by Lisa Schonhaar & Gisela Wolf - Business Insider
Diterjemahkan oleh Andy Rustam
Sebelumnya kita telah membaca tulisan ini (Bagian 1), dimana telah dibahas berdasarkan penelitian bahwa sikap dan perilaku yang agresif dan pemarah itu banyak terkait dengan tingkat kebodohan seseorang. 3 Kebiasaan sudah disinggung masih ada sisa 2 lagi kebiasaan orang-orang dungu sebagai berikut:
4. Orang-orang bodoh biasanya tidak peduli pada kebutuhan dan perasaan orang lain.
Russel James dari Texas Technology University, mengatakan bahwa orang-orang dengan intelegensia yang tinggi, sangat mudah untuk berempati dengan apa yang dialami orang lain. Ini menyebabkan mereka sangat mudah memahami sudut pandang orang lain dalam menghadapi satu masalah.
Penelitian yang dilakukan Russel James meliputi ribuan responden di Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa, orang dengan IQ yang tinggi cenderung tidak mengharapkan apa-apa ketika melakukan pertolongan atau melakukan pemberian apapun. Orang-orang dengan kemampuan kognitif (kemampuan pengembangan akal / rasional) yang baik, lebih berkemampuan dalam memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan yang lebih rendah, sangat kesulitan membayangkan bahwa orang lain bisa berbeda dengan dirinya dalam hal berpikir dan bersikap. Makanya mereka selalu bertentangan dengan orang lain. Begitu pula terkait dengan konsep kebaikan seperti menolong orang lain tanpa pamrih ataupun memberikan yang baik tanpa mengharapkan imbalan apapun, sebagai suatu hal yang aneh banget bagi orang-orang yang dungu.
Tentu saja semua orang ada sifat egoist-nya. Tetapi sangatlah penting agar kita tetap menjaga keberimbangan antara keinginan lahiriah untuk mengejar apa-apa yang menjadi target-target kita, dengan kebutuhan batiniah, dengan memasukkan pertimbangan tentang bagaimana perasaan orang lain.
5. Orang-orang dungu selalu menganggap dirinya lebih dari orang lain.
Orang-orang dengan intelegensia yang lebih tinggi, mempunyai kecenderungan lebih tinggi dalam hal menolong dan memotivasi orang lain. Mereka memiliki kecenderungan seperti ini, karena tidak khawatir akan disaingi (atau tersaingi) oleh orang yang ditolongnya. Orang-orang seperti ini mempunyai tingkat rasa percaya diri yang cukup tinggi, dan mereka cukup cerdas untuk mengakses tingkat kompetensi diri.
Sebaliknya orang-orang dungu / bodoh (intelegensianya kurang) selalu menggunakan cara dengan menjelek-jelekkan orang lain, atau mengecilkan prestasi orang lain agar prestasinya sendiri terlihat seolah-olah baik. Ini terungkap dari penelitian 2 orang ilmuwan Canada, dari the Brock University of Ontario, yang hasilnya dipublikasikan di “Psychological Science“. Menurut penelitian mereka, orang-orang dengan intelegensia yang rendah, selalu merasa diirinya lebih dan selalu cepat sekali menghakimi seseorang tanpa menyelidiki mendalam. Terbukti dari peneliitian tersebut bahwa orang-orang yang sering berprasangka buruk ternyata memiliki IQ yang lebih rendah. Bahkan IQ yang sangat rendah cenderung lebih kejam apabila menjatuhkan hukuman, kehidupannya dipenuhi rasa curiga dan agak lebih bersifat racist (membeda-bedakan atas dasar warna kulit atau lainnya).
Banyak ahli biologis percaya bahwa kemampuan manusia untuk bekerjasama haruslah merupakan bahagian dari proses sebuah pengembangan diri secara umum. Maknanya, bahwa tanda-tanda terpenting yang paling signifikan dari tingkat kecerdasan seseorang adalah dengan melihat bagaimana mereka bekerjasama dengan orang lain. Kemampuan bekerja-sama, saling menghargai dengan berbagai pihak di dalam sebuah tatanan masyarakat yang amat beragam, merupakan bukti nyata apakah seseorang itu memiliki tingkat kecerdasan yangg tinggi ataukah tingkat kecerdasan yang rendah.
- Selesai-
Sumber: http://www.independent.co.uk/life-style/5-habits-of-stupid-people-that-smart-people-don-t-have-a7620941.html
Catatan Andy Rustam:
Kenapa saya tertarik menterjemahkan tulisan ini dan memuatnya di blog saya? Ini ada alasan tersendiri. Selama saya menjadi pengajar dalam bidang-bidang yang terkait dengan komunikasi, selalu saya tekankan agar kalau ingin melakukan komunikasi yang effektif, selalulah menggunakan bahasa / struktur komunikasi yang bersifat logis dan berbahasa positif agar mendapatkan effek / respon yang positif pula. Bahkan kitab suci agama manapun juga menganjurkan untuk berkomunikasi, berbahasa, bertutur-kata dan bersikap yang baik. Tetapi mengapa kenyataan di lapangan berbeda. Terutama di medsos, di televisi ataupun pada ceramah-ceramah di mesjid dan pidato-pidato di lapangan terbuka. Mengapa begitu banyak pesan-pesan komunikasi yang berbahasa negatif, tidak logis bahkan dengan gaya bicara yang vulgar pula.
Dengan semakin banyaknya orang memilih cara berkomunikasi seperti ini, artinya mereka menilai bahwa komuunikasi dengan cara ini pastinya lebih effektif dong?!? Padahal hampir semua ilmuwan / pakar komunikasi bilang bahwa, berbahasa yang negatif menghasilkan citra yang negatif bagi si komunikator dimata komunikannya, pelanggannya, dan orang-orang disekitar yang turut mendengarkan. Berbahasa negatif juga akan menimbulkan konflik dan konfrontasi yang tidak perlu. Negative language conveys a poor image to communicants, to customers, and those around us. It causes conflict and confrontation where none is necessary or desired. (Robert Bacal & Associates).
Nah setelah saya membaca tulisan dari Lisa Schonhaar & Gisela Wolf inilah saya baru menemukan jawabannya. Ternyata penyebab mereka menggunakan komunikasi negatif seperti selama ini, itu dikarenakan tingkat kecerdasan mereka memang rendah. Lalu dikarenakan sebahagian besar masyarakat kita juga masih kurang dalam hal pendidikan, maka penggunaan komunikasi negatif justru menjadi effective. Bukankah istilah Komunikasi berasal dari kata Common (=sama)? Jadi cocoklah komunikasinya dari orang dungu buat orang bodoh. Hehehe... SELAMAT TAHUN BARU 2018 (arm)
Diterjemahkan oleh Andy Rustam
Sebelumnya kita telah membaca tulisan ini (Bagian 1), dimana telah dibahas berdasarkan penelitian bahwa sikap dan perilaku yang agresif dan pemarah itu banyak terkait dengan tingkat kebodohan seseorang. 3 Kebiasaan sudah disinggung masih ada sisa 2 lagi kebiasaan orang-orang dungu sebagai berikut:
4. Orang-orang bodoh biasanya tidak peduli pada kebutuhan dan perasaan orang lain.
Russel James dari Texas Technology University, mengatakan bahwa orang-orang dengan intelegensia yang tinggi, sangat mudah untuk berempati dengan apa yang dialami orang lain. Ini menyebabkan mereka sangat mudah memahami sudut pandang orang lain dalam menghadapi satu masalah.
Penelitian yang dilakukan Russel James meliputi ribuan responden di Amerika Serikat. Ia menemukan bahwa, orang dengan IQ yang tinggi cenderung tidak mengharapkan apa-apa ketika melakukan pertolongan atau melakukan pemberian apapun. Orang-orang dengan kemampuan kognitif (kemampuan pengembangan akal / rasional) yang baik, lebih berkemampuan dalam memahami dan memenuhi kebutuhan orang lain.
Orang-orang yang memiliki kecerdasan yang lebih rendah, sangat kesulitan membayangkan bahwa orang lain bisa berbeda dengan dirinya dalam hal berpikir dan bersikap. Makanya mereka selalu bertentangan dengan orang lain. Begitu pula terkait dengan konsep kebaikan seperti menolong orang lain tanpa pamrih ataupun memberikan yang baik tanpa mengharapkan imbalan apapun, sebagai suatu hal yang aneh banget bagi orang-orang yang dungu.
Tentu saja semua orang ada sifat egoist-nya. Tetapi sangatlah penting agar kita tetap menjaga keberimbangan antara keinginan lahiriah untuk mengejar apa-apa yang menjadi target-target kita, dengan kebutuhan batiniah, dengan memasukkan pertimbangan tentang bagaimana perasaan orang lain.
5. Orang-orang dungu selalu menganggap dirinya lebih dari orang lain.
Orang-orang dengan intelegensia yang lebih tinggi, mempunyai kecenderungan lebih tinggi dalam hal menolong dan memotivasi orang lain. Mereka memiliki kecenderungan seperti ini, karena tidak khawatir akan disaingi (atau tersaingi) oleh orang yang ditolongnya. Orang-orang seperti ini mempunyai tingkat rasa percaya diri yang cukup tinggi, dan mereka cukup cerdas untuk mengakses tingkat kompetensi diri.
Sebaliknya orang-orang dungu / bodoh (intelegensianya kurang) selalu menggunakan cara dengan menjelek-jelekkan orang lain, atau mengecilkan prestasi orang lain agar prestasinya sendiri terlihat seolah-olah baik. Ini terungkap dari penelitian 2 orang ilmuwan Canada, dari the Brock University of Ontario, yang hasilnya dipublikasikan di “Psychological Science“. Menurut penelitian mereka, orang-orang dengan intelegensia yang rendah, selalu merasa diirinya lebih dan selalu cepat sekali menghakimi seseorang tanpa menyelidiki mendalam. Terbukti dari peneliitian tersebut bahwa orang-orang yang sering berprasangka buruk ternyata memiliki IQ yang lebih rendah. Bahkan IQ yang sangat rendah cenderung lebih kejam apabila menjatuhkan hukuman, kehidupannya dipenuhi rasa curiga dan agak lebih bersifat racist (membeda-bedakan atas dasar warna kulit atau lainnya).
Banyak ahli biologis percaya bahwa kemampuan manusia untuk bekerjasama haruslah merupakan bahagian dari proses sebuah pengembangan diri secara umum. Maknanya, bahwa tanda-tanda terpenting yang paling signifikan dari tingkat kecerdasan seseorang adalah dengan melihat bagaimana mereka bekerjasama dengan orang lain. Kemampuan bekerja-sama, saling menghargai dengan berbagai pihak di dalam sebuah tatanan masyarakat yang amat beragam, merupakan bukti nyata apakah seseorang itu memiliki tingkat kecerdasan yangg tinggi ataukah tingkat kecerdasan yang rendah.
- Selesai-
Sumber: http://www.independent.co.uk/life-style/5-habits-of-stupid-people-that-smart-people-don-t-have-a7620941.html
Catatan Andy Rustam:
Kenapa saya tertarik menterjemahkan tulisan ini dan memuatnya di blog saya? Ini ada alasan tersendiri. Selama saya menjadi pengajar dalam bidang-bidang yang terkait dengan komunikasi, selalu saya tekankan agar kalau ingin melakukan komunikasi yang effektif, selalulah menggunakan bahasa / struktur komunikasi yang bersifat logis dan berbahasa positif agar mendapatkan effek / respon yang positif pula. Bahkan kitab suci agama manapun juga menganjurkan untuk berkomunikasi, berbahasa, bertutur-kata dan bersikap yang baik. Tetapi mengapa kenyataan di lapangan berbeda. Terutama di medsos, di televisi ataupun pada ceramah-ceramah di mesjid dan pidato-pidato di lapangan terbuka. Mengapa begitu banyak pesan-pesan komunikasi yang berbahasa negatif, tidak logis bahkan dengan gaya bicara yang vulgar pula.
Dengan semakin banyaknya orang memilih cara berkomunikasi seperti ini, artinya mereka menilai bahwa komuunikasi dengan cara ini pastinya lebih effektif dong?!? Padahal hampir semua ilmuwan / pakar komunikasi bilang bahwa, berbahasa yang negatif menghasilkan citra yang negatif bagi si komunikator dimata komunikannya, pelanggannya, dan orang-orang disekitar yang turut mendengarkan. Berbahasa negatif juga akan menimbulkan konflik dan konfrontasi yang tidak perlu. Negative language conveys a poor image to communicants, to customers, and those around us. It causes conflict and confrontation where none is necessary or desired. (Robert Bacal & Associates).
Nah setelah saya membaca tulisan dari Lisa Schonhaar & Gisela Wolf inilah saya baru menemukan jawabannya. Ternyata penyebab mereka menggunakan komunikasi negatif seperti selama ini, itu dikarenakan tingkat kecerdasan mereka memang rendah. Lalu dikarenakan sebahagian besar masyarakat kita juga masih kurang dalam hal pendidikan, maka penggunaan komunikasi negatif justru menjadi effective. Bukankah istilah Komunikasi berasal dari kata Common (=sama)? Jadi cocoklah komunikasinya dari orang dungu buat orang bodoh. Hehehe... SELAMAT TAHUN BARU 2018 (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar