oleh Andy Rustam
Ketika anak saya masih duduk di bangku SMP, saya bertanya, “Nak, mau jadi apa nanti kalau sudah dewasa?” Ia menjawab, “Mau seperti Papa”. Saya kaget, “Hah?” Ketika itu saya masih sedang menjabat sebagai pimpinan pengelola sebuah stasiun televisi nasional dan beberapa stasiun radio. Tentu saja tugas saya yang paling utama adalah membuat perusahaan TV dan radio tersebut selalu meraih untung (laba), sehingga investasi pemilik modal bisa segera kembali disertai meningkatnya nilai perusahaan. Itu semua harus dicapai dalam koridor undang-undang/peraturan, etika, dan nilai kebajikan yang ada. Begitu tekad saya.
Ketika itu, terpicu oleh kata-kata anak saya, lalu saya berpikir, “Untuk meniti karir menjadi seperti saya begini sebenarnya harus sekolah apa, ya?” Dalam dunia broadcasting, saya mengawali karir sebagai salesman radio tahun 1977, lalu penyiar radio dan top position saya adalah ketika memegang jabatan puncak di bidang broadcasting sebagaimana tersebut diatas mulai tahun 1990 - 2002.
Kembali ke jawaban anak saya, saya jadi bingung sendiri, karena memang tidak pernah mengalami pendidikan formal terkait dengan bidang pekerjaan saya di radio dan televisi.
Macam-macam Kisah Label Broadcasting
Terdorong oleh kesan glamour media TV, sekarang ini banyak sekali anak-anak muda yang ingin bekerja di stasiun TV. Ada juga yang ingin bekerja jadi penyiar radio untuk menjadi batu loncatan bekerja di sebuah stasiun TV nantinya. Anak-anak muda membayangkan dirinya akan segera menjadi celeb. Keinginan anak-anak muda ini dilihat sebagai peluang pasar oleh beberapa orang. Kemudian mereka ramai-ramai, misal: penyiar senior, presenter, mc terkenal, pemilik stasiun radio dan beberapa kampus, membuka institusi pendidikan broadcasting. Padahal kalau mau dilihat lebih dalam, kebanyakan mereka-mereka yang menjadi pengajar juga belum pernah ada yang lulusan pendidikan broadcasting beneran. Mereka menjadi penyiar, MC, pembawa acara, presenter, newscaster dan jadi seleb-pun, dulunya barangkali juga tidak pakai melalui sekolah. Learning by doing, trial and error, dan repeatual behaviour. Tidak ada dasar patokan apakah itu benar atau salah. Yang ada hanya, “biasanya emang begitu”.
Tulisan saya di blog ini pada tanggal 6 Juli 2008 berjudul “Broadcasting Apa?”, yang menyinggung masalah pendidikan broadcasting, sebenarnya terdorong oleh rasa keprihatinan. Karena saya melihat gejala kecenderungan masyarakat yang mempersempit istilah pendidikan broadcasting menjadi pendidikan penyiar TV/MC/presenter. Mungkin hal ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat sendiri ditambah gembar-gembor promosi yang dilakukan oleh sekolah-sekolah/kursus/institusi yang menamakan diri sendiri sebagai pendidikan broadcasting, untuk menjaring anak-anak muda yang sama sekali buta akan dunia ini. Ada lagi kursus komputer, khususnya animasi, yang juga menempelkan label broadcasting pada brosur promosinya. Kurikulumnya juga tidak standar. Misalnya, ada yang mengajarkan kalau mau jadi penyiar harus sering teriak, sedangkan yang lain mengatakan harus menyikat lidahnya setiap pagi, dsb.
Hati saya sendu melihat anak-anak muda itu, karena dia sudah bayar mahal-mahal, tetapi ketika sudah selesai, ternyata tidak ada stasiun yang mau menerimanya bekerja. Cita-cita mereka tidaklah salah, tetapi sekolah yang berlabel broadcasting secara sembarangan itulah yang telah memanfaatkan mereka.
Kisah lucu lagi yang pernah saya alami pada jaman baheula itu, bahwa wartawan radio dan televisi tidak bisa menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Karena yang boleh masuk jadi anggota hanya wartawan media cetak. Ini contoh berbeda, dimana institusi penyiaran/broadcasting dianggap seolah-olah bukan media massa. Walau mungkin sekali nuansanya karena policy jaman orde baru.
Jadi, bisa disimpulkan betapa amburadulnya pemahaman masyarakat tentang broadcasting. Disatu sisi istilah broadcasting dicomot dan dipakai di semua oleh semua pihak karena begitu besar "daya tarik"-nya, di lain sisi istilah broadcasting tidak mendapat pengakuan, sebagai suatu profesi resmi, oleh pihak organisasi profesi pula.
Nah, kalau dalam kasus yang ini, rasa sendu saya jatuh kepada para broadcaster-nya, yang sudah begitu bersungguh-sungguh menekuni bidang ini sebagai suatu karir dan profesi tapi tak mendapat pengakuan.
Pemikiran Sederhana dari Sisi Kebutuhan
Di Indonesia ada sekolah pelayaran, dimana lulusannya, secara umum di atas kertas, dianggap sudah bisa menjalankan/mengemudikan kapal. Tentu saja ketika baru lulus, ia harus meniti karir dulu dari bawah sebagai anak buah kapal. Di Indonesia ada sekolah perhotelan, dimana lulusannya, secara umum di atas kertas, dianggap sudah bisa mengelola/menjalankan sebuah hotel, walau tentu saja, fresh-graduate-nya harus memulai dari bawah. Misalnya, sebagai karyawan bagian house-keeping dulu.
Pertanyaan saya sekarang, apakah di Indonesia ada sekolah broadcasting, dimana fresh-graduate-nya secara umum di atas kertas sudah dianggap bisa menjalankan/mengelola sebuah stasiun radio atau sebuah stasiun TV? (Walaupun lulusannya nanti pada tahap awal misalnya harus bekerja menjadi penyiar dulu). Jawab: Tidak ada!!! Padahal sekarang ini saja ada lebih dari 1200 stasiun radio dan sekitar 56 stasiun TV (nasional dan lokal).
Nah, sebenarnya sekolah broadcasting yang benar, seharusnya mempunyai konsep pendidikan yang mengarah ke situ. Lembaga pendidikan broadcasting seperti inilah yang sangat-sangat dibutuhkan. Terserah mau tingkatan dan namanya kursus, akademi, college, universitas, institut dlsb., yang penting kurikulumnya harus dengan tujuan ke sana. Bahwasanya di dalam kurikulumnya ada praktikum; penyiar, presenter, reporter, produksi, video shooting/editing, transmitter dsb., itu semua tentu saja diperlukan. Karena ketrampilan seperti itulah, dengan standar tertentu, yang diperlukan oleh fresh-graduate pada awal karirnya nanti di bidang broadcasting.
Ibaratnya, kalau mau jadi Pimpinan/General Manager sebuah Hotel, tentulah ia harus mampu juga meramu minuman, menyusun tata meja makan, membersihkan kamar, mampu membuat pembukuan keuangan, dan juga memiliki kemampuan menjual Hotel tersebut dsb. Bukankah ketrampilan yang seolah-olah “mudah” (misalnya: house-keeper) itu sudah ada standarnya juga? si hotel-fresh-graduate dengan standar seperti itu tentunya bisa terpakai bekerja di hotel di manapun.
Yang terjadi di dunia broadcasting kita, justru sebaliknya. Sudah memiliki ijazah dari sekolah berlabel broadcasting (milik orang terkenal pula), malah ketika ada lowongan pada sebuah stasiun penyiaran, justru yang diterima bekerja adalah orang yang belum pernah sekolah broadcasting. Tragis!
Oleh karena itu, kalau saat ini ada yang bertanya kepada saya, fakultas/jurusan apa yang harus diambil supaya anaknya bisa berkarir di broadcasting? Jawab saya, “Silahkan berangkat dari jurusan apa saja. Di broadcasting, semua bidang diperlukan”. Jadi, broadcasting tidak bisa diartikan sempit seperti selama ini, yang pengertiannya cuma: penyiar, presenter/mc, reporter, jurnalis, kamerawan, video editor dsb. Namanya aja juga “Broadcasting“ ...harus broad/luas, dong! (arm)
Ketika anak saya masih duduk di bangku SMP, saya bertanya, “Nak, mau jadi apa nanti kalau sudah dewasa?” Ia menjawab, “Mau seperti Papa”. Saya kaget, “Hah?” Ketika itu saya masih sedang menjabat sebagai pimpinan pengelola sebuah stasiun televisi nasional dan beberapa stasiun radio. Tentu saja tugas saya yang paling utama adalah membuat perusahaan TV dan radio tersebut selalu meraih untung (laba), sehingga investasi pemilik modal bisa segera kembali disertai meningkatnya nilai perusahaan. Itu semua harus dicapai dalam koridor undang-undang/peraturan, etika, dan nilai kebajikan yang ada. Begitu tekad saya.
Ketika itu, terpicu oleh kata-kata anak saya, lalu saya berpikir, “Untuk meniti karir menjadi seperti saya begini sebenarnya harus sekolah apa, ya?” Dalam dunia broadcasting, saya mengawali karir sebagai salesman radio tahun 1977, lalu penyiar radio dan top position saya adalah ketika memegang jabatan puncak di bidang broadcasting sebagaimana tersebut diatas mulai tahun 1990 - 2002.
Kembali ke jawaban anak saya, saya jadi bingung sendiri, karena memang tidak pernah mengalami pendidikan formal terkait dengan bidang pekerjaan saya di radio dan televisi.
Macam-macam Kisah Label Broadcasting
Terdorong oleh kesan glamour media TV, sekarang ini banyak sekali anak-anak muda yang ingin bekerja di stasiun TV. Ada juga yang ingin bekerja jadi penyiar radio untuk menjadi batu loncatan bekerja di sebuah stasiun TV nantinya. Anak-anak muda membayangkan dirinya akan segera menjadi celeb. Keinginan anak-anak muda ini dilihat sebagai peluang pasar oleh beberapa orang. Kemudian mereka ramai-ramai, misal: penyiar senior, presenter, mc terkenal, pemilik stasiun radio dan beberapa kampus, membuka institusi pendidikan broadcasting. Padahal kalau mau dilihat lebih dalam, kebanyakan mereka-mereka yang menjadi pengajar juga belum pernah ada yang lulusan pendidikan broadcasting beneran. Mereka menjadi penyiar, MC, pembawa acara, presenter, newscaster dan jadi seleb-pun, dulunya barangkali juga tidak pakai melalui sekolah. Learning by doing, trial and error, dan repeatual behaviour. Tidak ada dasar patokan apakah itu benar atau salah. Yang ada hanya, “biasanya emang begitu”.
Tulisan saya di blog ini pada tanggal 6 Juli 2008 berjudul “Broadcasting Apa?”, yang menyinggung masalah pendidikan broadcasting, sebenarnya terdorong oleh rasa keprihatinan. Karena saya melihat gejala kecenderungan masyarakat yang mempersempit istilah pendidikan broadcasting menjadi pendidikan penyiar TV/MC/presenter. Mungkin hal ini terjadi karena ketidaktahuan masyarakat sendiri ditambah gembar-gembor promosi yang dilakukan oleh sekolah-sekolah/kursus/institusi yang menamakan diri sendiri sebagai pendidikan broadcasting, untuk menjaring anak-anak muda yang sama sekali buta akan dunia ini. Ada lagi kursus komputer, khususnya animasi, yang juga menempelkan label broadcasting pada brosur promosinya. Kurikulumnya juga tidak standar. Misalnya, ada yang mengajarkan kalau mau jadi penyiar harus sering teriak, sedangkan yang lain mengatakan harus menyikat lidahnya setiap pagi, dsb.
Hati saya sendu melihat anak-anak muda itu, karena dia sudah bayar mahal-mahal, tetapi ketika sudah selesai, ternyata tidak ada stasiun yang mau menerimanya bekerja. Cita-cita mereka tidaklah salah, tetapi sekolah yang berlabel broadcasting secara sembarangan itulah yang telah memanfaatkan mereka.
Kisah lucu lagi yang pernah saya alami pada jaman baheula itu, bahwa wartawan radio dan televisi tidak bisa menjadi anggota PWI (Persatuan Wartawan Indonesia). Karena yang boleh masuk jadi anggota hanya wartawan media cetak. Ini contoh berbeda, dimana institusi penyiaran/broadcasting dianggap seolah-olah bukan media massa. Walau mungkin sekali nuansanya karena policy jaman orde baru.
Jadi, bisa disimpulkan betapa amburadulnya pemahaman masyarakat tentang broadcasting. Disatu sisi istilah broadcasting dicomot dan dipakai di semua oleh semua pihak karena begitu besar "daya tarik"-nya, di lain sisi istilah broadcasting tidak mendapat pengakuan, sebagai suatu profesi resmi, oleh pihak organisasi profesi pula.
Nah, kalau dalam kasus yang ini, rasa sendu saya jatuh kepada para broadcaster-nya, yang sudah begitu bersungguh-sungguh menekuni bidang ini sebagai suatu karir dan profesi tapi tak mendapat pengakuan.
Pemikiran Sederhana dari Sisi Kebutuhan
Di Indonesia ada sekolah pelayaran, dimana lulusannya, secara umum di atas kertas, dianggap sudah bisa menjalankan/mengemudikan kapal. Tentu saja ketika baru lulus, ia harus meniti karir dulu dari bawah sebagai anak buah kapal. Di Indonesia ada sekolah perhotelan, dimana lulusannya, secara umum di atas kertas, dianggap sudah bisa mengelola/menjalankan sebuah hotel, walau tentu saja, fresh-graduate-nya harus memulai dari bawah. Misalnya, sebagai karyawan bagian house-keeping dulu.
Pertanyaan saya sekarang, apakah di Indonesia ada sekolah broadcasting, dimana fresh-graduate-nya secara umum di atas kertas sudah dianggap bisa menjalankan/mengelola sebuah stasiun radio atau sebuah stasiun TV? (Walaupun lulusannya nanti pada tahap awal misalnya harus bekerja menjadi penyiar dulu). Jawab: Tidak ada!!! Padahal sekarang ini saja ada lebih dari 1200 stasiun radio dan sekitar 56 stasiun TV (nasional dan lokal).
Nah, sebenarnya sekolah broadcasting yang benar, seharusnya mempunyai konsep pendidikan yang mengarah ke situ. Lembaga pendidikan broadcasting seperti inilah yang sangat-sangat dibutuhkan. Terserah mau tingkatan dan namanya kursus, akademi, college, universitas, institut dlsb., yang penting kurikulumnya harus dengan tujuan ke sana. Bahwasanya di dalam kurikulumnya ada praktikum; penyiar, presenter, reporter, produksi, video shooting/editing, transmitter dsb., itu semua tentu saja diperlukan. Karena ketrampilan seperti itulah, dengan standar tertentu, yang diperlukan oleh fresh-graduate pada awal karirnya nanti di bidang broadcasting.
Ibaratnya, kalau mau jadi Pimpinan/General Manager sebuah Hotel, tentulah ia harus mampu juga meramu minuman, menyusun tata meja makan, membersihkan kamar, mampu membuat pembukuan keuangan, dan juga memiliki kemampuan menjual Hotel tersebut dsb. Bukankah ketrampilan yang seolah-olah “mudah” (misalnya: house-keeper) itu sudah ada standarnya juga? si hotel-fresh-graduate dengan standar seperti itu tentunya bisa terpakai bekerja di hotel di manapun.
Yang terjadi di dunia broadcasting kita, justru sebaliknya. Sudah memiliki ijazah dari sekolah berlabel broadcasting (milik orang terkenal pula), malah ketika ada lowongan pada sebuah stasiun penyiaran, justru yang diterima bekerja adalah orang yang belum pernah sekolah broadcasting. Tragis!
Oleh karena itu, kalau saat ini ada yang bertanya kepada saya, fakultas/jurusan apa yang harus diambil supaya anaknya bisa berkarir di broadcasting? Jawab saya, “Silahkan berangkat dari jurusan apa saja. Di broadcasting, semua bidang diperlukan”. Jadi, broadcasting tidak bisa diartikan sempit seperti selama ini, yang pengertiannya cuma: penyiar, presenter/mc, reporter, jurnalis, kamerawan, video editor dsb. Namanya aja juga “Broadcasting“ ...harus broad/luas, dong! (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar