oleh Andy Rustam
Tentu saja ide/gagasan yang unik dan baru merupakan salah satu unsur yang penting yang mampu membuat sebuah acara siaran berbeda dengan lainnya. Ide yang istimewa juga merupakan daya tarik yang berpotensi menarik banyak audience (penonton/pendengar). Tetapi tak mudah juga untuk menemukan gagasan baru untuk kita tampilkan setiap hari dalam siaran-siaran kita. Terkadang begitu terobsesinya kita untuk tampil dengan gagasan baru, sampai-sampai gagasan itu terasa seperti dipaksakan untuk berbeda. Akibatnya, bukan keunikan dan keistimewaan yang muncul, melainkan kekonyolan.
Oleh karena itu, cara menarik audience dengan ide baru bukanlah pilihan yang bisa dijadikan andalan. Cara menarik audience yang paling ampuh adalah dengan memperkuat cara penyajian. Ide yang biasa saja ditampilkan dengan cara penyajian yang prima, akan selalu dapat menyita perhatian audience.
Horor Fisik vs Horor Mental
Cerita horor dan misteri yang dibuat oleh rumah produksi lokal pernah menjadi acara yang penghasil rating terbesar bagi stasiun-stasiun TV swasta. Berlomba-lombalah para rumah produksi membuat gambar-gambar yang dimaksudkan untuk mengundang keseraman, antara lain dengan menampilkan hantu pocong terbungkus kain kafan, wajah bertaring yang berlumuran darah, ataupun sepotong tangan yang keluar dari kuburan dan melayang-layang. Hasilnya memang banyak penonton merasa cukup "horor".
Sebuah film horor tahun 1982 buatan Hollywood berjudul Amityville, punya cara lain dalam membangkitkan ke"horor"-an, yaitu dengan tidak menampilkan sama sekali gambar hantu atau makhluk-makhluk seram. Keseraman dibangun melalui gerakan kamera dan "bunyi suara nafas" yang tak jelas. Bagi yang pernah menonton film ini, tentu akan mengakui bahwa film ini adalah salah satu film yang paling mengerikan. Gambaran fisik hantu-hantu dengan segala atributnya, justru memperjelas bahwa itu semua hanyalah "make-up" dari si artis. Sebaliknya, dengan hanya memperdengarkan suara bisikan, maka penonton akan membayangkan sendiri keseraman si hantu menurut "seram"-nya masing-masing. Horor secara mental begini justru jauh lebih berhasil daripada horor fisik. Ini merupakan contoh, bagaimana ide ke-seram-an bisa disajikan secara sederhana (contoh dalam film Amityville) tapi justru lebih mencekam dibandingkan melihat gambar hantu-hantu hasil make-up ala sinetron/film Indonesia.
Kelihatan betul bahwa produser/sutradara yang handal mampu meng-optimal-kan kelebihan dari media audio-visual, sedangkan produser/sutradara yang pas-pasan hanya melihat salah satu sisi saja (dalam contoh diatas hanya visual) dari media audio-visual.
Ilustrasi Suara dan Ilustrasi Gambar
Pemahaman para pembuat tayangan audio-visual kita, cenderung salah kaprah. Rupanya pepatah "satu gambar lebih baik dari seribu kata-kata" begitu melekat di otak mereka, sampai-sampai mereka melupakan pentingnya audio. Mereka lupa pepatah tersebut lahir ketika teknologi foto baru lahir, dimana pada zaman sebelumnya orang-orang hanya berkirim surat kepada sanak saudara yang jauh. Sehingga ketika foto sudah menjadi hal baru, maka orang-orang dalam berkirim-surat sering menyelipkan/melampirkan foto dalam surat, di situlah lahir pepatah tersebut. Di zaman sekarang dimana film (sinetron/TV Show) semuanya menyajikan gambar bergerak dengan suara, maka tentu saja pepatah kuno itu sudah tak cocok lagi. Setiap orang yang ingin memproduksinya harus memahami bahwa baik visual maupun audio sama pentingnya. Bahkan beberapa sutradara top seperti Martin Scorsese dan Steven Spielberg menganggap bahwa "suara jauh lebih penting daripada gambar". Gambar bagus dengan ilustrasi suara yang buruk pasti akan menghasilkan reaksi negatif, sebaliknya gambar yang tak terlalu bagus dengan illustrasi suara yang bagus tetap mampu menghasilkan reaksi positif dari penonton.
Dalam tayangan audio-visual yang mempesona (seperti "Dances with Wolf"-nya Kevin Costner), suara bisa berperan sebagai ilustrasi dari gambar, dan gambar pun bisa berperan sebagai ilustrasi dari suara.
Orang dengan kemampuan dan pengetahuan tingkat tinggi saja yang mampu bervariasi mengoptimalkan peran audio dan peran visual.
Ide Biasa
Kalau anda berlangganan TV kabel, anda bisa menyaksikan tayangan dari National Geography ataupun Discovery Channel. Disini bisa anda temui bagaimana sebuah ide yang biasa saja, tapi membuat betah kita untuk menontonnya. Yang baru saya lihat kemarin hanya sebuah feature tentang seorang pemuda yang meminta punggungnya untuk di-tato dengan gambar dewi Kwan Im. Ia meminta kepada si tukang tato untuk merubah wajah Dewi Kwan Im dengan wajah ibunya yang telah meninggal yang amat dicintainya. Sutradara dengan cerdik membiarkan si pemuda bercerita tentang ibunya, dengan latar belakang suara mesin tato, ditambah dengan selingan foto-foto waktu ia masih bayi digendong oleh ibunya. Si ibu meninggal karena sakit kanker. Cara penyajian "cerita biasa" ini sangat menyentuh, sehingga tak terasa kita pun terlarut menikmati si pemuda bercerita dan mampu mrnggiring kita ikut merasa terharu. (arm)
Tentu saja ide/gagasan yang unik dan baru merupakan salah satu unsur yang penting yang mampu membuat sebuah acara siaran berbeda dengan lainnya. Ide yang istimewa juga merupakan daya tarik yang berpotensi menarik banyak audience (penonton/pendengar). Tetapi tak mudah juga untuk menemukan gagasan baru untuk kita tampilkan setiap hari dalam siaran-siaran kita. Terkadang begitu terobsesinya kita untuk tampil dengan gagasan baru, sampai-sampai gagasan itu terasa seperti dipaksakan untuk berbeda. Akibatnya, bukan keunikan dan keistimewaan yang muncul, melainkan kekonyolan.
Oleh karena itu, cara menarik audience dengan ide baru bukanlah pilihan yang bisa dijadikan andalan. Cara menarik audience yang paling ampuh adalah dengan memperkuat cara penyajian. Ide yang biasa saja ditampilkan dengan cara penyajian yang prima, akan selalu dapat menyita perhatian audience.
Horor Fisik vs Horor Mental
Cerita horor dan misteri yang dibuat oleh rumah produksi lokal pernah menjadi acara yang penghasil rating terbesar bagi stasiun-stasiun TV swasta. Berlomba-lombalah para rumah produksi membuat gambar-gambar yang dimaksudkan untuk mengundang keseraman, antara lain dengan menampilkan hantu pocong terbungkus kain kafan, wajah bertaring yang berlumuran darah, ataupun sepotong tangan yang keluar dari kuburan dan melayang-layang. Hasilnya memang banyak penonton merasa cukup "horor".
Sebuah film horor tahun 1982 buatan Hollywood berjudul Amityville, punya cara lain dalam membangkitkan ke"horor"-an, yaitu dengan tidak menampilkan sama sekali gambar hantu atau makhluk-makhluk seram. Keseraman dibangun melalui gerakan kamera dan "bunyi suara nafas" yang tak jelas. Bagi yang pernah menonton film ini, tentu akan mengakui bahwa film ini adalah salah satu film yang paling mengerikan. Gambaran fisik hantu-hantu dengan segala atributnya, justru memperjelas bahwa itu semua hanyalah "make-up" dari si artis. Sebaliknya, dengan hanya memperdengarkan suara bisikan, maka penonton akan membayangkan sendiri keseraman si hantu menurut "seram"-nya masing-masing. Horor secara mental begini justru jauh lebih berhasil daripada horor fisik. Ini merupakan contoh, bagaimana ide ke-seram-an bisa disajikan secara sederhana (contoh dalam film Amityville) tapi justru lebih mencekam dibandingkan melihat gambar hantu-hantu hasil make-up ala sinetron/film Indonesia.
Kelihatan betul bahwa produser/sutradara yang handal mampu meng-optimal-kan kelebihan dari media audio-visual, sedangkan produser/sutradara yang pas-pasan hanya melihat salah satu sisi saja (dalam contoh diatas hanya visual) dari media audio-visual.
Ilustrasi Suara dan Ilustrasi Gambar
Pemahaman para pembuat tayangan audio-visual kita, cenderung salah kaprah. Rupanya pepatah "satu gambar lebih baik dari seribu kata-kata" begitu melekat di otak mereka, sampai-sampai mereka melupakan pentingnya audio. Mereka lupa pepatah tersebut lahir ketika teknologi foto baru lahir, dimana pada zaman sebelumnya orang-orang hanya berkirim surat kepada sanak saudara yang jauh. Sehingga ketika foto sudah menjadi hal baru, maka orang-orang dalam berkirim-surat sering menyelipkan/melampirkan foto dalam surat, di situlah lahir pepatah tersebut. Di zaman sekarang dimana film (sinetron/TV Show) semuanya menyajikan gambar bergerak dengan suara, maka tentu saja pepatah kuno itu sudah tak cocok lagi. Setiap orang yang ingin memproduksinya harus memahami bahwa baik visual maupun audio sama pentingnya. Bahkan beberapa sutradara top seperti Martin Scorsese dan Steven Spielberg menganggap bahwa "suara jauh lebih penting daripada gambar". Gambar bagus dengan ilustrasi suara yang buruk pasti akan menghasilkan reaksi negatif, sebaliknya gambar yang tak terlalu bagus dengan illustrasi suara yang bagus tetap mampu menghasilkan reaksi positif dari penonton.
Dalam tayangan audio-visual yang mempesona (seperti "Dances with Wolf"-nya Kevin Costner), suara bisa berperan sebagai ilustrasi dari gambar, dan gambar pun bisa berperan sebagai ilustrasi dari suara.
Orang dengan kemampuan dan pengetahuan tingkat tinggi saja yang mampu bervariasi mengoptimalkan peran audio dan peran visual.
Ide Biasa
Kalau anda berlangganan TV kabel, anda bisa menyaksikan tayangan dari National Geography ataupun Discovery Channel. Disini bisa anda temui bagaimana sebuah ide yang biasa saja, tapi membuat betah kita untuk menontonnya. Yang baru saya lihat kemarin hanya sebuah feature tentang seorang pemuda yang meminta punggungnya untuk di-tato dengan gambar dewi Kwan Im. Ia meminta kepada si tukang tato untuk merubah wajah Dewi Kwan Im dengan wajah ibunya yang telah meninggal yang amat dicintainya. Sutradara dengan cerdik membiarkan si pemuda bercerita tentang ibunya, dengan latar belakang suara mesin tato, ditambah dengan selingan foto-foto waktu ia masih bayi digendong oleh ibunya. Si ibu meninggal karena sakit kanker. Cara penyajian "cerita biasa" ini sangat menyentuh, sehingga tak terasa kita pun terlarut menikmati si pemuda bercerita dan mampu mrnggiring kita ikut merasa terharu. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar