05 Mei 2008

Lulus Kursus Penyiar Tapi Tak Lulus Audisi

Oleh Andy Rustam

Setelah diperkenalkan oleh seorang manager sebuah stasiun radio anak muda yang paling beken di Indonesia, datanglah kepada saya dua orang anak muda (pria dan wanita) yang ingin berdiskusi tentang bagaimana dan di mana belajarnya supaya bisa menjadi penyiar yang bagus. Ternyata mereka berdua masing-masing pernah mengikuti kursus kepenyiaran (dan broadcasting) yang berbeda. Si pria pernah kursus di lembaga kejuruan yang sudah punya nama di Jakarta dan si wanita pernah mengikuti kursus dengan judul School of Broadcasting yang membawa-bawa nama sederetan "seleb" sebagai pengajar (juga di Jakarta). Setelah selesai mengikuti kursus dengan predikat excellent mereka mencoba melamar ke stasiun radio (dan juga televisi). Merekapun mengikuti audisi yang telah ditentukan. Alhasil, kedua-duanya ditolak. Merekapun kecewa, tentu saja mempertanyakan keabsahan dan kredibilitas kursus-kursus yang telah diikutinya dengan biaya yang terbilang tak murah.

Jadi Penyiar Jalan Pintas Popularitas

Kalau anda bertemu penyiar-penyiar yang sudah beken dan bahkan ada yang sudah sekelas seleb, cobalah anda tanyakan apakah mereka pernah kursus atau sekolah penyiar? Saya jamin keterampilan sebahagian besar mereka itu diperoleh hanya belajar dari pengalaman saja "learning by doing". Setelah beken kemudian mereka menjadi pengajar di sebuah akademi atau membuka kursus sendiri dan menuangkan pengalaman mereka kepada para murid peserta kursus.

Hal ini tentunya tidak salah, asalkan memang keterampilan yang sudah dimilikinya itu adalah "ilmu yang benar". Persoalannya, satu-satunya bukti yang bisa diajukan bahwa ilmu itu benar adalah "saya sudah beken dan jadi seleb", kata mereka. Padahal sangat berbeda antara "popularitas" dan "kebenaran". Sebagai ilustrasi bisa diikuti proses seseorang MC yang sekarang lagi beken, "Modal saya keberanian", katanya dalam sebuah wawancara.

Soalnya kalau anda berani tampil saja di mass media (TV) dengan gaya yang mungkin orang lain tidak berani (karena malu), maka pastilah pintu popularitas terbuka cepat. Kenapa? Karena orang lain yang merasa malu melakukannya itu, akibat ia tahu bahwa ia tidak pernah belajar sebelumnya dan ia merasa jelek. Sedangkan anda tidak merasa malu walau salah dan jelek, bahkan anda merasa hebat... tambah lagi... eh sebahagian besar masyarakat kita kebetulan satu selera pula menyukai penampilan anda yang berani malu walau salah itu.

Tentu saja anda menjadi sangat populer justru dengan "kesalahan tapi disukai". Nah jadi, bisa saja apabila anda yang ingin jadi penyiar lalu belajarnya dari seleb sukses cara begini, maka tak heran kalau anda tak akan memperoleh apa yang benar walaupun mungkin bisa populer.

Penyiar Berilmu

Penyiar dengan ilmu kepenyiaran (broadcast-announcing) bisa diidentikkan dengan aktor dengan ilmu acting. Artinya dengan teknik dan ilmunya itu ia dapat mengaplikasikannya untuk apa saja. Sebagaimana juga aktor dengan ilmu acting-nya dapat memerankan tokoh apa saja. Penyiar yang berilmu tak akan sukar untuk melakukan siaran bergaya DJ, atau diminta untuk menjadi reporter, newscaster, host/MC dsb.

Sebab ilmu broadcast-announcing penekanannya pada latihan pola pikir dan metode tekniknya. Apabila pola pikir dan metode tekniknya telah benar, maka selanjutnya tinggal terus membiasakan diri. Seperti juga si berani-malu yang terus menerus melakukannya, maka anda (si penyiar-berilmu) juga harus terus menerus mempraktekan ilmu dan teknik yang benar itu sehingga benar-benar menjadi menyatu dengan diri anda.

Pola Pikir dan Teknik

Kebanyakan penyiar selalu berpikir, "aku harus menyampaikan ini dengan membacakan berita ini sejelas-jelasnya". Padahal kalau seorang penyiar terlalu konsentrasi pada apa yang hendak ia katakan, maka otomatis ia melupakan hal yang paling penting, yaitu pendengar. Ibarat pemain basket yang akan melakukan shooting, ia tidak boleh berkonsentrasi pada tangannya tetapi justru berkonsentrasi kepada "basket/keranjang" yang menjadi sasaran. Kalau konsentrasinya benar, maka otomatis ayunan tangan akan mengikuti.

Kalau anda ingin mengatakan kepada teman anda bahwa jangan minum itu karena berbahaya, maka konsentrasi anda haruslah pada teman anda yang sedang bersiap-siap akan meminum minuman berbahaya itu bukan? Kalimat yang keluar dari mulut akan otomatis mengikuti tanpa perlu anda pikirkan.

Pola pikir otomatis seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap penyiar.

Contoh lain, penyiar menyebutkan, "waktu saat ini sudah pukul 11 malam". Seharusnya ia berkonsentrasi dulu tentang pendengarnya, baru menyebutkan kalimat diatas. Sebab menyebutkan bahwa sekarang sudah pukul 11 malam, tentu tidak akan berarti apa-apa bagi pendengar kalau ketika itu pendengar sudah tidur semua. Atau sebaliknya, apabila pendengar belum tidur, apa maksud anda mengatakan hal itu kepada pendengar ? -Begitulah seharusnya salah satu pola pikir seorang penyiar berilmu.

Mengenai metode teknik yang benar adalah tentang bagaimana anda mengatur cara bicara dan sistimatika kalimat. Contoh, dari kedua kalimat berikut ini, manakah yang lebih mudah dimengerti apabila diucapkan? (1) Istri kakaknya ibu ayah saya berasal dari Pakistan. (2) Nenek saya dari jalur ayah, punya seorang kakak laki-laki. Dia menikah, dapat istri orang Pakistan.
Jelaslah kalimat kedua walau lebih panjang, tetapi justru lebih mudah dimengerti apabila diucapkan.

Teliti Memilih Tempat Kursus

Kedua (calon) penyiar muda, yang diantar teman saya si manager radio anak muda itu, masih terus berbincang-bincang dengan saya hingga cukup larut tentang dunia kepenyiaran. Saya informasikan agar nanti pada bulan depan ketika saya sedang melatih calon-calon penyiar bagi stasiun radio anak muda tersebut (selama 6 minggu), minta izin saja ke si manager agar boleh ikut. "Pasti setelah itu, kalau kalian ikut audisi... lulus deh", kata saya sambil tersenyum. Memang tidak semua tempat kursus penyiar broadcasting itu tidak bagus, maka sebaiknya telitilah lebih jauh untuk memastikan kualitasnya. (arm)

Tidak ada komentar: