12 April 2017

Persepsi Negatif

oleh Andy Rustam

Tidak ada gangguan (noise) dalam sebuah proses komunikasi yang lebih berbahaya dari persepsi negative / persepsi buruk. Persepsi buruk bisa bermacam-macam. Misal: Persepsi buruk terhadap orang lain, persepsi buruk terhadap lingkungan sosial, persepsi buruk terhadap kepercayaan dan kebudayaan orang lain, persepsi buruk pada profesi orang lain, pada anggota keluarga sendiri dan bahkan persepsi buruk kepada diri sendiri. Persepsi seperti inilah yang membuat orang yang memilikinya menjadi tidak bisa mengembangkan potensi dirinya secara utuh, malah apabila sudah parah, seseorang dengan persepsi buruk bisa merasa terisolasi dari lingkungan sekitar. Mengapa demikian? Itu sebagai akibat terhambatnya komunikasi yang sehat. Seseorang yang memiliki persepsi negative bahwa (misalnya) dirinya jelek, bisa berakibat timbulnya keengganan untuk bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain. Seseorang yang memiliki persepsi negative bahwa hanya pendapat dirinyanya atau kelompoknya sajalah yang paling benar, akan berakibat munculnya keangkuhan diri sehingga sulit melakukan komunikasi konstruktif dengan orang lain. Karena selalu memandang orang lain sebagai orang yang lebih buruk, hina dan pasti salah. Padahal sebuah komunikasi yang konstruktif, sifatnya selalu dua arah, sifatnya selalu bolak balik antara Komunikator dan Komunikan dalam rangka mencapai titik kesepahaman. Seorang komunikator yang memiliki persepsi negative terhadap komunikannya, akan mengalami kesulitan untuk menyampaikan pesannya agar bisa diterima dengan baik oleh komunikannya. Bisa juga sebaliknya, seorang komunikan yang memiliki persepsi negative terhadap komunikatornya tidak akan mungkin bisa menerima pesan-pesan yang disampaikan.

Bagaimana Terbentuknya Persepsi dalam Diri?

Sebenarnya ada dua tahapan proses. Pertama, persepsi itu terbentuk dari hal-hal yang kita alami secara fisik dan secara emosional, yang tertangkap oleh panca-indera. Semua pengalaman ini berikut “rasa” yang timbul, baik itu rasa enak / senang (pleasure) maupun rasa tidak enak / sakit (pain), kemudian akan disimpan dalam “kamar-kamar khusus” di otak setiap individu. Kedua, persepsi itu terbentuk dari informasi-informasi yang begitu banyak kita terima, baik dalam bentuk gambar, tulisan, kata-kata (suara), bunyi-bunyian (sound & music), dimana hal ini juga ditangkap dan disimpan oleh otak kita. Informasi yang masuk ini oleh otak dihubung-hubungkan dengan informasi pengalaman yang memiliki kesamaan yang telah tersimpan lebih dahulu. Padahal ada miliaran informasi yang ditangkap oleh panca-indera kita pada rentang waktu yang sama. Di sinilah otak melakukan proses seleksi, dimana yang diperbolehkan masuk oleh otak adalah informasi yang menarik perhatian kita saja (informasi positif maupun informasi negatif). Kemudian otak melakukan pengorganisasian yaitu menyambung-nyambungkan informasi yang memiliki kesamaan dengan data yang sudah tersimpan sebelumnya. Misal, anda pernah melihat orang mabuk karena minum alkohol. Pengalaman yang tertangkap indera ini kemudian disimpan di kamar khusus di otak. Beberapa hari kemudian anda menerima informasi dan telah anda seleksi, dimana info itu menyatakan bahwa kandungan alkohol merusak lever anda. Oleh otak, info ini diletakkan dan disambungkan dengan data sebelumnya (minum alkohol bisa mabuk). Maka dengan sendirinya sekarang sudah terbentuk persepsi bahwa alkohol tidak baik bagi kesehatan. Makin banyak dan makin banyak kita mengalami hal negatif dan makin sering kita memilihi informasi negatif tentang alkohol, maka persepsi kita tentang alkohol sudah pasti negatif. Dengan sudah terbentuknya persepsi ini, maka seandainya ada seorang ilmuwan / professor datang dan memberi ceramah, dengan data-data penelitian bahwa alkohol dalam kadar tertentu dapat menurunkan tingkat kolesterol seseorang, maka sudah dapat dipastikan orang yang sudah mempunyai persepsi negatif tentang alkohol ini, tidak mau mendengarkan dan bahkan tidak mau mengakui keabsahan hasil penelitian tersebut. Dengan kata lain proses komunikasinya tidak dapat berjalan baik. Sebaliknya seseorang yang selalu mampu mengorganisasi otaknya sedemikian rupa sehingga informasi yang masuk ke otaknya selalu seimbang (bukan hanya bagusnya saja atau buruknya saja), akan terbiasa dengan proses berpikir yang matang dan pastilah nanti akan terbangunlah persepsi positif di otaknya.

Mengapa Persepsi Negatif Mengakar Kuat?

Ada 5 sifat yang merupakan karakter manusia yang menyebabkan agak kesulitan untuk menghapus persepsi negatif:
  1. Ego. Artinya kita selalu merasa bahwa diri kita itu “lebih” daripada orang lain. Sehingga akibatnya sulit untuk berubah dari pandangan/pendapat/persepsinya. Bahkan kalau perlu malah menghindari terjadinya komunikasi atau aliran informasi yang tidak sesuai dengan ego-nya.
  2. Manusia merasa lebih mantap berpegang dengan informasi yang sudah lebih dulu datang dan tersimpan lebih lama di otaknya daripada informasi yang baru datang. Sikap pertama manusia terhadap informasi baru yang diterimanya selalu skeptis. Itu sebabnya informasi yang sudah lama menjadi acuan hidupnya sulit sekali digoyah dengan datangnya informasi baru walaupun disertai fakta & data yang lebih akurat
  3. Manusia merasa lebih exciting apabila mendengar suatu informasi yang bersifat negatif daripada yang bersifat positif. Misal, ketika mendapat informasi bahwa batik akan dipatenkan sebagai karya budaya Malaysia, maka kita segera bereaksi dengan marah. Tetapi ketika ada berita bahwa ekspor batik Indonesia ke Eropa dan Timur-Tengah meningkat 40% dibandingkan 3 tahun yang lalu, ternyata tidak ada seorangpun yang bereaksi, tidak ada media yang memberitakan, tidak ada talkshow di televisi yang membahas dsb dsb.
  4. Manusia malas berpikir yang mendalam, dan mudah mengambil kesimpulan dari apa yang terlihat saja. Membaca beritapun baru hanya membaca “headline”saja sudah langsung sudah menyimpulkan dan bereaksi. Itu sebabnya informasi yang dapat membentuk persepsi negatif sangat cepat masuk ke otak.
  5. Manusia selalu berasumsi bahwa seyogyanya orang lain itu harus sama dengan dirinya. Sehingga kalau berbeda, pastilah orang itu memiliki sesuatu yang negatif atau bahkan ekstrimnya lagi, orang yang berbeda adalah orang jahat.
Peran Media

Orang atau kelompok orang yang memiliki persepsi negatif dalam masyarakat, pastilah akan menjadi kendala bagi kemajuan masyarakat itu sendiri . Karena mereka tidak terbiasa untuk berpikir secara matang. Disinilah sebenarnya media dapat berperan besar dengan cara memberikan asupan informasi kepada masyarakat dengan benar, berdasarkan fakta dan terutama harus seimbang sejak dari “headline”nya. Dengan memberikan informasi yang faktual, seimbang dan tak memihak maka proses berpikir masyarakat akan semakin matang. Proses berpikir matang akan mengarah kepada pembentukan pribadi manusia berpersepsi positif. Ciri manusia dengan persepsi positif adalah ia selalu terbuka mata dan telinganya untuk sesuatu yang baru, mau mendengarkan pendapat orang lain. Ia selalu sadar bahwa di dunia ini, segala sesuatunya itu relatif, tergantung dari sisi mana kita memandang dan tergantung bagaimana kita memaknainya. Setiap manusia pasti memiliki kekurangan dan kelebihan pada tempat yang berbeda, dan karena itulah manusia hendaknya bekerja sama agar dapat saling mengisi kekurangan masing2 dan saling membantu dengan kelebihan masing2. Kesadaran seperti inilah yang seharusnyalah didorong oleh media kepada masyarakat. (arm)

Tidak ada komentar: