29 Maret 2009

Perbaikan Dari Mana Mulainya?

oleh Andy Rustam

Tanggul Situ Gintung - Ciputat jebol, perumahan tenggelam, puluhan korban tewas, pembangunan di daerah resapan tetap terbit izinnya. Sidoarjo terendam lumpur, bis tabrakan dengan kereta api, metro mini nyeruduk warung supir kabur, pura-pura mengemis akhirnya nodong, tanah longsor di Sumatra dan Jateng, kecelakaan pesawat terbang, kecelakaan kapal laut, kecelakaan kereta api, kebakaran di pertokoan, pembunuhan sesama kenalan, penembakan pengusaha, penculikan anak, perusakan hutan lindung, situs purbakala dirusak, arca dipalsukan, satwa yang dilindungi dibunuh dan dijual, perdagangan wanita marak, jaringan narkoba dari penjara, judi melalui sms, perusahaan sekuritas dan bank bawa kabur uang nasabah, janji hadiah promosi yang menipu, iklan sms gratis yang persyaratannya disembunyikan, uang suap buat pejabat dan DPR, DPR jalan-jalan ke luar negeri bilang studi banding, orang miskin tak dilayani di RS sampai sekarat, bayi dibuang, gedung sekolah rubuh, guru yang “makan” murid, pesan iklan yang manipulatif, penyiar yang arogan, malpraktek dokter, perusahaan real estate yang ingkar janji setelah terima uang muka, antrean Bantuan Tunai Langsung berdesakan sehingga orang terhimpit, antre pembagian zakat sampai jatuh korban, jalan tol berlobang besar mobil banyak yang celaka, konglomerat membiayai kampanye pemilu dengan imbalan proyek dan fasilitas, reporter yang meng-interview seperti investigator, media yang menyiarkan berita supaya sensasional dan ricuh, polisi lalu lintas yang cuek melihat kemacetan, polisi yang no action menerima laporan warga, tentara yang menembaki rakyat desa, pemain sepakbola memukuli wasit, wasit yang disogok penjudi, handphone terlupa di ATM langsung raib, vonis bebas hakim bagi koruptor, penghentian penyidikan oleh kejaksaan, taksi yang merampok penumpang, janji berbusa-busa calon legislatif dan calon presiden, kelompok satu menyerang kelompok lain, penonton sepakbola merusak fasilitas umum, mahasiswa tawuran, anak SD memeras anak lain, sepeda motor yang seperti lalat yang tidak punya aturan, ulama dan pemimpin agama yang menjadi provokator bagi kepentingan kelompok dirinya, pengusaha menipu karyawan dan customer-nya sendiri, menteri bikin aturan yang menguntungkan group-nya, warung kaki lima menyerobot trotoar menjadi sah karena nyetor kamtib dan nanti ada waktu digusur sementara untuk balik lagi agar jadi sumber pemerasan, pulau dan gunung berubah status jadi milik pribadi, karya nenek moyang dipatenkan negara lain, manusia-manusia yang sudah hilang rasa dan hatinya ....dst. dst. Kalau di tulis semua barangkali ribuan lembar kertas pun tidak akan cukup, dan semuanya ini terjadi setiap hari di Indonesia tanpa ada tanda-tanda akan reda. Masih adakah yang baik dan benar?

Berkali-kali Ganti Pemerintahan

Bung Karno pernah berkata dalam salah satu pidatonya bahwa penjajah Belanda pernah meragukan kemampuan bangsa Indonesia mengelola negara, tapi menurut Bung Karno ketika itu, “Kita buktikan mereka salah!“ Bung Karno lalu mengelola negara dengan konsep ala diktator berbungkus demokrasi terpimpin. Peristiwa-peristiwa seperti tersebut diatas, mulai muncul pada era kepemimpinan beliau yang berlangsung sekitar 20 tahunan itu. Kemudian muncul Pak Harto yang “Bapak Pembangunan”. Ia tampil mengelola negara dengan caranya sendiri, memperkenalkan konsep sandiwara demokrasi mengutamakan stabilitas dengan bedil, katanya agar bisa membangun bagi kesejahteraan rakyat. Di jaman beliau memerintah dulu ketika sedang oil-booming sebenarnya seluruh hutang luar negeri negara kita bisa dilunasi. Tetapi tak dilakukan karena maraknya kroniisme yang menguntungkan keluarga dan kroninya . Akibat buruk 30 tahunan kepemimpinan beliau, ya sampai sekarang masih kita rasakan semua, betapa rakyat terus tertekan membayari hutang-hutang yang diciptakan pemerintahan beliau. Rakyat menderita mental dan fisik yang jauh lebih buruk dari ketika jaman penjajahan. Selanjutnya era pendek Habibie, Gus Dur, Megawati, dan sekarang Yudhoyono, semua mencoba memimpin dalam era demokrasi beneran. Tapi hasil yang kita lihat, ya begitu-begitu saja. Seluruh peristiwa sesuai uraian di awal tulisan tetap terjadi bahkan menjadi-jadi. Kesimpulan, jangan-jangan pendapat si penjajah itu benar, bahwa kelihatannya memang bangsa Indonesia tak pandai mengelola negerinya sendiri.

Kita sering mengatakan, pemerintah brengsek. Tetapi cobalah dikaji lebih jauh dari mana orang-orang yang duduk di pemerintahan itu berasal? Ya, dari rakyat dari masyarakat juga. Jadi sebenarnya, kalau kita katakan pemerintah brengsek, sebenarnya rakyat, masyarakat dan bangsa inilah yang brengsek. Fakta bahwa kita bisa dijajah sampai ratusan tahun itu pun bisa terjadi dikarenakan mental dan karakter bangsa kita sendiri yang hanya selalu memikirkan diri sendiri!

Perbaikan Melalui Para Broadcaster?

Dalam kampanye pemilu kali ini kita sudah dengar pidato-pidato dari para calon pemimpin. Tapi saya ingatkan sekali lagi, mereka berasal dari masyarakat yang sudah tercemar. Mereka lahir, tumbuh dan dibesarkan dan didik sebahagian pada era Bung Karno dan sebahagian besar lagi pada era Pak Harto. Sudah barang tentu mental, pola pikir, metode serta kemampuan mereka ya pastinya cuma begitu-begitu juga. Jadi, jangan terlalu menaruh harapan. Malah bisa dipastikan semua kejadian seperti pada awal uraian akan tetap berulang. Wuaaah terlalu pesimistis nih..... kata orang-orang.

Sebenarnya saya tidak pesimistis, karena saya masih mempunyai harapan. Darimana seharusnya kita memulai. Prinsipnya, masyarakat yang “baik” akan bisa banyak melahirkan pemimpin yang baik. Institusi pendidikan formal kita sangat mahal dan kalaupun ada yang murah, kualitasnya juga tak menjanjikan. Keteladanan baik di pemerintahan maupun di kalangan masyarakat sendiri, yang seharusnya dapat menjadi sarana pendidikan informal, itupun semakin sulit ditemui oleh kita sehari-hari dan sulit mencari panutan bagi generasi anak-anak kita. Bagaimana mau mencari keteladanan dari masyarakat yang sudah rusak? Bagaimana bisa mendidik masyarakat untuk perbaikan kalau lembaga resmi pendidikan pun sudah tercemar, ditambah panutan pun tak bisa ditemukan?

Sebenarnya ada alternatif jalur pendidikan yang masih bisa diharapkan, yaitu melalui broadcasting. Harapan itu terletak dipundak para broadcaster. Sayangnya para broadcaster dan para pimpinan stasiun sendiri juga lahir, besar, dan hidup dalam lingkungan yang tercemar pula. Jadi, normal saja kalau banyak siaran-siaran kita yang juga tercemar, sehingga sulit diandalkan untuk melakukan fungsi pendidikan.

Walau begitu, gagasan usaha untuk bisa merubah sikap mental dan pola pikir masyarakat, dengan merubah dulu sikap mental dan pola pikir para broadcaster masih lebih realistis untuk bisa dilakukan. Karena jumlah stasiun broadcasting di Indonesia tak sampai 2500 buah (di Amerika lebih dari 15.000 buah).

Mereka, para broadcaster ini “berbicara” kepada lebih dari 160 juta rakyat setiap harinya (data AC Nielsen 2005). Kalau saja 2500 pimpinan stasiun itu mempunyai mental dan pola pikir yang terdidik, intelek, dan mempunyai visi, maka bayangkan saja, 160 juta orang bisa dipengaruhi hal-hal yang baik melalui siaran-siaran, setiap hari! Masyarakat bisa banyak “belajar” dari siaran stasiun radio dan siaran televisinya.

Masalahnya tinggal, bagaimana caranya berbicara kepada dan meyakinkan 2500 orang untuk bermental dan berpola-pikir baik, berpola pikir universal yang tidak mementingkan diri sendiri? Tidak mudah memang. Tetapi mendidik dan merubah 2500 orang jauh lebih mudah daripada merubah 220 juta orang rakyat kita, bukan? Atau barangkali ini gagasan absurd, ya? Wuaaah... kalau begitu, itu baru pesimistis. (arm)

Tidak ada komentar: