06 Agustus 2007

Yang Nomor Satu

oleh Andy Rustam

Kemarin atau hari ini (6 Agustus 2007) maaf agak lupa, saya lihat iklan di koran Kompas yang mengatakan bahwa SCTV stasiun TV nomor satu. Lalu digambarkannya grafik jumlah penonton TV dimana terlihat milik SCTV jauh lebih tinggi dibandingkan stasiun TV lainnya (menurut survei Nielsen). Mungkin nanti akan ada stasiun radio yang beriklan dan mengatakan dirinya sebagai nomor satu karena berdasarkan survei Nielsen memiliki pendengar terbanyak. Hal yang menggelitik pikiran saya, apa benar kalau penonton atau pendengarnya banyak itu berarti nomor satu?

Coba pikir baik-baik, harian Kompas secara de facto sudah puluhan tahun adalah koran nomor satu, tetapi dari segi jumlah pembaca ia masih kalah dengan Koran Pos Kota. Jadi apa definisi nomor satu bagi televisi dan radio?

Piramida Penduduk

Kita semua tahu bahwa komposisi penduduk Indonesia dari sisi ekonomi, kelompok miskin jauh lebih besar dari si kaya, dari sisi pendidikan kelompok tak berpendidikan atau berpendidikan rendah jauh lebih banyak dari si intelek, dari sisi usia kelompok muda jauh lebih banyak dari kelompok tua. Jadi logis saja, anda mempunyai media yang gratisan (seperti TV dan radio), silahkan buat isi dan penyajian acaranya untuk kelompok muda, miskin, dan berpendidikan rendah, pasti dijamin penonton/pendengarnya akan banyak sekali.

Itu sebabnya semua media TV dan radio yang mengarah ke "bawah" pasti memiliki penonton/pendengar yang banyak. Itu sebabnya semua acara yang "bodoh" seperti misteri dan dukun akan menarik penonton banyak. Itu sebabnya acara dangdut dengan penyanyi seronok akan banjir penonton/pendengar. Itu sebabnya acara dengan "hadiah" akan menarik banyak penonton/pendengar. Itu sebabnya acara banyolan yang konyol dan slapstick akan membuat rating tinggi. Persoalannya sekarang apakah TV dan Radio dengan acara-acara yang tak mendidik tapi menarik penonton banyak seperti itu layak disebut nomor satu?

Bagi Pemasang Iklan

Pemasang iklan sendiri sering tertipu tanpa disadari. Mereka mengira kalau rating tinggi (penonton banyak), lalu ia dikenakan biaya penayangan yang mahal, maka iklan yang ditayangkan akan efektif. Itu karena mereka mempunyai persepsi yang salah selama ini, bahwa iklannya akan semakin banyak ditonton orang dan barangnya semakin laku. Padahal tidak ada hubungan langsung yang signifikan antara jumlah pemirsa yang menonton acara dengan lakunya sebuah barang yang diiklankan. Karena memang logikanya karena sebahagian besar penduduk Indonesia adalah "orang susah", maka sulit diharapkan terjadinya pembelian pada kelompok yang sebahagian besar ini. Oleh karena itu seharusnya pemasang iklan tidak percaya begitu saja dengan pengelompokan segmentasi ABCD yang didefinisikan oleh Nielsen. Karena kelompok A dan B yang disebutkan di sana sangatlah lebar pengelompokkannya, sehingga yang benar-benar berdaya beli sesungguhnya sangatlah kecil (meskipun dalam definisi disebutkan bahwa kelompok A adalah kelompok dengan spending sekian juta rupiah keatas. Ingat, UMR DKI saja sekarang sudah sekitar Rp 1 juta).

Bagi Penonton/Pendengar Berpendidikan

Bisa ditanyakan langsung kepada keluarga-keluarga dengan income yang baik, berpendidikan tinggi, dan mempunyai pergaulan/lingkungan terpelajar, dan saya jamin mereka tidak pernah menonton acara-acara TV yang disebutkan sebagai rating-nya tinggi (misalnya sinetron-sinetron, cerita misteri, dsb.). Kalaupun mereka menonton TV pastilah bukan TV Indonesia melainkan berlangganan TV Kabel. Sekali-sekali ada mereka tonton untuk mengetahui perkembangan dalam negeri, misal Metro TV. Mereka-mereka ini mempunyai daya beli yang sangat kuat, tetapi untuk mencapai mereka tidaklah bisa melalui acara-acara TV yang bertujuan menjangkau rating tinggi.

Stasiun CNN & BBC

Kedua-duanya stasiun yang diakui dunia. Rating-nya per jam relatif kecil. CNN baru mencuat namanya sejak men-cover langsung perang teluk pertama di jaman Presiden Amerika Bush bapaknya George W. Bush presiden yang sekarang. Jadi pengakuan kepada CNN dan BBC sebagai nomor satu bukan dikarenakan jumlah pemirsanya tetapi karena prestasinya. CNN dan BBC adalah perusahaan media massa yang nomor satu karena mereka merupakan media yang paling berpengaruh di dunia, dan bukan rating-nya tinggi.

Kembali ke pertanyaan saya, televisi atau stasiun radio manakah di Indonesia yang nomor satu, yang punya rating tertinggi ataukah yang mempunyai pengaruh paling besar? Harian Kompas sudah jelas merupakan koran yang paling berpengaruh di Indonesia, maka saya pun menghormati Kompas sebagai koran nomor satu. (arm)

Tidak ada komentar: