10 Maret 2009

Sebuah Show yang Menawan

oleh Andy Rustam

Kalau Anda menonton Java Jazz yang menggelar berbagai macam pentas artis penyanyi dan musisi, yang saling mempertunjukan kebolehannya dalam waktu yang bersamaan, tentulah Anda akan prioritaskan memilih menonton artis-artis yang Anda sukai saja. Pilihan kita bisa saja musisi jazz kawakan, musisi pendatang baru, musisi luar negeri maupun yang dalam negeri. Dalam perjalanan kembali ke rumah bersama teman, kita ngobrol memperbincangkan apa yang telah kita saksikan. Dari artis-artis yang kita sukai yang waktu itu kita saksikan atraksi panggungnya, kita sepakat dan memuji bahwa group MB-lah yang paling menawan. Sederetan artis yang kita sukai semua kita tonton (kalau kita tidak suka, pasti tidak kita tonton), tetapi mengapa kita masih bisa mengatakan bahwa penampilan si MB-lah yang paling menawan?

Aspek Menawan

Saya lalu mengkaji lagi, sebenarnya para artis favorit saya itu semuanya sama-sama membawakan lagu-lagu yang juga saya sukai. Tata panggung, tata suara, dan tata cahayanya juga relatif semuanya sama bagus. Gaya dan pakaian pun semua sama menariknya. Pendek kata segala aspek yang dapat diperbandingkan boleh dikatakan sama kualitasnya. Lalu mengapa saya dan teman-teman saya merasakan ada kelebihan pada show group MB ini? Kelebihannya itulah yang menyebabkan sesampainya dirumah pun masih saja kita menyenandungkan lagu-lagu yang telah dibawakannya. Dengan semangat pula kita menceritakan kepada teman-teman, betapa ruginya mereka karena tidak sempat menyaksikan show tersebut. Bahkan kita sepakat bahwa kalau tahun depan group ini datang lagi maka kita pasti akan menontonnya kembali. Show itu telah begitu membuat kita terhanyut dan larut dalam suasana yang membuat kita lupa segalanya.

Dalam bahasa komunikasi, show itu sukses karena show tersebut mampu berkomunikasi secara pas (tidak kurang dan tidak lebih) dengan publiknya. Kalau saja sebuah siaran radio atau siaran televisi mampu secara pas berkomunikasi dengan publiknya pastilah ia akan disukai. Siaran seperti ini akan mampu menghasilkan publik yang loyal. Jadi sebenarnya aspek menawan dari sebuah show adalah aspek yang menyangkut berapa tepat show tersebut mampu secara pas berkomunikasi dengan publiknya.

Show yang Menawan

Orang kemudian mempertanyakan, apanya yang berkomunikasi? Bukankah tidak sekali pun penyanyi atau anggota band tersebut berbicara dengan kita penontonnya kecuali menyebut “Thank You; Hello; Selamat Malam dan Terima Kasih”?

Nah di sinilah titik soalnya. Kebanyakan dari kita kalau mengartikan berkomunikasi selalu menganggap bahwa komunikasi itu harus verbal atau dikatakan atau diucapkan dengan kata-kata. Film-film dan sinetron kita penuh dengan pernyataan-pernyataan verbal, yang menurut mereka harus diucapkan, dimana kalau tidak diucapkan maka penonton tidak mengerti.

Komunikasi pada dasarnya untuk menghasilkan respon, sedangkan pesannya sendiri bisa berbentuk apa saja. Bisa kata-kata bisa juga simbol-simbol lain. Itu sebabnya tanpa harus mengucapkan atau menuliskan satu huruf pun, kalau seorang pria mengirimkan satu bouquet bunga mawar kepada seorang wanita, maka wanita itu pasti tahu bahwa pria itu menaruh perhatian pada dirinya.

Apabila respon sudah tercipta namun masih juga si pria melontarkan terus pesan-pesan (berupa bunga-bunga mawar lagi) tersebut, maka bisa saja respon yang tercipta justru rasa muak dari si wanita. Sebaliknya bila pesan itu tak cukup kuat/jelas (misalnya, si pria mengirimkan kapal-kapalan dari kertas) maka tentu saja si wanita tak akan memberikan respon sama sekali (karena tak mengerti apa maksudnya).

Maka show yang menawan adalah show yang bisa berkomunikasi secara pas. Sebuah show yang seluruh elemen-elemennya diatur sedemikian rupa sehingga setiap kali elemen itu muncul mampu menghasilkan respon yang tepat pada penontonnya. Elemen-elemen show adalah simbol pesan dari si penampil bagi penonton/publik yang kemudian memicu penonton untuk memberi respon. Semua itu bisa saja tanpa perlu sepatah katapun dari si penampil.

Acara Radio dan Televisi yang Komunikatif

Menurut saya, kelemahan terbesar kita dalam bidang hiburan adalah ketidakmampuan kita menata dan menyajikan secara pas elemen-elemen show yang akan kita tampilkan. Ketrampilan dan keahlian artis Indonesia tidak kalah dengan artis-artis barat, tetapi mengapa kalau kita menonton show artis barat rasanya lebih enak diikuti. TV show Indonesian Idol, dibuat di bawah lisensi American Idol, dengan proses yang persis sama seperti acara American Idol, tetapi mengapa lebih enak menonton acara American Idol?

Jawabannya sama. Kita (selaku komunikator) tak mampu membuat setiap elemen yang kita tampilkan dapat berkomunikasi secara pas dengan publik. Elemen yang kita tampilkan mungkin saja benar secara proses teknis, tetapi respon penonton di Indonesia (selaku komunikan) bisa berbeda. Sikap Simon Cowell, juri yang sinis dan menjatuhkan mental namun memiliki dasar alasan yang kuat, menyebabkan penonton TV Amerika menaruh respek padanya (walau belum tentu menyukai). Justru pendapat para juri yang mengajukan argumennya secara pas-lah yang menjadi salah satu daya tarik acara itu. Tetapi apa yang dipertunjukkan oleh juri Indonesian Idol, kemungkinan besar karena komunikasinya tidak pas bagi penonton Indonesia, akibatnya justru menghasilkan respon penonton yang berbeda. Tentu saja, pastilah sutradara sudah memberi arahan bahwa sikap para juri harus mirip seperti American Idol. Misalnya, harus ada juri yang sinis dan menjatuhkan mental seperti Simon.

Penyiar radio yang siaran setiap hari, seolah-olah sudah melupakan bahwa setiap kali ia melakukan siaran/membawakan sebuah acara, sesungguhnya ia sedang menyajikankan sebuah show. Agar sebuah show bisa menawan, ia harus mampu menata dan menyajikan elemen-elemen siaran agar setiap kali dimunculkan mampu berkomunikasi secara pas pada pendengarnya. Ingat, berkomunikasi bukanlah menyangkut kata-kata saja. Bahkan tanpa berkata-katapun (hanya lagu saja) sebuah siaran radio sebagai sebuah show bisa saja disebut sebagai show yang menawan karena kemampuan show tersebut berkomunikasi secara pas. Penyiar radio tak perlu mengatakan misalnya, “demikianlah tadi Lionell Richie dengan lagu Hello, yang mungkin berhasil membawa kenangan manis anda kembali di suasana awal tahun awal 80-an”.

Sebab tanpa disebut begitu pun, pendengar radio yang berusia dewasa sudah pasti akan terbawa ingatannya ke masa lalu ketika lagu tersebut udarakan. Tanpa perlu berkata-kata lagu itu telah berkomunikasi secara pas dengan pendengarnya. Barangkali ketika penyiar menambahkan ucapan seperti, ” ..yang mungkin berhasil membawa kenangan manis anda kembali di suasana awal tahun 80an”, justru menciptakan komunikasi yang berlebihan. Bahasa ngepopnya... Garing! (arm)

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Kisah saya menonton JavaJazz kemarin justru berbanding terbalik. Grup Inggris SoS yang tampil sebagai grup pamungkas di festival jazz paling bergengsi di tanah air ini justru dianggap kurang menarik oleh teman saya ketika sang vokalis tidak banyak bicara kecuali mengatakan: selamat malam, are you happy, anda senang, dan terima kasih yang diulang beberapa kali sehingga mengundang senyum dan tawa penonton. “’Kan, asik tuh kalo dia kasih introduction (menceritakan kisah di balik lagu) di setiap lagu seperti yang dilakukan oleh vokalis RK bigband. Show-nya kurang komunikatif”, demikian teman saya mengomentari pertunjukan tersebut.

Jadi kurang lengkapnya informasi pada sebuah pesan mengakibatkan komunikasi tidak berlangsung dengan baik (gagal). Namun pada keadaan tertentu suatu makna dapat ditemukan pada sebuah simbol sederhana yang disampaikan dalam durasi yang sangat pendek. Seperti yang dilakukan oleh iklan televisi KB di awal tahun 90-an, yang menceritakan bagaimana seorang suami mengajak istrinya tidur hanya dengan menggunakan suatu bentuk isyarat nonverbal atau kinesik.

Saya sangat senang dan puas dengan pertunjukan SoS malam itu meski mereka bermain dalam format akustik. Tanpa koreografi yang rumit namun gemulai sang vokalis dalam balutan kostum semi teatrikal berhasil menyelaraskan setiap gerakan tubuhnya di atas aransemen musik yang sangat manis dan rapih. Vokalnya yang sangat khas dan kemampuan bernyanyinya pun masih tetap prima seperti ketika saya menikmatinya di pita kaset atau di radio puluhan tahun yang lalu.

Agak aneh memang ketika kami tahu bahwa persepsi kami berdua berbeda terhadap SoS padahal kami sama-sama penggemar berat SoS. Apakah dalam hal ini saya termasuk dalam khalayaknya SoS? Siapakah khalayak SoS saya pun tak tahu. Yang saya tahu pertunjukan SoS begitu menawan hati dan pikiran saya untuk tidak ber-facebook ria seperti yang dilakukan oleh beberapa penonton di sekitar saya saat itu. Namun satu hal yang pasti saya adalah khalayak yang dituju oleh pihak penyelenggara festival.

Sebagai bentuk komunikasi publik, JavaJazz Festival tidak mengharapkan suatu umpan balik kecuali respon khalayak dalam bentuk partisipasi di acara yaitu membeli tiket. Tidak ada penampil terburuk karena semua peserta diatur menurut klasifikasi, kelas dan genre-nya. Kesuksesan komunikasi di sini diukur dengan “membludaknya” penonton, tidak perduli apakah mereka mengerti atau menikmati setiap pertunjukan disana karena tidak semua datang dengan tujuan ingin menikmati musik jazz dari artis seluruh dunia. Ada yang sekedar ingin menjamu klien, menikmati fasilitas (undangan), ingin disebut “gaul”, atau sekedar menemani keluarga atau kerabat.

Berbeda halnya dengan program radio dan televisi yang merupakan bentuk komunikasi massa. Kesuksesan program diuukur melalui rating meski belakangan rating bukanlah indikator utama untuk menentukan baik tidaknya suatu program. Sedangkan baik tidaknya suatu program hingga kini belum jelas apa yang melatarinya. Tidak heran kalau Garin Nugroho suatu hari pernah terbeban untuk membentuk komite rating kualitas sebagai penyeimbang rating kuantitas yang selama ini diakukan oleh Nielsen. Tujuannnya adalah untuk meningkatkan kualitas program dengan cara menciptakan dan mengawasi setiap program sesuai kultur dan budaya setempat.

Indonesian Idol merupakan suatu produk adaptasi dari negara berhaluan kapitalis otomatis akan sulit diterapkan di sini karena latar budaya yang sangat berbeda ditambah dengan infrastrukutr yang jauh ketinggalan untuk menyelengarakan program televisi sejenis atau sama persis. Teralu panjang untuk dijabarkan satu persatu kenapa program Indonesian Idol tidak bisa sebaik acara aslinya. Tetapi kenapa saya selalu merindukan American Idol setiap tahunnya, itu karena sumber daya (talent) mereka terlalu banyak untuk ditampilkan, sangat bagus dan begitu bervariasi, terlepas dari gaya khas bicara para juri yang blak-blakan membuat program ini begitu menarik untuk ditonton. Kalau dibilang,”ah...kamu sok kebarat-baratan!”. Mungkin itu benar karena program barat itulah yang membuat saya tidak bergeser dari depan televisi. Terakhir, mereka tahu bagaimana meramu bisnis dan entertainmen secara elegan.