oleh Andy Rustam
Salah satu kelemahan kebanyakan dari kita yaitu, sering terbawa arus dalam cara memandang suatu persoalan. Sayangnya kebanyakan media kita juga sering ikut-ikutan begitu, atau malah memanfaatkannya demi kepentingan komersiel, baik langsung maupun tak langsung (misalnya supaya jumlah oplag koran/majalah meningkat, pemirsa/pendengar meningkat). Cobalah lakukan uji petik tentang masalah yang lagi “in”. Tanyakan pada orang di pinggir jalan mengenai kasus Cicak vs Buaya, apa sih inti permasalahannya? Pasti jawabannya macam-macam, mulai dari Anggodo, Polri, Kejaksaan, Tim 8, Bank Century, Presiden, KPK, DPR dst. Padahal inti persoalannya sangat simple, yaitu: Rasa Keadilan yang terusik.
Begitu juga ada kasus hari kiamat gara-gara film 2012, dimana salah satu pimpinan MUI daerah menghimbau film tersebut harus dilarang, karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Apapun itu, yang jelas film Hollywood tersebut laris manis, calon penonton bioskop pun sampai harus antri untuk mendapatkan karcis.
Dangkal dan Instant
Sebuah perusahaan telco provider (sebut saja CULUN) yang termasuk terbesar di Indonesia, merasa bahwa dalam perebutan pasar pelanggan tahun ini, ia kalah dari pesaingnya. Maka menjelang akhir tahun ia meminta biro iklan untuk menggembar-gemborkan kepada masyarakat bahwa biaya pulsa mereka adalah yang “termurah” di Indonesia. Dalam hati saya, “kok begitu?” Tidak memerlukan tukang ramal, saya jamin dampak dari promosi tersebut tidak akan berhasil sesuai yang diharapkan. Mengapa? Karena cara berpikirnya dangkal banget. Mungkin begitulah isi otak orang yang ngeboss dan kebanyakan uang.
Si Culun yakin sekali, yang menjadi penyebab konsumen tak memilih untuk membeli jasa/produk mereka adalah karena konsumen “tidak tahu” bahwa harga mereka “paling murah”. Dengan asumsi itulah mereka berpikir, bahwa kalau saja konsumen “tahu” bahwa mereka “termurah” maka konsumen akan beli. Sehingga diaturlah kampanye promosi untuk membuat konsumen tahu.
Ini salah satu contoh cara berpikir yang tidak cukup mendalam masuk ke inti persoalan. Karena pemikirannya dangkal dalam melihat persoalan maka solusinya juga dangkal, harapannya pun hasil instant (seketika). Ia mengharapkan hanya dalam waktu 2 bulan menjelang tutup buku, dengan promosi gencar “paling murah”, maka ia akan bisa mengalahkan pesaingnya.
Dalam dunia radio & televisi hal seperti ini juga sangat sering terjadi. Agar jumlah pemirsa & pendengar naik, kita harus bikin acara heboh dong. Maka munculah acara-acara heboh kacangan dan berita/info sensasi serta banjir promosi berhadiah. Ada sebuah supermarket di dekat rumah selalu gencar berpromosi dengan hadiah dan discount 50%. Tetapi lucunya, sudah setahun seperti itu tetap saja ibu-ibu (termasuk istri saya) kalau berbelanja tidak mau kesana, melainkan ke supermarket yang sudah berada di area kami sejak lama. Walaupun tidak berhadiah!!! Kesalahannya sama: Tidak melihat inti persoalannya.
Melihat ke Inti Persoalan
Dalam mengamati suatu fenomena atau menganalisa suatu masalah, pikiran kita harus berpegang pada prinsip bahwa “tidak ada suatu persoalan yang berdiri sendiri”. Yakinkah Anda akan prinsip ini dalam kehidupan? Kalau Anda tidak yakin dengan prinsip ini, maka inilah sebetulnya yang menjadi penyebab mengapa kita sulit mencapai inti permasalahan. Mencapai inti persoalan memerlukan keterbukaan untuk menerima berbagai sisi pandang. Niat untuk berpikiran terbuka menyebabkan Anda akan mampu mengupas sebuah fenomena sedikit demi sedikit. Seperti mengupas buah yang diawali dari kulit hingga menemukan biji. Biji inilah sesungguhnya benih inti yang apabila ditanam akan bertumbuh menjadi pohon yang sempurna. Menemukan inti persoalan akan memudahkan pemberian solusi permanen yang akan berkembang menuju kesempurnaan.
Caranya
Sebenarnya caranya tidak terlalu sulit, yaitu: “Lontarkan terus pertanyaan. Jangan pernah berhenti pada satu jawaban. Baru berhenti ketika sudah tidak ada lagi yang bisa ditanyakan”. Misal, dalam kasus film 2012. Film ini menarik, tetapi persoalannya menurut pak Kyai, dapat membuat orang berpendapat bahwa kiamat akan benar-benar terjadi pada tahun 2012. Dikhawatirkan akan menggoyahkan iman dan membuat kepanikan. Maka solusinya, harus dilarang, demikian kata pak Kyai.
Sekarang mari kita coba untuk mencari apa inti persoalannya. Lontarkan pertanyaan seperti ini, “mengapa menggoyahkan iman?“ ; “Bukankah sudah banyak film fiksi ilmiah sebelum ini, dan mengapa tak ada kekhawatiran seperti itu ?“ ; “Film ini diputar juga di Malaysia dan negara lain, mengapa hanya di Indonesia terjadi seperti ini?“ dst.
Dari lontaran-lontaran pertanyaan yang banyak (jangan berhenti!) nanti akan terjawab bahwa pada intinya, film itu memiliki jalan cerita yang meyakinkan disertai teknologi yang mendukung dan diolah oleh tangan sineas yang handal. Sehingga apabila penontonnya adalah dari kalangan orang yang kurang pendidikannya atau belum matang jiwanya maka ia akan terpengaruh. Karena memang pikirannya tidak bisa membedakan antara realita dan fiksi. Ibarat seorang anak kecil yang mudah percaya ketika didongengin adanya hantu bergentayangan apabila tidur terlalu malam.
Jadi inti permasalahan sekarang terbuka bahwa, persoalannya bukan pada film 2012 yang mendongengkan terjadinya kiamat, melainkan pada siapa yang menontonnya. Memang susah menseleksi tingkat intelektualitas penonton, karena film ini diperbolehkan untuk umum. Tetapi jelas, melarang film tersebut bukanlah solusi.
Kalau saya yang jadi Badan Sensor Film, apa yang akan saya lakukan? Menurut saya, kita cukup membuat pesan singkat untuk mengedukasi penonton dalam bahasa sederhana. Misalnya, cukup memasang tulisan yang ditambahkan sebagai running titling (tulisan berjalan) sehingga menjadi bahagian dari film tersebut. Tulisan/text tersebut bisa saja dipasang di awal film dan juga di akhir film. Tulisan pada awal film tersebut berbunyi sebagai berikut: “Film ini hanyalah khayalan belaka. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang tahu bila kiamat akan tiba”. Tulisan pada akhir film berbunyi: “Film khayalan ini dalam ceritanya menggambarkan bahwa kiamat hanya terjadi di bumi dan bukannya di seluruh alam semesta. Karena ini hanyalah sebuah fiksi”.
Dengan dua text seperti ini sudah cukup mengantarkan pesan untuk menyadarkan penonton yang kurang terdidik bahwa ini hanya sebuah film fiksi hiburan. Cukup dua text di awal dan di akhir film. Sebuah solusi sedehana yang seharusnya bisa diambil.
Tetapi lagi-lagi solusi sederhana yang jitu hanya bisa muncul kalau kita mampu mendalami inti persoalannya. Kalau tidak bisa melihat inti persoalan, ya tidak heran solusinya pun terkesan amburadul. Nah, kini cobalah metode ini kalau Anda menghadapi problem dalam bidang apapun untuk mencari inti persoalannya, termasuk siaran. Selamat mencoba! (arm)
Salah satu kelemahan kebanyakan dari kita yaitu, sering terbawa arus dalam cara memandang suatu persoalan. Sayangnya kebanyakan media kita juga sering ikut-ikutan begitu, atau malah memanfaatkannya demi kepentingan komersiel, baik langsung maupun tak langsung (misalnya supaya jumlah oplag koran/majalah meningkat, pemirsa/pendengar meningkat). Cobalah lakukan uji petik tentang masalah yang lagi “in”. Tanyakan pada orang di pinggir jalan mengenai kasus Cicak vs Buaya, apa sih inti permasalahannya? Pasti jawabannya macam-macam, mulai dari Anggodo, Polri, Kejaksaan, Tim 8, Bank Century, Presiden, KPK, DPR dst. Padahal inti persoalannya sangat simple, yaitu: Rasa Keadilan yang terusik.
Begitu juga ada kasus hari kiamat gara-gara film 2012, dimana salah satu pimpinan MUI daerah menghimbau film tersebut harus dilarang, karena tidak sesuai dengan ajaran agama. Apapun itu, yang jelas film Hollywood tersebut laris manis, calon penonton bioskop pun sampai harus antri untuk mendapatkan karcis.
Dangkal dan Instant
Sebuah perusahaan telco provider (sebut saja CULUN) yang termasuk terbesar di Indonesia, merasa bahwa dalam perebutan pasar pelanggan tahun ini, ia kalah dari pesaingnya. Maka menjelang akhir tahun ia meminta biro iklan untuk menggembar-gemborkan kepada masyarakat bahwa biaya pulsa mereka adalah yang “termurah” di Indonesia. Dalam hati saya, “kok begitu?” Tidak memerlukan tukang ramal, saya jamin dampak dari promosi tersebut tidak akan berhasil sesuai yang diharapkan. Mengapa? Karena cara berpikirnya dangkal banget. Mungkin begitulah isi otak orang yang ngeboss dan kebanyakan uang.
Si Culun yakin sekali, yang menjadi penyebab konsumen tak memilih untuk membeli jasa/produk mereka adalah karena konsumen “tidak tahu” bahwa harga mereka “paling murah”. Dengan asumsi itulah mereka berpikir, bahwa kalau saja konsumen “tahu” bahwa mereka “termurah” maka konsumen akan beli. Sehingga diaturlah kampanye promosi untuk membuat konsumen tahu.
Ini salah satu contoh cara berpikir yang tidak cukup mendalam masuk ke inti persoalan. Karena pemikirannya dangkal dalam melihat persoalan maka solusinya juga dangkal, harapannya pun hasil instant (seketika). Ia mengharapkan hanya dalam waktu 2 bulan menjelang tutup buku, dengan promosi gencar “paling murah”, maka ia akan bisa mengalahkan pesaingnya.
Dalam dunia radio & televisi hal seperti ini juga sangat sering terjadi. Agar jumlah pemirsa & pendengar naik, kita harus bikin acara heboh dong. Maka munculah acara-acara heboh kacangan dan berita/info sensasi serta banjir promosi berhadiah. Ada sebuah supermarket di dekat rumah selalu gencar berpromosi dengan hadiah dan discount 50%. Tetapi lucunya, sudah setahun seperti itu tetap saja ibu-ibu (termasuk istri saya) kalau berbelanja tidak mau kesana, melainkan ke supermarket yang sudah berada di area kami sejak lama. Walaupun tidak berhadiah!!! Kesalahannya sama: Tidak melihat inti persoalannya.
Melihat ke Inti Persoalan
Dalam mengamati suatu fenomena atau menganalisa suatu masalah, pikiran kita harus berpegang pada prinsip bahwa “tidak ada suatu persoalan yang berdiri sendiri”. Yakinkah Anda akan prinsip ini dalam kehidupan? Kalau Anda tidak yakin dengan prinsip ini, maka inilah sebetulnya yang menjadi penyebab mengapa kita sulit mencapai inti permasalahan. Mencapai inti persoalan memerlukan keterbukaan untuk menerima berbagai sisi pandang. Niat untuk berpikiran terbuka menyebabkan Anda akan mampu mengupas sebuah fenomena sedikit demi sedikit. Seperti mengupas buah yang diawali dari kulit hingga menemukan biji. Biji inilah sesungguhnya benih inti yang apabila ditanam akan bertumbuh menjadi pohon yang sempurna. Menemukan inti persoalan akan memudahkan pemberian solusi permanen yang akan berkembang menuju kesempurnaan.
Caranya
Sebenarnya caranya tidak terlalu sulit, yaitu: “Lontarkan terus pertanyaan. Jangan pernah berhenti pada satu jawaban. Baru berhenti ketika sudah tidak ada lagi yang bisa ditanyakan”. Misal, dalam kasus film 2012. Film ini menarik, tetapi persoalannya menurut pak Kyai, dapat membuat orang berpendapat bahwa kiamat akan benar-benar terjadi pada tahun 2012. Dikhawatirkan akan menggoyahkan iman dan membuat kepanikan. Maka solusinya, harus dilarang, demikian kata pak Kyai.
Sekarang mari kita coba untuk mencari apa inti persoalannya. Lontarkan pertanyaan seperti ini, “mengapa menggoyahkan iman?“ ; “Bukankah sudah banyak film fiksi ilmiah sebelum ini, dan mengapa tak ada kekhawatiran seperti itu ?“ ; “Film ini diputar juga di Malaysia dan negara lain, mengapa hanya di Indonesia terjadi seperti ini?“ dst.
Dari lontaran-lontaran pertanyaan yang banyak (jangan berhenti!) nanti akan terjawab bahwa pada intinya, film itu memiliki jalan cerita yang meyakinkan disertai teknologi yang mendukung dan diolah oleh tangan sineas yang handal. Sehingga apabila penontonnya adalah dari kalangan orang yang kurang pendidikannya atau belum matang jiwanya maka ia akan terpengaruh. Karena memang pikirannya tidak bisa membedakan antara realita dan fiksi. Ibarat seorang anak kecil yang mudah percaya ketika didongengin adanya hantu bergentayangan apabila tidur terlalu malam.
Jadi inti permasalahan sekarang terbuka bahwa, persoalannya bukan pada film 2012 yang mendongengkan terjadinya kiamat, melainkan pada siapa yang menontonnya. Memang susah menseleksi tingkat intelektualitas penonton, karena film ini diperbolehkan untuk umum. Tetapi jelas, melarang film tersebut bukanlah solusi.
Kalau saya yang jadi Badan Sensor Film, apa yang akan saya lakukan? Menurut saya, kita cukup membuat pesan singkat untuk mengedukasi penonton dalam bahasa sederhana. Misalnya, cukup memasang tulisan yang ditambahkan sebagai running titling (tulisan berjalan) sehingga menjadi bahagian dari film tersebut. Tulisan/text tersebut bisa saja dipasang di awal film dan juga di akhir film. Tulisan pada awal film tersebut berbunyi sebagai berikut: “Film ini hanyalah khayalan belaka. Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang tahu bila kiamat akan tiba”. Tulisan pada akhir film berbunyi: “Film khayalan ini dalam ceritanya menggambarkan bahwa kiamat hanya terjadi di bumi dan bukannya di seluruh alam semesta. Karena ini hanyalah sebuah fiksi”.
Dengan dua text seperti ini sudah cukup mengantarkan pesan untuk menyadarkan penonton yang kurang terdidik bahwa ini hanya sebuah film fiksi hiburan. Cukup dua text di awal dan di akhir film. Sebuah solusi sedehana yang seharusnya bisa diambil.
Tetapi lagi-lagi solusi sederhana yang jitu hanya bisa muncul kalau kita mampu mendalami inti persoalannya. Kalau tidak bisa melihat inti persoalan, ya tidak heran solusinya pun terkesan amburadul. Nah, kini cobalah metode ini kalau Anda menghadapi problem dalam bidang apapun untuk mencari inti persoalannya, termasuk siaran. Selamat mencoba! (arm)
1 komentar:
ini SANGAT SETUJU sekali om Andy...
karena seringkali para "pemimpin agama tertentu" di saat melontarkan masukan dari para pendukungnya masih kurang melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang...hanya dari SATU sisi saja..
hal ini yang menurut saya membuat para pengikutnya (yang lebih mengerti) menjadi sedikit apatis dengan penyampaiannya...
terlepas hal tersebut, saya yakin maksud mereka baik dan sangat berdasar sekali..namun hanya CARA BAGAIMANA menyampaikannya..
seiring waktu semua (termasuk saya-pun) juga akan belajar untuk menyesuaikan diri, tanpa membuat orang banyak resah atau bingung..
selayaknya juga harus belajar sebagai komunikator yang baik...selain sebagai seorang yang (HANYA) memiliki ilmu yang mendalam..
Posting Komentar