14 November 2009

Pola Pikir: Menyusun Rencana Kerja & Anggaran

oleh Andy Rustam

Akhir tahun biasanya kesibukan meningkat dengan pekerjaan tambahan yaitu membuat rencana kerja dan anggaran. Biasanya pemilik perusahaan ingin melihat angka-angka keuangan yang lebih baik pada tahun depan. Ia menginginkan angka penjualan yang meningkat cukup tinggi. Ia juga ingin keuntungan perusahaan juga meningkat. Maka kemudian dimintalah anak-buahnya untuk membuat rencana kerja, apa saja yang harus dilakukan agar keinginan si boss bisa terwujud.

Tidak ada yang aneh dengan ritual rutin tahunan seperti ini. Biasanya diawali dengan mengevaluasi kinerja pada tahun ini (tahun sebelumnya). Dicarilah jawaban, mengapa target penjualan tak tercapai dan mengapa biayanya malah meningkat bahkan over-budget. Setelah analisa dan asumsi dibuat maka dibuatlah rencana kerja, target penjualan, anggaran biaya, dsb. Itu normalnya.

Usaha/Bisnis Menurut Alam-nya

Kalau Anda mau melakukan usaha di bidang apapun, pastilah caranya diawali dengan melihat peluang pasar, setelah itu barulah Anda membuat atau mengadakan produknya untuk mengisi peluang itu. Begitu bukan? Saya yakin kalau bukan karena Anda melihat adanya peluang, pastilah Anda tidak akan terjun ke bisnis tersebut. Untuk itu Anda perlu uang untuk modal awal. Lalu setelah produk terjual dengan margin keuntungan, kemudian tagihan Anda dibayar oleh pembeli, uang pun masuk, maka Anda sudah boleh membukukan keuntungan.

Artinya, diawali dengan uang yang sedikit, kemudian Anda bekerja membuat atau menghasilkan suatu produk/jasa, hasilnya uang Anda bertambah.

Radio & TV juga begitu, dengan menjual jasa periklanan, hasilnya uang masuk dengan margin keuntungan. Uang adalah hasil akhir dari sebuah kerja. Begitulah normalnya. Tetapi dijaman sekarang, cara berbisnis sudah tidak normal lagi. Jaman sekarang uang bukanlah hasil akhir dari sebuah kerja, melainkan justru menjadi penentu dari kerja. Sistim begini kemudian terbukti salah. Krisis mata uang terbesar sepanjang sejarah yang sampai sekarang masih berdampak, dapat terjadi karena sudah sejak dekade 80-an cara salah ini dipraktekkan terus dalam dunia bisnis di negara-negara pusat-pusat bursa uang di seluruh dunia dan juga di negara kita.

Penyusunan Rencana Kerja & Anggaran ala Sekarang

Supaya Anda tahu, maka akan saya uraikan cara salah yang sudah jadi kelaziman di jaman sekarang, yaitu: Langkah Pertama, diawali dengan membuat proyeksi keuangan terlebih dahulu. Orang-orang keuangan, bersama si pemilik perusahaan, mengambil asumsi-asumsinya sendiri (inflasi, situasi ekonomi makro, suku bunga, rasio-rasio, dsb.), kemudian menambahkan angka-angka pada proyeksi keuangan untuk tahun berikutnya sedemikian rupa, agar gambaran keuangan perusahaan yang mereka buat terlihat bagus. Maksudnya adalah agar menarik di mata investor, sehingga Nilai Perusahaan akan dihargai tinggi. Bagi pemilik perusahaan, seandainya dia nanti ingin menjaminkan/menggadaikan atau menjual perusahaannya, uang tunai yang akan diperolehnya pun besar.

Langkah Kedua, dimintanya para Direksi/Manajer Operasional dan Pemasaran agar membuat rencana-rencana kerja yang mendukung pencapaian angka-angka keuangan yang telah dibuat tsb. Rencana kerja opersional dan pemasaran tersebut juga harus dibuat dengan “terdengar” sangat masuk akal. Tetapi sesungguhnya tidak demikian.

Oleh orang yang sudah sangat berpengalaman, rencana kerja yang “dipaksakan” model begini akan dapat terlihat faktor-faktor yang tak diperhitungkan. Sehingga sebenarnya rencana kerja tersebut sudah sejak dalam cara membuatnya, dapat diduga tidak akan berhasil. Biasanya faktor-faktor yang tak diperhitungkan itu memang faktor-faktor yang “sulit terukur”.

Sebagai contoh: Ketika akan mendirikan sebuah self supporting tower (menara antena) sebuah stasiun televisi, dengan ketinggian lebih dari 200 meter, diproyeksikan bahwa menara tersebut dapat selesai dalam waktu tertentu sesuai yang direncanakan (katakanlah misalnya, 1 bulan). Rencana ini sudah disetujui oleh pemilik perusahaan dan tidak boleh lebih lama mengingat grace period (tenggang waktu) dana pinjaman yang diberikan Bank. Pemilik mendesak bahwa dalam rencana harus dibuat seperti itu, karena kalau tidak dia merasa rugi karena selewat 1 bulan maka Bank akan mulai membebani pinjamannya dengan bunga. Dari sisi si Bank pun terdengar logis. Masalahnya, bagaimana kalau dalam pelaksanaan nanti ada hal-hal yang tak terduga terjadi ? Si pemilik dan para manajer (yang terpaksa meng-iya-kan si boss) berkata bahwa ketika pelaksanaan, sudah dicadangkan waktu bahwa pekerjaan dapat dilakukan secara 3 shift (kerja siang malam 24 jam). Begitulah. Kelihatannya sangat logis bukan?

Kenyataannya sungguh berbeda. Pekerjaan Proyek itu berlangsung di bulan Januari. Tak disangka-sangka daerah yang biasanya tak pernah banjir tersebut, sekali ini tergenang banjir besar, dan baru surut setelah 10 hari kemudian. Proyek terpaksa tertunda, dan tak dapat dikejar dengan bekerja 3 shift (24 jam), karena secara alami kondisi tanah menjadi gembur. Pondasi beton harus dibuat lebih dalam, dan beton membutuhkan waktu setidak-tidaknya 14 hari agar kering dan betul-betul kuat. Nah, diakibatkan oleh ulahnya sendiri, si pemilik pun jadi harus keluar uang lebih banyak lagi akibat keterlambatan proyek.

Kembalikan Kepada Cara Natural

Inti dari kisah yang benar-benar pernah terjadi ini, bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa dalam membuat rencana kerja & anggaran tahunan, sebaiknya jangan diawali dengan membuat proyeksi-proyeksi keuangan terlebih dahulu. Kalau ini yang terjadi maka dalam operasionalnya pasti tidak akan realistis, semua akan menjadi dipaksakan demi uang sebagai tujuan.

Mulailah dengan cara natural dalam berpikir membuat perencanaan. Yaitu, harus diawali dengan mempelajari “Bagaimana Situasi & Peluang Pasar”-nya. Lalu dipikirkan bagaimana langkah-langkah yang diperlukan untuk merebut peluang pasar tersebut. Baru kemudian dihitung berapa besar biaya yang harus keluar dan berapa besar peningkatan pendapatan apabila pasar ini bisa direbut nantinya. Kemudian dilihat lagi, dimana ada hal-hal yang tidak efisien.

Secara alami, angka-angka keuangan selalu merupakan catatan hasil setelah pekerjaan produksi dan pemasaran dilakukan, dan bukan merupakan tiang patok yang menentukan operasional. Ibarat kompas, angka-angka keuangan merupakan alat monitor dan indikator keberhasilan/kegagalan operasional, tetapi bukannya menjadi penentu. Tujuan perusahaan harus di tetapkan dengan mengacu pada Peluang Pasar dan bukan pada berapa angka keuangan yang harus dicapai. Yang bilang ini bukan saya, melainkan tidak kurang dari Guru Besar Harvard Business School – Professor Philip Kotler dalam buku-buku ilmiah dan kuliah-kuliahnya.

Hanya perusahaan dengan pola pikir seperti inilah yang mampu bertahan dan berkembang berpuluh tahun dengan “steady”. Sebaliknya perusahaan-perusahaan yang membalik proses rencana kerja ini paling-paling akan sukses dalam waktu singkat untuk kemudian terpuruk. Ini banyak terjadi dengan perusahaan di Indonesia. Mungkin karena orang Indonesia memang tak pernah mau berpikir untuk jangka panjang. Barangkali! (arm)

Tidak ada komentar: