oleh Andy Rustam
Alkisah, seorang pemuda jago silat di desanya, datang menemui seorang Guru master shaolin untuk memperdalam ilmu. Sang Guru mengajaknya minum teh bersama. Setelah meletakkan dua cangkir kecil khas tradisi minum teh, serta sepoci teh, Sang Guru kemudian menuangkan teh kepada mangkuk si murid dan mangkuknya sendiri. Keduanya kemudian bersulang menghabiskan isi mangkuk. Sang Guru kemudian menuangkan lagi teh dari poci ke cangkir si murid, tetapi kali ini, walaupun cangkir tersebut sudah penuh, Sang Guru terus menuangkan seluruh isi poci sampai habis. Tentu saja teh tersebut meluber dari cangkir si murid, teh tertumpah mengotori meja dan membuat baju si murid basah. Si murid bertanya, “ Master, mengapa engkau melakukan itu?“. Sambil tersenyum sang master menjawab, “Tidakkah engkau belajar dari situ? Engkau hanya bisa menampung teh dari poci ke dalam cangkirmu, apabila engkau telah mengosongkannya terlebih dahulu. Teh yang tumpah justru akan mengotori meja dan baju putihmu“. Cerita ini merupakan inspirasi yang baik apabila kita hendak belajar sesuatu.
Hidup ini Pelajaran
Pepatah bilang bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dalam hidup, kita mengalami berbagai kejadian, peristiwa besar dan kecil, yang kemudian terrekam dalam otak kita menjadi sebuah pengalaman. Masalahnya sekarang ada dua hal: (1) bagaimana kita menginterpretasikan pengalaman tersebut untuk kemudian disimpan dalam memori kita, (2) Bagaimana kita tahu bahwa interpretasi kita itu betul. Misal: Ketika di sebuah rumah sakit kita melihat seorang korban kecelakaan lalu lintas dan ia seorang pengendara motor. Apa interpretasi kita? Langsung kita menyimpulkan bahwa... yah memang sudah harus begitulah nasibnya... abis kita tau sendiri ‘kan, bagaimana kelakuan pengendara sepeda motor di jalan raya.
Interpretasi kita atas sesuatu saat itu, didasarkan pada interpretasi kita pada sesuatu yang pernah kita alami pula, disimpan dalam memori dan biasanya sudah terlanjur kita percayai. Akibatnya, ketika menginterpretasikan suatu peristiwa baru yang mirip, tidak ada usaha dari kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan interpretasi lain. Dalam kasus diatas, barangkali saja si pengendara motor sebenarnya pengendara motor yang baik, yang mengendarai sepeda motornya dengan sopan dan tertib, tetapi tiba-tiba dari belakang ia disodok oleh bis Metro Mini yang tidak tertib yang dikendarai secara gila-gilaan oleh si supir. Hidup ini memang sebuah sekolah yang tak pernah selesai. Apa yang diinterpretasikan sebagai “kebenaran” hari ini, bisa diinterpretasikan sebagai “kebatilan” di masa depan. Makanya si Guru Master silat menyuruh si murid mengosongkan diri terlebih dahulu dari segala pikiran-pikiran yang telah ada sebelumnya, setiap kali ingin belajar sesuatu yang baru.
Melakukan Berdasarkan Pengalaman
Contoh lain, misalkan, pada 15 tahun yang lalu Anda menjadi kepala pemberitaan di stasiun, katakanlah namanya SC, Anda memakai gaya siaran ala interogator dalam mewawancarai orang yang ternyata melambungkan nama Anda, dibuktikan oleh survey yang menunjukkan adanya peningkatan audience, maka tak heran Anda merekam di dalam otak bahwa gaya siaran pemberitaaan Anda itu sebagai “benar”, karena rating tinggi artinya publik suka. Jadi, Anda menginterpretasikan bahwa hasil survey yang menunjukkan adanya peningkatan audience sebagai “publik menyukai gaya siaran Anda”. Maka berdasarkan data interpretasi yang terrekam dalam otak, ketika di tahun 2008 Anda bekerja sebagai kepala pemberitaan di stasiun (misalkan) LT, pastilah Anda akan menggunakan gaya siaran pemberitaan yang sama karena memang begitulah yang Anda percayai sebagai hebat dan benar.
Padahal ada 2 kemungkinan salah interpretasi disini.
Pertama, keberhasilan anda 15 tahun yang lalu dalam peningkatan audience itu bukan karena publik menyukai gaya siaran pemberitaan Anda, melainkan (misalnya) karena pada periode itu banyak peristiwa besar yang terjadi. Sehingga banyak materi berita yang Anda angkat adalah materi yang memang menjadi pusat perhatian dimana pada saat itu belum banyak media yang menyiarkannya. Begitulah sebenarnya yang terjadi 15 tahun yang lalu, namun Andalah yang telah menginterpretasikan dan direkam dalam otak bahwa gaya siaran pemberitaan ala interogator lah sebagai resep sukses dan Andapun mempercayainya.
Kedua, taro lah waktu itu kesimpulan Anda betul bahwa “gaya siaran pemberitaan” adalah penyebab sukses. Namun barangkali ia bukan penyebab tunggal. Bisa saja faktor pembaca berita (yang cantik dan pintar), faktor peristiwa dalam periode itu (peristiwanya besar semua), faktor persaingan (yang masih sedikit), faktor gaya siaran (yang waktu itu dianggap sebagai gaya siaran-berita baru) dan lain sebagainya. Sayangnya apa yang Anda rekam dalam otak hanya faktor gaya-siaran-pemberitaan ala interogator-lah sebagai penyebab sukses. Jadilah, ketika Anda menjadi kepala pemberitaan lagi di stasiun manapun nantinya, pastilah Anda akan melakukan gaya pemberitaan yang sama yang Anda percayai sebagai rumus sukses.
Kenyataannya
Sudah lebih dari satu tahun Anda implementasikan resep sukses jadul yang Anda simpan dalam memori, tetapi hasilnya, tidak juga terlihat peningkatan jumlah audience seperti yang Anda alami dulu. Tetapi tak seorang pun yang sanggup menasehati anda. Seorang pemuda Indonesia yang pernah bekerja magang selama tiga tahun di CNN – Atlanta, USA pulang ke Indonesia dan ingin men-“sharing” pengalamannya kepada Anda, si Kepala Pemberitaan Jadul, tetapi Anda tolak dengan alasan ia masih muda dan belum berpengalaman.
Begitu kukuhnya Anda, si Kepala Pemberitaan Jadul ini, dengan pengalaman yang ia percayai sebagai kebenaran, walau fakta sekarang menunjukkan acara-acara berita di stasiunnya tak lagi menghasilkan rating yang menonjol bahkan seringkali lebih rendah dari program siaran stasiun lain. Barangkali Anda akan kukuh seterusnya, karena tak tahu gaya lain, atau karena percaya kepada kebenaran yang salah. Kebenaran salah yang dipertahankan sudah pasti tak akan menguntungkan buat siapa saja.
Begitulah saya mencoba ilustrasikan, betapa berrisikonya belajar bermodalkan hanya dari pengalaman, dimana pengalaman tadi direkam ke dalam otak dengan interpretasi yang bisa salah, namun kemudian terlanjur Anda percayai sebagai kebenaran. Sehingga Anda akan berpikiran sempit, tak terbuka terhadap kemungkinan lain. Inilah sesungguhnya yang menjadi sebab kenapa orang sepertinya tak pernah belajar. Inilah yang menyebabkan Broadcasting Industry kita seperti tak beranjak maju.
Maka supaya Anda yang muda-muda tak salah menginterpretasikan apa yang terjadi atau apa yang Anda alami, sebelum Anda merekam dan menyimpannya di dalam memori otak Anda, Anda sendiri harus mempunyai dasar pendidikan yang memadai atau ilmu yang benar. Interpretasi yang benar hanya mungkin apabila didasarkan atas prinsip-prinsip keilmuan yang benar pula. Walaupun ilmu juga selalu berkembang, setidak-tidaknya tingkat akurasi kebenarannya akan lebih tinggi ketimbang hanya bermodalkan pengalaman saja. Sebab terlanjur percaya kepada kebenaran yang salah, sulit diluruskan, sekalipun oleh Guru dengan ilmu yang benar tetapi baru datang terkemudian.
Ibarat tuangan teh yang tertumpah dari Sang Guru Master silat yang justru malah mengotori meja dan baju si murid sendiri karena tidak mengosongkan cangkirnya dulu sebelum teh dituangkan. (arm)
Alkisah, seorang pemuda jago silat di desanya, datang menemui seorang Guru master shaolin untuk memperdalam ilmu. Sang Guru mengajaknya minum teh bersama. Setelah meletakkan dua cangkir kecil khas tradisi minum teh, serta sepoci teh, Sang Guru kemudian menuangkan teh kepada mangkuk si murid dan mangkuknya sendiri. Keduanya kemudian bersulang menghabiskan isi mangkuk. Sang Guru kemudian menuangkan lagi teh dari poci ke cangkir si murid, tetapi kali ini, walaupun cangkir tersebut sudah penuh, Sang Guru terus menuangkan seluruh isi poci sampai habis. Tentu saja teh tersebut meluber dari cangkir si murid, teh tertumpah mengotori meja dan membuat baju si murid basah. Si murid bertanya, “ Master, mengapa engkau melakukan itu?“. Sambil tersenyum sang master menjawab, “Tidakkah engkau belajar dari situ? Engkau hanya bisa menampung teh dari poci ke dalam cangkirmu, apabila engkau telah mengosongkannya terlebih dahulu. Teh yang tumpah justru akan mengotori meja dan baju putihmu“. Cerita ini merupakan inspirasi yang baik apabila kita hendak belajar sesuatu.
Hidup ini Pelajaran
Pepatah bilang bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik. Dalam hidup, kita mengalami berbagai kejadian, peristiwa besar dan kecil, yang kemudian terrekam dalam otak kita menjadi sebuah pengalaman. Masalahnya sekarang ada dua hal: (1) bagaimana kita menginterpretasikan pengalaman tersebut untuk kemudian disimpan dalam memori kita, (2) Bagaimana kita tahu bahwa interpretasi kita itu betul. Misal: Ketika di sebuah rumah sakit kita melihat seorang korban kecelakaan lalu lintas dan ia seorang pengendara motor. Apa interpretasi kita? Langsung kita menyimpulkan bahwa... yah memang sudah harus begitulah nasibnya... abis kita tau sendiri ‘kan, bagaimana kelakuan pengendara sepeda motor di jalan raya.
Interpretasi kita atas sesuatu saat itu, didasarkan pada interpretasi kita pada sesuatu yang pernah kita alami pula, disimpan dalam memori dan biasanya sudah terlanjur kita percayai. Akibatnya, ketika menginterpretasikan suatu peristiwa baru yang mirip, tidak ada usaha dari kita untuk membuka diri terhadap kemungkinan interpretasi lain. Dalam kasus diatas, barangkali saja si pengendara motor sebenarnya pengendara motor yang baik, yang mengendarai sepeda motornya dengan sopan dan tertib, tetapi tiba-tiba dari belakang ia disodok oleh bis Metro Mini yang tidak tertib yang dikendarai secara gila-gilaan oleh si supir. Hidup ini memang sebuah sekolah yang tak pernah selesai. Apa yang diinterpretasikan sebagai “kebenaran” hari ini, bisa diinterpretasikan sebagai “kebatilan” di masa depan. Makanya si Guru Master silat menyuruh si murid mengosongkan diri terlebih dahulu dari segala pikiran-pikiran yang telah ada sebelumnya, setiap kali ingin belajar sesuatu yang baru.
Melakukan Berdasarkan Pengalaman
Contoh lain, misalkan, pada 15 tahun yang lalu Anda menjadi kepala pemberitaan di stasiun, katakanlah namanya SC, Anda memakai gaya siaran ala interogator dalam mewawancarai orang yang ternyata melambungkan nama Anda, dibuktikan oleh survey yang menunjukkan adanya peningkatan audience, maka tak heran Anda merekam di dalam otak bahwa gaya siaran pemberitaaan Anda itu sebagai “benar”, karena rating tinggi artinya publik suka. Jadi, Anda menginterpretasikan bahwa hasil survey yang menunjukkan adanya peningkatan audience sebagai “publik menyukai gaya siaran Anda”. Maka berdasarkan data interpretasi yang terrekam dalam otak, ketika di tahun 2008 Anda bekerja sebagai kepala pemberitaan di stasiun (misalkan) LT, pastilah Anda akan menggunakan gaya siaran pemberitaan yang sama karena memang begitulah yang Anda percayai sebagai hebat dan benar.
Padahal ada 2 kemungkinan salah interpretasi disini.
Pertama, keberhasilan anda 15 tahun yang lalu dalam peningkatan audience itu bukan karena publik menyukai gaya siaran pemberitaan Anda, melainkan (misalnya) karena pada periode itu banyak peristiwa besar yang terjadi. Sehingga banyak materi berita yang Anda angkat adalah materi yang memang menjadi pusat perhatian dimana pada saat itu belum banyak media yang menyiarkannya. Begitulah sebenarnya yang terjadi 15 tahun yang lalu, namun Andalah yang telah menginterpretasikan dan direkam dalam otak bahwa gaya siaran pemberitaan ala interogator lah sebagai resep sukses dan Andapun mempercayainya.
Kedua, taro lah waktu itu kesimpulan Anda betul bahwa “gaya siaran pemberitaan” adalah penyebab sukses. Namun barangkali ia bukan penyebab tunggal. Bisa saja faktor pembaca berita (yang cantik dan pintar), faktor peristiwa dalam periode itu (peristiwanya besar semua), faktor persaingan (yang masih sedikit), faktor gaya siaran (yang waktu itu dianggap sebagai gaya siaran-berita baru) dan lain sebagainya. Sayangnya apa yang Anda rekam dalam otak hanya faktor gaya-siaran-pemberitaan ala interogator-lah sebagai penyebab sukses. Jadilah, ketika Anda menjadi kepala pemberitaan lagi di stasiun manapun nantinya, pastilah Anda akan melakukan gaya pemberitaan yang sama yang Anda percayai sebagai rumus sukses.
Kenyataannya
Sudah lebih dari satu tahun Anda implementasikan resep sukses jadul yang Anda simpan dalam memori, tetapi hasilnya, tidak juga terlihat peningkatan jumlah audience seperti yang Anda alami dulu. Tetapi tak seorang pun yang sanggup menasehati anda. Seorang pemuda Indonesia yang pernah bekerja magang selama tiga tahun di CNN – Atlanta, USA pulang ke Indonesia dan ingin men-“sharing” pengalamannya kepada Anda, si Kepala Pemberitaan Jadul, tetapi Anda tolak dengan alasan ia masih muda dan belum berpengalaman.
Begitu kukuhnya Anda, si Kepala Pemberitaan Jadul ini, dengan pengalaman yang ia percayai sebagai kebenaran, walau fakta sekarang menunjukkan acara-acara berita di stasiunnya tak lagi menghasilkan rating yang menonjol bahkan seringkali lebih rendah dari program siaran stasiun lain. Barangkali Anda akan kukuh seterusnya, karena tak tahu gaya lain, atau karena percaya kepada kebenaran yang salah. Kebenaran salah yang dipertahankan sudah pasti tak akan menguntungkan buat siapa saja.
Begitulah saya mencoba ilustrasikan, betapa berrisikonya belajar bermodalkan hanya dari pengalaman, dimana pengalaman tadi direkam ke dalam otak dengan interpretasi yang bisa salah, namun kemudian terlanjur Anda percayai sebagai kebenaran. Sehingga Anda akan berpikiran sempit, tak terbuka terhadap kemungkinan lain. Inilah sesungguhnya yang menjadi sebab kenapa orang sepertinya tak pernah belajar. Inilah yang menyebabkan Broadcasting Industry kita seperti tak beranjak maju.
Maka supaya Anda yang muda-muda tak salah menginterpretasikan apa yang terjadi atau apa yang Anda alami, sebelum Anda merekam dan menyimpannya di dalam memori otak Anda, Anda sendiri harus mempunyai dasar pendidikan yang memadai atau ilmu yang benar. Interpretasi yang benar hanya mungkin apabila didasarkan atas prinsip-prinsip keilmuan yang benar pula. Walaupun ilmu juga selalu berkembang, setidak-tidaknya tingkat akurasi kebenarannya akan lebih tinggi ketimbang hanya bermodalkan pengalaman saja. Sebab terlanjur percaya kepada kebenaran yang salah, sulit diluruskan, sekalipun oleh Guru dengan ilmu yang benar tetapi baru datang terkemudian.
Ibarat tuangan teh yang tertumpah dari Sang Guru Master silat yang justru malah mengotori meja dan baju si murid sendiri karena tidak mengosongkan cangkirnya dulu sebelum teh dituangkan. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar