02 Maret 2009

Timbre of The Speaking Voice (Warna Suara untuk Bicara/Percakapan)

oleh Andy Rustam

TV set di rumah saya terletak tidak jauh dari kamar belajar/tidur anak-anak. Saya masih ingat ketika anak-anak saya masih mahasiswa, mereka sering meminta volume suara TV set dikecilkan (padahal setting volume suara selalu dalam posisi seperti biasanya). Alasannya karena mengganggu konsentrasi belajar.

Lucunya, tidak begitu kalau di televisi sedang menyiarkan rangkaian musik video clips. Mereka hanya merasa terganggu kalau sedang ada suara host alias presenter alias penyiar yang berbicara. Saya kira hal yang sama berlaku di radio juga. Jadi memang ada suara penyiar yang kalau dia bicara, suaranya terasa “annoying”. Kita sebagai pendengar merasa terganggu, walaupun mungkin si penyiar itu hanya bicara dalam durasi waktu tak sampai 2 menit saja. Sebaliknya ada beberapa penyiar lain yang bunyi suaranya nyaman di telinga pendengar.

Pengertian Timbre (baca: Taember)

Timbre atau terjemahan bebasnya “warna suara”, merupakan faktor paling menentukan bagi bagaimana tingkat enaknya suara itu terdengar di telinga. Timbre sangat ditentukan dari bagaimana suara/bunyi-bunyian itu diproduksi. Misalnya, satu nada dari suara gitar yang dipetik snaar-nya oleh “kuku” jari-jari anda, akan berbeda suaranya apabila snaar gitar itu dipetik langsung oleh ujung jari-jari anda (walaupun nadanya sama). Contoh lain lagi. Jaman dulu tahun 70-an, ketika kita ingin suara piano kita mirip dengan suara piano kuno (clavinet), maka palu pemetik snaar-nya sering ditempelkan paku payung. Snaar piano yang dipukul oleh bahan metal dari paku payung, akan mengeluarkan suara berbeda dibandingkan apabila snaar piano dipukul oleh bahan kayu yang lembut (walau nadanya sama).

Selain itu, Timbre juga ditentukan dari bagaimana proses pantulan pada ruang resonansi dari getaran snaar itu. Contohnya: Seandainya gitar akustik itu anda tutup lubang resonansinya, kemudian anda petik snaar-nya, maka suara timbre gitar tersebut akan berubah, walaupun nadanya sama. Itu semua yang menyebabkan masing-masing instrumen musik terdengar berbeda-beda di telinga, meskipun mereka semua bisa mengeluarkan nada yang sama.
Bunyi terompet terdengar lebih “menyakitkan” di telinga ketimbang suara gitar akustik (walaupun seandainya gitar akustik ini dibantu dengan pengeras suara sehingga volume suaranya menjadi sekuat Terompet). Jadi jelas sekali, bahwa Timbre-lah yang jadi faktor utama apakah suara itu bakal nyaman di telinga atau tidak.

Telinga

Telinga manusia yang menangkap bunyi-bunyian kemudian meneruskannya ke otak, telah diprogram sejak awal untuk mencari keseimbangan. Artinya, telinga manusia (atau lebih tepatnya, otak manusia yang mengolah signal suara dari telinga), akan merasa terganggu apabila terus menerus dibombardir oleh signal-signal suara yang tak seimbang. Timbre sesungguhnya merupakan hasil perpaduan berbagai faktor fase-fase dalam gelombang getaran. Perpaduan getaran yang harmonis (seimbang) akan menghasilkan suara yang nyaman. Sedangkan kalau perpaduan getarannya tak seimbang akan menghasilkan suara yang mengganggu (annoying) di telinga kita.

Mengapa kita merasa terganggu dengan suara seperti itu? Penyebabnya karena otak kita (yang memproses pendengaran) sesungguhnya ingin secara otomatis menyeimbangkan input suara-suara yang tak harmonis tadi. Tetapi tidak bisa, karena dari sumbernya memang sudah begitu. Akibatnya otak kita akan merasa lelah. Makanya, dalam cerita tentang anak saya tadi, ia langsung bangkit dan meminta volume suara TV set dikecilkan/dimatikan, pas waktu mendengar suara si penyiar/host. Sedangkan ketika masih berlangsung acara musik video clips, bagi telinganya, perpaduan frekuensi getaran dari suara-suara video clips itu harmonis. Itu sebabnya ia tak merasa terganggu.

Suara Penyiar

Prinsip yang sama, seperti juga instrumen musik, produksi suara penyiar di dalam dirinya menjadi penentu “timbre”-nya. Apabila kebetulan “timbre” yang keluar dari mulut penyiar itu merupakan perpaduan dari getaran-getaran dengan resonansi yang harmonis, maka suara penyiar itu sering disebut sebagai “empuk”. Maksudnya tentu suara itu tak menyakitkan telinga. Bahkan apabila penyiar tersebut berteriak sekalipun, tetap saja timbre suaranya tidak menyakitkan telinga.

Beberapa penyiar telah lahir dimana secara alami proses produksi suara dalam internal dirinya sudah harmonis. Bakat bersuara empuk dengan sendirinya sudah menjadi bawaan. Tetapi bagi penyiar yang tidak memiliki bakat seperti ini, tetap bisa memperbaiki “timbre”-nya dengan latihan-latihan tertentu untuk membuat kebiasaan baru bagi tubuhnya dalam proses memproduksi suara.

Seleksi penyiar bagi siaran televisi sering mengutamakan “wajah cantik/keren” saja dan menomorduakan “timbre”. Akibatnya, walaupun wajah cantik tapi cara bicaranya terkesan “stupid”, apalagi “timbre” suaranya “menyakitkan” telinga. Pastilah saya pindah saluran. Buat saya lebih enak mengikuti acaranya Oprah Winfrey yang wajahnya jauh dari cantik, tetapi cara bicaranya “smart” dan suaranya “empuk”, bahkan ketika ia berteriak sekalipun. (arm)

Tidak ada komentar: