18 Agustus 2009

Ayo Radio! Buatlah Masyarakat Tambah Pintar

oleh Andy Rustam

Belakangan ini televisi swasta semakin sering dikecam. Di postingan Facebook saya, hampir setiap hari ada saja yang komplain. Siaran-siaran hiburannya dianggap hanya siaran-siaran kekonyolan dan kehinaan yang mengekploitasi selera rendah masyarakat, demi meraih rating. Sementara siaran-siaran informasi dan beritanya, lebih mirip koran kuning (koran sensasi) berisi hal-hal yang tidak dapat dipastikan kebenarannya. Kasus yang terbaru adalah kasus Noordin M.Top yang dikatakan terkepung dan terbunuh tapi ternyata bukan. Belum lagi dari sisi latar belakang pengetahuan para penyiar/reporter dan editor-nya, memprihatinkan. Dalam mengulas berita tentang Ahmadinejad pada pilpres Iran yang lalu, si narator tidak tahu bedanya antara pemimpin spiritual dalam revolusi tahun 1979 yang menggulingkan kekuasaan Shah Iran, yaitu Ayatollah Khomeini, dengan pemimpin spiritual Iran yang sekarang, yaitu Ayatollah Ali Khamenei. Ini lagi, baru saja beberapa menit yang lalu, dalam sebuah acara talk show, si pembawa acara terlihat sangat bodoh, karena tidak tahu membedakan antara Psikiater dan Psikolog. Ampuuunn deh!

Masyarakat Gampang Dibodohi

Bahwasanya sebahagian besar masyarakat kita masih belum cukup mengalami pendidikan yang memadai, semua orang juga tahu. Tetapi banyak yang belum menyadari bahwa di kalangan yang sudah mengalami bangku pendidikan pun cara berpikirnya masih belum matang. Sehingga mudah dikelabui oleh orang lain. Silahkan kita buka surat-kabar setiap hari. Pasti akan kita temui berita penipuan. Ada dengan cara melalui sms ke handphone yang menggiring si pemilik handphone ke ATM untuk kemudian dikuras oleh si penipu. Ada yang dengan cara email iklan uang-gampang.com yang mempromosikan seolah-olah dengan tidur-tiduran saja uang mengalir masuk. Ada iklan seminar gratis main saham/valas, yang digambarkan seolah-olah bisa meraih keuntungan beribu-ribu persen, padahal sesungguhnya dia menjual alat. Ada yang dengan cara menawarkan investasi hotel (atau apapun) di luar-negeri, yang katanya bisa dipakai sendiri untuk berlibur di luar negeri, sembari menerima uang sewa bulanan. Ada lagi anak raja Afrika yang dapat warisan berjuta dollar tapi membutuhkan uang Anda untuk mengambil warisan itu. Belum lagi iklan provider handphone yang menjanjikan ngomong gratis berjam-jam setelah sekian menit.

Semuanya itu dipercayai begitu saja oleh masyarakat. Kasihan betul! Bahkan Presiden kita pun mau saja percaya ketika dikatakan ada seorang tukang bengkel yang bisa membuat bahan bakar dari air. Sebuah penemuan yang Einstein saja tak cukup pandai untuk menemukannya. Ampuuun deh!

Orang Sakit Perlu Pertolongan

Sebenarnya, kalau dalam kondisi masyarakat sedang sakit seperti ini, maka peran media sangat dibutuhkan untuk mendidik mereka, memberitahu mereka, dan menstimulasi mereka agar jadi pintar, agar jadi kritis/tanggap/berinisiatif. Masalahnya, media dengan penetrasi terbesar yaitu televisi sendiri juga bodoh dan malah mengikuti selera masyarakatnya yang bodoh itu. Jadi, apakah kita sudah patah arang?

Tidak perlu. Karena sebenarnya masih ada media yang karakteristiknya juga kuat untuk mempengaruhi masyarakat, walau area jangkauannya tak seluas televisi, yaitu: Radio. Kelebihan radio dari televisi adalah soal “rasa dekat” pendengarnya dengan si penyiar. Sehingga penyiar itu menjadi figur yang paling dipercaya oleh si pendengar. Oleh karena itu si penyiar memiliki peluang untuk membuka wawasan si pendengar. Penyiar punya kesempatan untuk “mengajari” si pendengar agar menjadi lebih pintar.

Penyiar bisa mengatakan, “Hai Pendengar, jangan mudah tertipu dengan iklan-iklan. Karena pada prinsipnya tidak ada pedagang yang mau rugi. Jadi kalau dia menawarkan sesuatu gratis, itu berarti ia mengambil keuntungannya dari sisi yang lain.” “Hai pendengar, kalau ada berita atau kabar bahwa Anda mendapat hadiah besar apalagi untuk sesuatu yang tidak memerlukan usaha, maka jangan percaya. Karena prinsipnya tidak ada hadiah besar tanpa kerja-keras. Sudah pasti tawaran-tawaran seperti ini bermaksud ia ingin mengambil sesuatu dari Anda tanpa anda sadari.”

TV yang Arogan dan Radio yang Minder

Orang televisi itu sering dianggap arogan/sombong dan merasa hebat sendiri, merasa seperti selebritis karena televisi adalah media audio-visual. Bekerja di televisi membanggakan. Sebaliknya orang radio sendiri sering merasa rendah diri. Perasaannya bekerja di radio itu seperti bukan kerja, melainkan seperti main-main saja. Lihat saja, penyiar radio kalau sedang siaran, bisa saja cuma pakai kaus oblong dan sandal jepit. Bandingkan dengan penyiar televisi yang harus memakai pakaian mahal, asesoris, dan jas.

Sebenarnya apakah orang televisi sombong atau orang radio minder itu bukanlah persoalannya. Yang penting masing-masing orang yang bekerja di medianya masing-masing haruslah memliki tanggung-jawab kepada masyarakat. Bukankah udara yang dilalui frekuensi itu miliknya rakyat? Untuk bisa menjalankan itu dengan sebaik-baiknya, maka masing-masing harus memiliki visi idealisme dan ilmu yang cukup untuk melaksanakan misinya, sehingga visi tercapai, misi berjalan dan keuntungan bisnis tetap tercapai. Tanpa ini, tak perlu bangga.

Radio di Era Digital

Salah satu maksud dari digitalisasi siaran TV dan Radio adalah konvergensi. Artinya di masa depan, baik TV, Radio, Telephone, Computer, Internet akan menjadi satu akses saja. Jaman sekarang kita di Indonesia masih belum memiliki infrastruktur internet yang memadai, sehingga streaming audio apalagi video sering diterima dengan terputus-putus. Tetapi di masa depan nanti, ketika gambar dan audio sudah lancar disalurkan melalui internet, maka radio pun akan memiliki gambar. Pendengar radio bisa mendengarkan siaran radio di internet sambil meng-”klik” website radio dimana webcam-nya terpasang ke studio. Pendengar pun akan dapat melihat sosok sang penyiar pujaannya “live” sedang bercuap-cuap. Radio bisa diakses dengan gambarnya di seluruh dunia!

Jadi jelas, penyiar radio di masa depan harus pintar, intelek dan... berdandan dulu sebelum siaran.

Ayo Radio

Setelah kita tahu bagaimana masa depan radio, maka mulai sekarang, kalau orang televisi tidak juga bangkit mengambil peran kepemimpinan untuk membuat masyarakat Indonesia pintar dan maju, orang Radio tak perlu ragu untuk sejak sekarang membangun kepercayaan masyarakat kepada media Radio. Bangsa yang cerdas bisa dibangun oleh radio... “apalagi dimasa depan radio ada gambarnya looh”, kata sebuah iklan. Now it’s the time to start it all! Merdeka! (arm)

Tidak ada komentar: