oleh Andy Rustam
Pada kesempatan Java Jazz Maret 2016 yang lalu, saya berkesempatan menonton live-show-nya STING yang didahului oleh jazz trumpetist Chris Botti. Kebetulan beberapa hari sebelum itu juga saya sempat menonton live-show seorang artis Indonesia di sebuah hotel ternama. Tentu dari segi teknik suara si artis dan performa musiknya akan tidak pas untuk diperbandingkan. Tetapi yang saya mau bicarakan adalah bukan dari sisi si artisnya, melainkan dari sisi bagaimana produser dan director dari pertunjukkan tersebut meramu dan memadukan seluruh elemen acara menjadi satu-kesatuan acara yang dapat dinikmati oleh para hadirin yang menonton acara tersebut.
Bagaimana Audience Menikmati Sebuah Acara?
Ketika pendengar radio mendengar sebuah acara yang disiarkan di radio, atau ketika penonton TV menonton sebuah acara yang disiarkan televisi, tidak pernahlah mereka itu memilah-milah apa yang didengar dan dilihatnya. Sebetulnya audience menikmati acara sebagai satu-kesatuan yang utuh. Misalnya, Mereka tidak menonton satu acara karena MC-nya artis cantik saja. Mereka tidak menyaksikan karena musiknya bagus-bagus saja. Mereka tidak mendengarkan siaran karena beritanya berita penting saja. Ini sebenarnya yang sering terlupakan ketika seorang produser dan director melakukan proses untuk memproduksi sebuah acara.
Seorang pendengar yang mendengarkan siaran acara sebuah radio mungkin sangat menyukai musik-musik yang disajikan. Tetapi ketika penyiarnya berbicara, langsung deh pendengarnya “ilfil” (istilah anak muda sekarang untuk “merasa kecewa”). Otomatis semangat untuk mendengarkan lanjutan siaran radio tersebut sudah hilang. Karena si penyiar, yang seharusnya malah mampu menambah semangat para pendengar radio yang sudah terbangun terlebih dahulu dikarenakan penyajian sederetan musik / lagu sebelumnya, malah menjadi elemen yang menghentikan semangat tersebut (stopper element).
Begitu pula salah seorang teman saya, dia penonton tetap acara televisi kita, begitu bersemangat menonton para bibit muda, sederetan penyanyi baru yang mempunyai potensi besar (yang hanya memerlukan polesan sedikit lagi saja) ketika mereka berani tampil dalam acara kontes bakat “Indonesian Idol”. Tetapi ketika semua jurinya mulai bicara dengan nada sombong, dengan arogan sekali menghina dan menjatuhkan mental si bibit baru, langsung saja semangat untuk mengikuti acara tersebut selanjutnya hingga tuntas menjadi hilang. Padahal di acara aslinya “American Idol”, si juri paling-paling hanya 1 orang yang berperan negatifis, tapi itupun tidak bergaya menjatuhkan dengan kesombongan, melainkan untuk memotivasi. Jadi fungsi juri di acara ini di Indonesia, malah seperti stopper element yang menghambat gelombang minat yang sedang meningkat pada diri penonton televisi ketika acara mulai berjalan.
Sebuah berita penting sedang disampaikan oleh seorang pembaca berita. Semua penonton TV / pendengar radio terfokus perhatiannya mengikuti cerita berita tersebut. Untuk melengkapi aktualitas cerita, maka disisipkanlah suara live (atau bisa juga hasil rekaman) dari reporter yang berada di lapangan. Sayangnya, kualitas suara reporter sangat buruk, modulasinya pecah, sember dan tidak jelas apa yang disampaikan. Tentu saja para penonton yang sudah menyediakan waktu dan fokus menanti laporan sang reporter, akan merasa kecewa. Lagi-lagi ini adalah salah satu elemen yang merupakan stopper dari semangat audience dalam mendengarkan / menonton siaran.
Nah produser dan director dari acara-acara pertunjukkan / show di Indonesia sering tidak memahami hal ini. Bahwa penonton / pendengar tidak pernah mendengarkan atau menonton sebuah acara secara sepotong-sepotong. Mereka ingin menikmatinya sebagai satu kesatuan.
Keluhan Kikan (Penyanyi Group Coklat)
Kutipan dari detik.com tanggal 1 April 2016 pukul 17:16 WIB sbb. Stasiun TV Swasta setiap paginya selalu rajin menampilkan tayangan yang mereka sebut sebagai acara musik. Tapi kenyataannya kadar musik pada acara tersebut sangat minim. Bahkan unsur gimmick-gimmick yang tak berkaitan dengan musik justru jadi sajian utama dari “acara musik” itu. Pemikiran itulah yang selalu membuat hati seorang Kikan Namara tak tenang... dst.
Apa yang dikeluhkan oleh Kikan inipun suatu bentuk ketidak-utuhan suatu acara. Bagaimana bisa sebuah acara musik, kok disisipi gimmick-gimmick yang tak terkait musik dan bahkan tayangannya lebih lama dari musik itu sendiri??? Sepertinya para produser dan director acara yang dimiliki Indonesia umumnya tidak pernah memiliki suatu dasar keilmuan atau tidak melalui suatu tahapan pendidikan yang memadai. Mereka melakukannya hanya karena: “biasanya begitu, kok”. Padahal tidak selalu elemen-elemen acara yang secara sendirian itu bagus, akan menjadi bagus kalau elemen-elemen itu digabung menjadi satu kesatuan acara. Ibaratnya, walau Ice Cream itu enak, gado-gado itu enak, dan gulai kepala ikan itu enak, namun apabila semua dicampur menjadi satu-kesatuan, sudah pastilah bukannya akan menjadikannya itu sebuah sajian yang enak, melainkan sebuah sajian yang memuakkan, bukan?
Bagaimana Penyajian Acara yang Baik?
Misalkan kesebelasan Real Madrid diadu melawan Persib. Sudah pasti Persib akan kalah, bukan? Tapi saya jamin, walaupun begitu, sudah pasti tiketnya akan habis terjual. Mengapa? Karena penonton bukan hendak melihat score hasil akhirnya saja, tapi yang terutama adalah bagaiman proses terciptanya goal-goal tersebut.
Dari sini kita tahu, bahwa sebuah acara / pertunjukan yang baik harus memiliki tujuan dan design yang sudah dikenali secara tak sadar oleh penonton sejak awal. Lalu yang terpenting adalah bagaimana para pelaku dan juga elemen-elemen lain yang terlibat memainkan perannya sedemikian harmonis, hingga proses dalam mencapai tujuan itu menjadi sangat menarik untuk dinikmati oleh penonton.
Seorang produser (pengemban visi acara) dan director (pengemban missi acara) harus memilih elemen-elemen yang pas untuk masuk menjadi bagian dari ramuan, serta memilih para pelaku yang terlibat dengan kemampuan dan keterampilan (skill) yang mumpuni untuk mengolah dan menjadi bahagian dari olahan, supaya sajian itu pas dinikmati publik dan menghasilkan kepuasan setelah pertunjukkan usai.
Hal seperti ini sering tidak saya peroleh ketika menikmati show / pertunjukan lokal kita sendiri, walau artis ternama sekalipun. Tapi sangat berbeda sewaktu menonton artis dan team ahli luar-negeri yang bekerja. Saya seperti tersihir terbawa alunan musik yang dibuka dan dibawakan oleh trompetist Jazz Chris Botti. Chris membawakan sebanyak 10 lagu, dengan penyedap pedas dari violinist wanita Christine Campbell yang melakukan solo dengan teknik prima, sangat anggun dan secara halus sekali tiba-tiba mengantarkan STING memasuki panggung sambil menenteng gitar bass-nya, menyanyikan: IF I EVER LOOSE MY FAITH WITH YOU. Perpindahan dan pergantian artis ini betul-betul smooth / halus, tidak ada stopper-element sama sekali, tidak berhenti, bahkan dari sisi sound operator dan lighting systemnya, semuanya bekerja sebagai satu team yang terus berusaha semakin meningkatkan gelombang gairah / semangat penonton menuju puncak acara tanpa putus.
Akhirnya climax betul-betul tercapai ketika STING menutup pementasannya dengan lagu yang ke 15 yaitu FRAGILE. Total 25 lagu yang disajikan oleh Chris Botti featuring STING dalam Java Jazz 2016 yang lalu. Sungguh suatu show yang sangat memuaskan. Sampai sekarang pun saya masih bisa mengingatnya dengan jelas, dan pasti akan menonton lagi kalau STING kembali show di Indonesia. (arm)
Pada kesempatan Java Jazz Maret 2016 yang lalu, saya berkesempatan menonton live-show-nya STING yang didahului oleh jazz trumpetist Chris Botti. Kebetulan beberapa hari sebelum itu juga saya sempat menonton live-show seorang artis Indonesia di sebuah hotel ternama. Tentu dari segi teknik suara si artis dan performa musiknya akan tidak pas untuk diperbandingkan. Tetapi yang saya mau bicarakan adalah bukan dari sisi si artisnya, melainkan dari sisi bagaimana produser dan director dari pertunjukkan tersebut meramu dan memadukan seluruh elemen acara menjadi satu-kesatuan acara yang dapat dinikmati oleh para hadirin yang menonton acara tersebut.
Bagaimana Audience Menikmati Sebuah Acara?
Ketika pendengar radio mendengar sebuah acara yang disiarkan di radio, atau ketika penonton TV menonton sebuah acara yang disiarkan televisi, tidak pernahlah mereka itu memilah-milah apa yang didengar dan dilihatnya. Sebetulnya audience menikmati acara sebagai satu-kesatuan yang utuh. Misalnya, Mereka tidak menonton satu acara karena MC-nya artis cantik saja. Mereka tidak menyaksikan karena musiknya bagus-bagus saja. Mereka tidak mendengarkan siaran karena beritanya berita penting saja. Ini sebenarnya yang sering terlupakan ketika seorang produser dan director melakukan proses untuk memproduksi sebuah acara.
Seorang pendengar yang mendengarkan siaran acara sebuah radio mungkin sangat menyukai musik-musik yang disajikan. Tetapi ketika penyiarnya berbicara, langsung deh pendengarnya “ilfil” (istilah anak muda sekarang untuk “merasa kecewa”). Otomatis semangat untuk mendengarkan lanjutan siaran radio tersebut sudah hilang. Karena si penyiar, yang seharusnya malah mampu menambah semangat para pendengar radio yang sudah terbangun terlebih dahulu dikarenakan penyajian sederetan musik / lagu sebelumnya, malah menjadi elemen yang menghentikan semangat tersebut (stopper element).
Begitu pula salah seorang teman saya, dia penonton tetap acara televisi kita, begitu bersemangat menonton para bibit muda, sederetan penyanyi baru yang mempunyai potensi besar (yang hanya memerlukan polesan sedikit lagi saja) ketika mereka berani tampil dalam acara kontes bakat “Indonesian Idol”. Tetapi ketika semua jurinya mulai bicara dengan nada sombong, dengan arogan sekali menghina dan menjatuhkan mental si bibit baru, langsung saja semangat untuk mengikuti acara tersebut selanjutnya hingga tuntas menjadi hilang. Padahal di acara aslinya “American Idol”, si juri paling-paling hanya 1 orang yang berperan negatifis, tapi itupun tidak bergaya menjatuhkan dengan kesombongan, melainkan untuk memotivasi. Jadi fungsi juri di acara ini di Indonesia, malah seperti stopper element yang menghambat gelombang minat yang sedang meningkat pada diri penonton televisi ketika acara mulai berjalan.
Sebuah berita penting sedang disampaikan oleh seorang pembaca berita. Semua penonton TV / pendengar radio terfokus perhatiannya mengikuti cerita berita tersebut. Untuk melengkapi aktualitas cerita, maka disisipkanlah suara live (atau bisa juga hasil rekaman) dari reporter yang berada di lapangan. Sayangnya, kualitas suara reporter sangat buruk, modulasinya pecah, sember dan tidak jelas apa yang disampaikan. Tentu saja para penonton yang sudah menyediakan waktu dan fokus menanti laporan sang reporter, akan merasa kecewa. Lagi-lagi ini adalah salah satu elemen yang merupakan stopper dari semangat audience dalam mendengarkan / menonton siaran.
Nah produser dan director dari acara-acara pertunjukkan / show di Indonesia sering tidak memahami hal ini. Bahwa penonton / pendengar tidak pernah mendengarkan atau menonton sebuah acara secara sepotong-sepotong. Mereka ingin menikmatinya sebagai satu kesatuan.
Keluhan Kikan (Penyanyi Group Coklat)
Kutipan dari detik.com tanggal 1 April 2016 pukul 17:16 WIB sbb. Stasiun TV Swasta setiap paginya selalu rajin menampilkan tayangan yang mereka sebut sebagai acara musik. Tapi kenyataannya kadar musik pada acara tersebut sangat minim. Bahkan unsur gimmick-gimmick yang tak berkaitan dengan musik justru jadi sajian utama dari “acara musik” itu. Pemikiran itulah yang selalu membuat hati seorang Kikan Namara tak tenang... dst.
Apa yang dikeluhkan oleh Kikan inipun suatu bentuk ketidak-utuhan suatu acara. Bagaimana bisa sebuah acara musik, kok disisipi gimmick-gimmick yang tak terkait musik dan bahkan tayangannya lebih lama dari musik itu sendiri??? Sepertinya para produser dan director acara yang dimiliki Indonesia umumnya tidak pernah memiliki suatu dasar keilmuan atau tidak melalui suatu tahapan pendidikan yang memadai. Mereka melakukannya hanya karena: “biasanya begitu, kok”. Padahal tidak selalu elemen-elemen acara yang secara sendirian itu bagus, akan menjadi bagus kalau elemen-elemen itu digabung menjadi satu kesatuan acara. Ibaratnya, walau Ice Cream itu enak, gado-gado itu enak, dan gulai kepala ikan itu enak, namun apabila semua dicampur menjadi satu-kesatuan, sudah pastilah bukannya akan menjadikannya itu sebuah sajian yang enak, melainkan sebuah sajian yang memuakkan, bukan?
Bagaimana Penyajian Acara yang Baik?
Misalkan kesebelasan Real Madrid diadu melawan Persib. Sudah pasti Persib akan kalah, bukan? Tapi saya jamin, walaupun begitu, sudah pasti tiketnya akan habis terjual. Mengapa? Karena penonton bukan hendak melihat score hasil akhirnya saja, tapi yang terutama adalah bagaiman proses terciptanya goal-goal tersebut.
Dari sini kita tahu, bahwa sebuah acara / pertunjukan yang baik harus memiliki tujuan dan design yang sudah dikenali secara tak sadar oleh penonton sejak awal. Lalu yang terpenting adalah bagaimana para pelaku dan juga elemen-elemen lain yang terlibat memainkan perannya sedemikian harmonis, hingga proses dalam mencapai tujuan itu menjadi sangat menarik untuk dinikmati oleh penonton.
Seorang produser (pengemban visi acara) dan director (pengemban missi acara) harus memilih elemen-elemen yang pas untuk masuk menjadi bagian dari ramuan, serta memilih para pelaku yang terlibat dengan kemampuan dan keterampilan (skill) yang mumpuni untuk mengolah dan menjadi bahagian dari olahan, supaya sajian itu pas dinikmati publik dan menghasilkan kepuasan setelah pertunjukkan usai.
Hal seperti ini sering tidak saya peroleh ketika menikmati show / pertunjukan lokal kita sendiri, walau artis ternama sekalipun. Tapi sangat berbeda sewaktu menonton artis dan team ahli luar-negeri yang bekerja. Saya seperti tersihir terbawa alunan musik yang dibuka dan dibawakan oleh trompetist Jazz Chris Botti. Chris membawakan sebanyak 10 lagu, dengan penyedap pedas dari violinist wanita Christine Campbell yang melakukan solo dengan teknik prima, sangat anggun dan secara halus sekali tiba-tiba mengantarkan STING memasuki panggung sambil menenteng gitar bass-nya, menyanyikan: IF I EVER LOOSE MY FAITH WITH YOU. Perpindahan dan pergantian artis ini betul-betul smooth / halus, tidak ada stopper-element sama sekali, tidak berhenti, bahkan dari sisi sound operator dan lighting systemnya, semuanya bekerja sebagai satu team yang terus berusaha semakin meningkatkan gelombang gairah / semangat penonton menuju puncak acara tanpa putus.
Akhirnya climax betul-betul tercapai ketika STING menutup pementasannya dengan lagu yang ke 15 yaitu FRAGILE. Total 25 lagu yang disajikan oleh Chris Botti featuring STING dalam Java Jazz 2016 yang lalu. Sungguh suatu show yang sangat memuaskan. Sampai sekarang pun saya masih bisa mengingatnya dengan jelas, dan pasti akan menonton lagi kalau STING kembali show di Indonesia. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar