02 Januari 2018

5 Kebiasaan Orang-Orang Dungu yang Tidak Dimiliki oleh Orang-Orang Cerdas (Bagian 1)

by Lisa Schonhaar & Gisela Wolf - Business Insider
Diterjemahkan oleh Andy Rustam


Tulisan ini adalah terjemahan dari tulisan yang dimuat di Business Insider pada tanggal 9 Maret 2017, hasil karya Lisa Schonhaar & Gisela Wolf, berjudul asli: “5 habits of stupid people that smart people don’t have“. Tulisan ini dimuat dalam 2 bagian. Ini terjemahan bagian Pertama. Selamat membaca!

Dunia kita dipenuhi oleh berbagai macam orang dengan perbedaan tingkat intelegensia (kepandaian nalar, kecerdasan, ilmu plus intelektualitas) yang berbeda-beda, dengan tingkat kesenjangan yang cukup besar. Memang sulit memperoleh assessment (proses untuk mendapatkan data / informasi) tentang intelegensia kita sendiri. Makanya bisa dipaham dan sering kita temui juga, bahwa setiap orang merasa dirinya pandai.

Intelegensia sangatlah penting, terutama dalam konteks profesionalitas. Otak yang cerdas dan mampu beradaptasi dengan perubahaan (agile) merupakan aset yang sangat berharga dalam kehidupan. Tetapi tentu tidak semua orang berotak cerdas. Lucunya intellegensi seseorang juga berpengaruh pada sikap / perilakunya. Di kalangan orang-orang yang kurang cerdas, para peneliti menemukan adanya “5 Kebiasaan yang Berbeda” yang dapat membuat bencana yang sangat buruk dalam beberapa situasi.

Inilah 5 hal fundamental perbedaan antara orang-orang yang cerdas dengan orang-orang yang dungu.”, sbb:

1. Orang-orang bodoh selalu menyalahkan orang lain untuk kesalahan yang dibuatnya sendiri.

Hal ini akan sangat terlihat nyata sekali dalam aktivitas kita sehari-hari. Kita bisa lihat sikap ketidak-profesionalan mereka yang kurang cerdas. Sesuatu yang tidak akan pernah dilakukan oleh orang-orang dengan intelegensia yang tinggi. Jadi, orang yang secara konsisten selalu melemparkan kesalahan dirinya kepada orang lain, sebenarnya itu mendemonstrasikan kedunguannya kepada semua orang. Orang bodoh sangat tidak suka kalau dimintai pertanggung-jawaban atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Mereka lebih baik berkubang dengan cara mengasihani diri sendiri atau tetap bermain dengan cara melemparkan kesalahan atau menyalahkan orang lain.

Travis Bradberry, penulis buku paling laris (best seller) berjudul: “Emotional Intelligence 2.0”, secara tepat dapat mengungkapkannya dengan kata-kata sbb: “Sangat tidak baik dalam situasi apapun untuk melempar kesalahan kepada orang lain. Jadilah selalu orang yang berani mengambil tanggung-jawab (be accountable). Jika anda berperan cuman kecil dalam kesalahan yang terjadi, katakanlah bahwa anda ikut bertanggug jawab”. Bradberry mengatakan, bahwa pada saat anda mulai menunjuk jari dan melemparkan kesalahan kepada orang lain, maka pada saat yang sama orang-orang (yang cerdas) akan menilai bahwa anda adalah seseorang yang tidak memiliki rasa tanggung-jawab dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari.

Orang-orang yang memiliki intelegensia yang lebih tinggi, sadar betul bahwa setiap kesalahan atau masalah yang terjadi merupakan sebuah kesempatan untuk mendapatkan pelajaran dan pengalaman agar dapat berbuat yang lebih baik di masa mendatang. Para ilmuwan peneliti otak (neurolog) dipimpin oleh seorang Professor dari Michigan State University, membuktikan bahwa reaksi otak dari orang-orang yang berintelegensia tinggi, apabila terjadi kesalahan, sama sekali berbeda dibanding dengan reaksi otaknya orang-orang bodoh.

2. Orang-orang bodoh selalu merasa paling benar

Dalam situasi konflik, orang-orang berotak cerdas membutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk memahami argumen pihak lawannya dan merasa empati sehingga mudah mencari solusi. Mereka juga mampu meng-integrasikan argumen-argumen lawan ke dalam mata rantai pikiran mereka dan mempertimbangkan kembali pendapat lawan sewajarnya.

Memang salah satu ciri kecerdasan seseorang adalah kemampuannya untuk melihat dan mengerti persoalan dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Orang-orang cerdas selalu terbuka terhadap informasi baru dan perubahan parameter. Sebaliknya orang-orang dungu akan terus saja berdebat terus selamanya dan tidak akan mau bergesar dari posisinya, walaupun sudah disodorkan berbagai argument dengan dokumen / data yang sah dan masuk akal. Itu berarti mereka pun tidak mudah mengetahui / menyadari bahwa lawan bicaranya jauh lebih cerdas dan lebih kompeten. Sifat merasa paling benar, paling pintar, paling hebat dan memandang orang lain lebih bodoh dan lebih rendah dari dirinya dalam ilmu psikologi disebut sebagai Dunning-Kruger Effect.

Istilah ini muncul dari tulisan David Dunning dan Justin Kruger yang dipublikasi tahun 1999. Dari penelitian kedua psikolog ini diketahui bahwa dalam area-area seperti membaca dan berpikir, juga mengendarai mobil ataupun bermain catur, kelompok orang-orang dengan intelegensia lebih rendah selalu memandang rendah lawannya atau situasinya. Sebaliknya orang-orang yang berintelegensia tinggi justru tidak begitu. Bahkan mereka bersikap waspada terhadap lawan-nya.

Dalam percobaan di Cornell University, Ithaca - New York, USA, effek Dunner Krugger ternyata juga berlaku di kalangan orang--orang yang tingkat kompetensinya berbeda. Orang yang kompetensinya rendah selalu memandang kompetensi orang lain lebih rendah dari dirinya. Orang-orang dengan kompetensi yang rendah selalu overestimasi terhadap kemampuannya sendiri. Orang dengan kompetensi lebih tinggi mau mendengarkan dengan serius dan mempertimbangkan semua masukkan sebelum mengambil keputusan.

3. Orang-orang dungu kalau bereaksi atas konflik, selalu dengan kemarahan dan sikap yang agresif.

Memang wajar sekali bahwa orang-orang cerdas sekalipun, bisa marah juga sewaktu-waktu. Tetapi orang-orang yang kurang cerdas selalu melihat segala sesuatu yang kurang berkenan sebagai sebuah serangan atas dirinya. Apabila mereka merasa bahwa situasi tidak berjalan sesuai kehendak mereka atau mereka berada dalam sebuah situasi yang diluar kendali mereka, maka mereka cenderung menggunakan amarah dan sikap-sikap agresif untuk dapat memperbaiki posisi mereka. Jalan-jalan lain seperti seperti komunikasi dan pertemuan-pertemuan yang kondusif, hanya terpikirkan pada kelompok orang-orang yang lebih cerdas. Peneliti-penelity dari University of Michigan, USA mengamati 600 orang berikut para orang-tua dan anak-anaknya, selama 22 tahun. Ternyata ditemukan adanya hubungan / korelasi yang kuat sekali antara sikap agresif dan rendahnya nilai IQ (intelegence quotient / tingkat kecerdasan) seseorang. (arm)

Bersambung ke Bagian 2...

Tidak ada komentar: