30 Oktober 2016

Pesan Negatif atau Pesan Positif

oleh Andy Rustam

Dulu anakku yang laki-laki, ketika masih kanak-kanak, suka sekali makan, sehingga badannya jadi gemuk. Tentu saja saya & istri merasa khawatir, kalau dibiarkan saja nanti bisa-bisa dia tumbuh dan menjadi orang dengan berat badan berlebihan (obesitas). Itu sebabnya akhirnya kita berkonsultasi dengan dokter ahli gizi bagaimana sebaiknya mengatur asupan makanan bagi si anak. Pengalaman keberhasilan mengembalikan si anak ke berat idealnya dengan bantuan dokter gizi ini, saya ceritakan juga kepada teman saya sendiri yang memiliki problema kegemukan banget. Dokter ahli gizi adalah cara terbaik dan ter-aman. Tapi sepertinya kok temenku itu tidak mau merespon dengan baik nasihat-nasihat yang telah diberikan.

Pesan yang Bagaimana?

Peristiwa tersebut diatas sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, teman saya yang kegemukan itu pun sekarang sudah almarhum akibat komplikasi jantung dan diabetes. Tetapi pertanyaan besar saya dari dahulu belum terjawab, kenapa dia tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat / saran-saran yang telah diberikan tentang bahayanya obesitas. Bukan hanya dalam kasus obesitas saja. Intinya, mengapa seseorang tidak mau berubah walau sudah dinasehati? Mereka lebih rela membiarkan dirinya semakin parah daripada mengikuti saran / nasehat yang baik yang telah diberikan teman / dokter / orang-tuanya. Kenapa begitu?

Dalam ilmu komunikasi, kalau ada pesan yang responnya tidak sesuai harapan, maka porsi tanggung jawab terbesar akan kesalahan tersebut (60%) ada pada si komunikator dalam merancang isi dan menyampaikan pesannya. Berarti mungkin sekali kalau saja pesannya dirubah baik isi maupun cara penyampaiannya, maka responnya akan berbeda.

Hari ini saya membaca sebuah blog tentang kesehatan yang menuliskan pertanyaan sebagai berikut: "Seandainya ada orang yang mengalami obesitas, dimana dia juga seorang perokok, sehingga ancaman dan risiko penyakit berbahaya seperti: sakit jantung, diabetes, dan kanker paru-paru, sudah di depan mata, pesan yang bagaimanakah yang paling efektif untuk bisa membawa perubahan niat dan agar dapat memotivasi dirinya untuk mengubah gaya hidupnya?"

Pesan Negatif atau Pesan Positif

Mana yang lebih kena kepada mereka, pesan positif, seperti: ”Anda akan merasa jauh lebih segar, lebih sehat, dan lebih baik, kalau anda berhasil menurunkan berat badan anda cukup hanya beberapa kg saja" . Atau: ”Diabetes anda akan bisa anda kendalikan, kalau anda mau merubah sedikit pola makan anda”.

Atau malah pesan negatif, misalnya: ”Kalau anda tidak punya tekad untuk segera menurunkan berat badan anda dalam 2 bulan ini, maka anda memiliki risiko yang bisa berakibat pada kehilangan nyawa.” atau ”Paru-paru anda sudah terkontaminasi, sehingga kalau anda tidak berhenti merokok, tahun depan sangat besar kemungkinan sel-sel kanker akan berkembang di situ.”

Dari penelitian yang dilakukan di University of Vermont – USA, baik pesan negatif maupun pesan positif, akan dapat memiliki respon positif, tergantung siapakah yang menerima pesan tersebut (siapa komunikannya)!?

Kalau komunikannya adalah kelompok orang cukup memiliki pengetahuan tentang subjek yang dibicarakan (dalam hal ini tentang obesitas), maka mereka cenderung bisa menerima dan akan tergugah untuk berubah, apabila pesan itu adalah pesan yang negatif. Tetapi secara umum masyarakat awam akan lebih tergugah apabila pesan itu adalah pesan yang positif.

”Secara umum apabila masyarakat awam diberikan pesan yang negatif, kecenderungan respons mereka justru mengabaikan atau bahkan bersikap menolaknya”, kata Amy Hendel sebagaimana dikutip oleh www.healthcentral.com.

Sebagai contoh, misalnya seorang guru yang ingin memberi advis kepada orang tua dari seorang anak, tentang bagaimana agar anak membiasakan diri dengan makan makanan sehat.

Pesan Positif: ”Bapak / Ibu, kalau bpk / ibu ingin anaknya berprestasi yang lebih baik, sebenarnya bisa, dengan melakukan perubahan dalam komposisi makanannya. Statistik menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan makanan dengan porsi makan yang lebih banyak sayur-sayuran dan buah-buahan, memiliki prestasi sekolah yang diatas rata-rata kelasnya.”

Pesan Negatif: ”Bapak / Ibu, kelihatan sekali anak bpk / ibu terlalu gemuk, kurang gerak sehingga jadi lamban dan mudah lelah. Harap bpk / ibu menjadikan ini sebagai perhatian. Sebab kalau tidak, lama-kelamaan prestasi pelajarannyapun akan bisa merosot jauh."

Dari penelitian yang mendalam, dapat diketahui bahwa ternyata Orang Tua murid yang menerima pesan negatif, cenderung tidak mempedulikan apa isi pesan yang telah disampaikan kepada mereka, walaupun ketika dihadapan wali-kelas anaknya, mereka mengangguk-angguk.

Sebaliknya Orang Tua Murid yang menerima pesan positif, bereaksi spontan dengan pertanyaan lanjutan seperti: “Bisakah diberikan daftar sayuran dan buah-buahan yang baik, pak?”. Ini menunjukkan kepedulian mereka atas isi pesan yang telah disampaikan amat besar.

Beberapa percobaan yang telah dilakukan oleh para peneliti, hampir seluruhnya membuktikan bahwa pesan yang positif akan lebih menginspirasi dan bisa membuat orang berubah, ketimbang pesan negatif yang cenderung akan membuat orang ”tersinggung / marah atau malah tidak peduli”.

[Experts realize that in fact, the message would more likely inspire greater interest or change, if it was more informational and positive. Invoking fear, though direct, may not get the job done - Brian Wansink, PhD and Lizzy Pope, Ph.D. University of Vermont, 2015]

Pesan Negatif hanya bisa efektif, apabila..

Walau sudah kita bahas diatas, tapi perlu ada catatan disini bahwa Pesan Negatif yang disampaikan seorang Komunikator, bisa juga membawa dampak positif berupa perubahan perilaku, yaitu apabila:

(1) Komunikan adalah orang yang sudah tahu permasalahan hingga detil terkait pesan yang disampaikan.
(2) Komunikan adalah type orang yang senang tantangan.
(3)​ Komunikan memang memiliki kepentingan yang sama dengan si Komunikator

Dalam realita kehidupan tentulah kita tak pernah tahu betul tentang siapa dan bagaimana komunikan kita, bukan? Kalau begitu, akan lebih aman kalau kita selalu menggunakan pesan positif dalam berkomunikasi, karena pastinya effektif.

Belakangan ini baik di media informal (media sosial) maupun di media massa formal, sering sekali terdengar / terbaca / tertayang pesan-pesan yang negatif (misalnya: pesan fitnah yang dimaksudkan untuk menjelekkan orang lain). Padahal kita ketahui sekarang bahwa, secara keilmuan, pesan positif-lah yang akan berpengaruh lebih besar daripada pesan negatif. Pesan-pesan negatif yang mereka buat justru sama sekali tidak akan efektif atau malah merugikan diri sendiri. Sayangnya, mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan ini. (arm)

Tidak ada komentar: