oleh Andy Rustam
Tahun 1988 saya me-launched radio 89.7 TOP-FM Jakarta yang sepenuhnya hanya siaran musik, khusus musik nostalgia (untuk zaman itu berarti lagu-lagu tahun 1955/60/70-an), dengan format putar 5 lagu berurutan sebelum diselingi 1 break untuk iklan atau bicara. More Music Less Talk. Malah sebelum launching formal, yang disiarkan hanya rangkaian lagu/musik melulu tanpa bicara. Buat jaman itu, itu semua merupakan hal baru. Gelombang FM masih baru, format siaran hanya khusus musik saja juga hal baru, lalu siaran cuma lagu-lagu nostalgia juga belum pernah ada sebelumnya, terus 5 lagu berurutan diseling 1 break juga belum pernah ada yang begitu. Ternyata orang-orang suka.
Hal ini begitu menggemparkan Jakarta, sehingga hanya dalam waktu 1 tahun sudah menduduki rating tertinggi versi SRI-Nielsen. Setelah itu banyak stasiun radio lain yang mengikuti pola seperti ini.
Yang Mulai Ramai di Jakarta
10 Tahun kemudian, sejak meledaknya Reformasi 1998, maka ramailah radio ber-eforia berita, politik dan talkshow. Lahirnya handphone menambah ramainya format ngomong-ngomong dan acara-acara interaktif. Radio-radio yang menampilkan show-host berbicara tentang gaya hidup (life-style) dengan mendapat umpan balik dari pendengar yang mengirim sms, sepertinya sangat marak di semua radio. Radio-radio awal 2000-an menggabungkan berita politik & ekonomi ditambah life-stye & permainan/game/quiz/contest plus selingan musik. Radio pun bergeser, sehingga music-radio (hanya menyiarkan musik saja) menjadi tidak “in” lagi.
Tetapi lewat pertengahan dekade pertama tahun 2000, rupanya format musik berurutan tak terputus ala music-radio kembali lagi populer, diawali dengan GEN FM yang kemudian diikuti oleh radio-radio lain. Banyak radio mengikuti jejak GEN FM dengan mengurangi peran penyiar dan mengandalkan hanya seleksi musik dalam siaran-siarannya. Bahkan ada radio di Jakarta yang tadinya banyak meyiarkan berita yang terkesan berat, kini tidak lagi menyiarkan berita, banting haluan dengan memperbanyak musik dan ngomong-ngomong pendek yang ringan-ringan dengan topik-topik yang masih menjadi mode, yaitu: wine, cafe, clubbing, baju, tas, motor-gede dan lain-lain topik gaya hidup.
Radio remaja paling mapan di Jakarta, kini bukan lagi menjadi pangkalan pusat aktivitas anak muda, melainkan menjadi radio dengan rangkaian musik saja. Rangkaian musik yang disukai remaja, dan seleksinya pun dipilih oleh pendengar remajanya.
Ada sebuah Radio yang baru beberapa bulan muncul, hanya memiliki 3 orang penyiar saja, yang bertugas bukan menjadi host, tetapi sebagai pembaca selingan informasi yang menurut mereka dibutuhkan oleh target audience-nya.
Nah, itulah gambaran situasi radio di Jakarta sekarang ini. Oh ada yang kelupaan. Kalau 10 tahun yang lalu sms sedang gencar banget, sekarang sudah mulai berubah, dimana radio mengajak pendengarnya untuk menggunakan BBM alias Blackberry Messenger dengan menyebutkan nomer PIN-nya.
Menurut saya, ini semua merupakan gambaran kebingungan. Kenapa? Karena terlihat radio-radio seperti berakrobat, semua ingin mirip Gen-FM dengan dominasi siaran musik. Kalaupun ada informasi, maka kebanyakan informasinya yang tidak urgent. Ringan-ringan saja: gosip, cafe, wine, hangouts, cewek-cowok. Pokoknya hedonis lah. Informasi seperti begitu, mau ada boleh, kalau tidak ada juga tidak apa2.
Terus terang saya khawatir banget, karena kenyataannya, secara industri, persentase alokasi anggaran iklan untuk media radio terus menurun, dimana pada awal tahun 2000 sekitar 3.6% dari anggaran iklan Nasional (Adex = advertising expenditure) dan sekarang radio hanya kebagian 1.4 % saja dari total anggaran periklanan Nasional.
Kalau trend ini dibiarkan saja, barangkali pada 10 tahun ke depan sudah tidak ada lagi perusahaan yang “berniat” beriklan melalui media radio.
Apa yang Terjadi Sesungguhnya?
Di seluruh dunia usaha kita, para pengiklan dan juga orang-orang advertising agency termasuk di kalangan radio sendiri, sekarang sedang terjadi pergeseran generasi. Dunia usaha sekarang sedang memiliki para pimpinan dari generasi yang dibesarkan secara audio-visual. Generasi yang dibesarkan oleh Atari, Nintendo, dan Gameboy serta tontonan home-video. Jadi mereka benar-benar tidak mengenal apa yang disebut media Audio saja, seperti Radio. Buat mereka, sungguh aneh dan tidak menarik ada audio tapi tanpa visual. Mereka tidak tahu dan tidak paham akan adanya kemampuan audio yang bisa membangkitkan imajinasi dan bisa lebih kuat dalam menyentuh emosi.
Satu-satunya yang mereka pahami, bahwa yang bisa dinikmati secara audio hanyalah musik/lagu. Itu sebabnya, mp3, ipod dan sejenisnya bisa laku, masih bisa berkembang dengan mutu sound/kualitas suara yang semakin mantap.
Ini yang juga dilakukan di radio oleh para pimpinannya dari generasi tersebut. Cukup mainkan Musik saja, dan memang terbukti rating pendengarnya meningkat.
Seperti sudah saya buka diawal tulisan, radio dengan siaran musik saja pernah saya lakukan di tahun 1988 dan berhasil. Kalau ada orang seumuran saya masih menjadi pimpinan radio, mungkin alasan mengapa ia sekarang juga merubah format siarannya menjadi “music-radio” sebagai formatnya, bisa jadi karena ia ingin mengulang kembali kesuksesan siaran radio musik saja di tahun 1988, di tahun 2010.
Tetapi mari kita alihkan perhatian kita sebentar kepada radio-radio non-musik yang juga berjaya, baik dalam jumlah pendengar dan harga iklannya yang tinggi tetapi pengiklan-nya ngantri, seperti: Elshinta di Jakarta dan Suara Surabaya di Surabaya.
Kedua radio ini hanya ngomong terus (berita/informasi) tanpa ada lagunya! Berita beneran loh, bukan informasi nggak penting tentang cafe/wine/clubbing/golf dan perilaku hedonis lainnya.
Apa Artinya?
Artinya, tidak benar juga bahwa kebutuhan atau yang diinginkan masyarakat itu hanya musik. Kenyataannya mereka suka juga kok, berita beneran!
Jadi, menurut saya, kitalah orang radio yang belum berhasil memberikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui siaran kita. Itu sebabnya untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat lambat laun, pindah ke media lain, seperti ipod dan internet.
Kita, orang radio, tidak mempunyai formula yang pas dalam siaran, agar orang tetap “manteng” pada gelombang stasiun radio kita. (arm)
Tahun 1988 saya me-launched radio 89.7 TOP-FM Jakarta yang sepenuhnya hanya siaran musik, khusus musik nostalgia (untuk zaman itu berarti lagu-lagu tahun 1955/60/70-an), dengan format putar 5 lagu berurutan sebelum diselingi 1 break untuk iklan atau bicara. More Music Less Talk. Malah sebelum launching formal, yang disiarkan hanya rangkaian lagu/musik melulu tanpa bicara. Buat jaman itu, itu semua merupakan hal baru. Gelombang FM masih baru, format siaran hanya khusus musik saja juga hal baru, lalu siaran cuma lagu-lagu nostalgia juga belum pernah ada sebelumnya, terus 5 lagu berurutan diseling 1 break juga belum pernah ada yang begitu. Ternyata orang-orang suka.
Hal ini begitu menggemparkan Jakarta, sehingga hanya dalam waktu 1 tahun sudah menduduki rating tertinggi versi SRI-Nielsen. Setelah itu banyak stasiun radio lain yang mengikuti pola seperti ini.
Yang Mulai Ramai di Jakarta
10 Tahun kemudian, sejak meledaknya Reformasi 1998, maka ramailah radio ber-eforia berita, politik dan talkshow. Lahirnya handphone menambah ramainya format ngomong-ngomong dan acara-acara interaktif. Radio-radio yang menampilkan show-host berbicara tentang gaya hidup (life-style) dengan mendapat umpan balik dari pendengar yang mengirim sms, sepertinya sangat marak di semua radio. Radio-radio awal 2000-an menggabungkan berita politik & ekonomi ditambah life-stye & permainan/game/quiz/contest plus selingan musik. Radio pun bergeser, sehingga music-radio (hanya menyiarkan musik saja) menjadi tidak “in” lagi.
Tetapi lewat pertengahan dekade pertama tahun 2000, rupanya format musik berurutan tak terputus ala music-radio kembali lagi populer, diawali dengan GEN FM yang kemudian diikuti oleh radio-radio lain. Banyak radio mengikuti jejak GEN FM dengan mengurangi peran penyiar dan mengandalkan hanya seleksi musik dalam siaran-siarannya. Bahkan ada radio di Jakarta yang tadinya banyak meyiarkan berita yang terkesan berat, kini tidak lagi menyiarkan berita, banting haluan dengan memperbanyak musik dan ngomong-ngomong pendek yang ringan-ringan dengan topik-topik yang masih menjadi mode, yaitu: wine, cafe, clubbing, baju, tas, motor-gede dan lain-lain topik gaya hidup.
Radio remaja paling mapan di Jakarta, kini bukan lagi menjadi pangkalan pusat aktivitas anak muda, melainkan menjadi radio dengan rangkaian musik saja. Rangkaian musik yang disukai remaja, dan seleksinya pun dipilih oleh pendengar remajanya.
Ada sebuah Radio yang baru beberapa bulan muncul, hanya memiliki 3 orang penyiar saja, yang bertugas bukan menjadi host, tetapi sebagai pembaca selingan informasi yang menurut mereka dibutuhkan oleh target audience-nya.
Nah, itulah gambaran situasi radio di Jakarta sekarang ini. Oh ada yang kelupaan. Kalau 10 tahun yang lalu sms sedang gencar banget, sekarang sudah mulai berubah, dimana radio mengajak pendengarnya untuk menggunakan BBM alias Blackberry Messenger dengan menyebutkan nomer PIN-nya.
Menurut saya, ini semua merupakan gambaran kebingungan. Kenapa? Karena terlihat radio-radio seperti berakrobat, semua ingin mirip Gen-FM dengan dominasi siaran musik. Kalaupun ada informasi, maka kebanyakan informasinya yang tidak urgent. Ringan-ringan saja: gosip, cafe, wine, hangouts, cewek-cowok. Pokoknya hedonis lah. Informasi seperti begitu, mau ada boleh, kalau tidak ada juga tidak apa2.
Terus terang saya khawatir banget, karena kenyataannya, secara industri, persentase alokasi anggaran iklan untuk media radio terus menurun, dimana pada awal tahun 2000 sekitar 3.6% dari anggaran iklan Nasional (Adex = advertising expenditure) dan sekarang radio hanya kebagian 1.4 % saja dari total anggaran periklanan Nasional.
Kalau trend ini dibiarkan saja, barangkali pada 10 tahun ke depan sudah tidak ada lagi perusahaan yang “berniat” beriklan melalui media radio.
Apa yang Terjadi Sesungguhnya?
Di seluruh dunia usaha kita, para pengiklan dan juga orang-orang advertising agency termasuk di kalangan radio sendiri, sekarang sedang terjadi pergeseran generasi. Dunia usaha sekarang sedang memiliki para pimpinan dari generasi yang dibesarkan secara audio-visual. Generasi yang dibesarkan oleh Atari, Nintendo, dan Gameboy serta tontonan home-video. Jadi mereka benar-benar tidak mengenal apa yang disebut media Audio saja, seperti Radio. Buat mereka, sungguh aneh dan tidak menarik ada audio tapi tanpa visual. Mereka tidak tahu dan tidak paham akan adanya kemampuan audio yang bisa membangkitkan imajinasi dan bisa lebih kuat dalam menyentuh emosi.
Satu-satunya yang mereka pahami, bahwa yang bisa dinikmati secara audio hanyalah musik/lagu. Itu sebabnya, mp3, ipod dan sejenisnya bisa laku, masih bisa berkembang dengan mutu sound/kualitas suara yang semakin mantap.
Ini yang juga dilakukan di radio oleh para pimpinannya dari generasi tersebut. Cukup mainkan Musik saja, dan memang terbukti rating pendengarnya meningkat.
Seperti sudah saya buka diawal tulisan, radio dengan siaran musik saja pernah saya lakukan di tahun 1988 dan berhasil. Kalau ada orang seumuran saya masih menjadi pimpinan radio, mungkin alasan mengapa ia sekarang juga merubah format siarannya menjadi “music-radio” sebagai formatnya, bisa jadi karena ia ingin mengulang kembali kesuksesan siaran radio musik saja di tahun 1988, di tahun 2010.
Tetapi mari kita alihkan perhatian kita sebentar kepada radio-radio non-musik yang juga berjaya, baik dalam jumlah pendengar dan harga iklannya yang tinggi tetapi pengiklan-nya ngantri, seperti: Elshinta di Jakarta dan Suara Surabaya di Surabaya.
Kedua radio ini hanya ngomong terus (berita/informasi) tanpa ada lagunya! Berita beneran loh, bukan informasi nggak penting tentang cafe/wine/clubbing/golf dan perilaku hedonis lainnya.
Apa Artinya?
Artinya, tidak benar juga bahwa kebutuhan atau yang diinginkan masyarakat itu hanya musik. Kenyataannya mereka suka juga kok, berita beneran!
Jadi, menurut saya, kitalah orang radio yang belum berhasil memberikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat melalui siaran kita. Itu sebabnya untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat lambat laun, pindah ke media lain, seperti ipod dan internet.
Kita, orang radio, tidak mempunyai formula yang pas dalam siaran, agar orang tetap “manteng” pada gelombang stasiun radio kita. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar