oleh Andy Rustam
Sekarang ini sepertinya semua orang dituntut untuk kreatif. Maka berlomba-lombalah orang menciptakan hal-hal baru. Tapi tidak semua ide yang bagus ternyata berhasil ketika diimplementasikan. Tentu saja banyak ide bagus, tapi gagal dalam implementasinya. Namun kali ini kita tidak masuk ke persoalan implementasi, kita akan bahas dulu ide-nya itu sendiri. Barangkali pernah ada yang ingat, beberapa puluh tahun yang lalu ada seorang ilmuwan ahli tulang yang menciptakan sendok makan yang bentuknya aneh (lihat gambar). Bentuk sendok baru itu telah disesuaikan dengan anatomi posisi tangan lengan manusia. Maksudnya agar lebih memudahkan seseorang ketika menyuap makanan ke mulutnya, sekaligus akan meringankan beban kerja otot tangan. Sepertinya sebuah ide yang bagus, bukan? Tetapi ternyata sampai hari ini, saya belum pernah melihat ada orang yang mempergunakan sendok seperti itu.
Jadi Sebenarnya Apa yang disebut Ide Bagus?
Rupanya, sesuatu yang baru, sesuatu yang menggunakan teknologi baru ataupun sesuatu yang telah dikaji secara ilmiah pun sehingga manfaatnya tak diragukan lagi, tetap saja belum tentu menjamin bahwa idee tersebut bagus, dan berhasil dimasyarakatkan. Barangkali Ide yang disebut Bagus itu hanyalah sesuatu yang kebetulan saja, yaa? Mari kita lihat dulu kesamaan dari ide-ide yang telah berhasil dan sukses memasyarakat, seperti misalnya: Online Transportation (seperti: Gojek), Online Shops (seperti: Bukalapak), Smartphone, dsb. Kalau kita lihat ada kesamaan ciri atau karakter dari Ide2 Bagus ini.
Coba perhatikan, bahwa semua ide-ide tersebut sebenarnya bukanlah membawa hal-hal yang benar2 baru. Sebelum ada Smartphone pun, orang sudah berkomunikasi pula melalui telephone kabel, dan juga sudah senang berfoto-foto dgn camera foto, atau berkirim surat melalui pos.. dsb, bukan? Sebelum ada Gojek, orangpun sudah sering naik ojek. Sebelum ada Online Shop, orangpun sudah biasa memesan barang melalui telpon dari toko langganannya. Jadi idee bagus itu muncul, dengan tujuan hanyalah untuk lebih memudahkan orang dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan kebiasaannya.
Kalau kita bandingkan dengan ide sendok makan tersebut di atas, terlihat bahwa walaupun baik dan lebih sehat secara anatomis, tetapi orang harus merubah kebiasaannya dalam menyuapkan sendok ke mulut, harus merubah posisi memegang sendok sehingga buat kebanyakan orang akan terasa aneh. Mungkin sekali ini yang menjadi penyebab gagalnya ide tersebut memasyarakat.
Ciri-ciri Ide yang Bagus
(1) Berbeda tetapi tidak aneh. Tentulah sebuah ide baru harus memiliki perbedaan, memiliki suatu keunikan, dari sesuatu yang pernah ada. Keunikan pembedanya ini tentunya memiliki improvement (peningkatan menjadi lebih baik), terutama dari sisi kegunaannya. Kegunaan inilah sebenarnya jawaban atas kekurangan dari ide yang sudah ada sebelumnya dan telah berlaku selama ini.
(2) Improvement-nya Memiliki Nilai Tambah (better value). “Nilai Tambah”, sebuah istilah yang terkait dengan perbaikan, hingga menjadikan sesuatu itu lebih baik, lebih kuat, lebih awet, lebih mudah, lebih murah, lebih indah, lebih sehat dsb dsb. Hal ini secara umum sama-sama kita sepakati. Tetapi yang dilupakan adalah bahwa, apakah memang masyarakat menginginkan “Nilai Tambah” tersebut. Kalau kita lihat kembali kasus sendok bengkok diatas, “Nilai Tambah” buat sendok bengkok tersebut adalah otot tangan akan lebih sehat karena otot bekerja lebih relax ketika sedang menyuapkan makanan ke mulut. Masalahnya Nilai Tambah ini bukanlah Nilai Tambah yang diinginkan masyarakat.
(3) Idee harus selalu memiliki kemungkinan untuk diimplementasikan. Khayalan biasanya awal dari sebuah idee. Namun khayalan jauh lebih bebas, karena tidak memiliki batas. Tapi sebuah idee dibatasi dengan berapa besar kemungkinannya untuk diimplementasikan. Kita boleh berkhayl bahwa suatu saat nanti manusia akan dapat melakukan perjalanan melintasi waktu (berada pada waktu kemarin atau berada pada waktu yang akan datang). Ini adalah khayalan. Tetapi kalau ada seseorang ia memiliki idee mau membuat “Fly-Jek”, alias Ojek terbang, maka ini adalah sebuah ide. Karena “Ojek” adalah hal biasa, dan “Drone” juga sudah merupakan hal biasa. Jadi memiliki idee membuat perusahaan transportasi “Fly-Jek”, adalah suatu hal yang sangat mungkin. Ini bukanlah khayalan melainkan sebuah “Ide yang bagus”.
(4) Biaya yang dikeluarkan harus jauh lebih kecil dari value yang diperoleh. Soal untung-rugi dari sisi customer (atau pengguna idee tersebut) juga harus menjadi sebuah persyaratan, agar sebuah idee dapat diterima secara luas. Misalnya idee “Fly-Jek” tersebut diatas. Seandainya saya setiap hari mau ke kantor harus mengeluarkan biaya ojek pulang-pergi sebesar Rp 40.000,00 dengan lama perjalanan 1 jam, tapi kalau nanti ada “Fly-Jek” yang via udara bisa mengantar saya ke kantor dengan menempuh lama perjalanan hanya 10 menit, tapi biaya-nya sekali jalan Rp 700.000,00, apakah kira-kira saya mau menggunakan Fly-Jek tiap hari???
Mencari Ide yang Bagus
Setelah mengetahui 4 ciri tersebut di atas, lalu bagaimana caranya mencari ide? Sebenarnya kita harus tahu dulu, kenapa kita memerlukan Ide Baru? Biasanya karena kita memiliki problem, atau karena kita ingin menjadi lebih baik dari apa yang ada sekarang ini. Biasanya kita bisa mendapat inspirasi dari hal lain yang bisa dikaitkan menjadi solusi dari problem kita. Kalau kita sudah tahu alasannya kenapa, maka tentu kita bisa membuat kriteria apa sebuah idee bisa disebut bagus. Kriteria ini perlu ditulis, agar menjadi indikator ketika nanti ada beberapa ide / gagasan yang muncul. Contoh: Misal saja, bahan plastik sumber pencemaran lingkungan. Padahal plastik adalah bahan yang serbaguna terutama untuk bahan kemasan berbagai produk, karena sifatnya yang tahan air, ringan dan harganya murah. Maka kriteria Ide Yang Bagus disini adalah apabila kita bisa menemukan bahan untuk kemasan produk, yang tahan air, ringan dan lebih murah harganya dari plastik dan tidak menimbulkan pencemaran. Mungkin saja kita bisa menemukan cara mengolah kertas supaya pori-porinya bisa dimampatkan sehingga menjadi tahan air. Seperti kita tahu, kertas adalah bahan organik yang tidak menimbulkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Barangkali bisa khan? (arm)
Sekarang ini sepertinya semua orang dituntut untuk kreatif. Maka berlomba-lombalah orang menciptakan hal-hal baru. Tapi tidak semua ide yang bagus ternyata berhasil ketika diimplementasikan. Tentu saja banyak ide bagus, tapi gagal dalam implementasinya. Namun kali ini kita tidak masuk ke persoalan implementasi, kita akan bahas dulu ide-nya itu sendiri. Barangkali pernah ada yang ingat, beberapa puluh tahun yang lalu ada seorang ilmuwan ahli tulang yang menciptakan sendok makan yang bentuknya aneh (lihat gambar). Bentuk sendok baru itu telah disesuaikan dengan anatomi posisi tangan lengan manusia. Maksudnya agar lebih memudahkan seseorang ketika menyuap makanan ke mulutnya, sekaligus akan meringankan beban kerja otot tangan. Sepertinya sebuah ide yang bagus, bukan? Tetapi ternyata sampai hari ini, saya belum pernah melihat ada orang yang mempergunakan sendok seperti itu.
Jadi Sebenarnya Apa yang disebut Ide Bagus?
Rupanya, sesuatu yang baru, sesuatu yang menggunakan teknologi baru ataupun sesuatu yang telah dikaji secara ilmiah pun sehingga manfaatnya tak diragukan lagi, tetap saja belum tentu menjamin bahwa idee tersebut bagus, dan berhasil dimasyarakatkan. Barangkali Ide yang disebut Bagus itu hanyalah sesuatu yang kebetulan saja, yaa? Mari kita lihat dulu kesamaan dari ide-ide yang telah berhasil dan sukses memasyarakat, seperti misalnya: Online Transportation (seperti: Gojek), Online Shops (seperti: Bukalapak), Smartphone, dsb. Kalau kita lihat ada kesamaan ciri atau karakter dari Ide2 Bagus ini.
Coba perhatikan, bahwa semua ide-ide tersebut sebenarnya bukanlah membawa hal-hal yang benar2 baru. Sebelum ada Smartphone pun, orang sudah berkomunikasi pula melalui telephone kabel, dan juga sudah senang berfoto-foto dgn camera foto, atau berkirim surat melalui pos.. dsb, bukan? Sebelum ada Gojek, orangpun sudah sering naik ojek. Sebelum ada Online Shop, orangpun sudah biasa memesan barang melalui telpon dari toko langganannya. Jadi idee bagus itu muncul, dengan tujuan hanyalah untuk lebih memudahkan orang dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan kebiasaannya.
Kalau kita bandingkan dengan ide sendok makan tersebut di atas, terlihat bahwa walaupun baik dan lebih sehat secara anatomis, tetapi orang harus merubah kebiasaannya dalam menyuapkan sendok ke mulut, harus merubah posisi memegang sendok sehingga buat kebanyakan orang akan terasa aneh. Mungkin sekali ini yang menjadi penyebab gagalnya ide tersebut memasyarakat.
Ciri-ciri Ide yang Bagus
(1) Berbeda tetapi tidak aneh. Tentulah sebuah ide baru harus memiliki perbedaan, memiliki suatu keunikan, dari sesuatu yang pernah ada. Keunikan pembedanya ini tentunya memiliki improvement (peningkatan menjadi lebih baik), terutama dari sisi kegunaannya. Kegunaan inilah sebenarnya jawaban atas kekurangan dari ide yang sudah ada sebelumnya dan telah berlaku selama ini.
(2) Improvement-nya Memiliki Nilai Tambah (better value). “Nilai Tambah”, sebuah istilah yang terkait dengan perbaikan, hingga menjadikan sesuatu itu lebih baik, lebih kuat, lebih awet, lebih mudah, lebih murah, lebih indah, lebih sehat dsb dsb. Hal ini secara umum sama-sama kita sepakati. Tetapi yang dilupakan adalah bahwa, apakah memang masyarakat menginginkan “Nilai Tambah” tersebut. Kalau kita lihat kembali kasus sendok bengkok diatas, “Nilai Tambah” buat sendok bengkok tersebut adalah otot tangan akan lebih sehat karena otot bekerja lebih relax ketika sedang menyuapkan makanan ke mulut. Masalahnya Nilai Tambah ini bukanlah Nilai Tambah yang diinginkan masyarakat.
(3) Idee harus selalu memiliki kemungkinan untuk diimplementasikan. Khayalan biasanya awal dari sebuah idee. Namun khayalan jauh lebih bebas, karena tidak memiliki batas. Tapi sebuah idee dibatasi dengan berapa besar kemungkinannya untuk diimplementasikan. Kita boleh berkhayl bahwa suatu saat nanti manusia akan dapat melakukan perjalanan melintasi waktu (berada pada waktu kemarin atau berada pada waktu yang akan datang). Ini adalah khayalan. Tetapi kalau ada seseorang ia memiliki idee mau membuat “Fly-Jek”, alias Ojek terbang, maka ini adalah sebuah ide. Karena “Ojek” adalah hal biasa, dan “Drone” juga sudah merupakan hal biasa. Jadi memiliki idee membuat perusahaan transportasi “Fly-Jek”, adalah suatu hal yang sangat mungkin. Ini bukanlah khayalan melainkan sebuah “Ide yang bagus”.
(4) Biaya yang dikeluarkan harus jauh lebih kecil dari value yang diperoleh. Soal untung-rugi dari sisi customer (atau pengguna idee tersebut) juga harus menjadi sebuah persyaratan, agar sebuah idee dapat diterima secara luas. Misalnya idee “Fly-Jek” tersebut diatas. Seandainya saya setiap hari mau ke kantor harus mengeluarkan biaya ojek pulang-pergi sebesar Rp 40.000,00 dengan lama perjalanan 1 jam, tapi kalau nanti ada “Fly-Jek” yang via udara bisa mengantar saya ke kantor dengan menempuh lama perjalanan hanya 10 menit, tapi biaya-nya sekali jalan Rp 700.000,00, apakah kira-kira saya mau menggunakan Fly-Jek tiap hari???
Mencari Ide yang Bagus
Setelah mengetahui 4 ciri tersebut di atas, lalu bagaimana caranya mencari ide? Sebenarnya kita harus tahu dulu, kenapa kita memerlukan Ide Baru? Biasanya karena kita memiliki problem, atau karena kita ingin menjadi lebih baik dari apa yang ada sekarang ini. Biasanya kita bisa mendapat inspirasi dari hal lain yang bisa dikaitkan menjadi solusi dari problem kita. Kalau kita sudah tahu alasannya kenapa, maka tentu kita bisa membuat kriteria apa sebuah idee bisa disebut bagus. Kriteria ini perlu ditulis, agar menjadi indikator ketika nanti ada beberapa ide / gagasan yang muncul. Contoh: Misal saja, bahan plastik sumber pencemaran lingkungan. Padahal plastik adalah bahan yang serbaguna terutama untuk bahan kemasan berbagai produk, karena sifatnya yang tahan air, ringan dan harganya murah. Maka kriteria Ide Yang Bagus disini adalah apabila kita bisa menemukan bahan untuk kemasan produk, yang tahan air, ringan dan lebih murah harganya dari plastik dan tidak menimbulkan pencemaran. Mungkin saja kita bisa menemukan cara mengolah kertas supaya pori-porinya bisa dimampatkan sehingga menjadi tahan air. Seperti kita tahu, kertas adalah bahan organik yang tidak menimbulkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Barangkali bisa khan? (arm)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar