19 Januari 2009

Dar Al Salam

oleh Andy Rustam

Tulisan saya minggu lalu, berjudul “Media Tega“, tentang salah persepsi masyarakat yang menganggap konflik Palestina vs. Israel adalah konflik agama, ternyata dibahas juga oleh harian Kompas, Minggu, 18 Januari 2009. Dalam wawancara dengan Nono Makarim (69 th), ahli hukum kawakan ini menjawab bahwa konflik Palestina vs. Israel bukan konflik agama, ini adalah perang perjuangan rakyat Palestina melawan penjajah Israel. Tetapi memang persepsi sebagai sebuah konflik agama secara sengaja ditiup-tiupkan oleh kedua belah pihak karena menguntungkan mereka. Palestina meniupkan seolah-olah ini sebuah perang agama, supaya mereka mendapat dukungan setiap tahun dari negara-negara kaya minyak (milyaran dollar) yang umumnya terdiri dari negara-negara Arab dan penduduknya mayoritas muslim, sedangkan Israel meniupkan hal ini supaya terus memperoleh dukungan dana setiap tahun bagi negaranya yang diterimanya dari negara-negara Eropa dan Amerika (milyaran dollar) yang umumnya terdiri dari negara-negara dengan penduduk mayoritas non-muslim.

Saya langsung berpikir, “Wah pantas.. terkait konflik kali ini, tak kurang dari presiden SBY Justify Fullsendiri menghimbau dengan menggunakan jargon: “agar negara-negara Islam” bersatu... dst. dst.”. Sehingga semakin memperkuat persepsi salah ini.

Sikap Orang yang Profesional

Apakah kita mau membiarkan saja salah persepsi ini berkembang di masyarakat? Apalagi kita tahu sekarang ternyata persepsi ini justru disengaja oleh pihak-pihak yang berperang itu sendiri. Jadi yang berperang itu mereka, lalu mereka menyebarkan informasi yang tak betul agar menguntungkan mereka, kemudian kita ikut-ikutan menfaatkan dengan objeknya justru pada masyarakat kita.

Kalau pertanyaan ini kita lontarkan kepada para pemilik media (TV, Radio, dan Koran), maka sudah pasti kita tahu jawabannya, yaitu, “Tergantung. Lebih untung yang mana? Karena mau pemilu nih”. Kalau pemiliknya itu dekat dengan partai-partai, pastilah ia akan membiarkan saja, bahkan akan dikobar-kobarkannya. Alasannya tentu, karena cakrawala berpikir mayoritas penduduk Indonesia masih sempit, dan penduduknya mayoritas Islam, maka dengan menyinggung sentimen agama pastilah perolehan suara mereka nanti diharapkan akan meningkat. Lain lagi kalau bos kita seorang pengusaha atau konglomerat, biasanya pengusaha itu seorang oportunis yang selalu memanfaatkan peluang, maka sudah pasti ia akan mengikuti bagaimana sikap partainya si pejabat yang berkuasa, supaya harapannya ia bisa mendapatkan banyak proyek atau fasilitas bagi bisnisnya.

Nah, disinilah terjepitnya kita seorang yang profesional. Kita tahu tanggung-jawab kita sebagai orang media adalah memberikan apa yang baik bagi kehidupan bermasyarakat (fungsi tanggung-jawab sosial) sekaligus pekerjaan dengan tanggung-jawab seperti inilah yang merupakan mata pencaharian kita. Sayangnya, seringkali hal ini tak bisa jalan karena kendala atasan. Ini sangat terasa kalau kita bekerja di surat-kabar dan televisi, sedangkan kalau di radio hal ini biasanya tidak termonitor oleh si bos sehingga sering bisa lolos.

Oleh karena kondisinya memang seperti ini, kalau itu terjadi pada diri saya, maka saya akan mengacu kepada perilaku yang tertuang dalam sebuah hadis yang intinya, “apabila engkau tak dapat melakukan dengan tanganmu, maka lakukanlah dengan mulutmu. Kalau tak dapat melakukan dengan mulutmu, maka lakukanlah dengan hatimu”.

Dar Al-Salam

Kata Dar Al-Salam atau Darussalam atau Jerusalem atau Daressalam, apapun bahasanya, arti kata itu adalah “Negeri Perdamaian”. Bagi anda yang muslim tentu tahu bahwa kata ini juga merupakan nama lainnya dari “sorga” dalam istilah Al Quran; Sebuah negeri dimana penduduknya saling menyapa dengan ucapan “salam, salam “ (= shalom, shalom = peace, peace = damai, damai). Ini bisa dibaca pada surat Al An’am ayat 127 dan surat Yunus ayat 25.

Jadi sebenarnya, sebuah sorga di dunia bisa kita wujudkan apabila kita bisa mewujudkan Perdamaian. Sejarah menunjukkan bahwa perdamaian bisa tercapai apabila keinginan pihak-pihak semuanya tertampung dan terlaksana secara adil. Sedangkan keinginan masing-masing pihak hanya bisa diketahui oleh masing-masing pihak yang bertikai apabila terjadi komunikasi yang konstruktif (bukan perang). Komunikasi yang konstruktif hanya bisa terjadi apabila kedua belah pihak mau bersikap realistis. Sikap realistis bisa terjadi apabila mau berpikir rasional. Berpikir rasional artinya tidak emosional sehingga mau bersikap kompromistis. Sikap kompromistis harus didukung dengan jaminan bahwa apa-apa yang disepakati bisa terjaga dan tidak ada pihak yang melanggar. Para pihak tidak akan melanggar apabila selalu sadar bahwa kalau ia melanggar maka ia bukannya melanggar keadilan dan kesepakatan, tetapi sesungguhnya ia yang akan membuat hidup saudara, keluarga, teman, istri, anak, dan cucu mereka menderita.

Peran Perdamaian Media

Dimana keadilan kalau kita membuat hidup tetangga, saudara, keluarga, teman, istri, anak, dan cucu kita menderita di masa depan hanya dikarenakan kelakuan kita yang sekarang ini. Kelakuan yang ngototan/emosional, kelakuan yang mau cari untung sekarang, yang mau dapat proyek sekarang, yang mau jadi orang terkaya secepatnya, yang mau cari perolehan suara pemilih sekarang, yang mau posisi jabatan sekarang, yang mau dapat sumbangan/donasi sekarang dan semua ditempuh dengan mengorbankan hak mereka... tentulah ini semua merupakan dosa yang akan terus mengejar dan menghantui kita dikemudian hari. Bahkan barangkali setelah kita berada di alam baka. Pada saat itu nanti mungkin kita menyesal, tapi adakah gunanya?!

Apa yang harus kita jawab nanti apabila anak-anak Palestina yang menjadi korban perang, di alam sana di akhirat bertanya kepada kita dengan mata yang bening berkaca-kaca... mengapa orang media (termasuk di Indonesia) telah merusak hidup mereka, mengobarkan kebencian dan bukannya mendorong perdamaian sehingga membuat mereka menderita, membuat mereka tak bisa tertawa, membuat mereka menyandang hidup traumatik, cacat fisik dan mental???

Oleh karena itulah, kita sebagai orang media yang profesional seyogyanya tidak ikut-ikutan meniup-niupkan api kebencian (sebagaimana disinyalir oleh surat An-Naas) yang dasarnya tidak murni kebenaran, justru sebaliknya, kita seharusnya berperan besar untuk mewujudkan Dar Al-Salam, di dunia ini, untuk memperoleh sorga abadi nun disana. (arm)

Tidak ada komentar: