pada pertengahan usia 30th, mungkin sulit memahaminya. Kenapa masih mau susah-susah mengeluarkan uang untuk berlangganan surat kabar dan menunggu diantar oleh loper koran, padahal berita dan informasi yang sama dapat diperoleh di internet via smartphone, tanpa harus bayar dan tanpa perlu menunggu?!

Jawabannya adalah, buat saya, media cetak seperti Koran (dan juga Buku), adalah media yang paling tepat sebagai media informasi yang enak dibaca sambil santai, di saat yang sama mampu membuat kita berpikir, menganalisa persoalan, mengolah dan menyimpulkan dan akhirnya mengerti dan memahaminya. Hal seperti ini tidak dapat saya peroleh baik melalui televisi, radio, maupun website / internet. Ketika terjadi peristiwa teror “Bom Jl. Thamrin – Jakarta” pada suatu pagi di bulan yang lalu, betapa ramainya pemberitaan melalui website, radio dan televisi yang saya ikuti. Setiap detik selalu diperbaharui. Saya mengikuti hampir semua informasi dari semua media itu. Tetapi, sampai hari sudah jam 22:00 malam, tetap saja saya belum mendapatkan gambaran yang utuh tentang hal-hal yang terjadi dalam peristiwa itu. Mengenai berapa jumlah teroris-nya saja sampai malam hari, saya tidak mendapatkan informasi yang meyakinkan dari semua media. Juga saya tidak bisa mendapat bayangan tempat terjadinya peristiwa, padahal saya puluhan tahun dibesarkan di wilayah itu.

Baru keesokan paginya, ketika saya sudah membaca harian K sambil minum kopi, saya memperoleh gambaran dan informasi lengkap tentang jalannya peristiwa, termasuk berbagai uraian tentang latar belakang peristiwa. Mengapa demikian? Karena memang itulah karakter utama media cetak. Surat kabar memanglah media yang paling tepat untuk mengetahui Kenapa dan Bagaimana itu terjadi? Uraian-uraian yang panjang dan rinci di media cetak / koran ini tidak akan terasa mengganggu, hal mana justru akan sangat mengganggu kalau dilakukan via media TV, media radio maupun media website / internet.

Itu sebabnya saya tetap membeli dan membaca koran cetak.

Bilakah Saya Mengakses Media Digital?

Mungkin pertanyaannya menjadi begini, “Lalu kenapa tidak membuka smartphone atau tablet dan masuk ke web harian K versi digital saja? Bukankah isinya sama persis dengan versi media cetaknya?"

Untuk menjawab ini perlu diingat dulu bahwa smartphone itu hanya saya buka jika saya sedang memerlukan informasi sekarang (saat ini). Itu sebabnya saya sudah memprogram website d.com untuk menjadi media yang selalu saya buka kalau saya memerlukan informasi instant. Kalau di sana tidak ada, baru saya akan mencarinya di website lain via Google. Saya membuka website hanyalah kalau saya membutuhkan Apa, Siapa dan Ada Apa saat sekarang ini.

Itu sebabnya informasi yang saya butuhkan tentu harus tampil hanya dengan uraian yang terbatas atau pendek-pendek saja. Sebuah tulisan yang panjang lebar yang dimuat di sebuah website, cenderung untuk tidak dibaca. Belum lagi karena alasan teknis seperti tidak ada signal dan atau susah dibuka maupun untuk di download. Kalau yang biasa membeli pulsanya prabayar, kalau lama buka tentu akan banyak memakan pulsa. Membaca tulisan yang panjang di website (juga mendengar lagu atau menonton gambar via internet) akan memakan ongkos yang mahal, dibandingkan dengan kalau saya berlangganan surat kabar. Membaca tulisan yang panjang lebar di website, membuat mata saya cepat lelah, merah berair.

Jadi, kalau saja misalnya surat-kabar Harian K versi cetak tutup sama sekali (tidak terbit lagi), dan saya harus beralih ke Harian K versi digital, walau isinya sama sekalipun, maka kemungkinan besar saya tidak akan membacanya.

Sudah puluhan surat kabar ternama di dunia / media cetak yang tutup dan kemudian beralih ke media internet sejak 5 tahun yang lalu, dengan isi, format dan cara penulisan yang sama, tetapi jumlah pelanggan surat-kabar yang versi digital tidak pernah bisa menyamai jumlah pelanggan dari versi cetaknya.

Isi, Format, dan Cara Penulisan Sebaiknya Berubah

Menurut saya, jangan-jangan justru tidak merubah isi, format dan cara penulisan, sehingga sama persis dengan versi media cetaknya, justru itu yang membuat surat kabar versi digital tidak bisa mencapai jumlah pelanggan yang sama dengan versi media cetaknya, walau website sudah lama diluncurkan mendampingi surat kabar versi cetak.

Saya sangat menyukai ulasan-ulasan di harian K (cetak), analisa yang bagus-bagus, dan memilik dasar, ditulis oleh para pakar, menjadi alasan terkuat saya untuk tetap berlangganan. Melalui tulisan dan uraian yang panjang itu saya jadi dapat memahami suatu peristiwa, misalnya yang lagi hangat: “Kenapa sebaiknya UU-KPK dirubah dengan niat baik pemerintah (mumpung Presiden-nya punya niat baik juga, dan belum memiliki track record latar belakang yang buruk)”. Sebaliknya, saya juga jadi paham kenapa masyarakat khawatir kalau UU dirubah, dan dengan jelas terlihat juga bagaimana parpol yang memilik track record buruk pun ikut-ikut secara oportunistis menolak sehingga seolah-olah jadi pro rakyat. Dari membaca tulisan-tulisan di harian K versi cetak saya bisa berpikir, mencerna dan memahami.

Tetapi ketika uraian-uraian ini akan dimuat di website, maka sebaiknya harus disesuaikan dengan kebiasaan pembaca yang umumnya mengakses internet via smartphone, yaitu: ulasan-ulasan dibuat versi pendek-pendek saja, namun tetap mampu membangun pemahaman yang sama dipikiran pembacanya. Ukuran font hurufnya juga mungkin harus dirubah, jangan persis seperti font huruf di versi cetaknya, dibuat lebih besar dan lebih berjarak, agar mudah dibaca via smartphone.

Kesimpulan atau intisari tulisan ini adalah, bahwa media digital internet adalah sebuah media dengan karakter uniknya sendiri. Dia bukan televisi (walau sama-sama punya gambar dan suara), dia bukan juga Koran (walau sama-sama ada tulisan dan foto), dia bukan juga Radio (walau sama-sama memiliki suara dan bunyi). Peralihan atau penggabungan untuk menjadi media yang akan diakses via internet tidak bisa seperti semudah mengganti sarana penyalur-nya saja. (arm)

Tidak ada komentar: