05 Juni 2009

Penonton TV Menurun, Pendengar Radio Berkurang

oleh Andy Rustam

Blog Indonesia TV Guide menulis bahwa menurut data Nielsen Agustus 2008 terjadi trend penurunan pada jumlah pemirsa stasiun televisi. Ini sudah terjadi dalam lima tahun terakhir. Blog Radio Clinic juga menulis bahwa menurut Nielsen Desember 2008, jumlah pendengar radio juga menurun. Padahal jumlah stasiun televisi dan stasiun radio justru meningkat. Menurut blog tersebut, ketika ditanyakan kepada Sulaiman Sakib (Departemen Current Affair TV One) apakah penyebabnya? Ia memberikan jawaban yang mirip dengan jawaban yang diberikan oleh Errol Jonathans (Radio Suara Surabaya) ketika ia ditanya mengapa jumlah pendengar radio menurun.

Saya pikir hal ini cukup menggelitik, karena artinya, para pekerja broadcasting, baik di radio dan televisi, pasti sedang pusing tujuh keliling. Mereka merasa bahwa mereka sudah melakukan berbagai kreatifitas yang menurut mereka akan dapat meningkatkan jumlah pemirsa TV maupun pendengar Radio, mulai dari game, kuiz, dengan hadiah-hadiah menarik, tapiii..... tetap tak berhasil membendung trend menurunnya pemirsa dan pendengar.

Kenapa Menurun?

Menurut analisa Sulaiman dan Errol sebagaimana tersebut diatas, walau jumlah stasiun meningkat, tetapi acara-acara yang disiarkan cenderung sama sehingga penonton TV dan pendengar Radio merasa jenuh/bosan akibat seragamnya isi siaran. Alasan lain seperti unsur edukasi yang dirasakan kurang pada acara-acara TV juga dikemukakan oleh Sulaiman, dan merebaknya media baru, misalnya internet, seperti dikemukakan oleh Errol.

Tentang jalan keluar untuk mengatasi banyaknya acara yang sama, lagi-lagi jawaban dari Sulaiman (TV One) dan Errol (Radio Suara Surabaya) persis sama, yaitu harus inovatif untuk terus menerus memperbaharui acara. Nah, kalimat ini yang ingin saya garis bawahi. Menurut saya, istilah “memperbaharui acara” ini tidak boleh diartikan sebagai terus menerus membuat acara baru. Cobalah lihat sendiri, rasanya televisi dan radio kita selalu melahirkan acara baru, bahkan hampir setiap bulan pasti ada acara baru. Tetapi justru hasilnya kok malah membuat minat orang untuk menonton acara televisi dan mendengarkan siaran radio semakin menurun?! Acara baru dengan segala kreasinya tak mampu membangkitkan minat audience. Acara impor yang di-localized-pun tak mampu membangkitkan minat untuk menonton.

Yang Terlupakan

Kesalahan yang hampir selalu dilakukan oleh orang yang terjun ke dunia broadcasting tanpa pembekalan yang cukup adalah bahwa untuk meningkatkan audience kita perlu membuat acara baru, dan kalau bisa yang heboh dan sensasional. Itu sebabnya berlomba-lombalah stasiun membanjiri audience dengan acara-acara bombastis, ditambah iming-iming “hadiah”, penyiar yang dipakai pun pasti dengan gaya “heboh”, lalu isi dan tampilan acara selalu mencoba meniru ala luar negeri walau hanya cuma kulit luarnya saja. Mereka kira, kalau sudah seperti begitu (ide yang penting belum pernah ada walau diluar kewajaran, host cewek cantik dan heboh, host cowok konyol agak lenje-lenje, ditambah dengan kuiz berhadiah, atau kalau berwawancara sok bicara politik seolah-olah mau menunjukkan kepandaiannya kepada audience dsb.), maka audience akan menyukai dan mau menonton/mendengar acara itu. Kenyataannya justru inilah yang menyebabkan turunnya minat orang untuk menonton TV dan minat mendengarkan radio. Mereka lupa, bahwa penonton dan pendengar radio yang tune-in di saluran tersebut bukanlah berkeinginan untuk yang begitu-begitu. Audience tune-in di saluran kita sesungguhnya karena dorongan ingin mendapat manfaat pikir dan manfaat rasa. Oleh karena itu, kalau acara/siaran tersebut terkesan “bodoh/konyol”, maka orang akan cenderung untuk meninggalkan saluran tersebut (karena tak ada “manfaat pikir”). Kalau acara/siaran tersebut mempunyai “isi” yang menarik tetapi dibawakan secara “arogan”, maka yang demikian itu juga akan membuat pendengar lari (karena tak ada “manfaat rasa”, bahkan menyinggung perasaan si audience).

Menonton Film di Bioskop

Kalau Anda menonton film di bioskop, misalnya saja film “Angels & Demons” atau “Transformers” dlsb. atau film-film karya Steven Spielberg, cobalah perhatikan bagaimana pikiran dan perasaan Anda terbawa ketika menonton. Sehingga ketika selesai menonton, tercapai kepuasan pikiran dan kepuasan perasaan. Hal ini yang kemudian menyebabkan orang mau menonton lagi kalau ada film Steven Spielberg yang baru, atau film Transformers yang baru nanti.

Begitu pula sebuah siaran di TV atau di Radio, dia hanya akan berhasil membuat audience untuk tetap tune-in atau mau kembali tune-in lagi, apabila audience tahu bahwa ia akan mendapat manfaat-pikir dan manfaat-rasa dari siaran tersebut, apapun juga isi acaranya. Jadi, tidak ada gunanya mengganti-ganti acara, atau membuat acara baru dengan kreasi-kreasi yang macam-macam, kalau jalannya acara yang dihasilkan tidak mampu menghasilkan kepuasan pikiran dan kepuasan perasaan dari pemirsa/pendengar.

Untuk dapat melakukan ini, tentu saja dibutuhkan ilmu dan ketrampilan yang memadai. Sehingga kreatifitas, bukanlah berarti hanya membuat sesuatu yang baru dan unik, melainkan melahirkan sesuatu yang baru dan unik sesuai ilmunya, demi mencapai puncak kepuasan pemirsa/pendengar. Seorang Steven Spielberg-pun tak mungkin menjadi produser dan sutradara termahal di dunia, kalau ia tak memiliki pengetahuan dan ketrampilan khusus. Ingat, pendengar/pemirsa yang tidak puas, sudah pasti tidak akan mau kembali dan manteng di saluran Anda. Menurut saya, inilah yang jadi penyebab menurunnya jumlah penonton TV dan berkurangnya jumlah pendengar radio. (arm)

Tidak ada komentar: