27 Juli 2008

Konser Fariz RM (Soal Tata Suara)

oleh Andy Rustam

Tadi malam (25 Juli 2008) saya menonton konser musik adik saya yang paling bungsu, "FARIZ RM - Anthology" bertempat di Rolling Stone Magazine Live Venue di daerah Kemang, Jakarta Selatan. Bagaimana jalannya konser pertama (konser kebangkitan) Fariz RM setelah ia selesai menjalani hukuman akibat kedapatan membawa satu linting ganja pada bulan Oktober tahun 2007 yang lalu? Menurut detik.com, konser tersebut sukses, tiket terjual laris-manis walau harganya terbilang tak murah yaitu Rp 200.000, apabila dibeli sebelum hari H, dan Rp 250.000 untuk pembelian pada hari H itu (laporan selengkapnya bisa anda klik saja di sini).

Dari pengalaman berkali-kali di Indonesia menonton konser-hidup (live-concert) yang besar dari artis musik/penyanyi Indonesia, saya menyimpulkan bahwa para artis tersebut atau pelaksana/penyelenggara show ataupun manajemennya, kurang menaruh perhatian kepada urusan "sound" (tata suara).

Pentingnya "Sound"

Entah mengapa suara seringkali dianggap kurang penting dibandingkan gambar. Para pekerja produksi di film maupun televisi selalu lebih banyak berkonsentrasi untuk menghasilkan gambar yang bagus, sementara untuk suara cukup seadanya saja. Padahal ilmu kedokteran telah membuktikan bahwa kehilangan penglihatan tak membawa pengaruh apapun terhadap perkembangan kecerdasan dan kesehatan jiwa seseorang, sementara apabila mengalami kehilangan pendengaran maka pertumbuhan kecerdasan otak dan keseimbangan jiwa seseorang akan terganggu. Pengaruh kekuatan suara terhadap seseorang jauh lebih besar dari pengaruh kekuatan gambar. Istri saya kalau sedang menonton TV (misalnya film horror) dan ia mulai merasakan ketegangan atau ketakutan, maka tindakan yang ia lakukan adalah mematikan volume suara televisi itu dan tetap menonton gambarnya. Dengan begitu ia tetap dapat mengikuti aliran ceritanya tanpa rasa tegang dan takut.

Jadi bisa disimpulkan bahwa suaralah sebenarnya yang mempengaruhi rasa (feeling). Nah sekarang bisa anda bayangkan bukan, sebuah tayangan di televisi atau anda menonton sebuah konser musik dengan tata cahaya yang gemerlap berwarna-warni, lalu penari-penari dengan kostum yang indah melakukan gerakan-gerakan yang mendukung performa dari si penyanyi bintang utama, namun tata suaranya cuma ala kadarnya saja. Microphone terkadang mati terkadang nyala, suara bass yang sember, suara snare-drum yang menyakitkan telinga, solo gitar atau solo keyboard tak terdengar, vocal-group yang terdengar hanya nada suara-tiga sedangkan suara-satu dan suara-duanya tak terdengar. Cobalah apa yang akan terjadi pada para penonton yang sudah mau beli karcis lalu datang menonton panorama panggung dan disuguhi gambar bagus tetapi suguhan suaranya seperti begitu? Maka yang sudah pasti terjadi adalah seperti apa yang terjadi ketika istri saya menonton siaran TV dengan mematikan suaranya, show itu menjadi "hambar/cemplang" karena tak mampu mengguggah "rasa".

Musisi Luar Negeri

Kalau musisi/artis Indonesia mau manggung, biasanya panitia/penyelenggara menyewa alat dan sound-system. Apa faktor utama si panitia dalam mempertimbangkan pengadaan alat-alat bagi si artis? Sudah pasti: Anggaran! Alias cari yang murah, itu yang utama! "Kalau alat yang bagus itu mahal, maka sewa alternatifnya walau kualitasnya beda", begitulah kebiasaan panitia penyelenggara. Sebaliknya musisi Luar Negeri (LN) kalau mau show di Indonesia justru mempersyaratkan, "Cari alat yang bagus yang aku mau, tak peduli berapa harganya. Kalau penyelenggara/promotor tak melaksanakan itu maka aku tidak akan show di Indonesia. " Sayangnya tidak banyak artis penyanyi/musisi kita yang mempunyai bargaining position (posisi tawar) seperti rekan-rekannya di Amerika & Eropa sana. Masalahnya bukan soal posisi tawar, sebab kalau memang ada kemauan untuk menghasilkan "sound" yang berkualitas, maka upaya ke arah itu haruslah optimal, baik dari segi kualitas, pilihan dan ketersediaan alat, serta yang paling penting SDM yang mumpuni. Sound Engineer, Sound Operator, dan Crews yang benar-benar memahami Ilmu dan Seni Tata Suara, rasanya sangat kurang di Indonesia.

Tukang Sound Engineer

Coba saja anda bicara-bicara dengan operator suara dari suatu pagelaran artis musik Indonesia. Umumnya mereka bukanlah orang-orang yang mengambil sekolah sebagai sound engineer, namun orang yang sudah biasa jadi tukang pasang alat-alat perlengkapan sound-system termasuk alat-alat musik. Karena kualitasnya memang cuma seadanya itulah, mereka tentu tidak mengerti aturan-aturan seperti misalnya, bahwa kabel-kabel pengantar suara harus tidak boleh memiliki sambungan dan kalaupun ada, cara membuat sambungannya mempunyai ketentuan tersendiri. Merekapun tidak mengerti bahwa microphone memiliki jenis-jenis yang untuk setiap jenis dibuat untuk penggunaan yang berbeda. Misal, tidak semua microphone untuk menyanyi boleh digunakan untuk mengambil suara dari sebuah alat musik. Si tukang engineer pun tidak punya ilmunya, bahwa meletakkan speaker tidak bisa hanya lurus kedepan pada kiri kanan sekedar asal terdengar dan tidak feedback, melainkan harus menghitung sudut-sudut pantul agar phase gelombang suara tak saling melemahkan. Lalu apa sebabnya tidak ada orang Indonesia yang mau belajar khusus untuk tata suara? Jawabannya sangat standar.

Seperti juga yang terjadi di bidang lain, kalaupun anda sudah sekolah tinggi tentang tata suara, dan mungkin menjadi salah satu "orang langka" di Indonesia, tetap saja anda tidak akan mendapat penghasilan yang besar. Karena cukup dengan keahlian seorang Tukang Sound Engineer, yang sudah happy dengan bayaran sekelas "tukang", order untuk show pun cukup membanjir, dan mereka serta masyarakat sendiripun kelihatannya OK-OK saja tuh. Jadi buat apa belajar soal tata suara yang hanya menghabiskan ongkos saja.

Artis dan Sound Engineer

Sebetulnya untuk menjamin standar kualitas pagelarannya, setiap artis harus sudah memiliki seorang sound engineer langganannya. Sehingga setiap kali pentas, si orang itulah yang selalu mengatur dan menyetel tata suara bagi si artis. Namun lagi-lagi, kalau si promotor bilang kepada si artis bahwa anggarannya cuma segini yang hanya cukup untuk sound system lokal pilihannya sendiri, maka si artis pun tak bisa berbuat apa-apa daripada tidak jadi show yang bisa berakibat tidak dapat pemasukan.

Dalam konser FARIZ RM kemarin, walaupun harus saya akui bahwa pergelaran itu sukses, tetap saja banyak "bolong"-nya dari sisi tata-suara. Sayangnya lagi, kesalahan itu sudah dimulai sejak awal, yaitu ketika Fariz membuka konser dengan lagu pertamanya "Sungguh". Bait-bait awal lagu yang dilantunkannya itu tak terdengar oleh penonton, karena microphone-nya mati. Kalau itu terjadi pada diri saya, sudah pasti, perusahaan sound sytem itu tak akan saya gunakan lagi pada event yang akan datang. (arm)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Duuh, sayang saya gak bisa nonton. Udah kangen banget nih nonton konser Fariz RM.
Salam ya Oom, buat Oom Faiz.
Welcome back...
He is one of my favourite singers.