oleh Andy Rustam
Banyak boss-boss besar yang ketika tahun ’80 - ’90-an berusia 45 tahunan, pada tahun-tahun sekarang ini usianya sudah sekitar 65 - 70 tahunan. Kenyataannya sampai sekarang para “Old Schools” ini masih duduk di singgasana puncak setiap organisasi bisnis, dan organisasi-organisasi lain (termasuk parpol). Memang ada yang gayanya seperti menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda, tetapi itu cuman kamuflase saja. Karena sebenarnya, tetap saja Old School inilah yang mengatur dan mengambil keputusan bagi organisasinya. Entahlah namanya sebagai Komisaris Utama, Ketua Dewan Penasehat, Ketua Dewan Pembina, Share-holder terbesar dsb. dsb. Di lain pihak, memang ada kekhawatiran kalau sepenuhnya organisasi diserahkan kepada generasi yang lebih muda, kemungkinan bisa saja apa yang dicita-citakan oleh si Boss tua itu langsung bergeser menyimpang ke arah lain.
Tiga Kelebihan Old Schools?
(1) Mereka orang-orang yang mempunyai banyak sekali pengalaman. Harus diakui, ketika mereka masih muda, mereka benar-benar banyak memiliki ide-ide segar, antusiasme dan tenaga yang tidak mengenal lelah untuk mewujudkannya, sehingga lahirlah organisasi yang sekarang tumbuh berkembang menjadi besar di bawah kepemimpinannya.
Selain itu, para old schools ini juga, (2) memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, sehingga bisa lebih matang dalam mengambil keputusan atau memecahkan persoalan.
(3) Mereka sangat menguasai prinsip-prinsip ilmu dan prinsip-prinsip spiritual yang diyakininya menjadi pondasi dari kesuksesannya.
Tiga Kekurangan Old Schools?
(1) Mereka selalu merasa paling benar. Karena memang fakta yang tak terbantahkan, organisasi / perusahaan ini lahir dan tumbuh berkembang dengan adanya mereka. Tetapi yang mereka lupa bahwa, sekarang situasi dan kondisi jamannya sudah berbeda. Sehingga apapun yang dahulunya terdengar hebat dan bisa sukses dilaksanakan, sekarang ini tidak mempunyai arti apa-apa, tidak hebat sama-sekali, malah kemungkinan gagalnya lebih besar. Tapi kalau dikasih tahu bahwa dia memiliki kekurangan sedikit saja, langsung deh “tersinggung”, ngambek. Ngomel atau nyindir-nyindir.
(2) Para old schools ini sudah pasti “gaptek”. Buat mereka, teknologi informasi dan era digital adalah era yang membingungkan. Untuk bisa memakai smartphone-nya saja, mereka selalu membutuhkan bantuan anaknya atau anak-buahnya yang muda-muda. Tetapi karena mereka gaptek, tingkat terpesonanya juga besar sekali pada apa-apa yang berbau digital. Sedikit saja ada sesuatu yang baru terkait aplikasi, langsung merasa kagum dan bangga dan dianggapnya itu sesuatu yang hebat. Dia tidak tahu, bahwa applikasi itu tidak canggih sama sekali, sistim-operasi yang digunakan pun masih menggunakan sistim operasi model kuno. Tetapi karena mudah terpesona, langsung saja dia beli, padahal tidak ada gunanya. Perusahaan terpaksa menampung barang kedaluwarsa.
(3) Paradigma lama yang terbentuk pada waktu mereka masih muda, tetap saja masih dipegang, keukeuh, dan mereka ingin orang lain berpikir dan bertindak sesuai paradigmanya yang sudah ketinggalan jaman itu. Mereka memiliki kekhawatiran yang berlebihan kalau ada pendapat berbeda dari apa yang ada di pikirannya.
Situasi Sekarang
Situasi dan keadaan seperti inilah yang umumnya sedang terjadi di negara kita ini. Anak-anak muda dengan pemikiran “fresh / segar” mau bergerak maju tapi terhambat oleh para “old schools” yang masih saja bercokol disana. Anak-anak muda memiliki gagasan-gagasan baru, baik di bidang politik, sosial dan ekonomi, tapi selalu terganjal. Susah dapat support. Pemimpin organisasi / parpol atau institusi yang tidak bisa move on dari jamannya merasa tetap yang paling hebat. Cara-cara baru dan gagasan baru dari orang yang lebih muda selalu dianggap sebagai sesuatu yang “salah”.
Tetapi memang harus diakui, bahwa para anak-anak muda era digital ini selain memiliki kehebatan, gagasan, dan antusiasme yang tinggi untuk berbuat sesuatu, mereka juga memiliki kekurangan yang prinsipil.
Kekurangan itu adalah, walaupun sekarang ini semua serba digital, semua serba cepat / instant, tetapi tidak berarti semuanya harus seperti itu. Tidak berarti semuanya bisa didigitalisasi, tidak semuanya bisa diukur dengan indikator ala digital. Tidak semua ada algoritma-nya yang dapat diubah jadi sebuah aplikasi. Tidak semua kalau sudah digital berarti akan hebat dan laku / laris. Ada banyak hal di dunia ini yang sifatnya prinsipiel, dan itu tidak bisa dinafikan begitu saja, hanya karena dunia sudah menjadi digital. Misal: Kalau seandainya Anda mau berbisnis, maka prinsip seperti “produk anda haruslah produk yang memang diingini & dibutuhkan oleh pasar”. Prinsip ini tidak bisa dihilangkan begitu saja atau diganti hanya dikarenakan toko anda sekarang sudah jadi toko online.
Hari Kamis yang lalu, seorang anak muda yang jago programming aplikasi bilang kepada saya bahwa dia dan temannya akan membuka restoran / cafe yang serba online. Dia sudah membuat aplikasi canggih, sehingga orang-orang yang mau datang ke restoran-nya, bisa pesan menu-nya terlebih dahulu, bisa memesan meja-nya terlebih dahulu dsb., dengan demikian si tamu tidak perlu menunggu pesanannya keluar terlalu lama.
Lalu saya di dalam hati bilang begini: “... mau buka restoran kok yang dipikirkan malah membuat aplikasi untuk menu dan reservasi tempat????“
Bukankah kalau mau buka restoran yang seharusnya pertama kali dipikirkan adalah, apakah masakan / sajian makanannya sesuai dengan selera konsumen atau tidak? Lalu siapa chef-nya yang bisa membuat makanan-makanan enak itu? Di mana lokasi restoran tersebut? dsb. dsb.
Tentu saja saya mengerenyitkan kening mendengarkan penjelasan si anak muda tentang aplikasinya tersebut. Melihat itu eh dia malah bertanya: “Oh belom ngerti ya Om?” Lalu dia mengambil iPad-nya dan memberikan contoh bagaimana aplikasinya bekerja. OMG!
Si anak muda itu tidak memahami, bahwa yang membuat saya (yang juga termasuk Old School ini) mengerenyitkan kening itu bukan karena software / aplikasi yang dia buat itu, melainkan kok cara berpikirnya “aneh”. Seolah-olah digital software itulah yang menentukan suksesnya sebuah bisnis restoran.
Sebaliknya si anak muda itu melihat saya sebagai “huh dasar old school , ngga ngerti-ngerti, gaptek, kuno!“
Dari kejadian tersebut di atas bisa kita pahami mengapa sekarang ini sering terjadi sebuah “singgungan” antara orang-orang tua old schools itu dengan generasi muda. Sebenarnya sungguh sangat disayangkan. Padahal kalau saja semua pihak, baik Old Schools maupun generasi muda lebih banyak bisa bekerja-sama dengan saling mengakui kekurangan masing-masing dan masing-masing pula saling mengisi dan mendukung dengan kelebihan yang dimiliki... wah dalam 10 tahun saja... Jayalah Indonesiaku! (arm)
Banyak boss-boss besar yang ketika tahun ’80 - ’90-an berusia 45 tahunan, pada tahun-tahun sekarang ini usianya sudah sekitar 65 - 70 tahunan. Kenyataannya sampai sekarang para “Old Schools” ini masih duduk di singgasana puncak setiap organisasi bisnis, dan organisasi-organisasi lain (termasuk parpol). Memang ada yang gayanya seperti menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda, tetapi itu cuman kamuflase saja. Karena sebenarnya, tetap saja Old School inilah yang mengatur dan mengambil keputusan bagi organisasinya. Entahlah namanya sebagai Komisaris Utama, Ketua Dewan Penasehat, Ketua Dewan Pembina, Share-holder terbesar dsb. dsb. Di lain pihak, memang ada kekhawatiran kalau sepenuhnya organisasi diserahkan kepada generasi yang lebih muda, kemungkinan bisa saja apa yang dicita-citakan oleh si Boss tua itu langsung bergeser menyimpang ke arah lain.
Tiga Kelebihan Old Schools?
(1) Mereka orang-orang yang mempunyai banyak sekali pengalaman. Harus diakui, ketika mereka masih muda, mereka benar-benar banyak memiliki ide-ide segar, antusiasme dan tenaga yang tidak mengenal lelah untuk mewujudkannya, sehingga lahirlah organisasi yang sekarang tumbuh berkembang menjadi besar di bawah kepemimpinannya.
Selain itu, para old schools ini juga, (2) memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas, sehingga bisa lebih matang dalam mengambil keputusan atau memecahkan persoalan.
(3) Mereka sangat menguasai prinsip-prinsip ilmu dan prinsip-prinsip spiritual yang diyakininya menjadi pondasi dari kesuksesannya.
Tiga Kekurangan Old Schools?
(1) Mereka selalu merasa paling benar. Karena memang fakta yang tak terbantahkan, organisasi / perusahaan ini lahir dan tumbuh berkembang dengan adanya mereka. Tetapi yang mereka lupa bahwa, sekarang situasi dan kondisi jamannya sudah berbeda. Sehingga apapun yang dahulunya terdengar hebat dan bisa sukses dilaksanakan, sekarang ini tidak mempunyai arti apa-apa, tidak hebat sama-sekali, malah kemungkinan gagalnya lebih besar. Tapi kalau dikasih tahu bahwa dia memiliki kekurangan sedikit saja, langsung deh “tersinggung”, ngambek. Ngomel atau nyindir-nyindir.
(2) Para old schools ini sudah pasti “gaptek”. Buat mereka, teknologi informasi dan era digital adalah era yang membingungkan. Untuk bisa memakai smartphone-nya saja, mereka selalu membutuhkan bantuan anaknya atau anak-buahnya yang muda-muda. Tetapi karena mereka gaptek, tingkat terpesonanya juga besar sekali pada apa-apa yang berbau digital. Sedikit saja ada sesuatu yang baru terkait aplikasi, langsung merasa kagum dan bangga dan dianggapnya itu sesuatu yang hebat. Dia tidak tahu, bahwa applikasi itu tidak canggih sama sekali, sistim-operasi yang digunakan pun masih menggunakan sistim operasi model kuno. Tetapi karena mudah terpesona, langsung saja dia beli, padahal tidak ada gunanya. Perusahaan terpaksa menampung barang kedaluwarsa.
(3) Paradigma lama yang terbentuk pada waktu mereka masih muda, tetap saja masih dipegang, keukeuh, dan mereka ingin orang lain berpikir dan bertindak sesuai paradigmanya yang sudah ketinggalan jaman itu. Mereka memiliki kekhawatiran yang berlebihan kalau ada pendapat berbeda dari apa yang ada di pikirannya.
Situasi Sekarang
Situasi dan keadaan seperti inilah yang umumnya sedang terjadi di negara kita ini. Anak-anak muda dengan pemikiran “fresh / segar” mau bergerak maju tapi terhambat oleh para “old schools” yang masih saja bercokol disana. Anak-anak muda memiliki gagasan-gagasan baru, baik di bidang politik, sosial dan ekonomi, tapi selalu terganjal. Susah dapat support. Pemimpin organisasi / parpol atau institusi yang tidak bisa move on dari jamannya merasa tetap yang paling hebat. Cara-cara baru dan gagasan baru dari orang yang lebih muda selalu dianggap sebagai sesuatu yang “salah”.
Tetapi memang harus diakui, bahwa para anak-anak muda era digital ini selain memiliki kehebatan, gagasan, dan antusiasme yang tinggi untuk berbuat sesuatu, mereka juga memiliki kekurangan yang prinsipil.
Kekurangan itu adalah, walaupun sekarang ini semua serba digital, semua serba cepat / instant, tetapi tidak berarti semuanya harus seperti itu. Tidak berarti semuanya bisa didigitalisasi, tidak semuanya bisa diukur dengan indikator ala digital. Tidak semua ada algoritma-nya yang dapat diubah jadi sebuah aplikasi. Tidak semua kalau sudah digital berarti akan hebat dan laku / laris. Ada banyak hal di dunia ini yang sifatnya prinsipiel, dan itu tidak bisa dinafikan begitu saja, hanya karena dunia sudah menjadi digital. Misal: Kalau seandainya Anda mau berbisnis, maka prinsip seperti “produk anda haruslah produk yang memang diingini & dibutuhkan oleh pasar”. Prinsip ini tidak bisa dihilangkan begitu saja atau diganti hanya dikarenakan toko anda sekarang sudah jadi toko online.
Hari Kamis yang lalu, seorang anak muda yang jago programming aplikasi bilang kepada saya bahwa dia dan temannya akan membuka restoran / cafe yang serba online. Dia sudah membuat aplikasi canggih, sehingga orang-orang yang mau datang ke restoran-nya, bisa pesan menu-nya terlebih dahulu, bisa memesan meja-nya terlebih dahulu dsb., dengan demikian si tamu tidak perlu menunggu pesanannya keluar terlalu lama.
Lalu saya di dalam hati bilang begini: “... mau buka restoran kok yang dipikirkan malah membuat aplikasi untuk menu dan reservasi tempat????“
Bukankah kalau mau buka restoran yang seharusnya pertama kali dipikirkan adalah, apakah masakan / sajian makanannya sesuai dengan selera konsumen atau tidak? Lalu siapa chef-nya yang bisa membuat makanan-makanan enak itu? Di mana lokasi restoran tersebut? dsb. dsb.
Tentu saja saya mengerenyitkan kening mendengarkan penjelasan si anak muda tentang aplikasinya tersebut. Melihat itu eh dia malah bertanya: “Oh belom ngerti ya Om?” Lalu dia mengambil iPad-nya dan memberikan contoh bagaimana aplikasinya bekerja. OMG!
Si anak muda itu tidak memahami, bahwa yang membuat saya (yang juga termasuk Old School ini) mengerenyitkan kening itu bukan karena software / aplikasi yang dia buat itu, melainkan kok cara berpikirnya “aneh”. Seolah-olah digital software itulah yang menentukan suksesnya sebuah bisnis restoran.
Sebaliknya si anak muda itu melihat saya sebagai “huh dasar old school , ngga ngerti-ngerti, gaptek, kuno!“
Dari kejadian tersebut di atas bisa kita pahami mengapa sekarang ini sering terjadi sebuah “singgungan” antara orang-orang tua old schools itu dengan generasi muda. Sebenarnya sungguh sangat disayangkan. Padahal kalau saja semua pihak, baik Old Schools maupun generasi muda lebih banyak bisa bekerja-sama dengan saling mengakui kekurangan masing-masing dan masing-masing pula saling mengisi dan mendukung dengan kelebihan yang dimiliki... wah dalam 10 tahun saja... Jayalah Indonesiaku! (arm)
2 komentar:
Sangat mencerahkan ! inilah yg sedang terjadi....ijim share mas Andi
Silahkan mas Agus
Posting Komentar