oleh Andy Rustam
Dalam masa kampanye pemilu Ca (& cawa)-Pres (selanjutnya dibaca: Capres saja), beberapa stasiun TV secara bergiliran marak menyiarkan acara Debat Capres. Peserta debat pun tampil dengan gaya karakternya masing-masing. Penonton pun diharapkan dapat menilai mereka dari layar kaca, dari cara menjawab dan juga dari wajah mereka yang semakin jelas ketika kamera melakukan close-up. Terlihat dari penampilan peserta, ada yang wajahnya senyum tapi menahan emosi, ada pula yang kelihatan tegang, tapi ada pula yang seolah-olah enteng aja. Acara ini pakai ada break untuk siaran iklan. Kalau mau dihitung, feeling saya, jumlah iklan yang ditayangkan lebih banyak dari biasanya. Pasti para AE (account executive/salesperson) cukup mudah menjual acara Pemilu-tainment ini. Sayang saya tidak punya datanya apakah acara ini dari sisi rating (indikator jumlah pemirsa) memang bisa lebih tinggi daripada tayangan sinetron. Soalnya kalau melihat jalannya acara, kok rasanya datar-datar aja??
Lain di Amerika, Lain di Indonesia
Kita pada bulan September 2008 yang lalu sempat pula menyaksikan acara debat capres Amerika “Obama vs McCain” melalui CNN. Untuk diketahui, kalau di Amerika, acara debat Capres tidak disalurkan oleh salah satu network, melainkan siaran langsung (live) oleh beberapa jaringan sekaligus: ABC, CBS, FOX, CNN, CNBC, BBC-America dlsb. Para boss jaringan televisi ini sadar bahwa acara ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara, sehingga mereka mengutamakan kerja-sama daripada bersaing. Lalu kalau Anda kebetulan menyaksikan, bisa Anda saksikan sendiri, acara tersebut bebas dari iklan/sponsor. Kalaupun ada iklan, hanya ada dua pesan sponsor yang sifatnya “corporate image” dari sebuah perusahaan berkelas (dan bukan spot iklan sebuah produk). Peletakkannya pun hanya sekali di awal jauh sebelum acara debat berlangsung dan sekali di akhir, setelah keseluruhan acara debat capres selesai. Saya yakin, mereka tidak pernah berpikir atau menganggap bahwa acara Debat Capres adalah sebuah acara hiburan (entertainment) sehingga musti bisa di-”duit”-in (komersiel).
Saya yakin, kalau saja para boss jaringan TV besar di Amerika itu mau, sudah pastilah banyak pengiklan yang mau pasang iklan selama acara berlangsung. Pertanyaan saya, apa kira-kira yang menyebabkan mereka tak mau melakukan itu? Apakah mereka sudah nggak haus duit, seperti kebanyakan tv kita disini? Atau apakah mereka memiliki Undang-Undang yang mereka patuhi?
Ternyata, menurut kenalan saya yang menjadi General Manager pada salah satu stasiun yang tergabung dalam jaringan TV di Amerika, yang membatasi mereka itu hanyalah soal “etika”, soal “rasa”.
Berbeda dengan para boss televisi kita yang cuma berpikir dan berusaha, bagaimana caranya supaya TV saya menjadi satu-satunya TV yang menyiarkan acara Debat Capres (walaupun jumlah stasiun relay jaringannya tidak merata kepada seluruh rakyat seperti jaringan TVRI, misalnya). Maksudnya tentu supaya TV-nya ini tidak punya saingan sehingga ia bisa menggaet pemasang iklan sebanyak-banyaknya untuk disiarkan pada acara Debat Capres. Lagi-lagi di otak mereka, duit dan duit.
Terus terang sebagai warga bangsa, saya merasa miris melihat bagaimana para Capres kita seolah-olah tak dihormati alias dihargai murah oleh para boss stasiun tersebut. Para Capres adalah calon pemimpin bangsa dan negara kita, mereka berbicara tentang visi-nya untuk membawa masa depan bangsa, negara, dan rakyat, tapi pesan-pesan mereka harus diselingi oleh iklan yang terkadang begitu “hardsell-nya” (seperti iklan kacang goreng)... saya malu.
Maklum begitulah mental pengusaha kita... tak pernah berpikir tentang hal-hal yang menyangkut rasa, etika, apalagi menyangkut rakyat jelata. Buat mereka yang penting... duit! Itu sebabnya saya namakan acara Debat Capres di Indonesia sebagai kelompok acara Pemilu-tainment. Tidak ada bedanya dengan acara infotainment (gossip show) yang kemasannya informasi tetapi tujuannya nyari duit.
Jumlah Pemirsa TV Acara Debat Capres di Amerika
Acara Oprah Winfrey Show yang normalnya disiarkan oleh satu jaringan ABC di Amerika Serikat, pada setiap kali tayang berhasil menggaet 8,6 juta orang pemirsa. Acara seri seperti CSI-Miami menarik sekitar 5,9 juta orang. Acara Debat Capres AS Obama vs. McCain disiarkan melalui 11 jaringan pada tanggal 26 September 2008 berhasil meraih 52,4 juta orang pemirsa. Ini pun masih belum mengalahkan acara debat Capres AS antara Bush Sr. – Clinton – Perot pada tanggal 15 Oktober 1992 yang disaksikan oleh 69,9 juta orang. Tetapi rekor yang belum terpecahkan adalah Debat Capres AS antara Jimmy Carter vs. Ronald Reagan tanggal 28 Oktober 1980 yang berhasil mencapai 80,6 juta pemirsa diseluruh Amerika.
Ini bukti nyata, bahwa kerjasama berbagai jaringan televisi di sana sama-sama menyiarkan satu program yang amat penting bagi seluruh rakyat, berhasil menyita perhatian yang meluas dari rakyat Amerika sampai di pelosok. Mereka tentu sadar, bahwa kalau hanya satu jaringan saja yang “memonopoli” siaran pada setiap kali acara debat Capres, pastilah tak bakalan berhasil menjaring pemirsa seluas itu. Sebagai gambaran, ketika acara Wheel of Fortune yang hanya disiarkan oleh satu network, sedang top-top-nya (tahun 2007), pemirsa yang berhasil diraih maksimal hanya 13 juta orang.
Bagaimana Bakalannya Rating Pemilu-tainment?
Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak atau belum mempunyai data rating acara Debat Capres kita. Rata-rata stasiun TV yang akan menyiarkan acara itu, pasti memasang iklan di surat kabar, selain promo di siaran TV-nya sendiri. Artinya, mereka sendiri ingin acara Debat Capres di TV-nya ditonton oleh lebih banyak pemirsa, sehingga dirasakan belum cukup awareness dari promosinya kalau hanya melalui spot promo dalam siaran TV-nya sendiri.
Saya sendiri cukup yakin bahwa kalaupun rating acara Debat Capres ini akan lebih tinggi daripada acara biasa (seperti sinetron), tetapi tentu tidak akan cukup spektakuler (lihat diatas: perbandingan jumlah pemirsa antara acara biasa dengan acara debat Capres di Amerika).
Mengapa saya begitu pesimis? Jawabannya, ya mungkin karena stasiun televisi sendiri tidak memperlakukan acara Debat Capres dengan full respect (kurang menghormati). Perlakuan stasiun televisi terhadap acara ini, tidak membuat kita sebagai warga bangsa merasa bangga. Mereka men-treat acara debat para calon pemimpin bangsa itu seperti meng-handle infotainment. Selain itu, nafsu “duit” yang besar sehingga tak mau berbagi atau bekerjasama antara jaringan stasiun televisi di Indonesia menyebabkan hanya sebahagian masyarakat saja yang bisa menonton. Karena kebanyakan stasiun TV swasta hanya membangun stasiun relay pada daerah-daerah perkotaan yang mempunyai manfaat bagi Advertisers (Pengiklan) dan bukan di daerah-daerah pelosok dimana masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki hak pilih tinggal.
Jadi menurut perkiraan saya, tak akan jauh berbeda laaah.. Sinetron di TV kita menurut hitungannya lembaga survey Nielsen rata-rata maksimum di tonton oleh 3-4 juta orang. Kalau acara infotainment, jauh dibawah itu. Maka Pemilu-tainment paling-paling ditonton oleh cuma maksimal sekitar 5 juta orang. Padahal jumlah penduduk Indonesia yang memiliki hak pilih jumlahnya lebih dari 150 juta. Jauuuh... (arm)
Dalam masa kampanye pemilu Ca (& cawa)-Pres (selanjutnya dibaca: Capres saja), beberapa stasiun TV secara bergiliran marak menyiarkan acara Debat Capres. Peserta debat pun tampil dengan gaya karakternya masing-masing. Penonton pun diharapkan dapat menilai mereka dari layar kaca, dari cara menjawab dan juga dari wajah mereka yang semakin jelas ketika kamera melakukan close-up. Terlihat dari penampilan peserta, ada yang wajahnya senyum tapi menahan emosi, ada pula yang kelihatan tegang, tapi ada pula yang seolah-olah enteng aja. Acara ini pakai ada break untuk siaran iklan. Kalau mau dihitung, feeling saya, jumlah iklan yang ditayangkan lebih banyak dari biasanya. Pasti para AE (account executive/salesperson) cukup mudah menjual acara Pemilu-tainment ini. Sayang saya tidak punya datanya apakah acara ini dari sisi rating (indikator jumlah pemirsa) memang bisa lebih tinggi daripada tayangan sinetron. Soalnya kalau melihat jalannya acara, kok rasanya datar-datar aja??
Lain di Amerika, Lain di Indonesia
Kita pada bulan September 2008 yang lalu sempat pula menyaksikan acara debat capres Amerika “Obama vs McCain” melalui CNN. Untuk diketahui, kalau di Amerika, acara debat Capres tidak disalurkan oleh salah satu network, melainkan siaran langsung (live) oleh beberapa jaringan sekaligus: ABC, CBS, FOX, CNN, CNBC, BBC-America dlsb. Para boss jaringan televisi ini sadar bahwa acara ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara, sehingga mereka mengutamakan kerja-sama daripada bersaing. Lalu kalau Anda kebetulan menyaksikan, bisa Anda saksikan sendiri, acara tersebut bebas dari iklan/sponsor. Kalaupun ada iklan, hanya ada dua pesan sponsor yang sifatnya “corporate image” dari sebuah perusahaan berkelas (dan bukan spot iklan sebuah produk). Peletakkannya pun hanya sekali di awal jauh sebelum acara debat berlangsung dan sekali di akhir, setelah keseluruhan acara debat capres selesai. Saya yakin, mereka tidak pernah berpikir atau menganggap bahwa acara Debat Capres adalah sebuah acara hiburan (entertainment) sehingga musti bisa di-”duit”-in (komersiel).
Saya yakin, kalau saja para boss jaringan TV besar di Amerika itu mau, sudah pastilah banyak pengiklan yang mau pasang iklan selama acara berlangsung. Pertanyaan saya, apa kira-kira yang menyebabkan mereka tak mau melakukan itu? Apakah mereka sudah nggak haus duit, seperti kebanyakan tv kita disini? Atau apakah mereka memiliki Undang-Undang yang mereka patuhi?
Ternyata, menurut kenalan saya yang menjadi General Manager pada salah satu stasiun yang tergabung dalam jaringan TV di Amerika, yang membatasi mereka itu hanyalah soal “etika”, soal “rasa”.
Berbeda dengan para boss televisi kita yang cuma berpikir dan berusaha, bagaimana caranya supaya TV saya menjadi satu-satunya TV yang menyiarkan acara Debat Capres (walaupun jumlah stasiun relay jaringannya tidak merata kepada seluruh rakyat seperti jaringan TVRI, misalnya). Maksudnya tentu supaya TV-nya ini tidak punya saingan sehingga ia bisa menggaet pemasang iklan sebanyak-banyaknya untuk disiarkan pada acara Debat Capres. Lagi-lagi di otak mereka, duit dan duit.
Terus terang sebagai warga bangsa, saya merasa miris melihat bagaimana para Capres kita seolah-olah tak dihormati alias dihargai murah oleh para boss stasiun tersebut. Para Capres adalah calon pemimpin bangsa dan negara kita, mereka berbicara tentang visi-nya untuk membawa masa depan bangsa, negara, dan rakyat, tapi pesan-pesan mereka harus diselingi oleh iklan yang terkadang begitu “hardsell-nya” (seperti iklan kacang goreng)... saya malu.
Maklum begitulah mental pengusaha kita... tak pernah berpikir tentang hal-hal yang menyangkut rasa, etika, apalagi menyangkut rakyat jelata. Buat mereka yang penting... duit! Itu sebabnya saya namakan acara Debat Capres di Indonesia sebagai kelompok acara Pemilu-tainment. Tidak ada bedanya dengan acara infotainment (gossip show) yang kemasannya informasi tetapi tujuannya nyari duit.
Jumlah Pemirsa TV Acara Debat Capres di Amerika
Acara Oprah Winfrey Show yang normalnya disiarkan oleh satu jaringan ABC di Amerika Serikat, pada setiap kali tayang berhasil menggaet 8,6 juta orang pemirsa. Acara seri seperti CSI-Miami menarik sekitar 5,9 juta orang. Acara Debat Capres AS Obama vs. McCain disiarkan melalui 11 jaringan pada tanggal 26 September 2008 berhasil meraih 52,4 juta orang pemirsa. Ini pun masih belum mengalahkan acara debat Capres AS antara Bush Sr. – Clinton – Perot pada tanggal 15 Oktober 1992 yang disaksikan oleh 69,9 juta orang. Tetapi rekor yang belum terpecahkan adalah Debat Capres AS antara Jimmy Carter vs. Ronald Reagan tanggal 28 Oktober 1980 yang berhasil mencapai 80,6 juta pemirsa diseluruh Amerika.
Ini bukti nyata, bahwa kerjasama berbagai jaringan televisi di sana sama-sama menyiarkan satu program yang amat penting bagi seluruh rakyat, berhasil menyita perhatian yang meluas dari rakyat Amerika sampai di pelosok. Mereka tentu sadar, bahwa kalau hanya satu jaringan saja yang “memonopoli” siaran pada setiap kali acara debat Capres, pastilah tak bakalan berhasil menjaring pemirsa seluas itu. Sebagai gambaran, ketika acara Wheel of Fortune yang hanya disiarkan oleh satu network, sedang top-top-nya (tahun 2007), pemirsa yang berhasil diraih maksimal hanya 13 juta orang.
Bagaimana Bakalannya Rating Pemilu-tainment?
Seperti yang sudah saya katakan, saya tidak atau belum mempunyai data rating acara Debat Capres kita. Rata-rata stasiun TV yang akan menyiarkan acara itu, pasti memasang iklan di surat kabar, selain promo di siaran TV-nya sendiri. Artinya, mereka sendiri ingin acara Debat Capres di TV-nya ditonton oleh lebih banyak pemirsa, sehingga dirasakan belum cukup awareness dari promosinya kalau hanya melalui spot promo dalam siaran TV-nya sendiri.
Saya sendiri cukup yakin bahwa kalaupun rating acara Debat Capres ini akan lebih tinggi daripada acara biasa (seperti sinetron), tetapi tentu tidak akan cukup spektakuler (lihat diatas: perbandingan jumlah pemirsa antara acara biasa dengan acara debat Capres di Amerika).
Mengapa saya begitu pesimis? Jawabannya, ya mungkin karena stasiun televisi sendiri tidak memperlakukan acara Debat Capres dengan full respect (kurang menghormati). Perlakuan stasiun televisi terhadap acara ini, tidak membuat kita sebagai warga bangsa merasa bangga. Mereka men-treat acara debat para calon pemimpin bangsa itu seperti meng-handle infotainment. Selain itu, nafsu “duit” yang besar sehingga tak mau berbagi atau bekerjasama antara jaringan stasiun televisi di Indonesia menyebabkan hanya sebahagian masyarakat saja yang bisa menonton. Karena kebanyakan stasiun TV swasta hanya membangun stasiun relay pada daerah-daerah perkotaan yang mempunyai manfaat bagi Advertisers (Pengiklan) dan bukan di daerah-daerah pelosok dimana masih banyak saudara-saudara kita yang memiliki hak pilih tinggal.
Jadi menurut perkiraan saya, tak akan jauh berbeda laaah.. Sinetron di TV kita menurut hitungannya lembaga survey Nielsen rata-rata maksimum di tonton oleh 3-4 juta orang. Kalau acara infotainment, jauh dibawah itu. Maka Pemilu-tainment paling-paling ditonton oleh cuma maksimal sekitar 5 juta orang. Padahal jumlah penduduk Indonesia yang memiliki hak pilih jumlahnya lebih dari 150 juta. Jauuuh... (arm)
1 komentar:
memang betul seperti yang Mas Andy bahas, kalau kita melihat dari durasi + volume iklan yang terputar saat Sesi Debat...
tapi disini saya mo coba membongkar pikiran saya, paling tidak kali ini sebuah acara debat capres+cawapres bisa menjadikan salah satu (dari sekian banyak tentunya) point of interest bagi audience untuk sedikit banyak menetapkan pilihan mereka...
berdasarkan BAGAIMANA para calon kita ini berkomunikasi dengan khalayak audience....memang masih terdapat beberapa kekurangan dalam public performance mereka...tapi minimal saya secara pribadi bisa memiliki gambaran bagaimana para calon ini berfikir dan mengkomunikasikan isi kepala mereka kepada publik :)
tentunya masih banyak masyarakat yang hanya memilih sesuatu karena Nama Besar-nya, meski secara performance kurang layak *tanpa bermaksud mendiskreditkan pihak manapun*
masih banyak yang memang harus diperbaiki, tapi kan bagaimanapun juga sebagai sosok yang nanti selama 5 depan kedepan akan mewakili Indonesia di dunia internasional harus dapat menjadi sosok yang mampu berkomunikasi dengan siapapun dimanapun bagaimanapun selama wajar....
Posting Komentar