oleh Andy Rustam
Departemen Programming ANTEVE mempunyai pemikiran bahwa perlu dibuat suatu acara bincang-bincang ringan di pagi hari yang ditujukan kepada ibu rumah tangga. Rapat terus membahas mengenai konsep acara, brainstorming berlangsung alot maka lahirlah gagasan cemerlang. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada "siapakah pemandu acara atau host/presenter-nya nanti?".
Maka oleh para peserta rapat, semuanya mengajukan nama-nama seleb (celebrities) yang lagi beken pada tahun itu (tahun 1995, ketika saya masih Direktur di Anteve). Walau 13 tahun telah berlalu, rasanya kebiasaan ini, yaitu berpikir untuk memasang artis beken sebagai pemandu acara, masih tetap berlaku dan bahkan sudah semakin lazim belakangan ini kita lihat seorang artis/model/tokoh memiliki pekerjaan tambahan sebagai presenter suatu acara televisi.
Pertimbangan Produser
Bukan suatu hal yang sulit untuk memahami alasan pertimbangan produser untuk menjadikan artis sebagai presenter suatu acara televisi, bukan? Ya betul. Artis sudah memiliki unsur "keterkenalan" sehingga diharapkan ini bisa menjadi woro-woro (gembar-gembor) yang menghebohkan, suatu hal yang menguntungkan dari sisi nilai promosi suatu acara yang baru (akan) dilahirkan. Ketambahan lagi, artis wanita yang memiliki wajah cantik atau artis pria yang berwajah ganteng (penampilan) akan membuat para pemirsa betah nongkrong di depan televisi mengikuti jalannya acara tersebut. Begitulah kira-kira pertimbangan si produser yang biasanya di-"amin"-i pula oleh para pimpinan bagian Programming yang sudah haus akan rating tinggi. Di lain pihak orang-orang bagian Sales juga senang karena "keterkenalan" si host akan memudahkan mereka untuk mencari sponsor. "Gampang jualnya", kata mereka.
The Moment of Truth (Saat Tersingkapnya Kebenaran)
Saatnyapun tiba. Pengudaraan perdana berlangsung dilanjutkan dengan tayangan rutin sesuai jadwal pengudaraan yang telah direncanakan. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu, ternyata "rating" yang dinanti-nanti tak kunjung menunjukkan tanda-tanda positif akan meningkat. Ratusan juta rupiah sudah dikeluarkan untuk mengontrak seleb dan untuk memproduksi acara sampai 26 episode pertama. Puluhan juta lagi ditumpahkan untuk mempromosikan acara, tapi tetap saja jumlah pemirsa yang menonton acara tersebut pada setiapkali penayangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sponsor dan Pemasang Iklan yang tadinya sudah mensponsori pun tidak mau meneruskan kontraknya akibat "rating" tak tercapai sesuai janji awal mulut manis Salesman/Account Executive stasiun televisi tersebut.
Begitulah kenyataan yang dihadapi. Hal seperti ini telah terjadi dan saya alami pada tahun 1995, dan akan terus berulang dalam dunia siaran televisi kita, kalau cara berpikir kita belum berubah.
Tentu saja ada banyak juga, acara televisi dengan host-nya seorang artis/tokoh beken yang cukup sukses. Pertanyaan saya sekarang justru, apakah ada yang tahu alasannya mengapa acara A dengan host artis A bisa sukses sedangkan acara B dengan host artis B ternyata gagal. Ada juga, acara A yang tadinya sukses dengan host artis A ketika diganti hostnya menjadi artis B ternyata malah gagal, kenapa?
Terpenting dalam Memilih Presenter
Heidi Klum photomodel dan pragawati dunia papan atas pun direkrut oleh produser acara televisi Reality Show: Project Runway, untuk menjadi host dari acara tersebut. Bahkan ketika ada rumor bahwa Heidi Klum akan diganti, gosip calon penggantinya pun seorang model Kristy Hinze. Acara televisi Project Runway adalah acara kontes para desainer pakaian yang belum beken. Kira-kira mirip acara tv "American Idol" tetapi bukan untuk mencari bakat penyanyi melainkan mencari bakat perancang mode pakaian (fashion designer). Acara ini sebuah acara yang sangat sukses di saluran pay TV (layanan televisi berbayar) di Amerika Serikat, sejak tahun 2004.
Produser acara ini (Harvey & Bob Weinstein), dalam memilih host tidak hanya sekedar mempertimbangkan sisi kecantikan supermodel Heidi Klum dan juga tidak hanya mempertimbangkan aspek keterkenalannya saja. Justru yang terlintas pertama dalam pikiran ketika hendak mencari host adalah, "Siapakah yang paling credible di benak masyarakat sekarang ini kalau membicarakan tentang fashion?".
Inilah yang membedakan cara berpikir produser acara televisi di Amerika dengan di Indonesia, walau keduanya bertujuan sama yaitu agar acara tersebut sukses menarik pemirsa/penonton dan mendapat sponsor.
Perbedaan pada Cara Berpikir
Produser acara TV Amerika Project Runway percaya bahwa, publik Amerika akan menonton acara tersebut apabila masyarakat "yakin" mendapat nilai tambah atau manfaat lebih dengan menyaksikannya. Agar masyarakat "bisa yakin" maka salah satu unsur terpenting adalah bahwa Presenter acara tersebut harus memiliki kredibilitas yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Unsur pembentuk utama dari kredibilitas adalah kompetensi dan reputasi, ini dipunyai oleh Heidi Klum.
Jadi dasar berpikir mereka bukan mengutamakan "keterkenalan" dan "penampilan" terlebih dahulu. Karena kalau ini yang didahulukan tentulah banyak wanita yang lebih terkenal dan lebih cantik dari Heidi Klum. Buat mereka setelah Kredibilitas, barulah faktor-faktor lain seperti misalnya, Keterkenalan dan Penampilan akan menjadi faktor yang akan menguatkan atau melemahkan jatuhnya pilihan.
Bukanlah hal yang salah memilih artis/photomodel menjadi pemandu acara, tetapi yang penting jangan salah pilih. Terlepas apakah publik Indonesia berbeda dengan publik Amerika dalam menonton acara TV, tetapi tetap saja lebih aman kalau sisi kredibilitas presenter di mata masyarakat di-nomersatu-kan sebelum faktor-faktor lainnya. Berhasil tidaknya sebuah acara selain tergantung akan "isi"-nya, juga sangat tergantung pula dengan bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat pada host-nya, dan korelasi antara host/presenter dan isi.
Jadi, contoh kongkritnya: Jangan pilih penyanyi/artis terkenal nan cantik "XY" yang mempunyai reputasi kawin-cerai untuk menjadi host acara "Membina Keutuhan Keluarga". Tetapi barangkali artis XY itu justru malah cocok jadi pemandu acara kalau acaranya justru tentang hidup dengan "Berbagai-bagai Suami"... gicu loh. (arm)
Departemen Programming ANTEVE mempunyai pemikiran bahwa perlu dibuat suatu acara bincang-bincang ringan di pagi hari yang ditujukan kepada ibu rumah tangga. Rapat terus membahas mengenai konsep acara, brainstorming berlangsung alot maka lahirlah gagasan cemerlang. Akhirnya sampailah pembicaraan kepada "siapakah pemandu acara atau host/presenter-nya nanti?".
Maka oleh para peserta rapat, semuanya mengajukan nama-nama seleb (celebrities) yang lagi beken pada tahun itu (tahun 1995, ketika saya masih Direktur di Anteve). Walau 13 tahun telah berlalu, rasanya kebiasaan ini, yaitu berpikir untuk memasang artis beken sebagai pemandu acara, masih tetap berlaku dan bahkan sudah semakin lazim belakangan ini kita lihat seorang artis/model/tokoh memiliki pekerjaan tambahan sebagai presenter suatu acara televisi.
Pertimbangan Produser
Bukan suatu hal yang sulit untuk memahami alasan pertimbangan produser untuk menjadikan artis sebagai presenter suatu acara televisi, bukan? Ya betul. Artis sudah memiliki unsur "keterkenalan" sehingga diharapkan ini bisa menjadi woro-woro (gembar-gembor) yang menghebohkan, suatu hal yang menguntungkan dari sisi nilai promosi suatu acara yang baru (akan) dilahirkan. Ketambahan lagi, artis wanita yang memiliki wajah cantik atau artis pria yang berwajah ganteng (penampilan) akan membuat para pemirsa betah nongkrong di depan televisi mengikuti jalannya acara tersebut. Begitulah kira-kira pertimbangan si produser yang biasanya di-"amin"-i pula oleh para pimpinan bagian Programming yang sudah haus akan rating tinggi. Di lain pihak orang-orang bagian Sales juga senang karena "keterkenalan" si host akan memudahkan mereka untuk mencari sponsor. "Gampang jualnya", kata mereka.
The Moment of Truth (Saat Tersingkapnya Kebenaran)
Saatnyapun tiba. Pengudaraan perdana berlangsung dilanjutkan dengan tayangan rutin sesuai jadwal pengudaraan yang telah direncanakan. Hari demi hari, minggu demi minggu berlalu, ternyata "rating" yang dinanti-nanti tak kunjung menunjukkan tanda-tanda positif akan meningkat. Ratusan juta rupiah sudah dikeluarkan untuk mengontrak seleb dan untuk memproduksi acara sampai 26 episode pertama. Puluhan juta lagi ditumpahkan untuk mempromosikan acara, tapi tetap saja jumlah pemirsa yang menonton acara tersebut pada setiapkali penayangannya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Sponsor dan Pemasang Iklan yang tadinya sudah mensponsori pun tidak mau meneruskan kontraknya akibat "rating" tak tercapai sesuai janji awal mulut manis Salesman/Account Executive stasiun televisi tersebut.
Begitulah kenyataan yang dihadapi. Hal seperti ini telah terjadi dan saya alami pada tahun 1995, dan akan terus berulang dalam dunia siaran televisi kita, kalau cara berpikir kita belum berubah.
Tentu saja ada banyak juga, acara televisi dengan host-nya seorang artis/tokoh beken yang cukup sukses. Pertanyaan saya sekarang justru, apakah ada yang tahu alasannya mengapa acara A dengan host artis A bisa sukses sedangkan acara B dengan host artis B ternyata gagal. Ada juga, acara A yang tadinya sukses dengan host artis A ketika diganti hostnya menjadi artis B ternyata malah gagal, kenapa?
Terpenting dalam Memilih Presenter
Heidi Klum photomodel dan pragawati dunia papan atas pun direkrut oleh produser acara televisi Reality Show: Project Runway, untuk menjadi host dari acara tersebut. Bahkan ketika ada rumor bahwa Heidi Klum akan diganti, gosip calon penggantinya pun seorang model Kristy Hinze. Acara televisi Project Runway adalah acara kontes para desainer pakaian yang belum beken. Kira-kira mirip acara tv "American Idol" tetapi bukan untuk mencari bakat penyanyi melainkan mencari bakat perancang mode pakaian (fashion designer). Acara ini sebuah acara yang sangat sukses di saluran pay TV (layanan televisi berbayar) di Amerika Serikat, sejak tahun 2004.
Produser acara ini (Harvey & Bob Weinstein), dalam memilih host tidak hanya sekedar mempertimbangkan sisi kecantikan supermodel Heidi Klum dan juga tidak hanya mempertimbangkan aspek keterkenalannya saja. Justru yang terlintas pertama dalam pikiran ketika hendak mencari host adalah, "Siapakah yang paling credible di benak masyarakat sekarang ini kalau membicarakan tentang fashion?".
Inilah yang membedakan cara berpikir produser acara televisi di Amerika dengan di Indonesia, walau keduanya bertujuan sama yaitu agar acara tersebut sukses menarik pemirsa/penonton dan mendapat sponsor.
Perbedaan pada Cara Berpikir
Produser acara TV Amerika Project Runway percaya bahwa, publik Amerika akan menonton acara tersebut apabila masyarakat "yakin" mendapat nilai tambah atau manfaat lebih dengan menyaksikannya. Agar masyarakat "bisa yakin" maka salah satu unsur terpenting adalah bahwa Presenter acara tersebut harus memiliki kredibilitas yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Unsur pembentuk utama dari kredibilitas adalah kompetensi dan reputasi, ini dipunyai oleh Heidi Klum.
Jadi dasar berpikir mereka bukan mengutamakan "keterkenalan" dan "penampilan" terlebih dahulu. Karena kalau ini yang didahulukan tentulah banyak wanita yang lebih terkenal dan lebih cantik dari Heidi Klum. Buat mereka setelah Kredibilitas, barulah faktor-faktor lain seperti misalnya, Keterkenalan dan Penampilan akan menjadi faktor yang akan menguatkan atau melemahkan jatuhnya pilihan.
Bukanlah hal yang salah memilih artis/photomodel menjadi pemandu acara, tetapi yang penting jangan salah pilih. Terlepas apakah publik Indonesia berbeda dengan publik Amerika dalam menonton acara TV, tetapi tetap saja lebih aman kalau sisi kredibilitas presenter di mata masyarakat di-nomersatu-kan sebelum faktor-faktor lainnya. Berhasil tidaknya sebuah acara selain tergantung akan "isi"-nya, juga sangat tergantung pula dengan bagaimana tingkat kepercayaan masyarakat pada host-nya, dan korelasi antara host/presenter dan isi.
Jadi, contoh kongkritnya: Jangan pilih penyanyi/artis terkenal nan cantik "XY" yang mempunyai reputasi kawin-cerai untuk menjadi host acara "Membina Keutuhan Keluarga". Tetapi barangkali artis XY itu justru malah cocok jadi pemandu acara kalau acaranya justru tentang hidup dengan "Berbagai-bagai Suami"... gicu loh. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar