oleh Andy Rustam
Siaran televisi dan radio berubah pada bulan suci Ramadhan, baik jadwalnya maupun jenis acara serta tambahan-tambahan isi siarannya. Ini tentu berkaitan dengan perubahan aktivitas masyarakat Indonesia, yang memiliki komposisi mayoritas beragama Islam, selama bulan Ramadhan ini. Selain itu suasana hati masyarakat yang menjadi merasa lebih spiritual dibandingkan bulan-bulan lain, sehingga radio & TV harus menyesuaikan diri kalau tidak ingin ditinggalkan. Tetapi dibalik itu semua, tentulah prinsip bisnis komersiel yang berbicara paling kuat. Dari kebiasaan yang sudah mentradisi, para pemasang-iklan pun memperbesar anggaran iklan pada bulan-bulan Ramadhan. Maka perusahaan penyiaran tak mau mau ketinggalan untuk menyerap budget iklan tersebut sebanyak-banyaknya, sehingga dibuatlah acara-acara yang berkaitan dengan Ramadhan agar mudah terjual kepada para pengiklan. Siaran Radio & Televisi yang programnya mengikuti thema yang sedang ada di masyarakat umum tentulah hal yang wajar saja, karena dengan beginilah rating-nya akan tinggi.
Thema Masyarakat Umum
Thema masyarakat umum (temasum), adalah hal yang harus menjadi perhatian seorang Program Director dari sebuah perusahaan penyiaran. Karena memang Broadcasting Station musti selalu menempel dengan masyarakatnya. Ketika thema masyarakat umum adalah Banjir, maka semua broadcasting station menyiarkan thema itu. Ketika temasum tentang Teroris, maka semua broadcasting station mengangkat topik ini. Sekarang temasum-nya sedang “Puasa Ramadhan”, maka semua radio & TV isi siarannya bernuansa Ramadhan dan puasa.
Sebuah tradisi atau kebiasaan atau kejadian pada sekelompok kecil masyarakat bahkan di desa terpencil, ketika mendapat liputan gencar dari media, bisa terangkat atau akan menjadi temasum nasional. Sebaliknya sebuah hal yang sudah menjadi temasum nasional (misal: 17 Agustus; Puasa & Lebaran; Natal & Tahun Baru) pasti harus mendapat porsi liputan gencar dari media. Peliputan & penyiaran yang gencar akan menampilkan efek psikologis peniruan (lihat: Self-Psychology, Kohut 1977), sehingga semakin banyak lagi yang akan melakukannya. Artinya, temasum pun akan semakin meluas. Tetapi perlu hati-hati karena temasum yang negatif pun dapat menyebar justru karena peliputan dan disiarkan oleh media secara luas.
Perlu Diwaspadai
Ada satu kebiasaan yang selalu terjadi di bulan Ramadhan belakangan ini, yang kelihatannya diawali dari daerah rural-urban (kota-desa atau pinggiran kota), yaitu dimana ada sekelompok masyarakat yang suka membawa atribut yang dikenali oleh masyarakat sebagai atribut Islam, melakukan aksi sweeping dengan gaya seperti aparat penegak hukum.
Biasanya dimulai dengan arak-arakan bermotor dengan membawa atribut-atribut “padang-pasir”. Terkadang ada pengawalan dari aparat kepolisian. Tak seberapa lama kemudian mulailah mereka melakukan pengrusakan bangunan orang lain bahkan penganiayaan kepada warga masyarakat lain yang dianggap olehnya sebagai ”si pendosa”. Lucunya, polisi-polisi yang ada, tidak nampak melakukan sesuatu langkah pencegahan ataupun tindakan penangkapan. Akibatnya, tindakan main hakim sendiri dari kelompok tersebut seolah-olah mendapat pembenaran secara hukum (karena polisipun diam saja). Begitulah persepsi yang tercipta di masyarakat umum.
Media televisi pun melakukan peliputan terhadap peristiwa ini dan menyiarkannya alias menyebar-luaskan gambar tindakan anarkis yang “dibolehkan” oleh polisi. Dalam wawancara dengan si pelaku, ia sama sekali tidak merasa bahwa tindakan main hakim sendiri ini salah. Malah sebaliknya ia merasa dirinya bagai seorang pahlawan “Islam”. Kalau sampai ia ditangkap oleh polisi karena melanggar hukum, maka dengan mudah ia berkata bahwa hukum negara ini adalah hukum negara kafir yang tak perlu dipatuhi.
Parahnya lagi, narasi liputan ini diakhiri justru dengan kalimat tersebut. Sehingga bagi orang-orang yang sejenis, pengertiannya seolah-olah benarlah apa yang dikatakan oleh si pelaku tadi. Kalau saja narator menambahkan kalimat bahwa tafsiran yang ekstrim seperti itu justru melenceng dan tidak dibenarkan oleh agama, ini akan berdampak positif. Sayang hal ini tak dilakukan oleh si orang televisi dan juga si orang radio yang menyiarkan berita tsb. Jadi tidak heranlah, beberapa tahun kemudian tindakan mirip-mirip seperti ini, kini menjadi “thema masyarakat umum/temasum tahunan” pada kelompok masyarakat tertentu diberbagai daerah. Ini pula yang diliput oleh televisi sehingga semakin luas lagi kelompok masyarakat yang melakukan “ritual Ramadhan” tahunan ini.
Antisipasi Temasum Negatif
Tulisan ini saya buat sebahagian kemarin (sebelum puasa), dan sebahagian lagi hari ini (puasa hari pertama) yaitu pada bahagian akhir tulisan ini. Sejak awal saya sudah yakin bahwa pasti sweeping sok jagoan dari orang-orang sesat ini akan terjadi lagi seperti tahun-tahun yang lalu dan bahkan akan lebih meluas lagi. Eh benar saja, pada berita Metro TV kita lihat di Lamongan, bagaimana warga beringas menyerbu rumah seorang ibu berjilbab yang dianggap sebagai pelacur. Rumahnya dibakar dan seorang anak kecil menangis memanggil ibunya. Polisi yang hadir beberapa menit setelahnya pun tidak melakukan tindakan apa-apa. Padahal jelas-jelas itu merupakan tindakan anarkis. Lagi-lagi narasi berita oleh televisi tersebut diakhiri tanpa ada kalimat yang menunjukkan bahwa tindakan seperti itu salah. Oleh karena itu saya semakin yakin bahwa Temasum Negatif akan terus semakin meluas sepanjang Ramadhan ini.
Benar saja, pada buka puasa hari pertama, TVone memberitakan arak-arakan FPI yang kemudian menyerbu rumah-rumah yg dianggap tempat maksiat. Terlihat pula bagaimana ada polisi berseragam berdiri di sana dan tampak membiarkan kebringasan itu terjadi. Narasi siaran berita tidak mengatakan bahwa hal seperti ini sebagai melanggar hukum, lalu masyarakat pun menyaksikan kebringasan itu “diperbolehkan/didiamkan” oleh polisi, pendidikan apa yang terjadi kemudian di masyarakat? Ya tepat sekali. Masyarakat akan menganggap bahwa pengrusakan-pengrusakan dan tindakan main hakim sendiri boleh-boleh saja asal dilakukan dengan membawa atribut Islam dan dilakukan di bulan Ramadhan.
Kalau saja ditekadkan, Radio & Televisi bisa mencegah terjadinya hal ini dengan terus menerus menyiarkan materi yang mendidik, yang mengatakan bahwa: “Agama menyuruh kita menjaga dan membangun Kasih Sayang (al-Marhamah) di bulan Ramadhan, itulah sesungguhnya esensi kesucian bulan Ramadhan. Kalau Anda melihat ada yang melanggar kesucian Ramadhan, maka lakukanlah tindakan koreksi dengan cara tidak merusak, dengan Kasih Sayang sesuai hukum yang berlaku. Jangan membawa bencana bagi orang lain, karena bukan itu ajaran agama. Kalau bukan dalam keadaan formal perang, lalu Anda berbuat kerusakan bagi orang lain, justru itulah yang dianggap mengotori kesucian Ramadhan“.
Apabila langkah antisipatif melalui siaran-siaran dengan isi pesan sebagaimana contoh di atas konsisten kita (orang broadcaster) lakukan dengan sungguh-sungguh setiap hari, maka saya yakin, justru akan tercipta thema baru pada masyarakat umum, yaitu: “Ramadhan, bulan suci penuh kasih-sayang bagi seluruh alam semesta milikNya”.
Dari sisi komersiel, bukankah pada masyarakat yang damai, bisnis periklanan makin lancar, artinya bisnis radio & TV juga menjadi lebih berkembang? (arm)
Siaran televisi dan radio berubah pada bulan suci Ramadhan, baik jadwalnya maupun jenis acara serta tambahan-tambahan isi siarannya. Ini tentu berkaitan dengan perubahan aktivitas masyarakat Indonesia, yang memiliki komposisi mayoritas beragama Islam, selama bulan Ramadhan ini. Selain itu suasana hati masyarakat yang menjadi merasa lebih spiritual dibandingkan bulan-bulan lain, sehingga radio & TV harus menyesuaikan diri kalau tidak ingin ditinggalkan. Tetapi dibalik itu semua, tentulah prinsip bisnis komersiel yang berbicara paling kuat. Dari kebiasaan yang sudah mentradisi, para pemasang-iklan pun memperbesar anggaran iklan pada bulan-bulan Ramadhan. Maka perusahaan penyiaran tak mau mau ketinggalan untuk menyerap budget iklan tersebut sebanyak-banyaknya, sehingga dibuatlah acara-acara yang berkaitan dengan Ramadhan agar mudah terjual kepada para pengiklan. Siaran Radio & Televisi yang programnya mengikuti thema yang sedang ada di masyarakat umum tentulah hal yang wajar saja, karena dengan beginilah rating-nya akan tinggi.
Thema Masyarakat Umum
Thema masyarakat umum (temasum), adalah hal yang harus menjadi perhatian seorang Program Director dari sebuah perusahaan penyiaran. Karena memang Broadcasting Station musti selalu menempel dengan masyarakatnya. Ketika thema masyarakat umum adalah Banjir, maka semua broadcasting station menyiarkan thema itu. Ketika temasum tentang Teroris, maka semua broadcasting station mengangkat topik ini. Sekarang temasum-nya sedang “Puasa Ramadhan”, maka semua radio & TV isi siarannya bernuansa Ramadhan dan puasa.
Sebuah tradisi atau kebiasaan atau kejadian pada sekelompok kecil masyarakat bahkan di desa terpencil, ketika mendapat liputan gencar dari media, bisa terangkat atau akan menjadi temasum nasional. Sebaliknya sebuah hal yang sudah menjadi temasum nasional (misal: 17 Agustus; Puasa & Lebaran; Natal & Tahun Baru) pasti harus mendapat porsi liputan gencar dari media. Peliputan & penyiaran yang gencar akan menampilkan efek psikologis peniruan (lihat: Self-Psychology, Kohut 1977), sehingga semakin banyak lagi yang akan melakukannya. Artinya, temasum pun akan semakin meluas. Tetapi perlu hati-hati karena temasum yang negatif pun dapat menyebar justru karena peliputan dan disiarkan oleh media secara luas.
Perlu Diwaspadai
Ada satu kebiasaan yang selalu terjadi di bulan Ramadhan belakangan ini, yang kelihatannya diawali dari daerah rural-urban (kota-desa atau pinggiran kota), yaitu dimana ada sekelompok masyarakat yang suka membawa atribut yang dikenali oleh masyarakat sebagai atribut Islam, melakukan aksi sweeping dengan gaya seperti aparat penegak hukum.
Biasanya dimulai dengan arak-arakan bermotor dengan membawa atribut-atribut “padang-pasir”. Terkadang ada pengawalan dari aparat kepolisian. Tak seberapa lama kemudian mulailah mereka melakukan pengrusakan bangunan orang lain bahkan penganiayaan kepada warga masyarakat lain yang dianggap olehnya sebagai ”si pendosa”. Lucunya, polisi-polisi yang ada, tidak nampak melakukan sesuatu langkah pencegahan ataupun tindakan penangkapan. Akibatnya, tindakan main hakim sendiri dari kelompok tersebut seolah-olah mendapat pembenaran secara hukum (karena polisipun diam saja). Begitulah persepsi yang tercipta di masyarakat umum.
Media televisi pun melakukan peliputan terhadap peristiwa ini dan menyiarkannya alias menyebar-luaskan gambar tindakan anarkis yang “dibolehkan” oleh polisi. Dalam wawancara dengan si pelaku, ia sama sekali tidak merasa bahwa tindakan main hakim sendiri ini salah. Malah sebaliknya ia merasa dirinya bagai seorang pahlawan “Islam”. Kalau sampai ia ditangkap oleh polisi karena melanggar hukum, maka dengan mudah ia berkata bahwa hukum negara ini adalah hukum negara kafir yang tak perlu dipatuhi.
Parahnya lagi, narasi liputan ini diakhiri justru dengan kalimat tersebut. Sehingga bagi orang-orang yang sejenis, pengertiannya seolah-olah benarlah apa yang dikatakan oleh si pelaku tadi. Kalau saja narator menambahkan kalimat bahwa tafsiran yang ekstrim seperti itu justru melenceng dan tidak dibenarkan oleh agama, ini akan berdampak positif. Sayang hal ini tak dilakukan oleh si orang televisi dan juga si orang radio yang menyiarkan berita tsb. Jadi tidak heranlah, beberapa tahun kemudian tindakan mirip-mirip seperti ini, kini menjadi “thema masyarakat umum/temasum tahunan” pada kelompok masyarakat tertentu diberbagai daerah. Ini pula yang diliput oleh televisi sehingga semakin luas lagi kelompok masyarakat yang melakukan “ritual Ramadhan” tahunan ini.
Antisipasi Temasum Negatif
Tulisan ini saya buat sebahagian kemarin (sebelum puasa), dan sebahagian lagi hari ini (puasa hari pertama) yaitu pada bahagian akhir tulisan ini. Sejak awal saya sudah yakin bahwa pasti sweeping sok jagoan dari orang-orang sesat ini akan terjadi lagi seperti tahun-tahun yang lalu dan bahkan akan lebih meluas lagi. Eh benar saja, pada berita Metro TV kita lihat di Lamongan, bagaimana warga beringas menyerbu rumah seorang ibu berjilbab yang dianggap sebagai pelacur. Rumahnya dibakar dan seorang anak kecil menangis memanggil ibunya. Polisi yang hadir beberapa menit setelahnya pun tidak melakukan tindakan apa-apa. Padahal jelas-jelas itu merupakan tindakan anarkis. Lagi-lagi narasi berita oleh televisi tersebut diakhiri tanpa ada kalimat yang menunjukkan bahwa tindakan seperti itu salah. Oleh karena itu saya semakin yakin bahwa Temasum Negatif akan terus semakin meluas sepanjang Ramadhan ini.
Benar saja, pada buka puasa hari pertama, TVone memberitakan arak-arakan FPI yang kemudian menyerbu rumah-rumah yg dianggap tempat maksiat. Terlihat pula bagaimana ada polisi berseragam berdiri di sana dan tampak membiarkan kebringasan itu terjadi. Narasi siaran berita tidak mengatakan bahwa hal seperti ini sebagai melanggar hukum, lalu masyarakat pun menyaksikan kebringasan itu “diperbolehkan/didiamkan” oleh polisi, pendidikan apa yang terjadi kemudian di masyarakat? Ya tepat sekali. Masyarakat akan menganggap bahwa pengrusakan-pengrusakan dan tindakan main hakim sendiri boleh-boleh saja asal dilakukan dengan membawa atribut Islam dan dilakukan di bulan Ramadhan.
Kalau saja ditekadkan, Radio & Televisi bisa mencegah terjadinya hal ini dengan terus menerus menyiarkan materi yang mendidik, yang mengatakan bahwa: “Agama menyuruh kita menjaga dan membangun Kasih Sayang (al-Marhamah) di bulan Ramadhan, itulah sesungguhnya esensi kesucian bulan Ramadhan. Kalau Anda melihat ada yang melanggar kesucian Ramadhan, maka lakukanlah tindakan koreksi dengan cara tidak merusak, dengan Kasih Sayang sesuai hukum yang berlaku. Jangan membawa bencana bagi orang lain, karena bukan itu ajaran agama. Kalau bukan dalam keadaan formal perang, lalu Anda berbuat kerusakan bagi orang lain, justru itulah yang dianggap mengotori kesucian Ramadhan“.
Apabila langkah antisipatif melalui siaran-siaran dengan isi pesan sebagaimana contoh di atas konsisten kita (orang broadcaster) lakukan dengan sungguh-sungguh setiap hari, maka saya yakin, justru akan tercipta thema baru pada masyarakat umum, yaitu: “Ramadhan, bulan suci penuh kasih-sayang bagi seluruh alam semesta milikNya”.
Dari sisi komersiel, bukankah pada masyarakat yang damai, bisnis periklanan makin lancar, artinya bisnis radio & TV juga menjadi lebih berkembang? (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar