oleh Andy Rustam
Ketika memberikan pelatihan atau seminar yang terkait dengan komunikasi, selalu saja saya tekankan hal yang paling penting: “Bukankah yang paling terpenting dari komunikasi, adalah agar pendengar anda termodifikasi merespon sesuai dengan maksud Anda?” Memang itulah esensi komunikasi. Untuk bisa berkomunikasi dengan efektif, artinya agar pendengar merespon dengan baik apa yang Anda katakan, tentu banyak prasyarat dan syaratnya. Tetapi yang terpenting dan paling sulit diubah itu adalah kredibilitas si pembicara. Menurut kamus Webster, kredibilitas adalah sebuah kualitas diri (seseorang atau sesuatu) sehingga layak dipercaya atau bisa dipercaya. Kredibilitas tidaklah dapat dibentuk dalam sekejap, dan apabila sekali sudah terbentuk akan sulit dirubah.
Contoh 1:
Pada pilpres tahun 2014 yang lalu kita lihat ada beberapa pimpinan parpol yang mencalonkan diri untuk jadi Presiden RI. Dulu pimpinan parpol ini, ketika masih di jaman rezim orde baru, banyak mendapatkan “perlakuan istimewa”, karena memiliki hubungan khusus dengan Pak Harto. Oleh sebab itulah, selama era orde baru, mereka banyak mengumpulkan kekayaan yang berlimpah. Bermodalkan dana yang berlimpah, di era reformasi sekarang, mereka yakin bahwa mereka akan memenangkan pilpres, karena mampu mendanai kampanye secara besar-besaran, termasuk membuat surat-kabar dan website penebar fitnah. Selaku capres mereka berkampanye dan berpidato di hadapan rakyat yang rata-rata isinya sebuah janji: “Akan memberantas KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme); Akan memperjuangkan kepentingan rakyat!”
Lalu masalahnya apakah mereka pikir dengan cara berpidato / berkomunikasi massa seperti itu, akan membuat rakyat termodifikasi dan memilih dia sebagai Presiden?! Bukankah hampir seluruh rakyat sudah tahu kredibilitas capres-capres tersebut? Bagaimana mungkin orang yang sepanjang kehidupannya hidup mewah dari KKN, akan mau memberantas KKN??? Sejarah akhirnya membuktikan bahwa Joko Widodo, seseorang yang pernah menjabat sebagai walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba terpilih menjadi Presiden RI. Padahal gaya berkomunikasi beliau sama sekali tidak istimewa. Tetapi kredibilitas beliaulah yang membawanya untuk dipercaya mayoritas rakyat mengemban jabatan tertinggi di negeri ini.
Contoh 2:
Pada suatu hari saya sedang berjalan di sebuah Mall. Di Cafe H terlihat layar televisi besar dan terdengar suara seseorang sedang berdebat. Saya tidak melihatnya, cuma mendengar suaranya saja. Sesampainya di cafe tersebut, saya bertanya kepada waiter: “Siapa sih itu yang sedang berbicara berisik begitu?”, lalu si waiter menyebut nama seseorang, ternyata dia adalah orang yang sudah saya ketahui reputasinya (saya kenal pribadi) sebagai orang yang tidak jujur, sedang berdebat dalam suatu acara talk-show. Reaksi saya kemudian adalah: “Tolong matikan saja televisinya mas, atau kecilin suaranya. Berisik!”. Dalam hati saya, buat apa saya menghabiskan waktu mendengarkan orang yang walaupun ucapan-ucapannya terdengar seolah-olah baik, tapi kita tahu bahwa yang berbicara itu orang yang kredibilitasnya tidak baik?!
Memilih Narasumber sebuah Talk Show
Melihat kedua contoh diatas, jelas sekali kalau faktor kredibiltas si Pembicara adalah yang terpenting bagi penonton untuk mau mendengar perkataannya, jauh sebelum satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Sayangnya sekarang ini, reputasi dan kredibilitas sepertinya tidak lagi menjadi standar. Dalam suatu acara talk-show misalnya, televisi swasta sering sekali menjadikan seseorang sebagai narasumber bukan dengan persyaratan “kredibilitas”-nya, melainkan justru dicari orang-orang yang “kontroversiel”. Tujuannya tentu agar talk-show tersebut menjadi “seru”, dan apalagi kalau bukan rating yang menjadi tujuan. Memang mungkin seru bagi orang-orang / penonton yang suka menonton orang berdebat kusir. Tetapi bagi penonton yang ingin bertambah ilmunya maka talk-show seperti ini tidak akan bermanfaat sama sekali.
Pilgub DKI Jakarta
Menjelang Pilkada DKI, bisa kita lihat bagaimana para cagub mulai berbicara seolah-olah baik. Sebagaimana kita tahu gubernur DKI Jakarta Bp. Basuki Cahya Purnama (Ahok), dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, adalah seorang pemimpin yang tegas dalam menegakkan hukum yang selama ini sering menjadi permainan para oknum anggota DPRD DKI Jakarta dan oknum pejabat Pemda DKI Jakarta. Mirip ketegasan gubernur DKI legendaris almarhum Bp. Ali Sadikin. Warga DKI Jakarta merasakan benar bahwa Pak Ahok bekerja untuk masyarakat DKI Jakarta dengan sungguh-sungguh, walaupun hasil maksimalnya belum dapat dirasakan merata. Proses pembangunannya terasa benar sedang berjalan, halmana tak kita rasakan selama 15 tahun terakhir ini. Pembangunan DKI yang saya rasakan sebelumnya hanyalah menitikberatkan pada pembangunan mall dan apartemen mewah. Etos bekerja dengan sungguh-sungguh, berpegang pada prinsip-prinsip moral universal yang tinggi, inilah yang membentuk reputasi dan kredibilitas Gubernur Basuki Cahya Purnama. Oleh karena itu kalau pak Ahok yang berbicara, rakyat mendengar dan merespons sesuai apa yang dikatakannya. Terus sekarang belakangan ini, datanglah tiba-tiba cagub-cagub yang bicara seolah-olah membela rakyat, dengan kalimat-kalimat seperti: “Harusnya sebelum menggusur warga Kalijodo, diadakan dulu dialog”; “Ahok harus bicara yang lebih sopan”; “Soal Kalijodo, Ahok jangan lebay” dsb. dsb. Pendek kata mereka hendak mengganggu kredibilitas Pak Ahok, mereka berusaha mengganggu tingkat kepercayaan warga Jakarta kepada Ahok dengan menampilkan issue, ras, agama, dan memanfaatkan para pelanggar hukum dengan cara seolah-olah bersimpati dengan nasibnya. Masalahnya sekarang, bisakah mereka mengganggu kredibiltas Pak Ahok, sementara reputasi dan kredibilitasnya sendiri juga tidak terlalu bagus-bagus amat. Sebuah kredibilitas yang bagus dari seorang pembicara, akan merupakan senjata terbaiknya, sehingga komunikasi mereka akan bisa lebih efektif.
Apakah Rakyat Bisa Terjebak Komunikasi yang Menipu?
Kalau pertanyaannya seperti ini, jawabannya tentu bisa. Apabila ada 3 orang yang sama-sama tidak dikenal berbicara sama, yaitu hendak berjuang bagi rakyat, maka dalam keadaan seperti ini, rakyat bisa tertipu. Terutama segolongan masyarakat yang intelektualitasnya kurang, sehingga mudah terseret hal-hal yang tidak logis yang sifatnya hanya retorika dan provokasi emosi. Makanya ada kalimat bijak: “Don’t talk to strangers”. Namun dalam era digital sekarang ini, dimana akses terhadap informasi sudah sedemikian mudah, komunikasi antar warga pun sudah tidak memiliki halangan lagi, maka informasi tentang kredibiltas seseorang tidak bisa lagi disembunyikan. Sudah banyak orang yang dikenal sebagai artis terbongkar belangnya dan hancur kredibilitasnya terbongkar oleh televisi dan internet. Beberapa kali malah orang-orang yang beratribut ustad, lengkap dengan sarung, kalung tasbih, keningnya hitam, berpeci putih dan berjenggot, dengan gaya bicara seolah-olah mewakili Tuhan di dunia, padahal perilakunya sangat bertentangan dengan pribadi Nabi SAW, sehingga akhirnya terpaksa berurusan dengan Polisi. Kisah penangkapannya malah disiarkan di televisi dan di upload di you tube. Maluuu.......
Nah di jaman sekarang ini, yang diperlukan hanyalah tinggal kewaspadaan kita saja ketika mendengarkan seseorang berbicara, jangan mudah percaya. Periksa dulu agar tidak terkecoh dalam menilai kredibilitas seseorang hanya dari gaya bicara dan penampilannya sesaat. (arm)
Ketika memberikan pelatihan atau seminar yang terkait dengan komunikasi, selalu saja saya tekankan hal yang paling penting: “Bukankah yang paling terpenting dari komunikasi, adalah agar pendengar anda termodifikasi merespon sesuai dengan maksud Anda?” Memang itulah esensi komunikasi. Untuk bisa berkomunikasi dengan efektif, artinya agar pendengar merespon dengan baik apa yang Anda katakan, tentu banyak prasyarat dan syaratnya. Tetapi yang terpenting dan paling sulit diubah itu adalah kredibilitas si pembicara. Menurut kamus Webster, kredibilitas adalah sebuah kualitas diri (seseorang atau sesuatu) sehingga layak dipercaya atau bisa dipercaya. Kredibilitas tidaklah dapat dibentuk dalam sekejap, dan apabila sekali sudah terbentuk akan sulit dirubah.
Contoh 1:
Pada pilpres tahun 2014 yang lalu kita lihat ada beberapa pimpinan parpol yang mencalonkan diri untuk jadi Presiden RI. Dulu pimpinan parpol ini, ketika masih di jaman rezim orde baru, banyak mendapatkan “perlakuan istimewa”, karena memiliki hubungan khusus dengan Pak Harto. Oleh sebab itulah, selama era orde baru, mereka banyak mengumpulkan kekayaan yang berlimpah. Bermodalkan dana yang berlimpah, di era reformasi sekarang, mereka yakin bahwa mereka akan memenangkan pilpres, karena mampu mendanai kampanye secara besar-besaran, termasuk membuat surat-kabar dan website penebar fitnah. Selaku capres mereka berkampanye dan berpidato di hadapan rakyat yang rata-rata isinya sebuah janji: “Akan memberantas KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme); Akan memperjuangkan kepentingan rakyat!”
Lalu masalahnya apakah mereka pikir dengan cara berpidato / berkomunikasi massa seperti itu, akan membuat rakyat termodifikasi dan memilih dia sebagai Presiden?! Bukankah hampir seluruh rakyat sudah tahu kredibilitas capres-capres tersebut? Bagaimana mungkin orang yang sepanjang kehidupannya hidup mewah dari KKN, akan mau memberantas KKN??? Sejarah akhirnya membuktikan bahwa Joko Widodo, seseorang yang pernah menjabat sebagai walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, tiba-tiba terpilih menjadi Presiden RI. Padahal gaya berkomunikasi beliau sama sekali tidak istimewa. Tetapi kredibilitas beliaulah yang membawanya untuk dipercaya mayoritas rakyat mengemban jabatan tertinggi di negeri ini.
Contoh 2:
Pada suatu hari saya sedang berjalan di sebuah Mall. Di Cafe H terlihat layar televisi besar dan terdengar suara seseorang sedang berdebat. Saya tidak melihatnya, cuma mendengar suaranya saja. Sesampainya di cafe tersebut, saya bertanya kepada waiter: “Siapa sih itu yang sedang berbicara berisik begitu?”, lalu si waiter menyebut nama seseorang, ternyata dia adalah orang yang sudah saya ketahui reputasinya (saya kenal pribadi) sebagai orang yang tidak jujur, sedang berdebat dalam suatu acara talk-show. Reaksi saya kemudian adalah: “Tolong matikan saja televisinya mas, atau kecilin suaranya. Berisik!”. Dalam hati saya, buat apa saya menghabiskan waktu mendengarkan orang yang walaupun ucapan-ucapannya terdengar seolah-olah baik, tapi kita tahu bahwa yang berbicara itu orang yang kredibilitasnya tidak baik?!
Memilih Narasumber sebuah Talk Show
Melihat kedua contoh diatas, jelas sekali kalau faktor kredibiltas si Pembicara adalah yang terpenting bagi penonton untuk mau mendengar perkataannya, jauh sebelum satu patah kata pun keluar dari mulutnya. Sayangnya sekarang ini, reputasi dan kredibilitas sepertinya tidak lagi menjadi standar. Dalam suatu acara talk-show misalnya, televisi swasta sering sekali menjadikan seseorang sebagai narasumber bukan dengan persyaratan “kredibilitas”-nya, melainkan justru dicari orang-orang yang “kontroversiel”. Tujuannya tentu agar talk-show tersebut menjadi “seru”, dan apalagi kalau bukan rating yang menjadi tujuan. Memang mungkin seru bagi orang-orang / penonton yang suka menonton orang berdebat kusir. Tetapi bagi penonton yang ingin bertambah ilmunya maka talk-show seperti ini tidak akan bermanfaat sama sekali.
Pilgub DKI Jakarta
Menjelang Pilkada DKI, bisa kita lihat bagaimana para cagub mulai berbicara seolah-olah baik. Sebagaimana kita tahu gubernur DKI Jakarta Bp. Basuki Cahya Purnama (Ahok), dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, adalah seorang pemimpin yang tegas dalam menegakkan hukum yang selama ini sering menjadi permainan para oknum anggota DPRD DKI Jakarta dan oknum pejabat Pemda DKI Jakarta. Mirip ketegasan gubernur DKI legendaris almarhum Bp. Ali Sadikin. Warga DKI Jakarta merasakan benar bahwa Pak Ahok bekerja untuk masyarakat DKI Jakarta dengan sungguh-sungguh, walaupun hasil maksimalnya belum dapat dirasakan merata. Proses pembangunannya terasa benar sedang berjalan, halmana tak kita rasakan selama 15 tahun terakhir ini. Pembangunan DKI yang saya rasakan sebelumnya hanyalah menitikberatkan pada pembangunan mall dan apartemen mewah. Etos bekerja dengan sungguh-sungguh, berpegang pada prinsip-prinsip moral universal yang tinggi, inilah yang membentuk reputasi dan kredibilitas Gubernur Basuki Cahya Purnama. Oleh karena itu kalau pak Ahok yang berbicara, rakyat mendengar dan merespons sesuai apa yang dikatakannya. Terus sekarang belakangan ini, datanglah tiba-tiba cagub-cagub yang bicara seolah-olah membela rakyat, dengan kalimat-kalimat seperti: “Harusnya sebelum menggusur warga Kalijodo, diadakan dulu dialog”; “Ahok harus bicara yang lebih sopan”; “Soal Kalijodo, Ahok jangan lebay” dsb. dsb. Pendek kata mereka hendak mengganggu kredibilitas Pak Ahok, mereka berusaha mengganggu tingkat kepercayaan warga Jakarta kepada Ahok dengan menampilkan issue, ras, agama, dan memanfaatkan para pelanggar hukum dengan cara seolah-olah bersimpati dengan nasibnya. Masalahnya sekarang, bisakah mereka mengganggu kredibiltas Pak Ahok, sementara reputasi dan kredibilitasnya sendiri juga tidak terlalu bagus-bagus amat. Sebuah kredibilitas yang bagus dari seorang pembicara, akan merupakan senjata terbaiknya, sehingga komunikasi mereka akan bisa lebih efektif.
Apakah Rakyat Bisa Terjebak Komunikasi yang Menipu?
Kalau pertanyaannya seperti ini, jawabannya tentu bisa. Apabila ada 3 orang yang sama-sama tidak dikenal berbicara sama, yaitu hendak berjuang bagi rakyat, maka dalam keadaan seperti ini, rakyat bisa tertipu. Terutama segolongan masyarakat yang intelektualitasnya kurang, sehingga mudah terseret hal-hal yang tidak logis yang sifatnya hanya retorika dan provokasi emosi. Makanya ada kalimat bijak: “Don’t talk to strangers”. Namun dalam era digital sekarang ini, dimana akses terhadap informasi sudah sedemikian mudah, komunikasi antar warga pun sudah tidak memiliki halangan lagi, maka informasi tentang kredibiltas seseorang tidak bisa lagi disembunyikan. Sudah banyak orang yang dikenal sebagai artis terbongkar belangnya dan hancur kredibilitasnya terbongkar oleh televisi dan internet. Beberapa kali malah orang-orang yang beratribut ustad, lengkap dengan sarung, kalung tasbih, keningnya hitam, berpeci putih dan berjenggot, dengan gaya bicara seolah-olah mewakili Tuhan di dunia, padahal perilakunya sangat bertentangan dengan pribadi Nabi SAW, sehingga akhirnya terpaksa berurusan dengan Polisi. Kisah penangkapannya malah disiarkan di televisi dan di upload di you tube. Maluuu.......
Nah di jaman sekarang ini, yang diperlukan hanyalah tinggal kewaspadaan kita saja ketika mendengarkan seseorang berbicara, jangan mudah percaya. Periksa dulu agar tidak terkecoh dalam menilai kredibilitas seseorang hanya dari gaya bicara dan penampilannya sesaat. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar