15 Maret 2018

Kunci Keberhasilan Siaran / Tayangan

oleh Andy Rustam

Pernahkah anda menonton film, dan setelah film tersebut selesai anda masih saja teringat dan bahkan hafal dengan beberapa adegan atau kalimat-kalimat yang diucapkan? Itu artinya film tersebut sangat efektif mengkomunikasikan pesannya. Contohnya kalimat yang lagi viral ini: “Jangan rindu, itu berat. Kamu nggak akan kuat, biar aku saja”. Hahaha... yaa kalimat ini cuplikan dari film Dilan 1990 karya sutradara Fajar Bustomi. Saya duga dengan suksesnya film ini pasti akan banyak lagi film-film atau sinetron-sinetron di televisi kita yang meniru-meniru untuk membuat tayangan yang mirip-mirip. Lalu dengan memperbanyak kalimat-kalimat “gombal”-nya berharap agar juga bisa laris seperti film tersebut.

Penafsiran Hasil Survey

Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan beberapa mantan murid yang sudah cukup lama bekerja di bidang broadcasting. Salah satu yang menjadi keluhan mereka adalah: “mau bikin acara apalagi ya?“ Lalu mereka memperlihatkan hasil survey Nielsen yang menunjukkan bukan hanya acara apa yang populer (misal: sinetron), tetapi juga diperlihatkan pada menit ke sekian terjadi penurunan atau kenaikan jumlah pemirsa. Lalu ditelusurilah pada sinetron tersebut pada menit ke sekian itu ada adegan apa? Ternyata kelihatan (misalnya) ada adegan “marah-marah lalu menangis”, maka adegan tersebut kemudian ditafsirkan sebagai “sangat disukai”. Nah demi kenaikan rating, maka adegan tersebut akan diperbanyak lagi pada episode-episode berikut. Jadi tidak usah heran, akhirnya sinetron kita akan mirip semua jalan ceritanya, dan bahkan mirip juga adegan-adegannya.

Di radio pun demikian... Rahasia sebuah radio yang sukses dan banyak pendengarnya ternyata bahwa semua lagu yang dipasang berdasarkan hasil survey. Kemudian radio pesaing juga melakukan hal yang sama, memasang lagu sesuai hasil survey juga, dan akhirnya ya hampir semua stasiun di kota itu lagunya sama. Ketika film daur-ulang sukses (Warkop Reborn), maka langsung ramailah orang-orang pada bikin film daur-ulang (Ada Apa Cinta II; Benyamin Biang Kerok; Pengabdi Setan dsb). Makanya itu tadi saya berani bilang bahwa tidak lama lagi akan banyak film / sinetron ala “Dilan 1990”.

Pertanyaannya, kalaulah untuk sukses caranya semudah itu maka akan banyak sekali yang sukses, bukan? Padahal kenyataannya tidak demikian juga. Bukannya saya tidak percaya dengan angka-angka hasil survey. Tapi yang saya garis bawahi adalah cara membaca dan menafsirkan hasil survey tersebut. Ketika sebuah survey mengatakan bahwa Film Horror “A” menarik banyak penonton, lalu itu ditafsirkan bahwa masyarakat menyukai film horor, ini yang salah. Karena banyak hal yang menyebabkan pada saat itu orang menonton film horror “A” tsb. Bisa karena faktor tak terkait film itu sendiri, seperti: pada saat itu kebetulan hanya film inilah satu-satunya film Indonesia yang lagi tersedia, atau faktor terkait pemainnya dimana misalnya, si pemeran utamanya adalah wanita yang video tentang gossipnya sedang viral. Tetapi tentu saja tidak dipungkiri, ada beberapa orang dari responden yang memang menyukai film genre horor, dikarenakan kedekatan dengan budaya tempat dia berasal. Jadi sebenarnya banyak sekali faktor-faktor lain yang menyebabkan rating film horor tersebut tinggi, dan bukan semata-mata karena orang-orang menyukai film horor.

Prinsip Komunikasi agar Efektif

Secara mudahnya, apakah itu sebuah acara tayangan TV, film, atau siaran lagu / kata dari sebuah stasiun radio, dalam ilmu komunikasi itu tetaplah merupakan sebuah pesan. Sedangkan menurut pakar ilmu komunikasi (Mazzolini & Venini, 1997), sebuah komunikasi akan efektif apabila: (Kalau dianalogikan bisa diartikan menjadi, sbb: sebuah acara / tayangan / siaran akan menarik untuk diikuti apabila:),
  1. Pesan Komunikasi-nya relevan dengan si komunikan. Artinya, kalau kita kaitkan dengan film Dilan 1990, maka jalan cerita, dialog, suasana / atmosfir relevan dengan khalayak penonton film yang mengalami masa remajanya di th 90-an. Hal inilah yang membuat orang senang menonton film tersebut. Misalnya hasil survey mengatakan film ini disukai oleh masyarakat, kalau saya jadi produser film, maka bukannya saya akan memproduksi film tiruan Dilan 1990, melainkan saya akan memproduksi film yang “relevan” dengan khalayak penonton film yang dituju. Tidak mesti film itu harus film ala Dilan.
  2. Kesamaan representasi symbol (antara komunikator dan komunikan) baik berupa tanda, istilah, dan gaya dalam menyampaikan pesan. Dalam halnya siaran radio, misalnya sebuah radio dangdut yang sukses di Jakarta, dimana para penyiarnya menggunakan gaya bahasa betawian (Jakarte), kemudian siaran radio tersebut di relay di daerah Banyuwangi (Jawa Timur), sudah dapat dipastikan radio tersebut tidak akan sukses. Karena istilah-istilah Jakarte / Betawian sangat berbeda dengan istilah dan gaya bahasa masyarakat di daerah lain (misalnya, Osing / Banyuwangian).
  3. Kedekatan fisik dan atau kedekatan emosional (antara komunikator dan komunikan). Kalau mengacu kepada faktor ini, maka artinya, tidaklah heran kalau misalnya sinetron / film India sangat digemari di stasiun TV kita. Karena hampir semua cerita film / sinetron India berkisah bagaimana seseorang yang hidupnya susah, tertekan, mengalami ketidak-adilan, akhirnya bisa hidup berbahagia. Ceritanya ala Bawang Putih & Bawang Merah. Cerita-cerita seperti ini memang memiliki kedekatan emosional pada sebahagian besar masyarakat kita. Mereka merasa senasib dengan tokoh dalam cerita tersebut, dan merekapun jadi seperti memiliki semangat dan mempunyai harapan untuk merubah nasib mereka setelah menonton film ini.
  4. Situasi / keadaaan lingkungan, waktu, dan tempat. Pesan yang sama tapi diberikan pada waktu atau keadaan yang salah, maka hasilnya akan berbeda. Misalnya, anda mengucapkan selamat kepada seorang teman yang berhasil Lulus dengan Predikat Cum Laude, pada saat pengumuman keputusan tersebut dikeluarkan. Hasilnya tentu, teman anda itu akan menyambutnya dengan gembira sambil tertawa-tawa. Tetapi seandainya anda memberikan ucapan Selamat tersebut ketika teman anda itu sedang berkabung karena ibundanya meninggal, maka sudah pasti dia tidak akan bereaksi dengan gembira dan tertawa-tawa, bukan? Begitu pula ketika anda sedang membuat dan menyusun acara-acara untuk disiarkan oleh stasiun anda, maka pertimbangkan bagaimana situasi / keadaan lingkungan waktu dan tempat para sasaran pendengar / pemirsa anda.
Sekarang tahulah kita bahwa 4 butir inilah sesungguhnya yang menjadi dasar apakah siaran anda atau tayangan anda bisa berhasil atau tidak. Artinya sekarang kita tidak perlu lagi jadi peniru untuk bisa berhasil dalam siaran / tayangan kita, karena kini kita bisa berkreasi menemukan hal-hal baru, selama itu masih berada dalam koridor tersebut diatas. (arm)

Tidak ada komentar: