12 April 2010

Sosok Utuh Sebuah Radio

oleh Andy Rustam

Persepsi & Analogi

Ketika sekelompok orang berdemo di depan istana dengan membawa seekor kerbau, maka tentu saja maksud para pendemo itu ingin “menggambarkan/membangun bayangan sosok” sesuatu melalui analogi kerbau itu. Lalu ternyata masyarakat juga memiliki peng-arti-an yang sama atas analogi kerbau, sehingga “gambar/sosok yang tercipta dalam pikiran juga sama dengan yang dimaksudkan pen-demo. Masyarakat mengartikan bahwa kerbau itu binatang yang badannya besar, gemuk dan gerakannya lamban. Padahal bisa saja peng-arti-an tentang kerbau berbeda. Misalnya, kerbau itu binatang yang selalu bekerja keras dan tahan segala cuaca. Tetapi ketika akhirnya SBY mengkritik pendemo sebagai tak memiliki perikebinatangan, maka lengkaplah sudah keberhasilan “gambaran” yang diciptakan pendemo melalui kerbau, di benak masyarakat. Sejak peristiwa itu, maka kokoh sudah “sosok” seorang SBY di benak masyarakat. Saya ingin memakai contoh ini untuk contoh membangun sosok stasiun radio Anda.

Taruhlah, misal Anda ingin membangun sosok stasiun radio Anda sebagai stasiun bagi segmen orang-orang tertentu. Misalnya saja, stasiun radionya orang-orang eksekutif bisnis.

Musik

Anda mengatakan/membuat statement bahwa Radio Anda diperuntukkan bagi orang eksekutif bisnis, lalu Anda menseleksi musiknya agar lagu-lagu yang dipasang memang hanya untuk orang bisnis. Jadi Anda ingin meng”gambar”kan bahwa inilah musiknya orang bisnis. Harapannya, orang bisnis juga menyukai pilihan musik/lagu-lagu tersebut. Seperti kasus kerbau di atas, pertanyaannya apakah gambaran ini memiliki kesamaan peng-arti-an dengan gambaran yang dimiliki masyarakat luas terutama kalangan pebisnis? Ini harus dipastikan, apakah musik yang sudah diseleksi itu kalau didengar oleh masyarakat akan menghasilkan gambar eksekutip yang sama di benak mereka? Kalau ya, maka tinggal Anda perkuat dengan menampilkan tokoh eksekutip bisnis yang dikenal masyarakat, sebagai konfirmasi bahwa musik itu mempunyai analogi dengan para eksekutif bisnis. Artinya, si eksekutif bisnis itu memang benar-benar menyukai seleksi musik yang anda pilihkan bagi mereka, dan ia menyatakannya.

Ibarat pendemo yang membawa-bawa kerbau, masyarakat pun paham penggambaran itu, lalu SBY berkomentar tentang unjuk-rasa yang membawa kerbau. Langsung timbul konfirmasi atas analogi sosok kerbau tersebut.

Isi Kata-Kata

Isi kata-kata adalah hal yang lebih sulit dari musik. Karena kita sendiri bukanlah bahagian dari kalangan yang menjadi target audience kita. Dalam hal ini, kita orang radio bukanlah orang eksekutif bisnis. Kita bukanlah orang yang bergerak dalam pasar finansial atau perdagangan energy, namun kita menetapkan mereka itu lah para eksekutif bisnis sebagai target audience. Akibatnya kita hanya “menyangka” saja bahwa kata-kata atau info seperti inilah yang dibutuhkan oleh para eksekutif bisnis. Kita hanya menyangka, bahwa kata-kata/info yang dibutuhkan para pebisnis itu pastilah fluktuasi harga saham, atau keadaan ekonomi negara China, ataupun harga minyak dunia dsb. Ini bisa benar tapi juga bisa salah.

Mari kita perbandingkan dengan kasus kerbau di atas. Seandainya para pendemo itu bukan membawa kerbau tetapi misalnya “kambing”, apakah kira-kira pesan “sosok” yang akan ditanamkan di benak masyarakat akan berhasil? Tentu tidak! Ketika Anda ingin menanamkan suatu sosok, maka pesan yang akan Anda tanamkan itu harus sesuai pula dengan persepsi yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini Anda telah berasumsi dan menganalogikan bahwa bicara-bicara atau info seperti itulah yang akan menggambarkan kebutuhan orang eksekutif bisnis. Pertanyaannya apakah masyarakat para eksekutip bisnis sendiri memang butuh dengan isi siaran kata yang kita siarkan, atau apakah para eksekutip bisnis sendiri bisa mengasosiasikan dirinya dengan isi siaran-kata kita itu?

Warna Suara dan Gaya Bicara

Setelah musik, dan isi kata-kata, maka yang tingkat susah berikutnya adalah warna suara. Karena warna suara, sangat berpengaruh pada gambaran yang terbentuk di benak pendengar. Umumnya kalau Anda menerima telpon dari seorang wanita tele-sales yg menawarkan macam-macam, pasti Anda membayangkan wajah dan potongannya, bukan? Saya jamin 99% kenyataannya tak bakalan sesuai dengan gambaran di benak Anda. Tapi itu tak jadi soal, karena yang penting adalah sosok yang terbentuk di pikiran penerima telpon, dan bukan sosok yang sebenarnya.

Nah, ada sebuah stasiun radio bisnis, yang memakai orang bisnis betulan (pebisnis yang sebenarnya) untuk siaran satu atau dua jam. Walaupun dari sisi isi-kata bisa dipertanggung-jawabkan, tetapi karena warna suaranya sangat “muda” atau ada juga yang terkesan sangat berlogat “tukang obat di pinggir jalan”. Pokoknya pendengar akan kesulitanlah membayangkan seorang businessman yang profesional apabila mendengar suara orang ini berbicara.

Ada lagi yang memilih suara wanita dewasa untuk membawakan isi siaran bisnis. Memang benar suara wanita ini dapat memberikan gambaran dewasa (sesuai dengan target usia pendengar), tetapi yang tergambar di pikiran pendengar ketika mendengar suara ini, persepsi yang muncul ini adalah suara seorang ibu rumah tangga dan bukan suara wanita eksekutif bisnis. Terus terang, memang warna suara sangat berpengaruh dalam membentuk gambaran sosok radio di benak pendengar.

Begitu pula dengan gaya bicara. Kita tahu dalam keadaan sehari-hari, para eksekutif bisnis ini dalam berbicara juga seperti kita saja, sembarangan. Gaya bahasa mereka juga tidak bagus. Mereka juga menggunakan gaya bahasa pasaran dan gaul. Tetapi kalau gaya bahasa yang “wajar” ini Anda udarakan di radio yang ingin membangun “sosok” orang eksekutif bisnis, maka gaya bicaranya seperti tidak akan berhasil membentuk gambaran sosok yang diinginkan. Kita tidak bisa menggunakan gaya pasaran dan bahasa gaul ketika ingin memberi citra/sosok eksekutif bisnis. Mengapa, padahal gaya bahasa begini wajar sekali dikalangan orang bisnis itu sendiri?

Itu, karena persepsi atau gambaran yang sudah ada, yang terekam lebih dahulu di kalangan masyarakat, bahwa yang namanya businessman dalam berbicara mempunyai gaya bahasa dan gaya bicara yang berbeda dengan pedagang pasar, berbeda dengan pergaulan kita sehari-hari.

Itu sebabnya penyiar radio yang radionya ingin diberi label sebagai radio untuk eksekutif bisnis, harus mampu berbahasa lisan dengan menggunakan bahasa Indonesia yang agak lebih “tinggi” sedikit.

Contoh yang salah, terlalu pasaran/gaul sekalee:
“Ini hari kayaknya harga-harga saham bakalan pada nge-drop deh, karena katanya mau ada angin topan yang kenceng bangets di China”

Contoh yang benar, pas untuk radio dengan sosok businessman:
“Harga-harga saham diperkirakan akan jatuh, disebabkan adanya angin topan yang akan melanda daratan China “

Jadi, sosok yang utuh dari radio Anda sebenarnya terbentuk dari bunyi-bunyian yang sampai ke telinga pendengar. Makanya siaran kagak boleh asal, ya. (arm)

Tidak ada komentar: