06 Juli 2008

Broadcasting Apa?

Oleh Andy Rustam

"Ingin jadi penyiar dan reporter TV/radio? Daftarkanlah segera diri Anda di Batavia Broadcasting School", demikian kira-kira bunyi salah satu iklan di surat kabar, majalah ataupun pada sebuah website. Dilengkapi pula dengan foto-foto beberapa celeb sebagai pengajar atau alumninya. Pernah terlihat juga kursus komputer yang mengajarkan animasi, photoshop dan editing, juga memberi label broadcasting. Misal, "Ingin menjadi ahli efek 3D/TV/Broadcasting? Bergabunglah dengan MangDu Broadcasting Compugraphic - Alumninya sudah banyak dipakai sinetron terkenal!!!"

Bunyi-bunyi iklan sejenis yang menampilkan sekolah atau kursus yang melabelkan diri dengan kata-kata broadcasting, banyak sekali kita temui akhir-akhir ini. Barangkali broadcasting, terutama TV, ibarat magnet bagi kaum muda dengan harapan mimpinya dapat segera terwujud menjadi nge-top dan bisa mendapat predikat celeb dalam waktu singkat. Saya khawatir kalau nantinya banyak yang kecewa. Masalahnya sekarang, masyarakat sendiri belum tahu dan belum jelas betul, apa sih broadcasting, apa yang diperoleh melalui kursus/sekolah/pendidikan perguruan tinggi di Indonesia berlabel broadcasting seperti ini? Apakah ada jaminan bahwa setelah selesai kursus akan bisa terpakai bekerja di perusahaan broadcasting radio atau televisi? Apa saja yang diajarkan dan apa saja pekerjaan di broadcasting nantinya?

Dunia Broadcasting Meliputi Bidang yang Sangat Luas

Sepanjang pengalaman saya selama 27 tahun menekuni bidang broadcasting (radio dan TV), rasanya tak habis-habisnya harus terus belajar. Bayangkan saja, barangkali hampir semua disiplin ilmu yang ada di perguruan tinggi diperlukan di broadcasting, mulai dari engineering, teknologi informasi, management, keuangan dan akuntansi, komunikasi, hukum, marketing, sosiologi, psikologi, seni, statistik, jurnalistik, belum lagi ketrampilan praktis seperti tata cahaya, photography dan cinematography, musik, selling technique, promotion dan production technique, tata suara, announcing, tata rias dan tata busana, mekanik dan elektrikal dan masih banyak lagi...

Oleh karena itu apabila memang Anda berniat ingin bekerja di bidang broadcasting, maka sebenarnya, sekali lagi kalau ingin sekedar bekerja (bukan menjadi ilmuwan), tidak diperlukan adanya latar belakang pendidikan broadcasting formal dari perguruan tinggi, karena Anda bisa saja mulai melangkah ke dunia broadcasting berbekal awal dari jurusan apapun pendidikan formal Anda. Yang paling penting, Anda harus fokuskan niat Anda terlebih dahulu pada satu saja profesi di bidang broadcasting. Misal, apabila Anda ingin berkecimpung dalam bidang produksi di televisi, maka pendidikan cinematography tentu akan banyak membantu membuka peluang itu. Kalau Anda ingin masuk dalam bidang pemberitaan di radio dan TV maka latar belakang pendidikan jurnalistik pasti akan diperlukan.

Di Amerika dan Canada (mungkin juga di Eropa) ada beberapa Universitas yang memiliki kredibilitas memberikan kuliah undergraduate (S1) dalam broadcasting. Ada hal yang menarik disana, yaitu kurikulumnya sangat mengutamakan hukum, etika dan psikologi anak-anak. Sehingga tercermin, bahwa kalau ingin menjadi seorang real-broadcaster itu yang paling penting harus mengutamakan tanggung-jawab sosialnya dan bukan sekedar membuat siaran untuk menggaet "rating" (jumlah publik pemirsa/pendengar). Alasan yang dipakai oleh para "pengusaha" televisi di Indonesia bahwa kalau tak ada rating maka tak ada bisnis, di Amerika dan Canada tak bisa dijadikan alasan untuk membolehkan televisinya bersiaran dengan mengorbankan hukum/etika dan masa depan anak-anak. Walaupun ada saluran-saluran TV di sana yang khusus menyiarkan tayangan seronok, porno, dan materi tak patut lainnya, tetapi itu pun bukan disiarkan melalui siaran terbuka (free/terrestrial tv) sehingga dampak negatifnya tetap terkendali. Jadi tak benar anggapan bahwa di negara demokrasi (bahkan di negara biangnya demokrasi) siaran radio/TV bisa se-liberal seperti di Indonesia.

Pengetahuan Praktis dan Ilmu Komunikasi

Kembali ke soal bekerja di broadcasting. Logis sajalah kalau broadcasting sebagai media komunikasi massa, menuntut semua karyawannya memiliki wawasan ilmu komunikasi setidak-tidaknya pengetahuan komunikasi praktis. Kenyataannya, memang Universitas di negeri kita sering menelurkan sarjana-sarjana komunikasi, tetapi sayangnya kemampuan mereka yang tinggi di bidang teori-teori komunikasi tidak diimbangi dengan ketrampilan aplikatifnya. Akibatnya bisa kita lihat, ada saja seorang sutradara sinetron, bergelar sarjana komunikasi, ingin menggambarkan suasana horror yang mencekam pada penonton, namun horror itu hanya dikomunikasikan lewat suara (selalu dengan efek echo..ho..ho) ditambah atribut si tokoh, sementara tata cahayanya terang benderang seperti shooting video untuk pesta pernikahan. Tentu saja, kesan horror yang ingin ditimbulkannya, gagal dikomunikasikan dengan baik oleh tayangan itu. Hal ini disebabkan karena dalam pandangan mereka bahwa "fungsi cahaya hanyalah untuk menerangi objek", padahal cahaya dalam hal ini harus berfungsi juga sebagai "alat komunikasi" untuk menyampaikan pesan (horror) kepada pemirsa.

Hal yang sama terjadi di radio, dimana si penyiar memasang lagu yang ia suka, bahkan sering ia sendiri ikut bersenandung atau menyanyikan lagu tersebut, lalu tertawa-tawa menertawakan diri sendiri (karena ia tahu suaranya tentu saja tak pantas disejajarkan dengan si penyanyi lagu itu). Sementara pendengar sebenarnya marah, karena ia ingin sekali mendengar dan menikmati lagu favoritnya tetapi justru diganggu oleh si penyiar yang ikut nyanyi. Hal ini terjadi karena si penyiar dengan naifnya berpendapat bahwa lagu yang dipasang cuma sebuah selingan dan bukanlah merupakan pesan komunikasi. Sebab menurut si penyiar, "Bukankah yang berkomunikasi hanya omongan saya?" Padahal "semua yang disiarkan" radio itu mengandung "pesan" yang selayaknya juga harus mampu berkomunikasi.

Beberapa Profesi Khas di Broadcasting

Agar memperoleh sedikit gambaran tentang pekerjaan-pekerjaan di broadcasting, sebaiknya saya sajikan contoh-contohnya. Ada profesi tertentu di broadcasting yang tak ada di sektor industri lain, misalnya untuk Radio Broadcasting: Radio Personality/Talent/DJ, Announcer, Program Director, Music Director, News Director/Reporter/Anchor, News Writer, Studio Sound Operator. Untuk di TV Broadcasting: News Director/Reporter/Anchor, Show Producer, Production/Program Editor, Video Editor, Show/Production Director, Cameraman, Lighting-man, Graphic Artist, Floor Manager, Continuity Announcer, Scriptwriter, Talk-Show Host, Soundman, Transmission Engineer, dsb.

Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingatkan sekali lagi, apapun profesi Anda di broadcasting nantinya, jangan lupa bahwa semuanya merupakan mata rantai dari siaran stasiun itu untuk berkomunikasi dengan pendengar/pemirsa. Nah, mudah-mudahan dengan adanya gambaran ini, kini Anda bisa mulai memfokuskan diri profesi apakah yang akan Anda tuju sebagai pintu masuk mengawali karir Anda di broadcasting. (arm)

Tidak ada komentar: