14 November 2008

Logika Dangkal

oleh Andy Rustam

Di zaman sekarang ini menurut Anda, apakah yang akan dilakukan seorang pengusaha apabila ingin mendongkrak penjualan? (karena barangnya kurang laku?). Tidak perlu susah berpikir, pastilah "kasih hadiah gratis atau beri undian berhadiah rumah, mobil, sepeda motor, dsb.", bukankah begitu? Cobalah lihat iklan iklan yang beredar sekarang ini, pasti penuh dengan "hadiah, gratis, murah, bonus," atau mirip-mirip begitu deh... Jalan pikiran atau logika mereka adalah, pastilah orang akan terdorong mau membeli barang/produk mereka dikarenakan hadiahnya besar. Makanya iklan mereka, "belanja Rp 500.000 bisa dapat Mercy seharga Rp 600 juta, Untung Lho! ..bla..bla..bla". Berikut ini contoh logika orang bisnis yang terkesan benar, tapi sebenarnya dangkal.

Restoran di Citos

Ada restoran yang sudah lama buka di salah satu pusat makan dekat rumah saya "Citos" , tapi memang selalu sepi pengunjung. Baru-baru ini terpampang spanduk di depan pintunya bahwa setiap kali makan di restoran itu akan dapat point. Kalau sudah terkumpul sejumlah point, maka dapat ditukarkan dengan berbagai hadiah, mulai dari buku, kalkulator, sampai handphone. Jadi logika si pengusaha, kalau restorannya sepi maka supaya restorannya ramai pengunjung, ia memberikan hadiah bagi setiap orang yang mau makan di restorannya.

Asumsinya, orang akan mau datang makan ke restorannya karena tertarik akan hadiah. Logika ini terkesan benar. Tetapi bukankah akan lebih logis kalau ia mencari tahu apakah masakannya enak/disukai banyak orang, atau bagaimanakah rasa masakan yang disukai, atau bagaimana kecepatan pelayanannya, atau apakah suasana restorannya menyenangkan, dsb. Karena pada pokoknya, hal inilah yang paling dicari kalau orang sedang ingin makan-makan di restoran. Sangat jarang kalau ada orang yang ingin makan tapi mencari hadiah dan bukan mencari kelezatan masakan. Bukankah banyak sekali restoran yang ramai dengan pelanggan padahal tak sekali pun restoran itu pernah memberikan hadiah agar orang mau berkunjung dan makan disana?

Radio di Bandung

Di tahun 80-an saya pernah ditugaskan mengelola radio di Bandung yang pesaingnya adalah sebuah radio yang program siarannya dari jam ke jam kuis berhadiah melulu. Radio Z itu pada awalnya cukup berhasil menghebohkan, tetapi lama kelamaan kehilangan pendengar juga, walau hadiah terus ditambah. Jadi logika si bos Radio Z , bahwa pendengar akan mau mendengar radio itu karena ada hadiahnya dari jam ke jam. Dia berasumsi bahwa pendengar radio yang menyukai dan setiap pagi dengan setia mendengarkan siaran/acara yang dibawakan oleh si Merdu penyiar radio N (yang tak punya kuis berhadiah), akan tidak mau lagi mendengarkan suara si Merdu di Radio N itu, dan pindah mendengarkan Radio Z hanya dikarenakan radio Z menyediakan kuis berhadiah. Begitulah logika yang terkesan benar tapi dangkal itu bekerja dalam otak si bos radio.

Tetapi bukankah akan lebih logis kalau si bos mencari tahu materi siaran macam apa yang disukai dan jenis suara serta gaya siaran seperti apa yang mampu membuat pendengar bagai tersihir terpaku dan betah mendengarkan seorang penyiar dalam acaranya setiap hari? Bukankah banyak radio yang tak membagi-bagi kuis berhadiah tiap jam dalam siarannya, tetapi radio itu justru memiliki sejumlah pendengar, yang cukup menarik bagi pemasang iklan?

ANTEVE, Ganti Logo = Ganti Citra

Ketika Anteve berdiri di tahun 1993, logo perusahaan televisi ini bukan seperti yang sekarang. Setelah berjalan beberapa tahun menjalankan acara seperti keinginan pemiliknya namun tidak berhasil menarik pemirsa (rating tetap rendah), maka pemilik Anteve, Bakrie Group, mengontrak expert dari Filipina dan Australia yang menyanggupi menjalankan televisi dengan acara-acara seperti yang diinginkan. Tim Filipina dan Australia ini kemudian menyarankan agar logo Anteve diganti agar citra perusahaan (company's image) berubah lebih menarik hati masyarakat. Maka lahirlah logo Anteve baru sesuai saran tim Filipina dan Australia, itulah logo versi kedua.

Ternyata dengan group Filipina dan Australia yang telah berjanji dan berusaha mengikuti kemauan si bos, tetap saja menghasilkan rating Anteve yang masih rendah. Akhirnya mereka angkat kaki. Lalu dicari lagi tim management baru lagi dengan ide-ide yang rupanya menggembirakan hati bos Anteve. Maka untuk ketiga kalinya, lahirlah logo baru Anteve. Logikanya tentu, logo baru, citra baru, acara kreasi baru, dan pemirsa akan berdatangan menonton acara Anteve. Lagi-lagi untuk kesekian kalinya Anteve gagal lagi. Kini Anteve sudah berpindah tangan pengelolaannya menyertakan group perusahaan dari Hongkong - Star TV, logo Anteve berganti lagi dengan logika tujuan yang sama. Mengganti logo, citra baik, acara kreasi baru, pemirsa akan datang menonton Anteve, begitulah logika para bos.

Kenyataan apakah sekarang setelah logo versi yang ke IV, Anteve menjadi perusahaan stasiun televisi nomer satu? Ternyata tidak sama sekali, bahkan kini ibarat istilah klub sepakbola di Eropa, Anteve terdegradasi ke deretan papan bawah. Ratusan milyar telah dihabiskan, tetap saja hasil tak sesuai harapan. Logika ganti logo dan ganti acara disamakan dengan ganti citra perusahaan, dan diharapkan akan menarik penonton televisi/pemirsa, yang kelihatannya begitu masuk akal, ternyata hanya seolah-olah saja benar alias logika dangkal.

Bukankah lebih logis kalau si bos sadar diri dan mencari tahu bahwa keinginan (calon) pemirsa itulah kunci keberhasilan yang sesungguhnya, dan bukannya keinginan si bos yang harus dikemas sedemikian rupa agar bisa diterima oleh masyarakat? Selain itu, tidakkah mereka belajar bahwa, kunci membangun citra perusahaan bukan pada ganti logo dan ganti baju, melainkan terletak pada reputasi yang terjaga konsisten dan komitmen yang selalu dipenuhi secara terus menerus. Itulah yang akan membangun citra yang baik bagi perusahaan.

Logika Dangkal vs Logika Dalam

Salah satu rumus untuk sukses adalah kewajiban memahami persoalan yang sesungguhnya, sebelum akhirnya mencari dan menemukan solusi yang tepat. Cara yang mudah untuk memahami persoalan sesungguhnya adalah dengan terus menerus melontarkan "kata-tanya" (mempertanyakan) terus menerus pada setiap statement atau jawaban yang ada/muncul, sampai-sampai tak ada lagi yang bisa ditanyakan. Ini yang saya maksud Logika-Dalam. Kebanyakan "Logika Dangkal" terjadi karena rasa cepat puas dengan satu-dua pertanyaan saja. Maka kegagalan dalam menjalankan usaha, itu sering dikarenakan para pemilik dan pimpinan perusahaannya berlogika dangkal alias tak cukup banyak melontarkan pertanyaan-pertanyaan, dan sudah cukup puas dengan sekitar satu pertanyaan dan satu jawaban saja.

McCain - Palin

Contoh paling akhir logika-dangkal adalah ketika capres AS dari Partai Republik, John McCain ingin merebut suara perempuan (women votes) sebanyak 17 juta yang ditinggalkan oleh capres Hillary Clinton (setelah dikalahkan Obama dalam pencalonan presiden Partai Demokrat). Logika McCain tentunya, "kita tunjuk saja perempuan sebagai cawapresnya supaya kaum perempuan memilih saya". Maka jadilah Sarah Palin (Gubernur Alaska) sebagai pasangan McCain. Ternyata, suara perempuan sebesar 57% justru lari buat Obama, sedangkan McCain hanya meraih 41% saja. Jelaslah, logika dangkal seringkali menjebak. (arm)

Tidak ada komentar: