Eforia teknologi digital kini juga melanda radio. Dengan teknik digital, maka satu frekuensi (gelombang) yang tadinya hanya dapat membawa satu programma saja, kini dengan teknologi digital, satu gelombang sebagai carrier dapat membawa beberapa programma sekaligus. Sebab dengan teknologi digital, sinyal tersebut diubah menjadi kode-kode digital.
Tetapi tentu saja studio dan pemancarnya pun harus digital serta pesawat penerimanya pun (receiver) harus digital. Suara radio digital akan jauh lebih bersih dari modulasi radio konvensional (FM dan AM), dan karena digital maka receiver-nya menyediakan fasilitas merekam dan mengulang. Ditambah lagi adanya screen pada radio receiver, sehingga judul lagu atau pesan apapun bisa ditampilkan di sana. Misalnya, sebuah iklan mobil di radio itu mengatakan bahwa mobil ini konsumsi bensinnya irit, maka pada screen bisa ditampilkan tulisan (scroll text) yang mengatakan bahwa spesifikasi mesin sekian CC dan penggunaan bensin bisa satu liter untuk 15 km, dsb.
Radio Digital di Indonesia
Banyak orang radio yang kurang senang mendengar prediksi saya yang tak terlalu optimistis dengan masa depan radio digital di Indonesia. Padahal pendapat saya ini didasarkan pada sesuatu yang sangat logis.
Nokia mengeluarkan handphone yang memiliki kemampuan menangkap siaran radio FM. Kebetulan HP seri ini termasuk HP yang paling laku. Tetapi anehnya, ketika disurvei oleh Nokia sendiri di Indonesia, ternyata tidak banyak yang menggunakan fasilitas radio FM pada handphone tersebut. Artinya walaupun teknologinya tersedia, bahkan teknologi itu sudah berada di tangan pemakai tetapi tidak berarti akan digunakannya. Lalu ketika ditanyakan lebih jauh lagi kepada para pembeli HP Nokia itu (yang umumnya anak muda) apakah alasannya mereka membeli HP dengan tipe yang bisa menangkap siaran radio FM tersebut? Ternyata hanya karena "gaya". Jadi menurut pembeli Nokia, yang penting bahwa ia mempunyai HP yang mampu menangkap siaran FM, walaupun ia tak pernah mendengar siaran radio melalui HP-nya.
Dari fakta ini saja sebenarnya prediksi saya tak terlalu salah. Bukankah terbukti bahwa teknologi hanyalah teknologi, yaitu hanya sekedar sarana saja, dan ia tidak akan mampu merubah manusia apabila manusia itu sendiri tak mau melakukannya.
Prinsip Barang Bagus Dicari Konsumen
Misalkan, saya penggemar berat acara radio American Top 40 yang disiarkan setiap minggu malam, dimana pada setiap minggu saya selalu ingin mengetahui posisi lagu-lagu apakah yang duduk di posisi teratas tangga lagu di Amerika Serikat. Lalu kebetulan pada suatu minggu malam saya harus bepergian (memenuhi undangan perkawinan) maka kemungkinan besar saya akan mendengarkan siaran acara American Top 40 itu melalui earphone yang terhubung ke handphone FM saya. Selanjutnya kalau siaran radio itu ternyata krosok-krosok, kemungkinan besar saya akan mematikan handphone FM saya itu dan tetap menghadiri undangan perkawinan. Jadi kalau radio itu siarannya clear (karena digital) maka ini akan menguatkan saya untuk terus tune-in.
Jadi tak peduli apakah stasiun radio di Indonesia ini mau memakai digital atau bukan, pendengar radio hanya perlu dua saja, yaitu:
- Radio itu membawakan siaran yang disukai
- Radio itu memiliki daya pancar sinyal dan modulasi yang clear.
Prinsip Kemudahan
Saya seorang perokok kretek, ketika tinggal di negeri Belanda sulit sekali memperoleh rokok kretek, maka terpaksalah saya berganti rokok selama tinggal di situ. Ketika kembali ke Indonesia, maka saya pun pindah ke rokok kretek lagi. Artinya kalau untuk mendengarkan siaran radio American Top 40 yang saya sukai itu saya harus membeli dulu perangkat penerima/receiver khusus (radio digital) maka kemungkinan besar saya lebih memilih untuk mencari alternatif siaran lain yang mirip, atau kalau tak cocok mungkin saya memilih mendengarkan CD atau MP3.
Prinsip Pengiklan di Indonesia
Kelemahan para salesman radio di Indonesia adalah bahwa mereka tak dapat menjawab apabila calon pengiklan mengatakan bahwa radio anda pendengarnya sedikit, kalah banyak dengan pendengar radio DD yang dangdut itu. Nah, selama para time-salesman radio kita masih kesulitan menghadapi serangan ini, maka bisa dibayangkan betapa sulitnya bisnis bagi orang yang sudah menginvestasikan uangnya mendirikan siaran Radio Digital.
Kesimpulan
Eforia teknologi tidaklah selalu harus diikuti dengan terburu-buru. Jangan berpikir bahwa kalau teknologinya tersedia maka masyarakat akan menggunakan, ini tidak selalu benar. Karena yang sering terjadi justru masyarakat belum berkembang secepat teknologi itu sendiri. Lebih baik konsentrasikan daya dan pikiran untuk mengoptimalkan hal-hal yang prinsipil dalam radio broadcasting yang belakangan ini terlihat sudah tak dipentingkan lagi, sehingga berdampak buruk bagi industri radio broadcasing di Indonesia, terlihat dari kecenderungan turunnya jumlah pendengar radio (survey Nielsen 2006). Usahakan perbaiki cara siaran supaya masyarakat gemar mendengarkan siaran radio kembali.
Jelas merubah sistim signal menjadi digital tidak termasuk disitu. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar