oleh Andy Rustam
Pagi ini setengah tak percaya saya mendengar kabar meninggalnya King of Pop “Michael Jackson”, pada tanggal 25 Juni 2009, di Los Angeles, AS. Berita sedih ini melanda seluruh dunia dan suasana hati saya sepanjang hari jadi tak menentu, persis seperti ketika saya mendengar kabar meninggalnya “John Lennon” pada tanggal 8 Desember 1980. Kedua seniman besar musik ini memang sangat saya kagumi. Prestasi mereka belum tertandingi oleh pemusik-pemusik hebat yang muncul setelahnya. Salah satu rekor yang dipegang oleh Michael Jackson (MJ) adalah jumlah penjualan seluruh albumnya (termasuk the Jackson 5) yang mencapai lebih dari 750 juta copy. Bahkan album “Thriller” terjual 42 juta copy, sebagai album terlaris sepanjang sejarah. Tentu saja saya kagum dengan rekor ini. Tetapi saya tak berhenti hanya sampai kagum saja. Kekaguman ini membuat saya berpikir, “Apa sih yang membuat rekor ini bisa dicapai oleh Michael Jackson, sementara artis-artis yang terkemudian belum mampu menyamainya? Padahal artis-artis jaman sekarang ‘kan hebat-hebat juga.”
Segmen Pasar
Kalau kita perhatikan, ternyata lagu-lagu Michael Jackson itu disukai oleh semua lapisan anak-anak, remaja, orang dewasa dan bahkan sampai orang-orang tua pun menyukainya. Lagu-lagunya bisa menembus jauh melampaui batas-batas ras dan bangsa, miskin ataupun kaya, apapun agamanya. Orang kulit hitam, kulit putih, Asia, Eropa, Afrika, siapa saja, sampai ke negara-negara Eropa Timur, Arab, China, India, Jepang, semuanya menyukai MJ. Hal yang begini belum terbukti bisa dilakukan oleh artis-artis lain.
Kalau jaman sekarang di Indonesia, setiap orang yang mau bikin radio, televisi, atau majalah/koran selalu mengeluarkan kepandaiannya dengan berkata, “Segmen pasar yang mau dituju, yang usia berapa? Kelas ekonomi yang mana?” Kalau begitu, segmen pasar manakah yang yang jadi sasaran Michael Jackson? Apakah para manager-nya tidak paham soal segmen pasar? Kenyataannya justru pasar Michael Jackson ada pada semua lapisan, alias segmentasinya umum dan meluas banget! Jadi sepertinya bukan model begini formula sukses pemasaran MJ.
Dengan Sepenuh Hati
Dalam salah satu wawancara, Michael Jackson ditanya apakah ia menyukai lagu-lagunya? Ia menjawab bahwa ia tidak akan menyanyikannya kalau “hati”-nya tak menyukai. Artinya, ia tidak pernah menyanyi karena alasan “permintaan pasar”, “segmentasi pasar” atau dikarenakan “permintaan produser musik”.
Ia hanya menyanyi sesuai perasaannya. Kalau hatinya merasa enak, atau hatinya senang, kalau hati menyuruhnya maka ia akan melakukannya, membuat musik, menyanyikannya. Hati adalah alasan utama ia membuat musik, membuat album dan menyanyi. Dikarenakan dorongan hatinya, maka apapun yang ia lakukan selalu dilakukannya secara habis-habisan, totalitas. Dalam bekerja ia berprinsip, lebih baik tidak bekerja daripada bekerja tapi asal-asalan.
Imajinasi Tak Terbatas
Michael Jackson merasa tumbuh menjadi dewasa tetapi melalui proses kehilangan masa kanak-kanaknya. Oleh karena itu, personality dirinya selalu merasa bahwa ia bagaikan seorang anak kecil. Sebagaimana layaknya anak kecil yang hidup dalam dunia imajinasi dan dongeng, begitulah MJ. Karya-karyanya hampir keseluruhan merupakan imajinasi dan dongeng, yang coba ia wujudkan dalam bentuk musik, tata-panggung, tarian, lirik lagu, dlsb. Ia memimpikan suatu dunia idealnya sendiri. Lalu mengarahkan dan memaksakan dirinya (tapi dengan senang hati) bekerja keras untuk mewujudkan imajinasi dari dongeng-dongeng negeri impian penuh keajaiban melalui berbagai karya-karyanya. Begitu kuat keinginan yang didorong oleh perasaan dan imajinasinya, ia-pun tak lupa mau berlelah-lelah meningkatkan kemampuan dirinya. Ia selalu ingin belajar dan belajar menuju “kesempurnaan”.
Ia menarik pelajaran dari orang-orang yang memiliki ilmu, orang-orang sukses pendahulunya yang sudah pantas menjadi kakeknya, seperti: alm. Fred Astaire (gerakan tarian); alm. Frank Sinatra (teknik bernyanyi); alm. Sammy Davis Jr. (gerakan kaki) dll.
Formula Sukses MJ untuk Kita
Kalau boleh saya simpulkan, ternyata tiga hal itulah sebenarnya yang menjadi formula sukses MJ. Rumus sukses ini yang tidak ada pada pemusik hebat lainnya. Formula itu adalah:
1. Memiliki suatu “impian”. Yaitu: sesuatu yang diimpikan yang sangat ingin kita wujudkan. Impian ini bukanlah sesuatu yang sifatnya materialistis, melainkan justru lebih cenderung kepada nilai-nilai ideal. Ini bekal kuat sebagai motivasi diri menuju kesempurnaan.
2. Mempunyai niat dan semangat serta bersedia bekerja keras untuk mewujudkan impian itu. Untuk itu ia mau menerima konsekuensi dengan banyak belajar dari orang-orang yang memiliki ilmu, pengalaman dan reputasi. Belajar adalah tahapan awal yang sangat ingin ia lakukan, dan ia melakukannya dengan benar. Ia sadar itu merupakan jalan agar ia dapat melakukan eksekusi yang paling tepat dalam mengejar impiannya.
3. Mengeksekusi apa-apa yang telah direncanakan, berdasarkan “ilmu” yang benar, dengan totalitas penuh, tanpa melupakan bahwa “hati/perasaan” selalu dilibatkan dalam setiap tindakan. Perasaan adalah sebuah bahasa universal yang dipahami oleh semua umur di semua bangsa. Melalui “hati” itulah karya-karyanya dapat diterima oleh segala lapisan.
Rumus ini rasanya cukup relevan kalau kita mau mencoba menerapkan dalam pekerjaan kita sekarang. Misalnya saja, kalau kita seorang penyiar.
Apabila Kita Seorang Penyiar
Mari kita coba terapkan formula sukses Michael Jackson dalam profesi kita masing-masing. Misal, cobalah Anda merenung sekarang: saya seorang penyiar.
(1) Sebagai penyiar adakah idealisme yang Anda miliki, sesuatu yang Anda sangat impikan? Misalnya, Anda bermimpi: “ mmm.. Alangkah enaknya kalau kota saya jadi kota yang bersih, tertib dan aman. Aku bisa hidup dan jalan-jalan kaki bersama keluarga dengan nyaman dan aman di kotaku sendiri. ”
(2) Mimpi ini harus saya wujudkan, dengan melakukan siaran setiap hari, artinya, cara saya siaran harus mampu menarik banyak orang dari segala lapisan supaya pesan “impian” saya bisa sampai. Untuk itu saya mau belajar dari orang yang memiliki ilmunya, orang-orang yang sudah sukses dalam siaran.
(3) Eksekusi ilmu yang benarlah yang akan saya pakai dalam siaran saya. Saya akan melakukan siaran saya dengan totalitas, sepenuh hati. Saya hanya berbicara apabila sesuai dengan kata hati saya. Bahasa hati inilah yang akan membuat pendengar segala lapisan paham. Sehingga pendengar tertarik, yang pada gilirannya akan menggerakkan mereka mewujudkan kota yang bersih, tertib dan aman.
Barangkali dengan meminjam formulanya ini siapa tahu, dalam bidang kita sendiri, masing-masing kita bisa berprestasi seperti Michael Jackson. “Terima kasih dan Selamat Jalan ke tempat yang abadi, Michael!" (arm)
Pagi ini setengah tak percaya saya mendengar kabar meninggalnya King of Pop “Michael Jackson”, pada tanggal 25 Juni 2009, di Los Angeles, AS. Berita sedih ini melanda seluruh dunia dan suasana hati saya sepanjang hari jadi tak menentu, persis seperti ketika saya mendengar kabar meninggalnya “John Lennon” pada tanggal 8 Desember 1980. Kedua seniman besar musik ini memang sangat saya kagumi. Prestasi mereka belum tertandingi oleh pemusik-pemusik hebat yang muncul setelahnya. Salah satu rekor yang dipegang oleh Michael Jackson (MJ) adalah jumlah penjualan seluruh albumnya (termasuk the Jackson 5) yang mencapai lebih dari 750 juta copy. Bahkan album “Thriller” terjual 42 juta copy, sebagai album terlaris sepanjang sejarah. Tentu saja saya kagum dengan rekor ini. Tetapi saya tak berhenti hanya sampai kagum saja. Kekaguman ini membuat saya berpikir, “Apa sih yang membuat rekor ini bisa dicapai oleh Michael Jackson, sementara artis-artis yang terkemudian belum mampu menyamainya? Padahal artis-artis jaman sekarang ‘kan hebat-hebat juga.”
Segmen Pasar
Kalau kita perhatikan, ternyata lagu-lagu Michael Jackson itu disukai oleh semua lapisan anak-anak, remaja, orang dewasa dan bahkan sampai orang-orang tua pun menyukainya. Lagu-lagunya bisa menembus jauh melampaui batas-batas ras dan bangsa, miskin ataupun kaya, apapun agamanya. Orang kulit hitam, kulit putih, Asia, Eropa, Afrika, siapa saja, sampai ke negara-negara Eropa Timur, Arab, China, India, Jepang, semuanya menyukai MJ. Hal yang begini belum terbukti bisa dilakukan oleh artis-artis lain.
Kalau jaman sekarang di Indonesia, setiap orang yang mau bikin radio, televisi, atau majalah/koran selalu mengeluarkan kepandaiannya dengan berkata, “Segmen pasar yang mau dituju, yang usia berapa? Kelas ekonomi yang mana?” Kalau begitu, segmen pasar manakah yang yang jadi sasaran Michael Jackson? Apakah para manager-nya tidak paham soal segmen pasar? Kenyataannya justru pasar Michael Jackson ada pada semua lapisan, alias segmentasinya umum dan meluas banget! Jadi sepertinya bukan model begini formula sukses pemasaran MJ.
Dengan Sepenuh Hati
Dalam salah satu wawancara, Michael Jackson ditanya apakah ia menyukai lagu-lagunya? Ia menjawab bahwa ia tidak akan menyanyikannya kalau “hati”-nya tak menyukai. Artinya, ia tidak pernah menyanyi karena alasan “permintaan pasar”, “segmentasi pasar” atau dikarenakan “permintaan produser musik”.
Ia hanya menyanyi sesuai perasaannya. Kalau hatinya merasa enak, atau hatinya senang, kalau hati menyuruhnya maka ia akan melakukannya, membuat musik, menyanyikannya. Hati adalah alasan utama ia membuat musik, membuat album dan menyanyi. Dikarenakan dorongan hatinya, maka apapun yang ia lakukan selalu dilakukannya secara habis-habisan, totalitas. Dalam bekerja ia berprinsip, lebih baik tidak bekerja daripada bekerja tapi asal-asalan.
Imajinasi Tak Terbatas
Michael Jackson merasa tumbuh menjadi dewasa tetapi melalui proses kehilangan masa kanak-kanaknya. Oleh karena itu, personality dirinya selalu merasa bahwa ia bagaikan seorang anak kecil. Sebagaimana layaknya anak kecil yang hidup dalam dunia imajinasi dan dongeng, begitulah MJ. Karya-karyanya hampir keseluruhan merupakan imajinasi dan dongeng, yang coba ia wujudkan dalam bentuk musik, tata-panggung, tarian, lirik lagu, dlsb. Ia memimpikan suatu dunia idealnya sendiri. Lalu mengarahkan dan memaksakan dirinya (tapi dengan senang hati) bekerja keras untuk mewujudkan imajinasi dari dongeng-dongeng negeri impian penuh keajaiban melalui berbagai karya-karyanya. Begitu kuat keinginan yang didorong oleh perasaan dan imajinasinya, ia-pun tak lupa mau berlelah-lelah meningkatkan kemampuan dirinya. Ia selalu ingin belajar dan belajar menuju “kesempurnaan”.
Ia menarik pelajaran dari orang-orang yang memiliki ilmu, orang-orang sukses pendahulunya yang sudah pantas menjadi kakeknya, seperti: alm. Fred Astaire (gerakan tarian); alm. Frank Sinatra (teknik bernyanyi); alm. Sammy Davis Jr. (gerakan kaki) dll.
Formula Sukses MJ untuk Kita
Kalau boleh saya simpulkan, ternyata tiga hal itulah sebenarnya yang menjadi formula sukses MJ. Rumus sukses ini yang tidak ada pada pemusik hebat lainnya. Formula itu adalah:
1. Memiliki suatu “impian”. Yaitu: sesuatu yang diimpikan yang sangat ingin kita wujudkan. Impian ini bukanlah sesuatu yang sifatnya materialistis, melainkan justru lebih cenderung kepada nilai-nilai ideal. Ini bekal kuat sebagai motivasi diri menuju kesempurnaan.
2. Mempunyai niat dan semangat serta bersedia bekerja keras untuk mewujudkan impian itu. Untuk itu ia mau menerima konsekuensi dengan banyak belajar dari orang-orang yang memiliki ilmu, pengalaman dan reputasi. Belajar adalah tahapan awal yang sangat ingin ia lakukan, dan ia melakukannya dengan benar. Ia sadar itu merupakan jalan agar ia dapat melakukan eksekusi yang paling tepat dalam mengejar impiannya.
3. Mengeksekusi apa-apa yang telah direncanakan, berdasarkan “ilmu” yang benar, dengan totalitas penuh, tanpa melupakan bahwa “hati/perasaan” selalu dilibatkan dalam setiap tindakan. Perasaan adalah sebuah bahasa universal yang dipahami oleh semua umur di semua bangsa. Melalui “hati” itulah karya-karyanya dapat diterima oleh segala lapisan.
Rumus ini rasanya cukup relevan kalau kita mau mencoba menerapkan dalam pekerjaan kita sekarang. Misalnya saja, kalau kita seorang penyiar.
Apabila Kita Seorang Penyiar
Mari kita coba terapkan formula sukses Michael Jackson dalam profesi kita masing-masing. Misal, cobalah Anda merenung sekarang: saya seorang penyiar.
(1) Sebagai penyiar adakah idealisme yang Anda miliki, sesuatu yang Anda sangat impikan? Misalnya, Anda bermimpi: “ mmm.. Alangkah enaknya kalau kota saya jadi kota yang bersih, tertib dan aman. Aku bisa hidup dan jalan-jalan kaki bersama keluarga dengan nyaman dan aman di kotaku sendiri. ”
(2) Mimpi ini harus saya wujudkan, dengan melakukan siaran setiap hari, artinya, cara saya siaran harus mampu menarik banyak orang dari segala lapisan supaya pesan “impian” saya bisa sampai. Untuk itu saya mau belajar dari orang yang memiliki ilmunya, orang-orang yang sudah sukses dalam siaran.
(3) Eksekusi ilmu yang benarlah yang akan saya pakai dalam siaran saya. Saya akan melakukan siaran saya dengan totalitas, sepenuh hati. Saya hanya berbicara apabila sesuai dengan kata hati saya. Bahasa hati inilah yang akan membuat pendengar segala lapisan paham. Sehingga pendengar tertarik, yang pada gilirannya akan menggerakkan mereka mewujudkan kota yang bersih, tertib dan aman.
Barangkali dengan meminjam formulanya ini siapa tahu, dalam bidang kita sendiri, masing-masing kita bisa berprestasi seperti Michael Jackson. “Terima kasih dan Selamat Jalan ke tempat yang abadi, Michael!" (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar