oleh Andy Rustam
Kalau kita memperingati hari Kartini, maka kita selalu mengingatnya sebagai “Ibu” Kartini. Kesannya yang terbayang sesuai foto lukisannya, ia adalah seorang ibu-ibu atau wanita yang telah berumur, yang memperjuangkan kemajuan dan kebebasan bagi wanita dari keterkungkungan dan keterbelakangan. Salah besar! R.A Kartini telah memulai bibit perjuangannya, berupa kepekaan perasaannya, sejak ketika ia masih gadis yang sangat belia, baru berumur 12!!!
Pada zaman itu, akhir abad 19, tradisi di keluarga bangsawan jawa, kalau seorang gadis telah mengalami menstruasi, maka ia tidak lagi diperkenankan untuk bersekolah. Ia harus tinggal di rumah, dipingit dan menanti jodoh yang akan dicarikan oleh orang-tuanya.
Hebatnya, baru umur segitu, Kartini sudah sangat fasih berbahasa Belanda. Ia banyak membaca buku-buku Bahasa Belanda. Makanya ia juga sering curhat berkirim-surat dengan teman-temannya di negeri Belanda. Surat-suratnya inilah yang berisi buah pikirannya tentang perjuangan bagi kaum wanita Jawa agar sama seperti wanita Eropa, untuk mencapai kebebasan, persamaan hukum dengan pria dalam memilih jalan hidupnya, dalam meraih pendidikan, kesempatan karier dan masa depan. Nah, bayangkan saja, seorang gadis remaja Jawa, berusia belasan tahun, hidup di abad 19 tetapi dengan buah pemikiran yang jauh ke depan serta melakukan action yang “pas” untuk mewujudkan pemikirannya itu.
Zaman Sekarang
Sekarang ini, bagi kita sudah tidak asing lagi melihat wanita Indonesia telah mengambil oper profesi-profesi yang dulu dimonopoli oleh kaum pria, menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi, pilot, supir bis, supir taksi, tukang ojek, dsb. Bahkan di Amerika Serikat, yang katanya negeri terdepan dalam perjuangan persamaan hak pun, belum pernah dalam sejarahnya selama lebih dari 230 tahun sejak kemerdekaan, memiliki Presiden seorang wanita. Kita, Indonesia pernah memiliki Presiden seorang wanita, Ibu Megawati, hanya dalam waktu 56 tahun setelah proklamasi!
Tentu saja, masih banyak pula yang masih harus diperjuangkan oleh kaum wanita di Indonesia, akibat masih kuatnya adat istiadat, kebiasaan, penafsiran ajaran agama yang kolot serta penuh kebodohan. Sayangnya lagi, pandangan yang membedakan wanita dan pria , bukan hanya di kalangan orang tua saja tetapi juga terjadi di kalangan muda. Kesewenang-wenangan dan pelecehan terhadap kaum wanita banyak dilakukan oleh kaum pria yang relatif masih berusia muda dan juga cukup berpendidikan, baik dalam hubungan kekeluargaan maupun pertemanan.
Jadi sudah selayaknya kaum wanita, bahkan sejak usia muda, sejak masih berusia belasan tahun, terus melanjutkan perjuangan Kartini, sama seperti Kartini yang telah memulainya sejak usia belia.
Langkah Pas Seorang Gadis Remaja Kartini
Pertama, Kartini mempunyai “kepekaan”. Ia mampu melihat dengan hati dan pikirannya, apa yang “tidak benar”. Lalu ia berpikir, untuk memantapkan hati, “apa yang bisa saya lakukan”. Setelah itu, ia berani mengutarakan pemikirannya kepada orang-orang di lingkungannya sendiri maupun teman-temannya di Eropa.
Dalam mengungkapkan pemikirannya, Kartini tidak meluapkan “emosi”. Tulisannya selalu menghindari bahasa yang kasar dan yang menghinakan kaum lain. Ia mengemukakan pemikirannya dengan cara yang santun dan cerdas, sehingga tulisan itu mampu mempengaruhi banyak orang, sampai melewati zamannya.
Ia dinikahkan pada usia 22 tahun (atau 23 tahun?) oleh orang-tuanya kepada seorang pejabat yang telah mempunyai dua orang istri. Tentu saja dalam hatinya ia tidak suka. Walaupun ia tidak suka, tetapi lagi-lagi Kartini tidak mengikuti emosi. Ia tetap fokus kepada cita-cita yang ia perjuangkan. Ia justru melihat celah. Ia sadar bahwa suaminya yang pejabat ini, pasti punya pengaruh dan kekayaan yang bisa ia manfaatkan untuk mencapai cita-citanya.
Pada tahun pertama pernikahan, dengan dukungan si pejabat yang kini jadi suaminya, ia mendirikan sekolah khusus bagi wanita. Sebuah terobosan besar di zamannya. Kartini secara akurat berhasil merumuskan bahwa Persamaan Hukum antara Wanita dan Pria hanya bisa dicapai apabila, wanita memiliki ilmu dan pendidikan yang sama baiknya seperti Pria. Tuhan pun ternyata sayang sekali dengan Kartini dan memanggilnya pulang pada usia muda.
Kartini meninggal dunia ketika baru melahirkan anak pertama, dalam usia 24 tahun. Kartini benar-benar pejuang dan pahlawan remaja, sejak usia 12 tahun sampai dengan wafatnya di usia 24 tahun! Ibu Kartini bukan ibu-ibu, tapi gadis remaja.
Acara Kartini di TV & Radio
Lihat saja di sekeliling kita, sekarang ini gadis remaja berusia di bawah 24 tahun, banyak beredar di mall dan pusat keramaian. Coba kita ingin tahu, bagaimana sih isi otak mereka? Apakah mereka mempunyai pikiran yang lebih jauh daripada sekedar blackberry, twitter dan facebook?
Kalau saja saya masih di broadcasting, pastilah dalam rangka hari Kartini, saya akan membuatkan acara “Kontes Kartini”, yang diperuntukkan bagi gadis remaja, maksimum berusia 24 tahun. Lalu akan saya kaitkan dengan indikator tertentu, “kepekaan” mereka kepada masalah-masalah yang masih dan sedang dialami kaum wanita.
Setelah itu kita akan lihat bagaimana mereka bisa mengemukakan pendapatnya secara rasionil (bukan emosionil) dan mengajukan secara santun usulan solusi sedehana yang bisa dilakukan oleh semua wanita di Indonesia. Akan lebih baik lagi, kalau dia sendiri (si peserta) bisa memberikan contoh.
Memang semua inilah langkah yang dilakukan oleh Kartini di zamannya, yang seharusnya dilanjutkan oleh kita semua, kaum wanita di zaman sekarang. (“terima kasih Tya utk inspirasinya”) (arm)
Kalau kita memperingati hari Kartini, maka kita selalu mengingatnya sebagai “Ibu” Kartini. Kesannya yang terbayang sesuai foto lukisannya, ia adalah seorang ibu-ibu atau wanita yang telah berumur, yang memperjuangkan kemajuan dan kebebasan bagi wanita dari keterkungkungan dan keterbelakangan. Salah besar! R.A Kartini telah memulai bibit perjuangannya, berupa kepekaan perasaannya, sejak ketika ia masih gadis yang sangat belia, baru berumur 12!!!
Pada zaman itu, akhir abad 19, tradisi di keluarga bangsawan jawa, kalau seorang gadis telah mengalami menstruasi, maka ia tidak lagi diperkenankan untuk bersekolah. Ia harus tinggal di rumah, dipingit dan menanti jodoh yang akan dicarikan oleh orang-tuanya.
Hebatnya, baru umur segitu, Kartini sudah sangat fasih berbahasa Belanda. Ia banyak membaca buku-buku Bahasa Belanda. Makanya ia juga sering curhat berkirim-surat dengan teman-temannya di negeri Belanda. Surat-suratnya inilah yang berisi buah pikirannya tentang perjuangan bagi kaum wanita Jawa agar sama seperti wanita Eropa, untuk mencapai kebebasan, persamaan hukum dengan pria dalam memilih jalan hidupnya, dalam meraih pendidikan, kesempatan karier dan masa depan. Nah, bayangkan saja, seorang gadis remaja Jawa, berusia belasan tahun, hidup di abad 19 tetapi dengan buah pemikiran yang jauh ke depan serta melakukan action yang “pas” untuk mewujudkan pemikirannya itu.
Zaman Sekarang
Sekarang ini, bagi kita sudah tidak asing lagi melihat wanita Indonesia telah mengambil oper profesi-profesi yang dulu dimonopoli oleh kaum pria, menjadi dokter, insinyur, tentara, polisi, pilot, supir bis, supir taksi, tukang ojek, dsb. Bahkan di Amerika Serikat, yang katanya negeri terdepan dalam perjuangan persamaan hak pun, belum pernah dalam sejarahnya selama lebih dari 230 tahun sejak kemerdekaan, memiliki Presiden seorang wanita. Kita, Indonesia pernah memiliki Presiden seorang wanita, Ibu Megawati, hanya dalam waktu 56 tahun setelah proklamasi!
Tentu saja, masih banyak pula yang masih harus diperjuangkan oleh kaum wanita di Indonesia, akibat masih kuatnya adat istiadat, kebiasaan, penafsiran ajaran agama yang kolot serta penuh kebodohan. Sayangnya lagi, pandangan yang membedakan wanita dan pria , bukan hanya di kalangan orang tua saja tetapi juga terjadi di kalangan muda. Kesewenang-wenangan dan pelecehan terhadap kaum wanita banyak dilakukan oleh kaum pria yang relatif masih berusia muda dan juga cukup berpendidikan, baik dalam hubungan kekeluargaan maupun pertemanan.
Jadi sudah selayaknya kaum wanita, bahkan sejak usia muda, sejak masih berusia belasan tahun, terus melanjutkan perjuangan Kartini, sama seperti Kartini yang telah memulainya sejak usia belia.
Langkah Pas Seorang Gadis Remaja Kartini
Pertama, Kartini mempunyai “kepekaan”. Ia mampu melihat dengan hati dan pikirannya, apa yang “tidak benar”. Lalu ia berpikir, untuk memantapkan hati, “apa yang bisa saya lakukan”. Setelah itu, ia berani mengutarakan pemikirannya kepada orang-orang di lingkungannya sendiri maupun teman-temannya di Eropa.
Dalam mengungkapkan pemikirannya, Kartini tidak meluapkan “emosi”. Tulisannya selalu menghindari bahasa yang kasar dan yang menghinakan kaum lain. Ia mengemukakan pemikirannya dengan cara yang santun dan cerdas, sehingga tulisan itu mampu mempengaruhi banyak orang, sampai melewati zamannya.
Ia dinikahkan pada usia 22 tahun (atau 23 tahun?) oleh orang-tuanya kepada seorang pejabat yang telah mempunyai dua orang istri. Tentu saja dalam hatinya ia tidak suka. Walaupun ia tidak suka, tetapi lagi-lagi Kartini tidak mengikuti emosi. Ia tetap fokus kepada cita-cita yang ia perjuangkan. Ia justru melihat celah. Ia sadar bahwa suaminya yang pejabat ini, pasti punya pengaruh dan kekayaan yang bisa ia manfaatkan untuk mencapai cita-citanya.
Pada tahun pertama pernikahan, dengan dukungan si pejabat yang kini jadi suaminya, ia mendirikan sekolah khusus bagi wanita. Sebuah terobosan besar di zamannya. Kartini secara akurat berhasil merumuskan bahwa Persamaan Hukum antara Wanita dan Pria hanya bisa dicapai apabila, wanita memiliki ilmu dan pendidikan yang sama baiknya seperti Pria. Tuhan pun ternyata sayang sekali dengan Kartini dan memanggilnya pulang pada usia muda.
Kartini meninggal dunia ketika baru melahirkan anak pertama, dalam usia 24 tahun. Kartini benar-benar pejuang dan pahlawan remaja, sejak usia 12 tahun sampai dengan wafatnya di usia 24 tahun! Ibu Kartini bukan ibu-ibu, tapi gadis remaja.
Acara Kartini di TV & Radio
Lihat saja di sekeliling kita, sekarang ini gadis remaja berusia di bawah 24 tahun, banyak beredar di mall dan pusat keramaian. Coba kita ingin tahu, bagaimana sih isi otak mereka? Apakah mereka mempunyai pikiran yang lebih jauh daripada sekedar blackberry, twitter dan facebook?
Kalau saja saya masih di broadcasting, pastilah dalam rangka hari Kartini, saya akan membuatkan acara “Kontes Kartini”, yang diperuntukkan bagi gadis remaja, maksimum berusia 24 tahun. Lalu akan saya kaitkan dengan indikator tertentu, “kepekaan” mereka kepada masalah-masalah yang masih dan sedang dialami kaum wanita.
Setelah itu kita akan lihat bagaimana mereka bisa mengemukakan pendapatnya secara rasionil (bukan emosionil) dan mengajukan secara santun usulan solusi sedehana yang bisa dilakukan oleh semua wanita di Indonesia. Akan lebih baik lagi, kalau dia sendiri (si peserta) bisa memberikan contoh.
Memang semua inilah langkah yang dilakukan oleh Kartini di zamannya, yang seharusnya dilanjutkan oleh kita semua, kaum wanita di zaman sekarang. (“terima kasih Tya utk inspirasinya”) (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar