12 Januari 2009

Media Tega

oleh Andy Rustam

Israel menyerang Gaza (yang merupakan wilayahnya Palestina), menjadi bahan pemberitaan yang ramai di stasiun televisi kita, surat-kabar, radio, sampai beredar e-mail dari milis ke milis isinya juga begitu. Kalau kita boleh simpulkan, isi pemberitaan terbagi tiga: Pertama, menceritakan kelangsungan perang serta korban-korban. Kedua, menceritakan upaya-upaya gencatan senjata. Ketiga, melaporkan demonstrasi atau pendapat tokoh masyarakat dunia dan negeri kita sendiri yang intinya memprotes Israel, Amerika, dan sekutunya. Ini berlangsung setiap hari sejak serangan Israel 17 hari yang lalu. Kalau sampai angle berita seperti ini yang diangkat, tentulah team pemberitaan beranggapan bahwa memang ini yang diminati masyarakat. Benar saja, masyarakat pun bereaksi, emosinya terbakar, geram terhadap Israel. Kemarin ketika saya sedang naik taksi , si sopir rupanya ingin mengajak saya ngobrol. Topik obrolannya apalagi kalau bukan tentang serangan Israel ke Gaza. Yang membuat saya terkejut, ternyata si sopir menganggap bahwa konflik Palestina dan Israel selama ini adalah konflik antara Islam vs. Yahudi, bahkan lebih diperluas lagi, menjadi Islam vs. Non-Islam. Reaksi saya meniru anak sekarang, "OMG! (oh my God!)".

Pandangan Umum Masyarakat

Menurut saya, pandangan ala si sopir taksi ini cukup banyak dan merata di kalangan masyarakat kita. Jangan-jangan juga merata dikalangan tim wartawan dari berbagai media massa (TV, radio, dan surat-kabar). Banyak yang tidak tahu bahwa istri Yasser Arafat, Bapak Palestina, seorang non-muslim dimana almarhum Yasser Arafat semasa hidupnya rajin ikut ke gereja menemani istrinya menjalankan ibadah menurut keyakinannya. Banyak yang tidak tahu bahwa di Israel sendiri ada komunitas muslim. Banyak yang tidak tahu bahwa di Amerika Serikat, negara yang sering jadi sasaran karena menjadi kaki tangan Israel, memiliki 7 juta penduduk muslim. Venezuela yang dipimpin Hugo Chavez terang-terangan menentang Israel dan Amerika, padahal hampir seluruh penduduk negeri itu kaum Nasrani. Banyak yang tidak tahu bahwa jumlah kaum Nasrani di Palestina rasionya tak terlalu jauh dengan kaum Muslim-nya (dan kaum wanitanya sama-sama memakai busana tertutup ala jilbab). Mereka semua bangkit melawan penjajah Israel, tanpa kecuali.

Israel adalah Penjajah

Konflik Israel – Palestina adalah konflik antara Penjajah Israel melawan rakyat Palestina yang ingin merebut kembali tanah mereka yang diduduki oleh Israel sejak tahun 1948. Jadi sama saja seperti bangkitnya perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah Belanda ketika merebut kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Seperti Israel yang didukung Amerika dan Inggris, Belanda pun dulu sebagai penjajah Indonesia, ia dibantu Amerika dan Inggris. Rakyat Indonesia, dari berbagai golongan tanpa kecuali semuanya bangkit berperang melawan penjajah, tidak pandang apakah itu kyai, pastor, atau pendeta.

Tapi lalu di wilayah-wilayah dimana rakyat beragama Islam-nya merupakan mayoritas seperti misalnya Aceh, para pemimpin kemudian menggunakan agama Islam sebagai alat untuk mengobarkan semangat berperang mengusir penjajah Belanda dengan bahasa dan istilah: “Perang melawan kafir”, yah cara itu sih sah-sah saja sebagai taktik agar rakyat tak kenal menyerah melawan penjajah. Tetapi kalau istilah begini terus dipakai di zaman sekarang, padahal bukanlah seperti itu duduk permasalahannya, maka ini sama juga membodohi masyarakat dengan cara “memanipulasi dan memelintir” informasi. Dalam soal serangan Israel ke Gaza sekarang ini, menurut saya, siaran-siaran berita media-media tidak cukup jelas dalam mendudukkan persoalan sehingga masyarakat memiliki pandangan yang keliru. Buktinya, yaa si supir taksi saya tadi.

Karena Sengaja atau Karena Bodoh

Seperti kita ketahui, penduduk Indonesia yang beragama Islam ini mencapai lebih dari 80% populasi. Jadi sebenarnya siapapun tahu bahwa kalau mau “populer” maka bawa-bawa saja label Islam kemana-mana, ditanggung pasti kedudukan atau jabatannya akan aman. Coba perhatikan saja tuh anggota DPR, Ketua Organisasi, Caleg, bahkan semua Presiden-Presiden kita sebelumnya selalu mengambil langkah mempopulerkan diri dengan menempelkan label Islam. Label Islam bukan cuma dalam omongan tetapi sampai ke atribut, sorban dan gamis. Udah kabur mana ajaran Islam mana yang tradisi Arab. Tak heran sekarang ada saja anggapan di kalangan rakyat kecil, bahwa kalau mau makin dekat ke surga maka jenggotnya musti dipanjangin. Begitu pula film, sinetron, siaran berita, pidato, dsb. kalau mau populer, atau bahasa lainnya, kalau mau rating-nya naik tempelkan saja label Islam pada judulnya.

Masalahnya sekarang, kenapa dong mereka sampai mem-bias-kan informasi (memelintir berita) sehingga persepsi masyarakat atas konflik Israel-Palestina, menjadi menyimpang, dari situasi Berjuang demi Kemerdekaan menjadi perang Agama. Siapa yang di-untung-kan dengan membiarkan masyarakat kita tetap tenggelam dalam kesalahan bodoh ini? Tentu saja, orang-orang yang ingin populer (siapapun dia). Masyarakat kita jadi mudah digerakkan ke arah yang menguntungkan dia kalau emosinya sedang terbakar. Cara membakar yang paling mudah, singgung saja soal agamanya, pasti emosi deh! Begitulah jalan pikirannya sang pemimpin oportunis.

Tetapi kalau melihat kepada kalangan grass roots, masalahnya terletak pada “dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu”. Jadi, ketika ada yang menyulut emosinya, maka ia akan merasa benar saja, karena pikirannya juga yang cuma segitu itu.

Media Tega

Nah kalau kalangan di atas sudah begitu, dan kalangan di bawah juga begini, masa’ sih kita (orang media) tega untuk membiarkan kebodohan menjadi semakin meluas. Upayanya sebenarnya tidak terlalu susah, cukup tulislah berita/info, tayangkanlah berita/info, sampaikanlah berita/info yang isi dan susunannya dapat membuat masyarakat akhirnya tergelitik untuk berpikir. Berilah informasi bukan dengan alasan agar rating naik atau bukan karena berita itu sensasional, melainkan karena berita/info ini bagus untuk menstimulasi masyarakat berpikir, wawasan pun semakin luas, sehingga mereka terdorong untuk berbuat sesuatu yang produktif.

Kasian dong masyarakat, siapa lagi yang bisa mengarahkan dan mendidik mereka supaya bisa maju. Untuk mengambil sekolah jelas tak mampu. Maka bagi golongan ini cuma medialah yang mampu mendidik mereka. Bukankah fungsi media hanya menampilkan hal-hal yang bombastis, sensasi dan artisial saja? Fungsi tanggung-jawab sosial seperti memerangi wawasan sempit dan kebodohan jauh lebih penting. Abis siapa lagi, coba?...apa media tega? (arm)

1 komentar:

ary bangli mengatakan...

pak andy, saya kadang heran : masih ada media massa yang reportase perang seperti laporan olah raga....[yang tewas di pihak sana sekian, di pihak sini sekian]...:-((