oleh Andy Rustam
Hampir selalu ketika saya duduk di taksi online yang datang menjemput, si supir taksi telah tune-in di salah satu saluran radio. Kadang penyiar radionya cocok dengan telinga, tapi banyak juga yang kalau penyiarnya sedang bicara duuuh.. rasanya ingin segera ganti saluran. Banyak siaran radio sekarang yang mengutamakan mengudarakan lagu-lagu saja. Buat saya sih lebih baik begitu, daripada lagunya sudah enak eh pas penyiarnya bicara malah menghilangkan minat untuk mendengar. Apakah mereka tidak pernah merekam suaranya sendiri selagi siaran, lalu didengarkan ulang? Ataukah mereka merasa memang sudah cukup bagus? Mungkin juga buat atasannya, cara yang begitu itulah yang dianggap baik. Bisa jadi karena sudah menjadi kebiasaan sehingga dianggap baik, atau karena si atasan sendiri juga tidak terlalu tahu kenapa dan harusnya bagaimana.
3 Kesalahan Umum
Kesalahan umum pertama, terjadi di hampir semua penyiar / reporter / pewawancara adalah bahwa pada saatnya harus berbicara, dalam pikirannya yang ada hanya, “Wah saya harus bicara sekarang... pokoknya bunyi dulu deh”. Artinya, sebetulnya pada saat dia harus bicara itu, otaknya sendiri belum siap. Maka dia kemudian, sambil mulutnya berbunyi, otaknya baru sibuk mencari dan menyusun kalimat. Itu sebabnya kita sering mendengar kekacauan dalam susunan kalimat yang diucapkan oleh si penyiar / reporter atau si pewawancara. Ini banyak terjadi pada penyiar yang harus berbicara tanpa teks. Pada penyiar pembaca berita, hal ini jarang terjadi, kecuali ketika mereka berimprovisasi sewaktu menghubungi narasumber. Kalau kita mengacu kepada para pembicara / pembawa acara / reporter kelas internasional, mereka memang sudah tahu apa yang ingin diucapkannya, dan telah ada dulu dalam otaknya, segala hal yang ingin disampaikan. Apa yang ingin dicapainya. Walaupun ia dalam situasi yang tak terduga, tetap saja cara penyampaiannya reportasenya sangat metodik.
Kesalahan umum kedua yang juga sering terjadi, para penyiar itu pada umumnya ketika berangkat akan melaksanakan tugasnya, tidak terlalu serius mempersiapkan diri. Sering penyiar radio datang ke studio untuk siaran tanpa merencanakan dan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Belum ada rencana materi apa saja yang akan disajikannya. Biasanya kalau ditanya, yaa biarkan semuanya nanti mengalir saja. Jadi jangan heran, kalau kita sering mendengar penyiar yang bicara tentang suatu hal, tapi setelah dia selesai bicara, kita sebagai pendengar akan bingung dibuatnya… Ini yang terjadi ketika saya mendengar radio di taksi online hari itu. Si Penyiar bercerita bagaimana tingginya curah hujan dari semalam, sehingga banjir terjadi di hampir semua wilayah. Lalu dia mengakhirnya dengan kalimat, “Walaupun dimana-mana banjir, tetapi di daerah rumah saya tetap kering“, kata sang penyiar (…Maksud loh?!?!?)
Kesalahan umum ketiga adalah pada mind-set-nya. Ketika bertugas menjadi seorang penyiar, berbicara itu bukanlah tentang apa maunya pihak si penyiar, melainkan tentang sudut pandang atau apa hal yang penting bagi pendengar / pemirsanya. Itu sebabnya tadi saya katakan agar sekali-sekali cobalah rekam siaran Anda dan Anda dengarkan kembali / tonton sendiri sebagaimana para pendengar / pemirsa sedang mengikuti siaran Anda. Tempatkan diri Anda sebagai pendengar / pemirsa. Sudah hebat kah? Tapi kenyataannya... yang paling sering terjadi adalah justru si penyiar sibuk dengan opininya sendiri atau sibuk dengan kepentingannya sendiri. Misal, adanya kemacetan lalu lintas. Lalu penyiar hanya menceritakan adanya kemacetan parah, dan meminta pendengar / pengendara mengambil jalan alternatif. Bahkan ada penyiar yang sibuk mencari info apakah jalan menuju pulang ke rumahnya nanti macet atau tidak. Padahal yang ingin diketahui oleh pendengar lebih jauh adalah apa penyebab kemacetan yang tidak biasa itu, lalu apakah sudah ada upaya-upaya untuk mengatasinya? Kemudian jalan alternatif manakah yang “aman dan lancar” untuk dilalui dsb. dsb. Karena kalau hanya keterangan macet, pengemudi pun sudah bisa mengetahui juga dari google-map atau waze, bukan?
Muara dari ketiga kesalahan umum tersebut adalah belum pahamnya para penyelenggara siaran bahwa: “bersiaran adalah kegiatan tentang bagaimana memberikan sajian yang baik dan menarik bagi masyarakat (pendengar / pemirsa), sesuai kondisi dan situasi yang sedang melingkupi mereka, dengan cara yang dapat membuat masyarakat itu merasa lebih comfortable (merasa nyaman)”.
Sajian Yang Baik
Berdasarkan pemahaman ini, maka seorang penyiar harus selalu berupaya untuk melengkapi dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan.
Misalnya, ia harus sudah mengetahui, apa yang dimaksud dengan sajian yang baik dan menarik? Sajian yang baik adalah materi siaran yang dibuat sedemikian rupa, sehingga apabila disiarkan akan membuat orang jadi berminat untuk mengikutinya, dan kemudian materi tersebut dapat memunculkan respon yang mengandung nilai-nilai kebaikan.
Selanjutnya, si penyiar juga harus tahu, bagaimana cara membuat sajian yang baik dan menarik? Sebuah sajian yang baik haruslah memiliki isi materi yang didasarkan atas nilai-nilai moral kemanusiaan secara universal, namun tetap memiliki pendekatan logika dan emosi dalam pemaparan uraiannya, sehingga ini yang membuatnya menjadi menarik untuk diikuti. Misalnya, daripada mengatakan: “Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak sebuah truk besar yang sedang berhenti di tepi jalan raya”. Lebih baik mengatakan: “Sebuah sedan Avanza datang dengan kecepatan 120 km/jam menabrak sebuah Truk Pengangkut Beton bermuatan penuh, yang sedang berhenti di tepi jalan raya”. Susunan kalimat yang pertama dan kedua cukup logis, namun dalam pemaparannya, kalimat kedua memiliki sisi emosi yang lebih kuat.
Lalu apa pula yang dimaksud “sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupi mereka?”. Maksudnya adalah, bahwa topik yang dibahas haruslah relevan dengan situasi dan kondisi masyarakat saat itu. Lalu apa yang dimaksud dengan cara yang dapat membuat masyarakat lebih comfortable? Yaitu cara penyampaian yang tidak stressful (tidak mengundang ketegangan), cara yang tetap memiliki emotional touch namun dalam nuansa ketenangan, sehingga masyarakat mudah menerima dan memahami pesan yang disampaikan dengan benar (tidak salah interpretasi). Hampir semua berita yang negatif, baik berupa musibah, fitnah, kecelakaan maupun situasi yang mengancam, pada dasarnya akan memicu keresahan. Penyiar bertugas bukan hanya memberitakan agar masyarakat mengetahuinya (what happen), namun yang lebih penting lagi agar masyarakat mendapatkan info yang lengkap secara akurat dan balance (why, how and what happen now). Dengan demikian tidak akan menciptakan info yang menggantung, yang bisa mengakibatkan rasa khawatir karena ketidakpastian. Penyiar seyogyanya mengetahui benar, apa yang sebenarnya diinginkan pendengar / pemirsa.
Coba deh kita test. Silahkan Anda pilih jawabannya. Kasusnya sbb: Apabila ada siaran berita yang mengatakan, ada sebuah lift bermuatan penuh jatuh ke lantai dasar dari lantai tiga di Gedung Blok M Square Jakarta, pada tanggal 17 Maret yl. Kira-kira informasi lanjutan apakah yang paling diinginkan oleh pendengar, agar dirinya tidak merasa resah setelah mendengar berita tersebut? Jawab: (1) Jelaskan apa penyebab jatuhnya lift (2) Jelaskan apakah ada korban yang tewas (3) Sebutkan berapa jumlah korban (4) Informasikan dimana keberadaan korban sekarang.. Sudahkah Anda memilih salah satu dari 1,2,3,4? (arm)
Hampir selalu ketika saya duduk di taksi online yang datang menjemput, si supir taksi telah tune-in di salah satu saluran radio. Kadang penyiar radionya cocok dengan telinga, tapi banyak juga yang kalau penyiarnya sedang bicara duuuh.. rasanya ingin segera ganti saluran. Banyak siaran radio sekarang yang mengutamakan mengudarakan lagu-lagu saja. Buat saya sih lebih baik begitu, daripada lagunya sudah enak eh pas penyiarnya bicara malah menghilangkan minat untuk mendengar. Apakah mereka tidak pernah merekam suaranya sendiri selagi siaran, lalu didengarkan ulang? Ataukah mereka merasa memang sudah cukup bagus? Mungkin juga buat atasannya, cara yang begitu itulah yang dianggap baik. Bisa jadi karena sudah menjadi kebiasaan sehingga dianggap baik, atau karena si atasan sendiri juga tidak terlalu tahu kenapa dan harusnya bagaimana.
3 Kesalahan Umum
Kesalahan umum pertama, terjadi di hampir semua penyiar / reporter / pewawancara adalah bahwa pada saatnya harus berbicara, dalam pikirannya yang ada hanya, “Wah saya harus bicara sekarang... pokoknya bunyi dulu deh”. Artinya, sebetulnya pada saat dia harus bicara itu, otaknya sendiri belum siap. Maka dia kemudian, sambil mulutnya berbunyi, otaknya baru sibuk mencari dan menyusun kalimat. Itu sebabnya kita sering mendengar kekacauan dalam susunan kalimat yang diucapkan oleh si penyiar / reporter atau si pewawancara. Ini banyak terjadi pada penyiar yang harus berbicara tanpa teks. Pada penyiar pembaca berita, hal ini jarang terjadi, kecuali ketika mereka berimprovisasi sewaktu menghubungi narasumber. Kalau kita mengacu kepada para pembicara / pembawa acara / reporter kelas internasional, mereka memang sudah tahu apa yang ingin diucapkannya, dan telah ada dulu dalam otaknya, segala hal yang ingin disampaikan. Apa yang ingin dicapainya. Walaupun ia dalam situasi yang tak terduga, tetap saja cara penyampaiannya reportasenya sangat metodik.
Kesalahan umum kedua yang juga sering terjadi, para penyiar itu pada umumnya ketika berangkat akan melaksanakan tugasnya, tidak terlalu serius mempersiapkan diri. Sering penyiar radio datang ke studio untuk siaran tanpa merencanakan dan mempersiapkan diri terlebih dahulu. Belum ada rencana materi apa saja yang akan disajikannya. Biasanya kalau ditanya, yaa biarkan semuanya nanti mengalir saja. Jadi jangan heran, kalau kita sering mendengar penyiar yang bicara tentang suatu hal, tapi setelah dia selesai bicara, kita sebagai pendengar akan bingung dibuatnya… Ini yang terjadi ketika saya mendengar radio di taksi online hari itu. Si Penyiar bercerita bagaimana tingginya curah hujan dari semalam, sehingga banjir terjadi di hampir semua wilayah. Lalu dia mengakhirnya dengan kalimat, “Walaupun dimana-mana banjir, tetapi di daerah rumah saya tetap kering“, kata sang penyiar (…Maksud loh?!?!?)
Kesalahan umum ketiga adalah pada mind-set-nya. Ketika bertugas menjadi seorang penyiar, berbicara itu bukanlah tentang apa maunya pihak si penyiar, melainkan tentang sudut pandang atau apa hal yang penting bagi pendengar / pemirsanya. Itu sebabnya tadi saya katakan agar sekali-sekali cobalah rekam siaran Anda dan Anda dengarkan kembali / tonton sendiri sebagaimana para pendengar / pemirsa sedang mengikuti siaran Anda. Tempatkan diri Anda sebagai pendengar / pemirsa. Sudah hebat kah? Tapi kenyataannya... yang paling sering terjadi adalah justru si penyiar sibuk dengan opininya sendiri atau sibuk dengan kepentingannya sendiri. Misal, adanya kemacetan lalu lintas. Lalu penyiar hanya menceritakan adanya kemacetan parah, dan meminta pendengar / pengendara mengambil jalan alternatif. Bahkan ada penyiar yang sibuk mencari info apakah jalan menuju pulang ke rumahnya nanti macet atau tidak. Padahal yang ingin diketahui oleh pendengar lebih jauh adalah apa penyebab kemacetan yang tidak biasa itu, lalu apakah sudah ada upaya-upaya untuk mengatasinya? Kemudian jalan alternatif manakah yang “aman dan lancar” untuk dilalui dsb. dsb. Karena kalau hanya keterangan macet, pengemudi pun sudah bisa mengetahui juga dari google-map atau waze, bukan?
Muara dari ketiga kesalahan umum tersebut adalah belum pahamnya para penyelenggara siaran bahwa: “bersiaran adalah kegiatan tentang bagaimana memberikan sajian yang baik dan menarik bagi masyarakat (pendengar / pemirsa), sesuai kondisi dan situasi yang sedang melingkupi mereka, dengan cara yang dapat membuat masyarakat itu merasa lebih comfortable (merasa nyaman)”.
Sajian Yang Baik
Berdasarkan pemahaman ini, maka seorang penyiar harus selalu berupaya untuk melengkapi dirinya dengan pengetahuan dan keterampilan.
Misalnya, ia harus sudah mengetahui, apa yang dimaksud dengan sajian yang baik dan menarik? Sajian yang baik adalah materi siaran yang dibuat sedemikian rupa, sehingga apabila disiarkan akan membuat orang jadi berminat untuk mengikutinya, dan kemudian materi tersebut dapat memunculkan respon yang mengandung nilai-nilai kebaikan.
Selanjutnya, si penyiar juga harus tahu, bagaimana cara membuat sajian yang baik dan menarik? Sebuah sajian yang baik haruslah memiliki isi materi yang didasarkan atas nilai-nilai moral kemanusiaan secara universal, namun tetap memiliki pendekatan logika dan emosi dalam pemaparan uraiannya, sehingga ini yang membuatnya menjadi menarik untuk diikuti. Misalnya, daripada mengatakan: “Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak sebuah truk besar yang sedang berhenti di tepi jalan raya”. Lebih baik mengatakan: “Sebuah sedan Avanza datang dengan kecepatan 120 km/jam menabrak sebuah Truk Pengangkut Beton bermuatan penuh, yang sedang berhenti di tepi jalan raya”. Susunan kalimat yang pertama dan kedua cukup logis, namun dalam pemaparannya, kalimat kedua memiliki sisi emosi yang lebih kuat.
Lalu apa pula yang dimaksud “sesuai dengan kondisi dan situasi yang melingkupi mereka?”. Maksudnya adalah, bahwa topik yang dibahas haruslah relevan dengan situasi dan kondisi masyarakat saat itu. Lalu apa yang dimaksud dengan cara yang dapat membuat masyarakat lebih comfortable? Yaitu cara penyampaian yang tidak stressful (tidak mengundang ketegangan), cara yang tetap memiliki emotional touch namun dalam nuansa ketenangan, sehingga masyarakat mudah menerima dan memahami pesan yang disampaikan dengan benar (tidak salah interpretasi). Hampir semua berita yang negatif, baik berupa musibah, fitnah, kecelakaan maupun situasi yang mengancam, pada dasarnya akan memicu keresahan. Penyiar bertugas bukan hanya memberitakan agar masyarakat mengetahuinya (what happen), namun yang lebih penting lagi agar masyarakat mendapatkan info yang lengkap secara akurat dan balance (why, how and what happen now). Dengan demikian tidak akan menciptakan info yang menggantung, yang bisa mengakibatkan rasa khawatir karena ketidakpastian. Penyiar seyogyanya mengetahui benar, apa yang sebenarnya diinginkan pendengar / pemirsa.
Coba deh kita test. Silahkan Anda pilih jawabannya. Kasusnya sbb: Apabila ada siaran berita yang mengatakan, ada sebuah lift bermuatan penuh jatuh ke lantai dasar dari lantai tiga di Gedung Blok M Square Jakarta, pada tanggal 17 Maret yl. Kira-kira informasi lanjutan apakah yang paling diinginkan oleh pendengar, agar dirinya tidak merasa resah setelah mendengar berita tersebut? Jawab: (1) Jelaskan apa penyebab jatuhnya lift (2) Jelaskan apakah ada korban yang tewas (3) Sebutkan berapa jumlah korban (4) Informasikan dimana keberadaan korban sekarang.. Sudahkah Anda memilih salah satu dari 1,2,3,4? (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar