oleh Andy Rustam
Kalau mengambil contoh penyiar yang baik dalam mewawancari seorang tamu (narasumber), apalagi dalam sebuah acara khusus “talk show”, sulit bagi saya untuk mencari contohnya dari dalam negeri. Walaupun seandainya acaranya atau penyiarnya sudah populer sekalipun, tidak berarti teknik mewawancarainya sudah benar. Mungkin kalau saya didesak: “Masa’ ngga ada 1 penyiar pun yang teknik mewawancarainya bagus?” Saya akan jawab: “Ada. Andi Noya dari 'Kick Andy'”. Tetapi kalau talk-show host dari luar negeri, banyak sekali yang bisa dijadikan contoh. Bagaimana yang disebut wawancara yang baik? Sebuah sesi wawancara yang nyaman, mudah dan menarik diikuti, lalu nanti di akhir wawancara, pendengar / pemirsa memperoleh nilai / manfaat ataupun pemahaman baru, maka sebetulnya itulah sebuah acara wawancara yang baik.
Oleh karena itu seorang penyiar yang bermaksud mewawancarai tamunya, haruslah melalui prosedur pula, dan bukan serta merta begitu saja bertanya. Di bawah ini, apa-apa saja prosedur yang harus dilakukan, sbb:
Kalau mengambil contoh penyiar yang baik dalam mewawancari seorang tamu (narasumber), apalagi dalam sebuah acara khusus “talk show”, sulit bagi saya untuk mencari contohnya dari dalam negeri. Walaupun seandainya acaranya atau penyiarnya sudah populer sekalipun, tidak berarti teknik mewawancarainya sudah benar. Mungkin kalau saya didesak: “Masa’ ngga ada 1 penyiar pun yang teknik mewawancarainya bagus?” Saya akan jawab: “Ada. Andi Noya dari 'Kick Andy'”. Tetapi kalau talk-show host dari luar negeri, banyak sekali yang bisa dijadikan contoh. Bagaimana yang disebut wawancara yang baik? Sebuah sesi wawancara yang nyaman, mudah dan menarik diikuti, lalu nanti di akhir wawancara, pendengar / pemirsa memperoleh nilai / manfaat ataupun pemahaman baru, maka sebetulnya itulah sebuah acara wawancara yang baik.
Oleh karena itu seorang penyiar yang bermaksud mewawancarai tamunya, haruslah melalui prosedur pula, dan bukan serta merta begitu saja bertanya. Di bawah ini, apa-apa saja prosedur yang harus dilakukan, sbb:
- Persiapan tentang topik yang akan diangkat, serta narasumber yang harus diwawancarai. Pelajari topik, cari data dan fakta serta latar-belakang dari topik. Dimana duduk permasalahannya, barangkali ada kontroversikah? Apa dampaknya bagi masyarakat? dsb.
- Tetapkan tujuan dari adanya wawancara ini. Apa harapan manfaatnya bagi masyarakat dengan adanya wawancara ini? Nah... untuk dapat mencapai tujuan itu kemudian buatlah kerangka apa-apa yang akan ditanyakan. Kerangka pertanyaan ini bisa menjadi acuan nantinya apabila percakapan terseret menyimpang dari jalur.
- Setelah memiliki tujuan, maka kita bisa menghubungi narasumber-narasumber yang kompeten dalam bidangnya sebagai calon “tamu” kita. Pelajari latar belakang, pendidikan, pekerjaan dan pengalaman mereka sebagai referensi yang diperlukan ketika nanti akan mewawancarainya.
- Sebelum acara wawancara, sebaiknya selaku host, penyiar berkenalan dulu secara langsung dan ngobrol ringan agar suasana menjadi lebih rileks (tidak kaku). Mungkin anda (penyiar) bisa memberikan gambaran terlebih dahulu kepada tamu, bagaimana kira-kira jalannya acara wawancara akan berlangsung. Infokan juga kepada tamu, siapa pendengar / pemirsa siaran anda. Sehingga si tamu-pun dapat menyesuaikan jawaban-jawaban yang diberikan agar mudah dipahami oleh audience. Jelaskan pula sedikit kira-kira apa-apa yang akan ditanyakan, dan apa tujuan dari wawancara ini. Kalau ada pertanyaan yang kira-kira sensitif dan biasanya sulit (menyinggung perasaan) sebaiknya si tamu diberitahu terlebih dahulu, sehingga ia akan mampu mempersiapkan jawabannya. Tentu jangan terlalu detail, agar unsur spontanitas alaminya tetap terjaga ketika wawancara berlangsung.
- Sadarilah bahwa tamu (yang akan diwawancarai) biasanya juga merasa sedikit tegang / gugup. Tugas kita sebagai host juga membuat mereka merasa rileks. Tawarkan minuman ringan, adalah salah satu cara. Perkenalkan pula team produksi yang akan berada di ruang siaran ketika wawancara berlangsung nanti. Berikan beberapa penjelasan tentang peralatan yang akan digunakan, sehingga merekapun cepat merasa familiar dan itu semua akan membuat rasa gugup berkurang jauh.
- Ketika acara dibuka, tentu anda sampaikan kepada pendengar / pemirsa, acara anda, Topik Pembahasan dan... para tamu / narasumber. Nah... pada awal, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan adalah pertanyaan-pertanyaan yang bersifat “ice breaking”, yaitu sifatnya ringan dan segar. Misal: Bagaimana dulu ketika masih kecil?; Kenapa tertarik dengan bidang ini? Nuansa suara yang dikeluarkan oleh penyiar, adalah nada “ngobrol” walaupun formal.
- Setelah melewati tahap awal, maka pada tahap selanjutnya, mulai bisa dilontarkan pertanyaan terkait dengan masalah-masalah, dengan mengacu kepada tujuan yang akan dicapai dari wawancara ini. Ketika memasuki bagian ini, penyiar bukan hanya melontarkan pertanyaan dengan membaca apa-apa yang sudah dipersiapkan, namun harus juga mampu mendengar dengan seksama jawaban yang diberikan oleh tamu. Barangkali dari jawaban yang diberikan ada yang perlu dikejar untuk ditanyakan guna memperjelas pemahaman atas penjelasan. Urutan pertanyaan pun menyesuaikan dengan situasinya.
- Jangan bergaya seperti menginterogasi tamu. Ingat, wawancara ini bukan mengenai diri si penyiar yang harus menonjol, melainkan justru penyiar harus membuat si tamu menonjol, karena dia-lah sesungguhnya “bintang”nya. Seluruh proses tanya-jawab harus berlangsung wajar seperti sebuah percakapan biasa (conversational style). Berbicaralah dan lontarkanlah pertanyaan dengan nada bicara yang “tenang”, tidak terburu-buru. Tamu pun merasa nyaman, dengan demikian pendengar / penonton nyaman mengikutinya. Apabila terlihat si tamu, menghindari pertanyaan ataupun tidak ingin memberikan jawaban atau bahkan berbohong, dan anda penyiar mengetahuinya, maka yang terbaik adalah anda / penyiar diam sebentar.. (memberi kesempatan lagi si tamu untuk mengkoreksi jawabannya). Apabila si tamu masih tetap pada pendiriannya anda / penyiar bisa mengatakan: “Kelihatannya bapak sulit untuk terbuka memberikan jawaban apa adanya... baiklah kita skip / lompati pertanyaan tersebut dan melanjutkan ke pertanyaan berikut.
- Jangan memotong si tamu yang sedang memberikan kalimat-kalimat jawaban. Tunggulah saat yang tepat untuk menyela yaitu ketika kalimatnya sudah selesai. Menyelalah dengan kalimat yang tenang dan matang. Misal: “Maaf, saya potong sebentar dan bisa saya ulangi lagi dan perjelas pertanyaannya?"
- Bertanya dengan cara langsung menggunakan kalimat tanya, dan bukannya membuat statement-statement yang mendahului pertanyaan. Misal: (contoh salah) “Dari begitu yang ditawarkan, khan ada alat-alat masak, ada alat-alat elektronik, laptop, pakaian-pakaian, beras dsb, mengapa kok bapak mengambil pakaian-pakaian pak dan bukannya alat-alat elektronik? Bukankah pekerjaan bapak membutuhkan itu?”. Misal (contoh benar): “Mengapa dari begitu banyak yang ditawarkan, bapak lebih memilih pakaian-pakaian?”
- Sebelum mengakhiri, untuk mengembalikan suasana agar kembali ke suasana yang rileks, bisa dilontarkan pertanyaan ringan namun masih terkait dengan topik, biasanya seputar keluarga atau pribadi. Misal: “Pertanyaan terakhir pak... Sebagai menteri Olahraga, bagaimana cara bapak membangun kesadaran berolahraga pada anak-anak bapak?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar