oleh Andy Rustam
Mendengar keterangan pihak POLRI dalam konperensi pers (baik yang disampaikan oleh Kapolri ataupun Kahumas Polri) ataupun penjelasan mereka dalam siaran langsung televisi dalam rapat kerja dengan DPR, sehubungan dengan kasus kriminalisasi Bibit – Chandra (pimpinan KPK non aktif), kira-kira bagaimana reaksi masyarakat? Sampai tulisan ini dibuat, tanggal 7 Nopember 2009, reaksi sebahagian besar masyarakat masih, ..sebeeeel!
Padahal tujuan membuat konperensi pers, dan juga penjelasan-penjelasan lain yang diliput media massa, sudah barang tentu, tidak untuk membuat masyarakat sebel bukan? Tetapi kok hasilnya tak sesuai seperti yang diharapkan oleh yang mengadakan konperensi pers (yang memberikan keterangan), dalam hal ini POLRI? Pada kejadian seperti Itu, bisa diartikan komunikasi gagal.
Komunikasi Tukang Obat
Seorang tukang obat masih bisa kita temui menggelar dagangannya di area pasar-pasar tradisionil. Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana cara ia menjual obatnya? Ia akan berteriak-teriak menonjol-nonjolkan kehebatan khasiat obatnya. Beberapa orang ada yang tertarik tapi lebih banyak orang yang memperhatikan pun tidak. Komunikasi seperti ini hanya akan menarik orang yang cara berpikirnya belum dewasa, ataupun orang yang tingkat pendidikannya masih kurang (misalnya anak-anak kecil).
Cara komunikasi begini mencoba meyakinkan orang bahwa dirinya baik, dengan cara mengatakan, “Saya ini orang baik”. Dia pikir dengan cara begitu maka orang akan bereaksi, “Oo iya betul, Anda orang baik”. Padahal yang terjadi malah sebaliknya. Begitu ia mengatakan bahwa saya orang baik, reaksi yang terjadi justru, “ah mosok sih?”. Reaksinya justru mengundang orang untuk ragu dan bahkan bisa memicu orang untuk menyelidiki apakah orang ini benar-benar baik atau tidak. Ini reaksi wajar. Kecuali kalau memang selama ini orang itu memiliki reputasi dan sudah dikenal sebagai orang yang baik. Tetapi kalau orang yang tidak kita kenal betul dan apalagi kalau catatan reputasinya juga tidak baik, lalu ia mengatakan, “saya orang baik”, maka sudah pasti komunikasi akan gagal alias reaksi pendengar (komunikan) justru akan berbeda dari apa yang diharapkan oleh orang tersebut (komunikator).
Dalam menjajakan dagangannya, tukang obat hanya berteriak-teriak obat saya bagus, obat saya manjur dsb. Tentu saja kalau saya yang calon pembelinya justru saya akan meragukan dan bukannya malah percaya. Kemungkinan besar saya akan bertanya apa buktinya? Maka si tukang obat pasti akan bersilat lidah atau mempersiapkan testimoni dari seseorang yang komplotannya juga.
Kesalahan Umum dalam Berkomunikasi
Umumnya orang kalau ia menginginkan sesuatu, ia langsung mengeluarkan perkataan lewat mulutnya. Lihat saja Kapolri dalam jumpa pers selalu mengatakan, “Polri melaksanakan tugasnya secara Profesional”. Tentulah maksud Kapolri mengatakan ini adalah agar pendengar kemudian meng-amini, “yaa betul polisi kita profesional”. Kenyataannya, kita pun sebagai pendengar ternyata tidak mengamini bahkan bereaksi, “Kok yang menilai profesional diri sendiri sih? Mustinya rakyat dong”. Lalu baru kemarin tanggal 5 Nopember dalam dengar pendapat dengan Komisi III DPR-RI, Kabareskrim Susno Duaji mengatakan, “Saya tidak pernah menerima uang 10 Miliar”. Tentu maksudnya supaya pendengarnya mengamini, “yaa betul pak Susno tidak pernah menerima uang 10 Miliar”. Kenyataannya, reaksi yang menonton siaran TV tersebut malah muncul sinisme. Terlepas apakah benar atau tidak pak Susno pernah menerima uang tersebut atau tidak, itu bukanlah hal yang akan saya bahas. Saya hanya mau mengatakan bahwa dari aspek berkomunikasi, kelihatan betul bahwa banyak pejabat kita tak mengetahui cara berkomunikasi yang benar. Sehingga tidak heran reaksi masyarakat selalu berbeda dari yang diharapkan.
Komunikasi yang Berhasil
Perhatikan kisah ini.
Misal: Anda seorang satpam yang ingin meminta seorang Bapak memindahkan mobilnya yang diparkir bukan pada tempatnya. Inilah yang Anda katakan: A) “Pak, mobilnya jangan parkir di sini, pindahkan ke sebelah sana” ataukah B) “Pak, ini jalan-keluar masuk angkutan barang, kemarin baru saja ada mobil yang parkir disini tersenggol truk yang keluar masuk. Makanya supaya aman buat Bapak parkirnya di sebelah sana saja Pak”. Menurut Anda, cara manakah yang akan menghasilkan reaksi yang bakalan sesuai dengan maksud si satpam (komunikator)? Tepat sekali, sudah barang tentu cara “B”.
Mengapa komunikasi ini bisa berhasil? Jelas sekali bahwa komunikasi cara “A” hanyalah menyampaikan pesan saja, dan apalagi bersifat satu arah. (Cara begini mungkin tepat bagi anak-anak). Sedangkan komunikasi cara “B”, mengajak si Bapak pengemudi tersebut untuk berpikir melalui pesan yang disampaikan, dan dengan urutan informasi yang masuk akal.
Memang itulah rahasianya. Kalau Anda ingin agar komunikasi Anda dapat lebih dipastikan untuk berhasil, maka apapun pesan yang keluar dari mulut Anda haruslah mengandung informasi yang dapat diterima oleh si pendengar dengan logis. Ingat, yang dimaksud logis adalah masuk akal sesuai dengan bagaimana si pendengar memaknai pesan tersebut dan bukannya logis menurut pandangan si komunikator.
Jadi lain kali, kalau Kapolri ingin meyakinkan masyarakat bahwa polisi telah bekerja secara profesional, maka jangan mengatakan, “Kami telah bekerja secara profesional”. Lebih baik katakan, “Kami mengundang pak Adnan Buyung dengan Tim Pencari Fakta untuk datang ke kantor kami dan mendampingi kami bekerja, melihat cara kami bekerja, sehingga bisa dinilai apakah polisi telah bekerja secara profesional atau tidak”. Cara komunikasi seperti ini pasti akan lebih berhasil membentuk respon positif dari masyarakat bahwa Polisi memang profesional.
Karena selama ini polisi sudah lebih dahulu dipersepsikan oleh masyarakat sebagai tidak profesional (dalam menangani kasus Bibit – Chandra). Sehingga sangat tidak logis kalau Kapolri mengatakan bahwa polisi sudah bekerja profesional, dimana menurut Kapolri, polisi telah bertindak berdasarkan bukti-bukti yang ada. Dari sudut pandang pikiran Kapolri, mungkin saja pesan ini sudah logis. Tetapi dari sisi pandang masyarakat hal ini tidak logis. Mengapa?
Bukankah masyarakat sudah punya persepsi terlebih dahulu bahwa polisi tidak profesional? Jadi dalam persepsi masyarakat, otomatis pimpinan polisi-nya juga tidak profesional. Lalu bagaimana mungkin masyarakat bisa mempercayai sederet perkataan yang menyatakan bahwa, “polisi telah bertindak secara profesional”, dari mulut orang yang dipersepsikan sebagai tidak profesional???
Dua orang peneliti komunikasi dari Italy, Mazzoleni & Venini, pada tahun 1997 telah menerbitkan bukunya berjudul “Communication in Social & Organizational Processes”, dimana pembahasan mengenai ke-efektif-an sebuah pesan dilakukan secara mendalam. Salah satu kasus yang ditulis pada buku tersebut antara lain kegagalan komunikasi publik dan komunikasi media massa. (arm)
Mendengar keterangan pihak POLRI dalam konperensi pers (baik yang disampaikan oleh Kapolri ataupun Kahumas Polri) ataupun penjelasan mereka dalam siaran langsung televisi dalam rapat kerja dengan DPR, sehubungan dengan kasus kriminalisasi Bibit – Chandra (pimpinan KPK non aktif), kira-kira bagaimana reaksi masyarakat? Sampai tulisan ini dibuat, tanggal 7 Nopember 2009, reaksi sebahagian besar masyarakat masih, ..sebeeeel!
Padahal tujuan membuat konperensi pers, dan juga penjelasan-penjelasan lain yang diliput media massa, sudah barang tentu, tidak untuk membuat masyarakat sebel bukan? Tetapi kok hasilnya tak sesuai seperti yang diharapkan oleh yang mengadakan konperensi pers (yang memberikan keterangan), dalam hal ini POLRI? Pada kejadian seperti Itu, bisa diartikan komunikasi gagal.
Komunikasi Tukang Obat
Seorang tukang obat masih bisa kita temui menggelar dagangannya di area pasar-pasar tradisionil. Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana cara ia menjual obatnya? Ia akan berteriak-teriak menonjol-nonjolkan kehebatan khasiat obatnya. Beberapa orang ada yang tertarik tapi lebih banyak orang yang memperhatikan pun tidak. Komunikasi seperti ini hanya akan menarik orang yang cara berpikirnya belum dewasa, ataupun orang yang tingkat pendidikannya masih kurang (misalnya anak-anak kecil).
Cara komunikasi begini mencoba meyakinkan orang bahwa dirinya baik, dengan cara mengatakan, “Saya ini orang baik”. Dia pikir dengan cara begitu maka orang akan bereaksi, “Oo iya betul, Anda orang baik”. Padahal yang terjadi malah sebaliknya. Begitu ia mengatakan bahwa saya orang baik, reaksi yang terjadi justru, “ah mosok sih?”. Reaksinya justru mengundang orang untuk ragu dan bahkan bisa memicu orang untuk menyelidiki apakah orang ini benar-benar baik atau tidak. Ini reaksi wajar. Kecuali kalau memang selama ini orang itu memiliki reputasi dan sudah dikenal sebagai orang yang baik. Tetapi kalau orang yang tidak kita kenal betul dan apalagi kalau catatan reputasinya juga tidak baik, lalu ia mengatakan, “saya orang baik”, maka sudah pasti komunikasi akan gagal alias reaksi pendengar (komunikan) justru akan berbeda dari apa yang diharapkan oleh orang tersebut (komunikator).
Dalam menjajakan dagangannya, tukang obat hanya berteriak-teriak obat saya bagus, obat saya manjur dsb. Tentu saja kalau saya yang calon pembelinya justru saya akan meragukan dan bukannya malah percaya. Kemungkinan besar saya akan bertanya apa buktinya? Maka si tukang obat pasti akan bersilat lidah atau mempersiapkan testimoni dari seseorang yang komplotannya juga.
Kesalahan Umum dalam Berkomunikasi
Umumnya orang kalau ia menginginkan sesuatu, ia langsung mengeluarkan perkataan lewat mulutnya. Lihat saja Kapolri dalam jumpa pers selalu mengatakan, “Polri melaksanakan tugasnya secara Profesional”. Tentulah maksud Kapolri mengatakan ini adalah agar pendengar kemudian meng-amini, “yaa betul polisi kita profesional”. Kenyataannya, kita pun sebagai pendengar ternyata tidak mengamini bahkan bereaksi, “Kok yang menilai profesional diri sendiri sih? Mustinya rakyat dong”. Lalu baru kemarin tanggal 5 Nopember dalam dengar pendapat dengan Komisi III DPR-RI, Kabareskrim Susno Duaji mengatakan, “Saya tidak pernah menerima uang 10 Miliar”. Tentu maksudnya supaya pendengarnya mengamini, “yaa betul pak Susno tidak pernah menerima uang 10 Miliar”. Kenyataannya, reaksi yang menonton siaran TV tersebut malah muncul sinisme. Terlepas apakah benar atau tidak pak Susno pernah menerima uang tersebut atau tidak, itu bukanlah hal yang akan saya bahas. Saya hanya mau mengatakan bahwa dari aspek berkomunikasi, kelihatan betul bahwa banyak pejabat kita tak mengetahui cara berkomunikasi yang benar. Sehingga tidak heran reaksi masyarakat selalu berbeda dari yang diharapkan.
Komunikasi yang Berhasil
Perhatikan kisah ini.
Misal: Anda seorang satpam yang ingin meminta seorang Bapak memindahkan mobilnya yang diparkir bukan pada tempatnya. Inilah yang Anda katakan: A) “Pak, mobilnya jangan parkir di sini, pindahkan ke sebelah sana” ataukah B) “Pak, ini jalan-keluar masuk angkutan barang, kemarin baru saja ada mobil yang parkir disini tersenggol truk yang keluar masuk. Makanya supaya aman buat Bapak parkirnya di sebelah sana saja Pak”. Menurut Anda, cara manakah yang akan menghasilkan reaksi yang bakalan sesuai dengan maksud si satpam (komunikator)? Tepat sekali, sudah barang tentu cara “B”.
Mengapa komunikasi ini bisa berhasil? Jelas sekali bahwa komunikasi cara “A” hanyalah menyampaikan pesan saja, dan apalagi bersifat satu arah. (Cara begini mungkin tepat bagi anak-anak). Sedangkan komunikasi cara “B”, mengajak si Bapak pengemudi tersebut untuk berpikir melalui pesan yang disampaikan, dan dengan urutan informasi yang masuk akal.
Memang itulah rahasianya. Kalau Anda ingin agar komunikasi Anda dapat lebih dipastikan untuk berhasil, maka apapun pesan yang keluar dari mulut Anda haruslah mengandung informasi yang dapat diterima oleh si pendengar dengan logis. Ingat, yang dimaksud logis adalah masuk akal sesuai dengan bagaimana si pendengar memaknai pesan tersebut dan bukannya logis menurut pandangan si komunikator.
Jadi lain kali, kalau Kapolri ingin meyakinkan masyarakat bahwa polisi telah bekerja secara profesional, maka jangan mengatakan, “Kami telah bekerja secara profesional”. Lebih baik katakan, “Kami mengundang pak Adnan Buyung dengan Tim Pencari Fakta untuk datang ke kantor kami dan mendampingi kami bekerja, melihat cara kami bekerja, sehingga bisa dinilai apakah polisi telah bekerja secara profesional atau tidak”. Cara komunikasi seperti ini pasti akan lebih berhasil membentuk respon positif dari masyarakat bahwa Polisi memang profesional.
Karena selama ini polisi sudah lebih dahulu dipersepsikan oleh masyarakat sebagai tidak profesional (dalam menangani kasus Bibit – Chandra). Sehingga sangat tidak logis kalau Kapolri mengatakan bahwa polisi sudah bekerja profesional, dimana menurut Kapolri, polisi telah bertindak berdasarkan bukti-bukti yang ada. Dari sudut pandang pikiran Kapolri, mungkin saja pesan ini sudah logis. Tetapi dari sisi pandang masyarakat hal ini tidak logis. Mengapa?
Bukankah masyarakat sudah punya persepsi terlebih dahulu bahwa polisi tidak profesional? Jadi dalam persepsi masyarakat, otomatis pimpinan polisi-nya juga tidak profesional. Lalu bagaimana mungkin masyarakat bisa mempercayai sederet perkataan yang menyatakan bahwa, “polisi telah bertindak secara profesional”, dari mulut orang yang dipersepsikan sebagai tidak profesional???
Dua orang peneliti komunikasi dari Italy, Mazzoleni & Venini, pada tahun 1997 telah menerbitkan bukunya berjudul “Communication in Social & Organizational Processes”, dimana pembahasan mengenai ke-efektif-an sebuah pesan dilakukan secara mendalam. Salah satu kasus yang ditulis pada buku tersebut antara lain kegagalan komunikasi publik dan komunikasi media massa. (arm)
2 komentar:
Pak, thanks buat artikel nya ... as always inspiring and spot on
Yang ingin saya tanyakan bila komunikasi antar dua orang/ pihak itu "breakdown" apakah karena dalam proses komunikasi tersebut elemen "personal" atau "emosional" terlalu besar sehingga pesan atau kata-kata yang keluar cenderung subyektif
Terima kasih
Hallo ...... ,
Terus terang saya gembira kalau ada yang mau repot-repot menulis komentar di blog ini. Terima kasih. Mudah-mudahan jawaban pertanyaan berikut ini bisa memuaskan anda.
Perlu diingat bahwa memang dalam proses komunikasi itu selalu melibatkan juga sisi emosional (baik pada komunikator maupun komunikannya) , dimana pintu keluar-masuk pesan memang memerlukan proses rasional. Itu sebabnya pemilihan kata, cara penyampaian dan waktu/timing punya pengaruh yang besar.
Komunikasi adalah salah satu alat untuk "pengembangan hubungan", tetapi juga bisa menjadi alat untuk "perusakan hubungan". Masalahnya sekarang tinggal, alat tersebut mau dipakai kemana? Yang penting jangan sampai terjadi bahwa maksudnya komunikasi tersebut akan digunakan untuk mengembangkan hubungan, namun tak sengaja menjadi salah, malah mengarah ke perusakan hubungan. Walau demikian, sebuah hubungan selalu memerlukan setidak-tidaknya dua pihak. Oleh karena itu harus dipastikan terlebih dahulu, apakah kedua belah pihak ingin terus mengembangkan hubungan atau ingin menuju perusakan hubungan? Sebab kalau keinginan itu hanya datang dari satu pihak saja, maka communication breakdown yang anda katakan itu pasti akan terus terjadi. Dalam buku: Intimate Relations (Murray Davis - 1973), dikatakan bahwa perusakan hubungan ada dua macam: perusakan tiba-tiba (sudden death) dan perusakan berangsur (passing away). Dari pertanyaan anda, saya menduga bahwa arah komunikasi-nya cenderung kepada passing away. Sekarang tinggal dicari sebab-sebabnya, mengapa komunikasi tersebut mengarah kesitu. Mungkin saja salah satu pihak sudah pernah tersinggung, atau pernah tersakiti perasaannya dlsb. Akibatnya, komunikasi yang keluar pasti tidak enak. Sebenarnya komunikasi tidak enak tersebut (padahal dulunya enak) merupakan indikasi adanya "sesuatu yang mungkin terpendam dalam hati", yang sulit diucapkan melalui kalimat-kalimat. Padahal melalui pesan komunikasi yang telah dipikirkan sebelumnya, seharusnya arah dapat dirubah menuju kepada pengembangan hubungan.
Tetapi seperti yang sudah saya uraikan diatas, jangan sampai maksudnya masih ingin mengembangkan hubungan tetapi komunikasi yang keluar justru ke arah perusakan hubungan.
Jadi ringkasnya, kalau masalah (dibalik problem komunikasi) ini belum terselesaikan, maka proses komunikasi akan terus mengarah ke passing away. Bahkan suatu saat nanti komunikasi itu bisa saja akan terputus sama sekali alias hubungan diantara para pihakpun akan terputus (lihat buku: Dissolving Personal Relationship, S.Duck - 1982).
Demikian jawaban saya, mudah-mudahan cukup mampu menjelaskan.
Salam,
Andy RM
Posting Komentar