31 Januari 2010

Benci tapi Rindu Siaran Berita Televisi

oleh Andy Rustam

Saya kutip sebentar isi Harian Kompas edisi 24 Januari 2010, yang mengatakan bahwa jenis acara televisi yang paling sering ditonton sampai dengan bulan November 2009 adalah acara “berita” (49%) , baru setelah itu disusul oleh “sinetron” (20,4%) di tempat kedua. Hal ini tidak terlalu mengherankan, karena memang banyak “peristiwa seru” yang terjadi sejak pertengahan tahun lalu sampai awal tahun ini, antara lain: Gempa Bumi Jawa-Barat/Padang, Bom Marriot, Memburu Teroris, Kasus Antasari, Kasus Cicak vs Buaya, dan yang masih berlangsung Bank Century.

Sementara di sisi lain, yang paling dikritik orang adalah para presenter, mungkin termasuk reporter, yang dianggap sering memojokkan narasumber ataupun mengadu-domba narasumber. Angkanya mencapai lebih dari 50%.

Fenomena Benci Tapi Rindu

Melihat angka-angka tersebut diatas, saya jadi teringat lagu jadul ciptaan Rinto Harahap yang dipopulerkan oleh Diana Nasution berjudul Benci tapi Rindu. Sebab jelas sekali terbukti bahwa acara berita tetap menjadi yang paling sering ditonton walaupun sambil menonton mungkin para pemirsa terus saja memaki atau mencerca si presenter dan atau reporter-nya.

Biasanya saya dirumah kalau menonton berita di televisi malam hari, bersama-sama istri dan kadang-kadang ada anak dan menantu saya. Lalu saya perhatikan, setelah beberapa menit, pasti ada saja celaan buat si pembawa berita ataupun reporter. Dalam dua minggu terakhir bulan ini saja, yang saya catat di handphone saya sebagai berikut:
1. Pakaian Presenter yang tidak cocok dengan situasi.
2. Reporter yang melontarkan pertanyaan bodoh, yang sebenarnya tak memerlukan jawaban karena sudah pasti. Misal, kepada seorang ibu yang anaknya diculik, si reporter bertanya, “Apakah ibu menginginkan anaknya kembali?”. Ya iyalaah.. sudah jelaaaas dong...guoobellloooggg!
3. Narasumber belum selesai, dan pemirsa pun sedang menunggu tuntasnya penjelasan... eh si presenter memotong pembicaraan sehingga pemirsa pun bingung karena si narasumber terpaksa berhenti dan menanggapi pertanyaan si presenter.
4. Presenter ngomongnya sangat terlihat tergesa-gesa (karena dikejar-kejar waktu), sehingga sama sekali tidak relax dan menghibur. Padahal acaranya sebuah talk show ringan di hari Minggu.
5. Reporter tidak bertanya, melainkan membuat statement lalu meminta comment. Suatu cara menggali berita amatiran (karena dengan demikian si reporter tidak perlu paham terlebih dahulu persoalannya).

Yang saya heran, apakah boss-boss mereka tak pernah menegur, memberitahukan, dan mengajarkan kepada mereka, bahwa yang seperti begitu itu jeleeek.., tau’? Jangan malah merasa hebat, tau’? Kalaupun sudah, mengapa hal seperti masih saja terus berulang kembali? Terus terang saya tidak pernah tahu jawabannya. Yang jelas sih, saya masih “terpaksa” menonton siaran pemberitaan dari televisi kita, supaya saya tetap updated pada situasi negri ini. Kalau acara-acara sinetron sih sudah lama saya tinggalkan. Lebih baik menonton film/acara siaran dari televisi asing.

Penyajian selain Isi

Kalau kita berkunjung ke restoran jepang, maka kita lihat bagaimana artistiknya orang jepang menyajikan makanannya. Makanan bukan hanya enak rasanya sesuai selera (yang makan dong), bagus bentuk penataannya, dan juga baik gizinya serta diantarkan dengan wajah yang ramah, sopan, dan respek terhadap konsumennya.

Seharusnya ini juga yang menjadi patokan untuk siaran pemberitaan di televisi kita. Memang betul, Isi termasuk Kesegeraan dari berita adalah yang utama dan ini harus sesuai kepentingan pemirsa pada saat itu. Itulah sebab utama orang menonton siaran berita televisi. Tetapi supaya yang menonton atau yang mengikuti siaran berita merasa betah/comfortable maka bentuk penataan juga penting. Sebab kalau tidak demikian, maka kalau saja ada televisi lain yang dari sisi Isi & Kesegeraan sama persis dengan siaran kita, namun dia juga mampu membuat pemirsa comfortable dan betah menontonnya, maka anjloklah jumlah penonton siaran berita kita. Tentu hal ini bukanlah yang kita inginkan, bukan?

Mengikuti rumus makanan jepang selanjutnya, gizi. Artinya kalau menonton siaran berita di televisi kita, pemirsa harus mendapat value added bagi dirinya. Yang terakhir tentu saja gaya bicara yang sopan, ramah, dan menghargai dari para presenter dan reporter menjadi hal yang juga penting.

Makanya, mumpung orang-orang pemberitaan dari stasiun televisi lain belum menyadari hal ini, cepat-cepatlah berbenah diri. Buatlah pemirsa televisi merasa juga comfortable, dan bukan hanya seperti sekarang ini sekedar supaya pemirsa “tahu secepat mungkin” sebuah berita.

Caranya?

Coba putar dan tonton kembali rekaman siaran berita dimana Anda-lah presenter/reporter-nya. Sediakan waktu untuk benar-benar menonton rekaman tersebut. Tempatkan diri Anda sebagai pemirsa di rumah. Undang pula teman/rekan/orang-orang yang dapat secara tulus mengkritik, lalu ajak untuk secara serius menonton rekaman siaran Anda. Catat dan tulis semua kritik dan komentar yang terdengar. Kemudian, pada waktu senggang latih dan lakukan upaya perbaikan.

Pada siaran berikutnya, tonton lagi hasil rekamannya. Begitu seterusnya, dan lakukan ini secara berkala. Lama-kelamaan pastilah kekurangan-kekurangan tersebut akan teratasi.

Tetapi kalau Anda tak pernah melakukan evaluasi diri seperti itu, tak pernah ada upaya perbaikan, ya tidak heran kalau kesalahan akan terus berulang. Lalu lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan dan Anda akan menganggapnya bahwa yang seperti itulah yang benar. Sehingga kalau ada yang memberitahu kekurangan Anda, malah anggapan Anda bahwa orang tersebut yang bodoh.

Begitulah awalnya spiral negatif terhadap industri penyiaran di Indonesia, yang kalau dibiarkan akan membawa industri ini semakin terpuruk. Justru kita sebagai broadcaster yang betul-betul ingin dunia broadcasting di Indonesia maju, harus melakukan langkah-langkah yang dapat membalikkan spiral negatif ini menjadi spiral positif. Dimulai dengan diri kita sendiri dulu. Lakukan evaluasi dan self correction secara berkala. Tidak perlu menunggu disuruh sama boss. Toch kalau kita bagus, kita juga yang memiliki kelebihan tersebut. Beruntung, bukan? Ibarat sekolah dibayarin kantor. (arm)

Tidak ada komentar: