26 Januari 2009

Gagal Komunikasi

oleh Andy Rustam

“Cara mengatakan sama pentingnya dengan apa yang dikatakan”, sebuah kaidah utama dalam ilmu komunikasi. Sayangnya, kaidah yang sangat penting ini justru paling sering dilupakan oleh kita semua. Sering kita lihat bagaimana seorang ibu menegur anaknya yang masih berumur lima tahun menumpahkan minuman dengan cara membentak-bentak, sama seperti ia memarahi pembantu rumah tangganya yang sudah dewasa. Coba lihat di televisi bagaimana cara wartawan/interviewer di televisi atau radio mengajukan pertanyaan kepada Mentri, Wapres/Presiden, pejabat tinggi atau profesor sama saja caranya seperti ia mengajukan pertanyaan kepada tukang ojek, tukang bakso, pegawai kantor, yang tingkat pendidikannya berbeda, lingkungan serta tugas dan tanggung-jawabnya juga berbeda. Itu baru kalau kita tinjau dari segi kepada siapa kita berbicara.

Belum lagi kalau ditinjau dari sisi, kapan, di mana, melalui apa, dalam situasi yang bagaimana dsb. dsb. Maka benarlah apa yang dikemukakan Prof. Osmo Wiio dari Finlandia bahwa secara umum komunikasi antar manusia itu selalu gagal.

Apa itu Gagal Komunikasi?

Kalau mengacu kepada definisi proses komunikasi menurut para pakar (Watzlawick, 1967, Barnlund, 1970, Wilmot, 1987), komunikasi disebut berhasil itu apabila terjadi modifikasi/perubahan pada komunikan sesuai maksud si komunikator. Jadi artinya, kalau maksud si sutradara itu memunculkan rasa takut pada penonton TV di rumah dengan adegan munculnya siluman buaya raksasa dalam sinteron silat di TV, tetapi karena teknologinya kelas software flash untuk Windows 98, maka hasilnya penonton bukannya takut tetapi malah tertawa-tawa mengolok-olok gerakan buaya yang kaku ala animasi Doraemon... (ha..ha..ha, maaf saya tertawa sendiri waktu menulis ini), maka ini adalah contoh Gagal Komunikasi.

Contoh lain lagi. Seorang pewawancara di TV bertanya, maksud pertanyaannya tentu agar penonton TV di rumah mendapat penjelasan, bagaimana proses evaluasi, dan pertimbangannya sampai akhirnya Pemda DKI memajukan jam masuk anak sekolah 30 menit lebih awal. Tetapi cara bertanyanya begini, “Pak Pemda, ibu-ibu pada mengeluh Pak, katanya jadi tambah repot, apa Bapak ngga’ kasihan sama ibu-ibu dan anak-anak yang masih terkantuk-kantuk sudah harus berangkat. Jangan anak-anak yang jadi korban, Pak?”. Pak Pemda menjawab, “Yaah bangun subuh kan itu justru menyehatkan. Tidurnya saja suruh lebih cepat, jangan nonton TV sampai malam”. Selanjutnya acara wawancara itu justru jadi ajang debat-kusir antara si pewawancara dan yang diwawancarai, dan penonton tidak mendapatkan manfaat apapun. Nah, ini juga bentuk Gagal Komunikasi.

Contoh lagi tentang Gagal Komunikasi. Penyiar radio menyampaikan, “Berikut ini sebuah lagu yang asik banget untuk kalian-kalian“. Begitu lagunya diudarakan, penyiarnya sengaja ikut nyanyi saking dia suka banget. Lalu karena si penyiar pakai headphone, suara penyanyi dan musik ditelinganya lebih keras dari suaranya sendiri. Dia tidak sadar kalau pendengar jadi tidak merasa asik mendengar lagu asik, karena lagu asik itu tertimpa suara si penyiar yang false kemana-mana (out of tone). Lucunya lagi si penyiar sendiri merasa suaranya asiiik banget, dia merasa kualitas suaranya sudah mirip sang artis/musisi (ha..ha..ha.. maaf lagi..), sementara para pendengar sudah memindahkan saluran ke stasiun radio lain. Si penyiar ingin pendengarnya merasa asik, tapi pendengarnya malah lari. Ini juga Gagal Komunikasi namanya.

Maka sekarang tahulah kita, Gagal Komunikasi adalah salah satu penyebab utama yang sering tidak disadari mengapa sebuah acara tidak berhasil menarik audience.

“Apa” Setara “Bagaimana”

Dari pengalaman selama ini, bisa saya simpulkan bahwa, kita di Indonesia dalam berkomunikasi, terlalu fokus pada “apa” dan bukan pada “bagaimana”. Sekarang lagi gencar-gencarnya kampanye, pilkada, dan caleg-caleg. Coba perhatikanlah para calon itu, semuanya hanya bicara “Apa”, padahal masyarakat perlu “Bagaimana”. Misal, Cagub hanya bilang “Bebas Banjir”, tanpa menjelaskan bagaimana caranya. Caleg bilang “Beras Murah”, tanpa memberitahukan bagaimana caranya... dsb. Berbeda sekali ketika Obama berkampanye. Dalam kampanye, debat di TV melawan McCain, konsep dan program kerja (= bagaimana) secara jelas dipaparkan oleh Obama, berikut pendanaannya harus diambilkan dari mana untuk difokuskan kepada yang ia inginkan melalui program kerjanya. Obama tidak hanya menyampaikan “Change/Perubahan (= Apa)” tetapi bersamaan dengan itu ia juga menyampaikan “bagaimana perubahan itu akan dilaksanakannya”.

Di broadcasting begitu juga. Kalau pendengar atau pemirsa turun, maka langsung menganalisa pesaing-pesaing lalu berkesimpulan, “ Ooo itu karena stasiun itu bikin acara anu. Maka kita bikin acara APA nih untuk menyaingi?”. Jarang sekali berkesimpulan, “apakah ada yang salah dalam BAGAIMANA kita mengolah acara kita selama ini “. Padahal barangkali saja, sebenarnya acara yang kita miliki sekarang ini bukanlah inti permasalahan, tetapi justru cara penyajian acara-nyalah yang menjadi inti pemasalahan.

Memperbaiki “Cara”

Sebenarnya cukup dilakukan cara sederhana untuk memperbaiki "cara", sebagai berikut:

A. Tempatkan diri Anda sebagai si pendengar (atau si pemirsa atau si pembaca), coba monitor/dengarkan siaran-siaran stasiun Anda dan stasiun pesaing Anda. Lalu bikin daftar, (tertulis!!!), apa-apa yang tidak Anda sukai dalam satu kolom tersusun ke bawah. Misal untuk stasiun radio: (1) Saya tidak suka fader (pengatur volume pada mixer) dinaikturunkan ketika penyiar lagi jeda mengambil nafas. (2) Saya tidak suka lagu sedang berjalan ditengahnya diganggu-ganggu dengan ID atau suara lain berbisik-bisik yang menyebabkan keindahan lagu favorit saya terganggu. Dst. dst. terserah selera anda (sebagai pendengar).

B. Di sebelah kolom yang pertama, buatlah kolom kedua dengan nomor urut sama. Pada kolom itu berurutan Anda (selaku penyiar/operator) menulis daftar, jadi apa yang saya harus lakukan, misal untuk stasiun radio: (1) Saya, penyiar/operator, hanya akan menaikkan fader setelah seluruh kalimat selesai. (2) Saya, penyiar/operator, tidak akan mengganggu lagu mulai dari intro sampai benar-benar selesai.

Note: Lakukan langkah A & B ini juga untuk monitoring apa-apa yang Anda sukai dalam satu kolom berurutan dan kolom disebelahnya untuk yang harus tidak akan Anda lakukan.

Penting untuk di-ingat, bahwa saya tidak mengharuskan seperti apa yang saya sebutkan dalam contoh atau pemisalan tersebut di atas. Karena setiap orang/pendengar berbeda-beda. Andalah yang lebih tahu tentang audience Anda, bukan? Nah sekarang, karena kita sudah tahu, maka mudah-mudahan kemungkinan Gagal Komunikasi dalam siaran-siaran/aktivitas-komunikasi kita kepada audience bisa kita kurangi. Amiiin. (arm)

Tidak ada komentar: