oleh Andy Rustam
Film Harry Potter lagi ramai-ramainya. Komentar yang sudah nonton macam-macam. Ada yang bilang filmnya bagus, ada yang bilang bagus tapi lebih bagus bukunya, ada juga yang bilang sama sekali tidak bagus. Jadi bagi yang belum menonton, mendengar komentar orang-orang seperti itu, malah bikin bingung. Karena urusan “bagus” itu sangat subjektip. Tergantung dengan preferensi apa yang sudah ada di dalam otaknya si penonton. Penonton yang telah membaca buku Harry Potter sebelumnya tentu mempunyai penilaian berbeda dengan penonton yang belum pernah membaca bukunya tetapi langsung menonton filmnya. Penonton yang profesinya seorang sutradara film, tentu mempunyai penilaian berbeda pula dengan penonton yang profesinya seorang guru taman kanak-kanak. Memang susah sekali untuk memuaskan semua orang. Padahal tentu saja kalau ingin modal yang ditanamkan di film itu bisa cepat kembali, maka film yang dibuat seyogyanya harus bisa memuaskan “semua” orang, bukan?
Kenyataan Acara Siaran
Masalah yang sama dihadapi oleh kita yang bekerja di broadcasting. Kita dituntut untuk membuat acara siaran yang disukai oleh audience/publik seluas mungkin. Berkali-kali dalam blog ini pernah saya katakan, bahwa karena struktur sosial masyarakat kita masih berbentuk piramida, dimana kelas sosial yang di bawah masih sangat besar sedangkan yang di atas masih sangat kecil maka, buatlah acara yang disukai oleh kelas sosial yang di bawah kalau ingin acara kita memiliki jumlah audience yang besar (rating tinggi). Kenyataannya memang demikian. Acara-acara yang berhasil meraih rating pastilah acara yang begitu-begitu... yang membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) geleng-geleng kepala. Tapi kalau ada yang menyampaikan kritik, mengapa menyiarkan acara seperti itu? Jawaban mereka pasti, “rating-nya tinggi boss.. ngantre tuh yang mau pasang iklan“. Segitu simple-nya.
Preferensi
Sebenarnya, apakah tidak ada jalan agar sebuah acara benar-benar bisa menembus sekat-sekat struktur sosial masyarakat, bawah dan atas, tua dan muda, dsb.? Mengapa film Hollywood, bisa menembus hampir semua masyarakat dunia? Film Hollywood ramai penontonnya ketika diputar di bioskop-bioskop di China, Russia, Indonesia, di negara-negara Eropa, Afrika dlsb. Kok bisa?
Nah, sekarang saya sampaikan satu rahasia besar bagi Anda yang ingin tahu bagaimana caranya membuat acara yang bisa menembus sekat-sekat tersebut. Rahasia itu namanya Preferensi. Tadi sudah saya singgung di atas tentang preferensi. Artinya bahwa penonton yang akan menonton sebuah film itu tidak berangkat ke gedung bioskop dengan otak yang kosong alias “blank”, melainkan ia sudah mempunyai preferensi terlebih dahulu.
Preferensi ini bisa saja berupa masukan dari temannya, atau hal-hal yang pernah ia alami, bisa juga ia peroleh dari membaca buku, mendengar dari media/iklan dan banyak lagi. Stok preferensi yang telah terkumpul dalam gudang dirinya inilah yang selalu menjadi acuan dia untuk mengatakan apakah ia “menyukai” atau “tidak menyukai” film itu, bagus atau tidak-bagus acara Anda, atau tontonan/hiburan yang Anda sajikan.
Ekspektasi
Preferensi yang sudah tertanam sejak lama sepertinya terpicu untuk muncul kembali ketika ia mendengar/melihat sesuatu yang berhubungan dengan itu. Contoh, misalnya ketika dulu Anda menonton film Harry Potter yang pertama, Anda merasa kagum dengan bintang utamanya, Daniel Radcliffe, dan trik teknologi filmnya. Apalagi pada saat itulah Anda berkenalan di bioskop dengan seorang cowok/cewek yang sekarang sudah menjadi suami/istri Anda. Maka preferensi “bagus” pasti sudah tertanam dalam bawah sadar otak Anda. Moment menonton film Harry Potter yang pertama merupakan sebuah event yang “sensasional” bagi Anda. Maka beberapa tahun kemudian ketika pada suatu hari Anda membaca iklan di koran bahwa akan ada film Harry Potter yang terbaru, ini menjadi pemicu yang me-recall preferensi bagus yang sudah lama tertanam di dalam otak Anda. Terpicunya preferensi inilah yang akan memunculkan dorongan keinginan untuk menonton film Harry Potter yang baru.
Bukan hanya dorongan keinginan yang muncul, tetapi juga “ekspektasi” atau harapan. Anda ingin menonton film Harry Potter yang terbaru karena ekspektasi Anda (Anda berharap) bahwa Anda dapat menemukan kembali rasa sensasional yang pernah Anda alami dulu.
Kalau saja nanti setelah Anda menonton ternyata ekspektasi tadi tidak bisa dipenuhi oleh film, maka Anda akan mengatakan bahwa film Harry Potter yang barusan Anda tonton ini jelek. Tetapi kalau ekspektasi itu terpenuhi, maka Anda akan mengatakan film tersebut bagus. Kalau bagus, maka preferensi terbaru yang akan disimpan dalam gudang otak Anda tentu saja bahwa film Harry Potter tetaplah sebuah film yang “bagus”. Maka yakinlah bahwa ketika Film Harry Potter selanjutnya diproduksi lagi, pasti Anda akan menonton lagi.
Acara Siaran Yang Bagus
Nah, sekarang Anda sudah tahu kata kunci dari keberhasilan sebuah tontonan, begitu juga acara siaran, yaitu: Preferensi dan Ekspektasi. Artinya, kalau Anda mau siaran, selalu harus diingat bahwa audience sudah mempunyai preferensi. Kalau ingin pada setiap kali Anda siaran audience mau kembali menonton/mendengar, maka Anda harus mampu untuk selalu memenuhi ekpektasi mereka setiap kali siaran, sehingga preferensi mereka tentang siaran Anda selalu bagus.
Ekspektasi bukan hanya tentang “isi/content/materi”, tetapi justru yang lebih utama adalah tentang “penyajian”. Karena dalam sebuah produksi siaran, “isi/content” selalu dengan cepat dapat ditiru, tetapi kalau soal “penyajian” agak sulit ditiru karena tergantung dengan karakter yang terlibat dalam tim produksi.
Misalnya, film “Laskar Pelangi”. Ceritanya sendiri tidak terlalu istimewa, tetapi cara penyajian cerita itu ke dalam layar lebar sangat khas dan sulit ditiru. Kalaupun mau meniru pastilah anggota tim produksinya musti dibajak. Berbeda dengan film-film Kuntilanak, Pocong dan Suster Ngesot. Ceritanya tidak istimewa, penyajiannya pun cocok untuk ekspektasi orang bawah. Maka tidak heran peniru-penirunya banyak sekali, karena simple saja. Memang ekpektasi masyarakat penonton film Kuntilanak tidaklah tinggi-tinggi amat, sehingga penyajian pun cukup seadanya.
Jadi kalau anda ingin acara siaran yang Anda buat bisa melintasi sekat-sekat sosial masyarakat seperti film Hollywood atau juga film Indonesia seperti “Laskar Pelangi”, maka acara yang ingin Anda buat itu, harus selalu dibangun dalam kerangka memenuhi ekspektasi yang tinggi dalam penyajian, tapi sederhanalah dalam hal materi yang disajikan. (arm)
Film Harry Potter lagi ramai-ramainya. Komentar yang sudah nonton macam-macam. Ada yang bilang filmnya bagus, ada yang bilang bagus tapi lebih bagus bukunya, ada juga yang bilang sama sekali tidak bagus. Jadi bagi yang belum menonton, mendengar komentar orang-orang seperti itu, malah bikin bingung. Karena urusan “bagus” itu sangat subjektip. Tergantung dengan preferensi apa yang sudah ada di dalam otaknya si penonton. Penonton yang telah membaca buku Harry Potter sebelumnya tentu mempunyai penilaian berbeda dengan penonton yang belum pernah membaca bukunya tetapi langsung menonton filmnya. Penonton yang profesinya seorang sutradara film, tentu mempunyai penilaian berbeda pula dengan penonton yang profesinya seorang guru taman kanak-kanak. Memang susah sekali untuk memuaskan semua orang. Padahal tentu saja kalau ingin modal yang ditanamkan di film itu bisa cepat kembali, maka film yang dibuat seyogyanya harus bisa memuaskan “semua” orang, bukan?
Kenyataan Acara Siaran
Masalah yang sama dihadapi oleh kita yang bekerja di broadcasting. Kita dituntut untuk membuat acara siaran yang disukai oleh audience/publik seluas mungkin. Berkali-kali dalam blog ini pernah saya katakan, bahwa karena struktur sosial masyarakat kita masih berbentuk piramida, dimana kelas sosial yang di bawah masih sangat besar sedangkan yang di atas masih sangat kecil maka, buatlah acara yang disukai oleh kelas sosial yang di bawah kalau ingin acara kita memiliki jumlah audience yang besar (rating tinggi). Kenyataannya memang demikian. Acara-acara yang berhasil meraih rating pastilah acara yang begitu-begitu... yang membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) geleng-geleng kepala. Tapi kalau ada yang menyampaikan kritik, mengapa menyiarkan acara seperti itu? Jawaban mereka pasti, “rating-nya tinggi boss.. ngantre tuh yang mau pasang iklan“. Segitu simple-nya.
Preferensi
Sebenarnya, apakah tidak ada jalan agar sebuah acara benar-benar bisa menembus sekat-sekat struktur sosial masyarakat, bawah dan atas, tua dan muda, dsb.? Mengapa film Hollywood, bisa menembus hampir semua masyarakat dunia? Film Hollywood ramai penontonnya ketika diputar di bioskop-bioskop di China, Russia, Indonesia, di negara-negara Eropa, Afrika dlsb. Kok bisa?
Nah, sekarang saya sampaikan satu rahasia besar bagi Anda yang ingin tahu bagaimana caranya membuat acara yang bisa menembus sekat-sekat tersebut. Rahasia itu namanya Preferensi. Tadi sudah saya singgung di atas tentang preferensi. Artinya bahwa penonton yang akan menonton sebuah film itu tidak berangkat ke gedung bioskop dengan otak yang kosong alias “blank”, melainkan ia sudah mempunyai preferensi terlebih dahulu.
Preferensi ini bisa saja berupa masukan dari temannya, atau hal-hal yang pernah ia alami, bisa juga ia peroleh dari membaca buku, mendengar dari media/iklan dan banyak lagi. Stok preferensi yang telah terkumpul dalam gudang dirinya inilah yang selalu menjadi acuan dia untuk mengatakan apakah ia “menyukai” atau “tidak menyukai” film itu, bagus atau tidak-bagus acara Anda, atau tontonan/hiburan yang Anda sajikan.
Ekspektasi
Preferensi yang sudah tertanam sejak lama sepertinya terpicu untuk muncul kembali ketika ia mendengar/melihat sesuatu yang berhubungan dengan itu. Contoh, misalnya ketika dulu Anda menonton film Harry Potter yang pertama, Anda merasa kagum dengan bintang utamanya, Daniel Radcliffe, dan trik teknologi filmnya. Apalagi pada saat itulah Anda berkenalan di bioskop dengan seorang cowok/cewek yang sekarang sudah menjadi suami/istri Anda. Maka preferensi “bagus” pasti sudah tertanam dalam bawah sadar otak Anda. Moment menonton film Harry Potter yang pertama merupakan sebuah event yang “sensasional” bagi Anda. Maka beberapa tahun kemudian ketika pada suatu hari Anda membaca iklan di koran bahwa akan ada film Harry Potter yang terbaru, ini menjadi pemicu yang me-recall preferensi bagus yang sudah lama tertanam di dalam otak Anda. Terpicunya preferensi inilah yang akan memunculkan dorongan keinginan untuk menonton film Harry Potter yang baru.
Bukan hanya dorongan keinginan yang muncul, tetapi juga “ekspektasi” atau harapan. Anda ingin menonton film Harry Potter yang terbaru karena ekspektasi Anda (Anda berharap) bahwa Anda dapat menemukan kembali rasa sensasional yang pernah Anda alami dulu.
Kalau saja nanti setelah Anda menonton ternyata ekspektasi tadi tidak bisa dipenuhi oleh film, maka Anda akan mengatakan bahwa film Harry Potter yang barusan Anda tonton ini jelek. Tetapi kalau ekspektasi itu terpenuhi, maka Anda akan mengatakan film tersebut bagus. Kalau bagus, maka preferensi terbaru yang akan disimpan dalam gudang otak Anda tentu saja bahwa film Harry Potter tetaplah sebuah film yang “bagus”. Maka yakinlah bahwa ketika Film Harry Potter selanjutnya diproduksi lagi, pasti Anda akan menonton lagi.
Acara Siaran Yang Bagus
Nah, sekarang Anda sudah tahu kata kunci dari keberhasilan sebuah tontonan, begitu juga acara siaran, yaitu: Preferensi dan Ekspektasi. Artinya, kalau Anda mau siaran, selalu harus diingat bahwa audience sudah mempunyai preferensi. Kalau ingin pada setiap kali Anda siaran audience mau kembali menonton/mendengar, maka Anda harus mampu untuk selalu memenuhi ekpektasi mereka setiap kali siaran, sehingga preferensi mereka tentang siaran Anda selalu bagus.
Ekspektasi bukan hanya tentang “isi/content/materi”, tetapi justru yang lebih utama adalah tentang “penyajian”. Karena dalam sebuah produksi siaran, “isi/content” selalu dengan cepat dapat ditiru, tetapi kalau soal “penyajian” agak sulit ditiru karena tergantung dengan karakter yang terlibat dalam tim produksi.
Misalnya, film “Laskar Pelangi”. Ceritanya sendiri tidak terlalu istimewa, tetapi cara penyajian cerita itu ke dalam layar lebar sangat khas dan sulit ditiru. Kalaupun mau meniru pastilah anggota tim produksinya musti dibajak. Berbeda dengan film-film Kuntilanak, Pocong dan Suster Ngesot. Ceritanya tidak istimewa, penyajiannya pun cocok untuk ekspektasi orang bawah. Maka tidak heran peniru-penirunya banyak sekali, karena simple saja. Memang ekpektasi masyarakat penonton film Kuntilanak tidaklah tinggi-tinggi amat, sehingga penyajian pun cukup seadanya.
Jadi kalau anda ingin acara siaran yang Anda buat bisa melintasi sekat-sekat sosial masyarakat seperti film Hollywood atau juga film Indonesia seperti “Laskar Pelangi”, maka acara yang ingin Anda buat itu, harus selalu dibangun dalam kerangka memenuhi ekspektasi yang tinggi dalam penyajian, tapi sederhanalah dalam hal materi yang disajikan. (arm)
2 komentar:
Saya sangat sependapat sekali dengan apa yang bang Andi katakan... bahwa semua berasal dari Preferensi dan ekspektasi....
Begitu juga dengan pendapat piramida segmentasi strata sosial penduduk Indonesia. Tapi kalo boleh saya tambah, bahwasanya untuk segmentasi pendengar atau pemirsa untuk televisi ataupun radio.. tidak lagi berbentuk piramida melainkan curva berbentuk gunung dimana stratakaum The have dalam hal ini adalah kelas A yang mempunyai expenditure diatas 3jt per bulan lebih sedikit dibandingkan dengan SES (Social economic Status) kelas B dan yang terbesar adalah penonton atau pendengar SES C. SES C ini mau tidak mau sangat mendominasi dari pada kelas SES yang lain.
SES C ini mempunyai pengeluaran per bulan sekitar 1,5jt hingga 2jt. Yang berarti penonton atau pendengar TV maupun radio kita rata-rata didominasi oleh anak muda terkhususnya wanita...!!! (itu asumsi saya)
Dan di kelas inilah adalah pangsa pasar TV dan Radio khususnya para pekerja broadcast dalam menjaring Rating kecuali station tempat dia bekerja mempunyai peraturan sendiri tentang PANGSA PASAR YANG AKAN DIBIDIK.
Trusss apa hubungannya dengan Preferensi dan Ekspektasi...!!!
sadar atau tidak sadar benang merahnya adalah Amerika (bukan berarti benci Amerika lhoo ini..!!)
Strategi utama dari Amerika adalah 2 tujuan yaitu BROADCAST(entertainment) and GUNS, why broadcast & Guns??? kalo senjata pastilah... Amerika gitu loh..!! Tapi Broadcast...??? khususnya Entertainment...???? Dari dulu kita di Brain wash bahwa film Amerika bikinan Hollywood pasti keren.... mungkin sebagai contoh kita ambil Harry Potter... Kira-kira kita mau nonton gak kalo harry potter itu bikinan China atau bikinan Italy ajah????
Apakah Harry Potter akan booming kalo berbahasa China...???? Anda pasti tau jawabannya... so Preferensi dan Ekspekatsi yang diinginkan adalah film dengan kualitas Amerika (Hollywood)
Sebenernya preferensi dan ekspektasi seseorang dari alam bawah sadarnya sudah dilatih oleh orang tua kita duluuu untuk menyukai film Hollywood. itulah yang menjelaskan mengapa film-film jebolan CANNES jarang laku di Indonesia....
Balik lagi menuju analisa penonton SES C dan rating tinggi. Dalam membuat sebuah program TV atau Radio kita harus memakai batu loncatan bernama "pemirsa atau pendengar". Kita arahkan kemana itu program. Contoh : Program Termehek-mehek di TRANSTV pertama kali muncul mendapat tanggapan bahwa program ini hanya bertahan tidak lebih 4 episode... tapi nyatanya program ini mampu merajai perolehan rating dan share di Indonesia... karena apa...???? mereka memanfaatkan batu loncatan bernama "Total keberadaan Pemirsa".
Program ini muncul didasari dengan analisa sangat kuat..!!! TRANSTV dengan image SES AB (high class expenditure) yang sangat tinggi ini merajai perolehan rating dan share di Indonesia... maka dibidiklah kelas SES C untuk menanmbah perolehan rating atau share.
Jelas program Termehek-Mehek membuat Preferensi dan Ekspektasi baru di kalangan pemirsa TV... tapi mau tidak mau tetap mereka mendasarkan "LOVE, HATE, SEX and CRIME" walau di Termehek-Mehek sendiri tidak ada adegan tempat tidurnya..... tapi formulasi ceritanya Wow... Hollywood banget dengan sentuhan Indonesia yang kental...!!!!!
So... kesimpulan dari tulisanku diatas bahwa memang keinginan seseorang ingin menonton sesuatu berdasarkan Preferensi dan Ekspektasi.... yang dari alam bawah sadarnya mengatakan bahwa formulasi yang indah alaha film atau program TV buatan Amerika atau dengan formulasi Amerika...!!!
Tapi itu hanya permainan asumsi saya saja.... Terima Kasih Bang
Terima kasih atas tanggapannya, dan tanggapan Anda malah melengkapi tulisan ini. Terima kasih sekali lagi.
Posting Komentar