Oleh Andy Rustam
Sebulan yang lalu saya mendapat assignment untuk memperbaiki kualitas para penyiar. Menurut si Boss, gaya siaran penyiar-penyiar itu terdengar tak nyaman ditelinga (walau wajahnya cantik). Lalu saya bertanya, "Maksudnya apa Boss?". Si Boss bilang, "Pokoknya kalau saya mendengar mereka bicara atau interview, rasanya saya kepingin pindahin aja channel itu, karena suara dan cara bicaranya nggak nyaman di telinga, persis seperti presenter-presenter acara kuis sms di televisi sehubungan dengan sepak bola EuroCup 2008, yang suaranya menyakitkan telinga dan kalimat-kalimat yang diucapkannya tak jelas/tak bisa ditangkap pengertiannya saking cepatnya mereka berbicara, ditambah lagi dengan suara teriak-teriak seperti tukang obat jualan dipinggir jalan. Nggak ada taste (=selera, kelas) sama sekali !!". Begitu kata si Boss yang kelihatannya sudah sebal banget.
Sulit Mencari Contoh Yang Benar
Pekerjaan merubah atau memperbaiki cara siaran penyiar yang "sudah jadi" selalu merupakan pekerjaan yang tak mudah. Pertama, karena kebiasaan yang salah itu sudah mendarah-daging. Kedua, dengan kebiasaan yang salah pun mereka sudah dikenal seperti seleb, sehingga ia yakin apa yang dilakukannya adalah benar dan karenanya tak ada rasa urgensi serta tak ingin untuk berubah. Ketiga, atasan mereka pun tak pernah mengetahui ilmu/teknik tersebut ketika mereka masih jadi penyiar, sehingga penyiar junior pun tak dirasakan perlu oleh mereka untuk mendapatkan ilmu/teknik yang tak dikenalnya itu. Keempat, sulit memberikan gambaran contoh kepada mereka karena (walaupun ada) memang sulit mencari contoh penyiar yang baik dan benar di Indonesia ini.
Padahal kalau saja para penyiar kita, baik penyiar TV maupun Penyiar Radio mau memperhatikan para penyiar Top Dunia, mereka akan sadar bahwa ilmu/teknik/skill mereka masih jauuuh sekali. Lihat saja seolah-olah bukankah sangat mudah meniru cara berbicara Oprah Winfrey, Larry King, Conan O'Brian, Jay Leno, David Letterman, Charles Osgood, Ryan Seacrest dsb., dsb.??? Tetapi sesudah dicoba, kok nggak bisa ya?
Saya yakin sudah banyak juga diantara para penyiar kita yang ingin "meniru" mereka, tetapi ternyata tak mudah atau hanya sampai pada kulit luarnya saja. Akibat malah yang terjadi adalah teknik tiru tambal-sulam diantara ketidak-tahuan diaduk dengan apa saja yang terlihat mudah yang sepertinya bisa dicuplik. Masih untung ada yang berkata, (dan ini masih lebih baik), "Ya sudahlah.. kita bikin sendiri saja sesuai selera penonton kita deh". Hasilnya... Tukul Arwana, ...Eko Patrio, Ulfa.. dlsb., mereka itu penyiar yang "apa ada-nya" dan ternyata menjadi disukai oleh publik/penonton di Indonesia. Kalau ditanyakan kepada mereka, kenapa mereka disukai oleh publik, pasti mereka pun tidak tahu pasti jawabannya.
Tetapi, pernahkah anda bertanya kepada penyiar ataupun host top dunia mengapa mereka bisa berhasil? Saya pastikan, bahwa jawaban mereka pasti, mereka tak henti-hentinya berlatih, menyempurnakan teknik dan belajar dari orang yang lebih tahu dari dirinya.
Prasayarat Menjadi Penyiar Yang Lebih Berkelas
Saya memakai istilah penyiar yang lebih berkelas, agar para penyiar dan calon penyiar terdorong untuk menjadi penyiar yang jauh lebih baik tingkatannya daripada penyiar-penyiar yang sudah ada di acara-acara televisi dan di radio-radio yang bertebaran di Indonesia. Sebab kalau anda hanya membatasi cita-cita anda dan hanya berpatokan kepada apa yang sekarang sering anda lihat dan sering anda dengar, maka anda tak akan pernah berhasil menjadi penyiar sekelas Oprah Winfrey ataupun Larry King dsb.
Untuk menjadi seperti mereka, penyiar top dunia, ada 3 prasyarat:
Pertama, anda secara mental harus menaikkan standar kelas tujuan, patokan, cita-cita, dan selera anda agar jauh diatas dari para penyiar-penyiar maupun pembawa acara yang sekarang ada. Jangan jadikan para penyiar tersebut sebagai panutan. Karena penyiar yang baik justru karena dirinya berbeda dari yang lain. Selain itu, jangan merasa puas dan hebat hanya karena sudah bisa tampil, baik jadi presenter ataupun pembaca berita di TV manapun atau Radio yang paling populer sekalipun.
Kedua, anda harus selalu mempunyai respek kepada publik, respek kepada tamu dan rekan kerja anda, dan respek kepada orang lain tanpa memandang siapa dan apa profesi-nya. Karena kalau anda tak punya respek maka publik pun tak akan respek kepada anda. Kalau publik sudah tak respek kepada penyiar maka acara/stasiun itu akan kehilangan kepercayaan dari publiknya.
Ketiga, anda harus peduli kepada topik apapun yang anda bicarakan, sampaikan, atau perbincangkan, sehingga terdengar oleh publik bahwa hati anda sangat tulus dalam mengangkat persoalan tersebut. Penonton/Pendengar bisa merasakan kalau hati anda tak tulus dan bicara hanya dibuat-buat untuk terkesan tampil hebat.
Keempat, anda harus terus menggali dan mencari ilmu dan bukan bersumber hanya dari para penyiar senior, karena bukankah hasilnya para penyiar senior itu pun belum sampai pada tingkatan kelas penyiar top seperti yang anda inginkan? Belajar, belajar, dan belajar. Latih, latih, dan latih. Itu motto hidup seorang penyiar.
Kelima, anda harus sadar bahwa menjadi penyiar yang berkelas tidaklah mudah, tetapi melalui profesi penyiar memang anda menjadi mudah dikenal orang. Namun jangan salah paham, karena dikenal oleh orang-orang tak berarti anda sudah menjadi penyiar yang jagoan. Ini perlu diingatkan kepada anda, karena hal inilah yang umumnya terjadi pada diri penyiar-penyiar di Indonesia. Akibatnya karena merasa sudah jagoan (baca: dikenal orang), maka tak mungkin lagi timbul kemauan pada dirinya untuk meningkatkan diri menjadi penyiar berkelas dunia. (arm)
Sebulan yang lalu saya mendapat assignment untuk memperbaiki kualitas para penyiar. Menurut si Boss, gaya siaran penyiar-penyiar itu terdengar tak nyaman ditelinga (walau wajahnya cantik). Lalu saya bertanya, "Maksudnya apa Boss?". Si Boss bilang, "Pokoknya kalau saya mendengar mereka bicara atau interview, rasanya saya kepingin pindahin aja channel itu, karena suara dan cara bicaranya nggak nyaman di telinga, persis seperti presenter-presenter acara kuis sms di televisi sehubungan dengan sepak bola EuroCup 2008, yang suaranya menyakitkan telinga dan kalimat-kalimat yang diucapkannya tak jelas/tak bisa ditangkap pengertiannya saking cepatnya mereka berbicara, ditambah lagi dengan suara teriak-teriak seperti tukang obat jualan dipinggir jalan. Nggak ada taste (=selera, kelas) sama sekali !!". Begitu kata si Boss yang kelihatannya sudah sebal banget.
Sulit Mencari Contoh Yang Benar
Pekerjaan merubah atau memperbaiki cara siaran penyiar yang "sudah jadi" selalu merupakan pekerjaan yang tak mudah. Pertama, karena kebiasaan yang salah itu sudah mendarah-daging. Kedua, dengan kebiasaan yang salah pun mereka sudah dikenal seperti seleb, sehingga ia yakin apa yang dilakukannya adalah benar dan karenanya tak ada rasa urgensi serta tak ingin untuk berubah. Ketiga, atasan mereka pun tak pernah mengetahui ilmu/teknik tersebut ketika mereka masih jadi penyiar, sehingga penyiar junior pun tak dirasakan perlu oleh mereka untuk mendapatkan ilmu/teknik yang tak dikenalnya itu. Keempat, sulit memberikan gambaran contoh kepada mereka karena (walaupun ada) memang sulit mencari contoh penyiar yang baik dan benar di Indonesia ini.
Padahal kalau saja para penyiar kita, baik penyiar TV maupun Penyiar Radio mau memperhatikan para penyiar Top Dunia, mereka akan sadar bahwa ilmu/teknik/skill mereka masih jauuuh sekali. Lihat saja seolah-olah bukankah sangat mudah meniru cara berbicara Oprah Winfrey, Larry King, Conan O'Brian, Jay Leno, David Letterman, Charles Osgood, Ryan Seacrest dsb., dsb.??? Tetapi sesudah dicoba, kok nggak bisa ya?
Saya yakin sudah banyak juga diantara para penyiar kita yang ingin "meniru" mereka, tetapi ternyata tak mudah atau hanya sampai pada kulit luarnya saja. Akibat malah yang terjadi adalah teknik tiru tambal-sulam diantara ketidak-tahuan diaduk dengan apa saja yang terlihat mudah yang sepertinya bisa dicuplik. Masih untung ada yang berkata, (dan ini masih lebih baik), "Ya sudahlah.. kita bikin sendiri saja sesuai selera penonton kita deh". Hasilnya... Tukul Arwana, ...Eko Patrio, Ulfa.. dlsb., mereka itu penyiar yang "apa ada-nya" dan ternyata menjadi disukai oleh publik/penonton di Indonesia. Kalau ditanyakan kepada mereka, kenapa mereka disukai oleh publik, pasti mereka pun tidak tahu pasti jawabannya.
Tetapi, pernahkah anda bertanya kepada penyiar ataupun host top dunia mengapa mereka bisa berhasil? Saya pastikan, bahwa jawaban mereka pasti, mereka tak henti-hentinya berlatih, menyempurnakan teknik dan belajar dari orang yang lebih tahu dari dirinya.
Prasayarat Menjadi Penyiar Yang Lebih Berkelas
Saya memakai istilah penyiar yang lebih berkelas, agar para penyiar dan calon penyiar terdorong untuk menjadi penyiar yang jauh lebih baik tingkatannya daripada penyiar-penyiar yang sudah ada di acara-acara televisi dan di radio-radio yang bertebaran di Indonesia. Sebab kalau anda hanya membatasi cita-cita anda dan hanya berpatokan kepada apa yang sekarang sering anda lihat dan sering anda dengar, maka anda tak akan pernah berhasil menjadi penyiar sekelas Oprah Winfrey ataupun Larry King dsb.
Untuk menjadi seperti mereka, penyiar top dunia, ada 3 prasyarat:
Pertama, anda secara mental harus menaikkan standar kelas tujuan, patokan, cita-cita, dan selera anda agar jauh diatas dari para penyiar-penyiar maupun pembawa acara yang sekarang ada. Jangan jadikan para penyiar tersebut sebagai panutan. Karena penyiar yang baik justru karena dirinya berbeda dari yang lain. Selain itu, jangan merasa puas dan hebat hanya karena sudah bisa tampil, baik jadi presenter ataupun pembaca berita di TV manapun atau Radio yang paling populer sekalipun.
Kedua, anda harus selalu mempunyai respek kepada publik, respek kepada tamu dan rekan kerja anda, dan respek kepada orang lain tanpa memandang siapa dan apa profesi-nya. Karena kalau anda tak punya respek maka publik pun tak akan respek kepada anda. Kalau publik sudah tak respek kepada penyiar maka acara/stasiun itu akan kehilangan kepercayaan dari publiknya.
Ketiga, anda harus peduli kepada topik apapun yang anda bicarakan, sampaikan, atau perbincangkan, sehingga terdengar oleh publik bahwa hati anda sangat tulus dalam mengangkat persoalan tersebut. Penonton/Pendengar bisa merasakan kalau hati anda tak tulus dan bicara hanya dibuat-buat untuk terkesan tampil hebat.
Keempat, anda harus terus menggali dan mencari ilmu dan bukan bersumber hanya dari para penyiar senior, karena bukankah hasilnya para penyiar senior itu pun belum sampai pada tingkatan kelas penyiar top seperti yang anda inginkan? Belajar, belajar, dan belajar. Latih, latih, dan latih. Itu motto hidup seorang penyiar.
Kelima, anda harus sadar bahwa menjadi penyiar yang berkelas tidaklah mudah, tetapi melalui profesi penyiar memang anda menjadi mudah dikenal orang. Namun jangan salah paham, karena dikenal oleh orang-orang tak berarti anda sudah menjadi penyiar yang jagoan. Ini perlu diingatkan kepada anda, karena hal inilah yang umumnya terjadi pada diri penyiar-penyiar di Indonesia. Akibatnya karena merasa sudah jagoan (baca: dikenal orang), maka tak mungkin lagi timbul kemauan pada dirinya untuk meningkatkan diri menjadi penyiar berkelas dunia. (arm)
2 komentar:
Apa kabar Om Andy ? Saya terus mengikuti tulisan Om yang sangat inspirative ini.
Oom, saya ada pertanyaan : apakah penyiar yang berkualitas atau "berkelas" tadi tidak tergantung juga dengan segment pendengar radio tempat dia bekerja ? Maksudnya, kalau radio itu ke segmentnya menengah bawah, format musiknya dangdut, apakah tidak terasa janggal pembawaan "penyiar yang berkelas" tadi ? Dan apakah penyiar radio dengan segment seperti itu apakah tidak punya kans untuk menaikkan "kelas" atau "kualitasnya" (dalam hal ini cara bersiarannya)? Terimakasih sebelumnya.
Oh iya, kapan ke Malang, Oom ?
Hallo Zoel,
Terima kasih utk kesetiaannya membaca blog ini, dan terima kasih pula menyempatkan diri menulis pertanyaan.
Langsung saja ya. Inti tulisan ini adalah untuk mendorong agar para penyiar kita tak cepat puas dengan hasil yang telah dicapainya sekarang. Karena sesungguhnya di atas langit masih ada langit, maka tingkatkan terus pencapaian-pencapaian.
Mengenai istilah berkelas maksudnya bukan terkait dengan segmen pendengar ataupun format radio-nya, melainkan terkait dengan "cara dan teknik". Yang saya maksudkan dengan cara dan teknik antara lain: soal tata krama. Kalau kita lihat Oprah ketika mengundang mantan presiden Bill Clinton sebagai tamu dalam acaranya, ia menyapa Bill Clinton dengan intonasi dan kata yang sopan, yaitu Mr. President. Oprah juga setiap bertanya tidak dengan cara memotong kalimat yang sedang diucapkan oleh Bill Clinton. Bandingkan dengan acara interview di televisi kita, dimana seolah-olah tamu yang diundang bagaikan "tersangka" yang sedang diinterogasi oleh pewawancara. Coba lihat pula Kick Andy yang mengundang tamu Sri Sultan Hamengku Buwono X pada beberapa bulan yang lalu, bagaimana cara ia bertanya-jawab kepada seorang Sultan? Ini salah satu bentuk perwujudan yang salah kaprah tentang ketentuan kesetaraan antara penanya dan yang ditanya. Karena kesetaraan bukan artinya kita lupakan saja azaz menghargai dan menghormati.
Masalahnya, karena tayangan-tayangan salah kaprah ini ada pada TV-TV yang siaran nasional, dengan penyiar-penyiar yang telah beken pula, maka nanti para penyiar junior atau penyiar-penyiar di daerah merasa bahwa cara interview seperti inilah yang dianggap hebat dan benar, lalu mereka semua meniru gaya-gaya seperti ini. Padahal kalau kita belajar di luar negeri, ketentuan mengenai Respek ini merupakan hal paling penting. Dibawah ini saya kutipkan kode etik Asosiasi Broadcasters Nasional Amerika:
"National Association of Broadcasters (USA) Code: It is our obligation to serve the people in such manner as to reflect credit upon our profession and to encourage aspiration toward a better estate for our audience."
Maksudnya adalah bahwa sebagai cerminan penghargaan yang tinggi pada profesi broadcaster maka broadcaster berkewajiban melayani "the people" dalam "such manner = tata krama yang sedemikian rupa", demi mendorong cita-cita menuju tatanan yang lebih baik bagi audience kita. Jadi, sekalipun kita ini penyiar radio dangdut pun, tak berarti melupakan hal "respek", yang sayangnya jarang dicontohkan oleh penyiar-penyiar yang sering muncul dilayar televisi. Jadi penyiar berkelas yang saya maksudkan salah satunya harus memiliki sifat Respek terhadap orang lain. Untuk dapat memunculkan kesan (dan terdengar) Respek ini memang dituntut skill (ketrampilan) pula dari si penyiar, misalnya dalam pemilihan kata yang tepat. Artinya, si penyiar harus memiliki kosa kata yang cukup pula sebagai bekal untuk menjadi pewawancara yang baik.
Demikian Zoel, jelas? Salam Untuk rekan-rekan di Malang,
Andy RM
Posting Komentar