11 Agustus 2009

Kritik Cak Nun: Siaran TV Wafatnya Rendra

oleh Andy Rustam

Budayawan Besar, WS (Willbrordus Surendra, kemudian menjadi Wahyu Sulaiman) RENDRA, telah dimakamkan di Bengkel Teater, Citayam, Depok pada hari Jum’at siang, 7 Agustus 2009. Saya ingin mengutip tulisan budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) di harian Kompas edisi 8 Agustus 2009 pada halaman 15, yang isinya berupa kritikan kepada dunia penyiaran televisi kita, sebagai berikut:

“Hati saya mungkin kotor karena spontan yang muncul di benak saya sesudah kepergian RENDRA adalah, apakah akan ada siaran langsung juga sebagaimana ketika wafatnya Mbah Surip? (ternyata tidak, pen.-). Saya mencoba memaafkan diri sendiri dengan meyakini bahwa pertanyaan itu muncul tidak dari konteks eksistensialisme dan kemasyhuran, melainkan uji berpikir bagi diri saya sendiri, dan syukur bagi seluruh bangsa Indonesia, khususnya bagi dunia jurnalisme di negeri ini. Apakah tidak sebaiknya kita mempertanyakan kembali parameter-parameter nilai kehidupan yang berlaku.

Bagaimana sebenarnya kita menggambar “anatomi nilai” kebudayaan kita? Yang mana dan siapa “kepala”, yang mana dan siapa “tangan, kaki, otak, nurani dan kelamin?.

Jangan dulu bertanya tentang kaliber karya dan kepribadian RENDRA. Kita benahi dulu: yang primer itu “akal”?, ataukah “nurani”?, ataukah “kelamin”?.

Yang utama bagi informasi dan kebudayaan kita ini “prestasi akal”, “pencapaian estetika dan nurani” atau “eforia nafsu dangkal kelamin”? – baik yang diekpresikan secara eksplisit kelamin maupun yang implisit dan tak kentara, bahwa sesungguhnya “rating tertinggi” yang kita (baca: para broadcaster) imani adalah “packaging” dari kedangkalan, kekonyolan, kehinaan, dan kerendahan (manusia, pen.-). Wallahualam. Saya berdebar dari detik ke detik. Di tangan saya tergenggam lembar kertas yang bertuliskan puisi terakhir RENDRA yang ia tulis pada 31 Juli 2009 di RS Mitra Keluarga.“ (Emha Ainun Najib).

Sebuah Sentilan

Sebagai seorang broadcaster yang telah mengalami dua dunia, radio dan televisi, terus terang saya tergelitik dengan sentilan Cak Nun.

Walau saya tak begitu mengenal Rendra secara pribadi, tetapi saya betul-betul telah merasakan kehilangan besar sebuah Sosok Besar dengan Karya Besar (meminjam istilah Soetarji Chalzoum Bachri). Mengapa kehilangan itu terasa begitu besar? Karena saya belum melihat cikal-bakal adanya pengganti Rendra dari kalangan anak muda generasi digital sekarang ini, baik dari sisi sosok kepribadiannya yang teguh dalam memperjuangkan nilai-nilai hakiki kemanusiaan, maupun dari cara berpikir dan cara mengekspresikan apa yang ada di hati, melalui karya-karyanya serta tindakan riel dalam keseharian. Tambahan lagi semuanya itu dilakukan dengan elegant berpijak pada kejujuran. Rasanya manusia sekaliber Rendra merupakan barang langka yang dimiliki bangsa ini. Bangsa yang berbudaya dan menghargai kesetaraan sesama manusia adalah indikator martabat sebuah bangsa di antara bangsa-bangsa lain di dunia, ini yang selalu diperjuangkan Rendra.

Nah, sayangnya hal ini, seperti disentil Cak Nun, tak terlihat dalam tayangan siaran televisi kita. Televisi kita jarang menampilkan Indonesia sebagai bangsa yang bermartabat dan berbudaya tinggi. Bahkan sinyalemen ini semakin terbukti ketika liputan wafatnya Rendra tidak selama dan sedalam liputan wafatnya Mbah Surip. Penghormatan kepada pahlawan budaya ini terasa sekali hanya sekedarnya. Televisi kita seperti sudah buta, tak tahu lagi mana yang lebih penting antara: “akal-sehat”, “hati-nurani”, dan “hawa-nafsu”. Bukan berarti mbah Surip kurang penting dibandingkan Rendra, tetapi yang jelas tidak sepatutnya memandang Rendra sebagai kurang penting dibandingkan mbah Surip. Tetapi memang begitulah kesannya kalau kita perhatikan dan perbandingkan liputan siaran wafatnya kedua seniman kita itu. Itu yang disentil oleh Cak Nun.

Mengimani Rating

Rating (indikator jumlah pemirsa) memang bagaikan seorang dewa dalam industri pertelevisian kita. Apapun akan dilakukan agar rating bisa tercatat tinggi. Kepolisian sering merasa kesulitan menangkap teroris hanya karena televisi sudah menyiarkan hal-hal yang sebenarnya masih harus ditangani secara rahasia. Ibu-ibu rumah tangga merasa risih di depan anak-anaknya melihat adegan-adegan dalam siaran sinetron televisi kita. Banyak orang merasa jijik menonton tayangan siaran berita dimana darah berceceran, mayat yang sudah rusak dan gambar-gambar berselera rendah disiarkan secara jelas oleh televisi kita pada jam makan malam keluarga. Alasannya sudah barang tentu agar rating tinggi. Rating pulalah yang menjadi alasan mengapa siaran sehubungan dengan wafatnya mbah Surip jauh lebih sering dan lebih panjang dibandingkan dengan wafatnya Rendra. Bukankah mbah Surip jauh lebih “komersiel” dibandingkan Rendra?

Dikuasai Hawa-Nafsu

Ujung-ujungnya sih duit juga. Inilah “hawa-nafsu” yang meliputi siaran televisi kita, dan bukannya “akal-sehat & hati-nurani”. Hawa nafsu selalu ingin hasil instan, sedangkan akal-sehat & hati nurani selalu mengarah bukan semata hasil sesaat melainkan lebih bersifat jangka panjang dan kemashalatan bersama. Diketahui bahwa para pemasang iklan hanya tertarik memasang iklan produknya pada tayangan yang jumlah penontonnya banyak (rating-nya tinggi). Itu yang menjadi hal-ihwal kenapa Rating menjadi Dewa.

Kesalah-kaprahan ini sebenarnya disebabkan oleh “kebodohan” ditambah “kemalasan” baik pada pihak si AE televisi maupun dari pihak Biro-iklan (Pemasang Iklan). “Kebodohan” yang saya maksud adalah anggapan bahwa rating adalah satu-satunya patokan agar iklan yang dipasang bisa efektif mencapai tujuan-tujuan pemasaran (marketing objectives). Anda bisa menilai sendiri berapa banyak setiap malam Anda menonton iklan di televisi, dan berapa sih dari produk-produk yang diiklankan itu akhirnya Anda beli karena terdorong oleh iklan yang ditayangkan? Pasti sedikit sekali! Kalau ada yang mau menghitung, silahkan hitung. Hasilnya pasti mengejutkan saking kecilnya (RAB di Inggris pernah melakukan penelitian). Siapapun yang ber-“akal-sehat” pasti menyadarinya.

Sedangkan “kemalasan” yang saya maksud adalah tidak adanya kemauan untuk berubah, belajar, dan meningkatkan diri baik di pihak televisi maupun di pihak pemasang iklan. Banyak cara agar tayangan dapat tetap diminati tanpa harus mengeksploitasi hal-hal yang merendahkan martabat, banyak cara menjual agar pengiklan mau memasang iklan, dan banyak cara beriklan agar iklan yang ditayangkan dapat lebih efektif.

Tetapi toch, mereka memilih menerapkan cara gampang dengan mengikuti saja apa “kedoyanan” pasar, walaupun harus sampai membawa martabat manusia turun kepada kehinaan dan kerendahan. Siapapun yang ber-“hati-nurani”, pasti tak akan tega untuk melakukannya.

Tetapi mengapa hal itu bisa terjadi juga pada siaran tayangan televisi kita? Jawabannya, ya apalagi kalau bukan karena dorongan hawa-nafsu.

Tepat dan Penting

Sentilan Emha Ainun Najib, sungguh sangat tepat dan sangat penting, mengingat televisi adalah media dengan penetrasi yang besar di masyarakat. Masa depan bangsa dan negara akan hancur kalau ulah televisi tetap saja dengan siarannya yang hanya rating-oriented, sehingga se-olah-olah terkesan tak pernah memiliki tekad untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Padahal tekad inilah yang selalu membara dalam hati para pejuang bangsa semenjak dahulu, termasuk Rendra. (arm)

Tidak ada komentar: