Oleh Andy Rustam
Ini ceritaan dari masa kira-kira 8 tahun yang lalu. Waktu itu teman saya ("J") yang mantan Direktur Pemasaran sebuah Perusahaan Farmasi datang memperkenalkan adik iparnya, seorang yang masih muda berusia sekitar 30 tahunan (sebut saja namanya "M"), yang rupanya baru dipercaya menjadi General Manager sebuah stasiun radio FM baru, yang akan segera mengudara. Si M ini kelihatannya mempunyai gagasan "cemerlang" yaitu radio yang memancarkan siaran "musik saja".
Rupanya teman saya si J tak begitu yakin dengan format seperti itu. Makanya ia ajak adik iparnya menemui saya, yang dalam pandangan si J bahwa saya ini orang yang sudah banyak pengalaman dan pengetahuan dalam bidang radio. Untuk diketahui saja, saya dan J berteman sejak 30 tahun yang lalu dan sama-sama mengawali karir sebagai salesman, J sebagai account executive dari advertising agency sedangkan saya sebagai salesman dari perusahaan billboard.
Siaran Musik Saja
Kembali kepada si M yang ingin memakai format "juke box" bagi radionya. Alasan mengapa ia memilih strategi programming hanya mengudarakan musik saja? Karena menurut survey, kalau dilontarkan pertanyaan kepada sekelompok orang, "Kenapa anda memasang radio?", maka jawaban mayoritas adalah, "Karena ingin mendengar MUSIK". Oleh karena itulah radio saya (kata si M) hanya akan memainkan musik saja.
Sebenarnya apa yang dikatakan si M sesuai hasil survey adalah sangat benar. Bahkan survey yang dilakukan oleh sebuah radio pada tahun 2007, juga mengatakan demikian. Pertanyaannya sekarang, "Kalaulah memang begitu mudahnya menjalankan radio agar sukses, yaitu; cukup pasang musik saja, lalu mengapa tidak banyak yang melakukan hal ini?" Pada tahun 1989 strategi programming seperti ini pernah saya lakukan dengan radio TOP FM Jakarta sebagai strategi awal, dan ternyata sukses. Di tahun-tahun belakangan ini banyak radio melakukan strategi yang sama yaitu siaran hanya musik saja ketika baru mulai memasuki pasar (stasiun FM baru). Hasilnya, cukup menonjol dan berhasil menarik perhatian. Karena terasa berbeda ditengah hiruk-pikuknya siaran radio era reformasi, yang penuh dengan berita-berita, talk-show, wawancara, dan diskusi panel. Walaupun begitu saya ingatkan sekali lagi bahwa strategi begini hanya bagus sebagai strategi awal saja.
Nasihat Kepada si M
Perlu diketahui, bahwa usia si M masih muda, sehingga ia belum pernah mengenal saya sebelumnya. Mungkin dipikirnya, siapalah orang tua kuno yang dianggapnya tidak kreatif ini. Ia merasa bahwa idenya dengan "Juke-Box" adalah merupakan suatu terobosan kreatif. Padahal RRI Jakarta di akhir tahun 60-an pun sudah mempunyai gelombang khusus diperuntukan bagi programma "musik sepanjang hari" (Ciaan deh lu..M).
Teman saya si J sebenarnya bermaksud baik kepadanya. Karena ia ingin agar M tidak melakukan "kesalahan" dalam strategi programming demi karirnya sendiri agar tak jatuh di mata si owner (pemilik radio). Maka saya pun memberi nasihat kepada M sebagai berikut:
Bisa saja melakukan siaran hanya musik saja, tetapi tidak bisa selamanya begitu. Karena pada dasarnya orang mendengar radio bukan hanya karena ingin mendengar musik. Bukankah kalau cuma sekedar ingin mendengar musik, zaman sekarang ini, iPod dan MP3 bisa memberikan kepuasan lebih dari sisi jumlah dan dari sisi seleksi musiknya serta kualitas sound-nya. Jawaban pendengar radio dalam survey bahwa mereka mendengar radio untuk mendengar musik, tak boleh diartikan hanya musik an zich. Banyak sekali faktor yang menjadi sebab bahwa ucapan sebagai sebuah ungkapan seringkali tak sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Jadi sebenarnya, pendengar itu memasang radio bukan untuk mendengarkan musik/lagu, melainkan mereka ingin companionship (ada yang menemaninya selagi ia beraktivitas).
Bagi pendengar, musik/lagu dari siaran radio adalah salah satu bentuk yang menemani si pendengar. Mungkin saja lagunya enak, tetapi ketika penyiar ngomong justru terasa mengganggu alias tidak enak, garing, norak dsb. Tetapi apabila si penyiar juga mampu menjadi teman si pendengar, obrolannya mengena dan menyenangkan untuk didengar, suaranya pun tak menyakitkan telinga, maka sudah pasti si pendengar tak akan memindahkan salurannya walaupun lagunya sudah selesai dan digantikan dengan si penyiar yang bicara. "Suara Penyiar" bagi pendengar seharusnya lebih mempunyai daya kemampuan untuk "menemani" ketimbang sebuah lagu. Namun yang terjadi kebanyakan adalah ketika mendengar lagu memang nikmat dan kenikmatan ini menjadi terganggu justru karena penyiarnya ngomong. Itu sebabnya ketika di survey, mereka menjawab lebih senang mendengar lagu saja.
Maka nasihat saya kepada si M, agar jangan siaran hanya dengan musik saja selama-lamanya, melainkan cukup sebagai daya tarik awal. Yang terpenting adalah persiapkanlah pelatihan bagi penyiar-penyiarnya agar memiliki kemampuan sesuai ekspektasi pendengar. Sehingga nanti, musiknya bagus membuat orang ingin mendengar dan penyiarnya hebat membuat orang ingin "manteng" di frekuensi tersebut.
Sayang sekali, menurut teman saya J, si M tidak mau mendengarkan dan bersikeras agar radionya siaran dalam format siaran hanya musik saja (juke-box format). Penyiar dipakai cuma untuk membacakan daftar lagu.
Akhir Kisah si M
FM baru itupun mengudara. Pada bulan-bulan pertama dan selama setahun, banyak orang yang membicarakan radio FM yang siarannya musik melulu, tidak ada ngomongnya. Setelah itu saya tak pernah lagi mendengar kabar.
Tetapi 4 tahun kemudian saya bertemu lagi dengan J, lalu saya tanyakan apa kabarnya M apakah masih jadi GM di radio FM itu. Teman saya J menjawab bahwa si M diberhentikan oleh si pemilik, dan radio FM itupun telah lama dijual. Jadi sekarang ini, kalau kebetulan lewat dan saya melihat frekuensi dalam logo berwarna merah muda dan ungu terpampang di sebuah gedung, saya tahu radio ini sudah berganti pemilik, salah satu penyebabnya... akibat "kreatifitas" si M. (arm)
Ini ceritaan dari masa kira-kira 8 tahun yang lalu. Waktu itu teman saya ("J") yang mantan Direktur Pemasaran sebuah Perusahaan Farmasi datang memperkenalkan adik iparnya, seorang yang masih muda berusia sekitar 30 tahunan (sebut saja namanya "M"), yang rupanya baru dipercaya menjadi General Manager sebuah stasiun radio FM baru, yang akan segera mengudara. Si M ini kelihatannya mempunyai gagasan "cemerlang" yaitu radio yang memancarkan siaran "musik saja".
Rupanya teman saya si J tak begitu yakin dengan format seperti itu. Makanya ia ajak adik iparnya menemui saya, yang dalam pandangan si J bahwa saya ini orang yang sudah banyak pengalaman dan pengetahuan dalam bidang radio. Untuk diketahui saja, saya dan J berteman sejak 30 tahun yang lalu dan sama-sama mengawali karir sebagai salesman, J sebagai account executive dari advertising agency sedangkan saya sebagai salesman dari perusahaan billboard.
Siaran Musik Saja
Kembali kepada si M yang ingin memakai format "juke box" bagi radionya. Alasan mengapa ia memilih strategi programming hanya mengudarakan musik saja? Karena menurut survey, kalau dilontarkan pertanyaan kepada sekelompok orang, "Kenapa anda memasang radio?", maka jawaban mayoritas adalah, "Karena ingin mendengar MUSIK". Oleh karena itulah radio saya (kata si M) hanya akan memainkan musik saja.
Sebenarnya apa yang dikatakan si M sesuai hasil survey adalah sangat benar. Bahkan survey yang dilakukan oleh sebuah radio pada tahun 2007, juga mengatakan demikian. Pertanyaannya sekarang, "Kalaulah memang begitu mudahnya menjalankan radio agar sukses, yaitu; cukup pasang musik saja, lalu mengapa tidak banyak yang melakukan hal ini?" Pada tahun 1989 strategi programming seperti ini pernah saya lakukan dengan radio TOP FM Jakarta sebagai strategi awal, dan ternyata sukses. Di tahun-tahun belakangan ini banyak radio melakukan strategi yang sama yaitu siaran hanya musik saja ketika baru mulai memasuki pasar (stasiun FM baru). Hasilnya, cukup menonjol dan berhasil menarik perhatian. Karena terasa berbeda ditengah hiruk-pikuknya siaran radio era reformasi, yang penuh dengan berita-berita, talk-show, wawancara, dan diskusi panel. Walaupun begitu saya ingatkan sekali lagi bahwa strategi begini hanya bagus sebagai strategi awal saja.
Nasihat Kepada si M
Perlu diketahui, bahwa usia si M masih muda, sehingga ia belum pernah mengenal saya sebelumnya. Mungkin dipikirnya, siapalah orang tua kuno yang dianggapnya tidak kreatif ini. Ia merasa bahwa idenya dengan "Juke-Box" adalah merupakan suatu terobosan kreatif. Padahal RRI Jakarta di akhir tahun 60-an pun sudah mempunyai gelombang khusus diperuntukan bagi programma "musik sepanjang hari" (Ciaan deh lu..M).
Teman saya si J sebenarnya bermaksud baik kepadanya. Karena ia ingin agar M tidak melakukan "kesalahan" dalam strategi programming demi karirnya sendiri agar tak jatuh di mata si owner (pemilik radio). Maka saya pun memberi nasihat kepada M sebagai berikut:
Bisa saja melakukan siaran hanya musik saja, tetapi tidak bisa selamanya begitu. Karena pada dasarnya orang mendengar radio bukan hanya karena ingin mendengar musik. Bukankah kalau cuma sekedar ingin mendengar musik, zaman sekarang ini, iPod dan MP3 bisa memberikan kepuasan lebih dari sisi jumlah dan dari sisi seleksi musiknya serta kualitas sound-nya. Jawaban pendengar radio dalam survey bahwa mereka mendengar radio untuk mendengar musik, tak boleh diartikan hanya musik an zich. Banyak sekali faktor yang menjadi sebab bahwa ucapan sebagai sebuah ungkapan seringkali tak sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Jadi sebenarnya, pendengar itu memasang radio bukan untuk mendengarkan musik/lagu, melainkan mereka ingin companionship (ada yang menemaninya selagi ia beraktivitas).
Bagi pendengar, musik/lagu dari siaran radio adalah salah satu bentuk yang menemani si pendengar. Mungkin saja lagunya enak, tetapi ketika penyiar ngomong justru terasa mengganggu alias tidak enak, garing, norak dsb. Tetapi apabila si penyiar juga mampu menjadi teman si pendengar, obrolannya mengena dan menyenangkan untuk didengar, suaranya pun tak menyakitkan telinga, maka sudah pasti si pendengar tak akan memindahkan salurannya walaupun lagunya sudah selesai dan digantikan dengan si penyiar yang bicara. "Suara Penyiar" bagi pendengar seharusnya lebih mempunyai daya kemampuan untuk "menemani" ketimbang sebuah lagu. Namun yang terjadi kebanyakan adalah ketika mendengar lagu memang nikmat dan kenikmatan ini menjadi terganggu justru karena penyiarnya ngomong. Itu sebabnya ketika di survey, mereka menjawab lebih senang mendengar lagu saja.
Maka nasihat saya kepada si M, agar jangan siaran hanya dengan musik saja selama-lamanya, melainkan cukup sebagai daya tarik awal. Yang terpenting adalah persiapkanlah pelatihan bagi penyiar-penyiarnya agar memiliki kemampuan sesuai ekspektasi pendengar. Sehingga nanti, musiknya bagus membuat orang ingin mendengar dan penyiarnya hebat membuat orang ingin "manteng" di frekuensi tersebut.
Sayang sekali, menurut teman saya J, si M tidak mau mendengarkan dan bersikeras agar radionya siaran dalam format siaran hanya musik saja (juke-box format). Penyiar dipakai cuma untuk membacakan daftar lagu.
Akhir Kisah si M
FM baru itupun mengudara. Pada bulan-bulan pertama dan selama setahun, banyak orang yang membicarakan radio FM yang siarannya musik melulu, tidak ada ngomongnya. Setelah itu saya tak pernah lagi mendengar kabar.
Tetapi 4 tahun kemudian saya bertemu lagi dengan J, lalu saya tanyakan apa kabarnya M apakah masih jadi GM di radio FM itu. Teman saya J menjawab bahwa si M diberhentikan oleh si pemilik, dan radio FM itupun telah lama dijual. Jadi sekarang ini, kalau kebetulan lewat dan saya melihat frekuensi dalam logo berwarna merah muda dan ungu terpampang di sebuah gedung, saya tahu radio ini sudah berganti pemilik, salah satu penyebabnya... akibat "kreatifitas" si M. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar