22 Desember 2008

Mencari Jawaban

oleh Andy Rustam

Dalam kehidupan yang kita jalani ini banyak hal yang kita temui, banyak hal yang kita saksikan, rasakan, dan kita alami. Tak jarang hal yang sama terjadi berulang kali. Misalnya, setiap hari kita ketemu dengan ibu-ayah kita / anak-anak kita / istri kita /suami kita / pacar kita / teman kita / rekan kerja kita, dsb., setiap pagi sarapan di tukang bubur ayam yang sama, dan itu semua memberikan kita rasa gembira/bahagia. Tetapi ada juga hal-hal yang membuat kita kesal dan setiap hari kita temui juga. Misalnya, kemacetan lalu lintas yang sama yang tidak pernah ada penyelesaiannya, penyiar TV-radio yang melakukan tingkah percakapan menyebalkan yang sama, mesin ATM yang rusak melulu, pesawat terbang yang terlambat, sampah bertumpuk, setiap tahun banjir, setiap kali disalip pengendara sepeda motor yang justru bangga dengan terobos terus dsb. dsb. Situasinya pun bukan menjadi bertambah baik.

Kalau ada hal-hal yang membuat kita bahagia, tentulah kita semua ingin terus mempertahankannya selama mungkin, dan kita wujudkan keinginan itu dalam bentuk usaha sekuat tenaga memperjuangkannya. Tetapi mengapa itu tidak terjadi terhadap hal-hal yang membuat kita hidup penuh kekesalan dan malah bisa menjadi sumber bencana?

Gila Menurut Einstein

Orang paling jenius dalam abad belakangan ini, Einstein, punya definisi tentang apa itu “perilaku gila”. Menurut dia, yang disebut perilaku gila adalah melakukan hal yang sama berulang-ulang tapi mengharapkan hasil yang beda. Nah, berdasarkan definisi itu, maka saya melihat pengendara motor yang setiap hari begitu, melihat cara kerja pegawai pemerintah yang begitu-begitu aja, melihat perilaku bisnis para konglomerat dan anak-anaknya yang kelakuannya begitu-begitu juga, melihat kelakuan buruh dan pekerja yang begitu-begitu terus, melihat mahasiswa demo dengan akhir gaya timpuk-timpukan begitu lagi, melihat pembawa acara/moderator/penyiar yang begitu lagi begitu lagi, melihat pelayanan perusahaan-perusahaan terhadap nasabahnya yang selalu menyalahkan nasabah, melihat janji-janji yang diiklankan ternyata tak sesuai kenyataan dan lucunya masih saja ada orang yang tertipu, melihat kiriman sms dan email yang isinya sensasi dan ngapusi tapi masih banyak aja orang yang percaya... dsb. dsb. Apakah bisa saya sebut semuanya itu sebagai perilaku orang gila??? Belum tentu! Karena kalau mau mengacu ke definisi Einstein maka ada satu unsur lagi yang harus dipenuhi, selain melakukan hal yang sama berulang-ulang, yaitu mengharapkan hasil yang berbeda.

Mengharapkan Hasil

Kalau ada yang bilang bahwa ia bekerja tak mengharapkan hasil, sudah pasti dia bohong. Ada yang bilang bahwa saya berbuat untuk orang lain dan tak mengharapkan apa-apa, pasti maksudnya tak mengharapkan “imbalan” dari orang lain itu, tapi barangkali mengharapkan imbalan dari Tuhan. Ada yang bilang saya siaran ini cuma iseng saja, tidak mengharapkan apa-apa. Padahal imbalan yang diharapkannya berbentuk lain dan muncul dari dalam dirinya sendiri, seperti: kepuasan ego, popularitas, didengerin sama gebetannya.

Ada lagi yang bilang, saya berbuat demi cinta, artinya ia mengharapkan supaya dicintai. Barangkali cuma matahari yang terus bekerja memberi manfaat bagi makhluk di bumi sampai energi-nya habis nanti, tanpa pernah mengharapkan menarik imbalan dari kita se-sen-pun. Oleh karena manusia dalam melakukan sesuatu sudah pasti mengharapkan hasil, artinya kalau kita kembalikan ke definisi Einstein, tinggal harus kita buktikan apakah manusia itu mengharapkan hasil yang berbeda.

Banyak Pertanyaan Satu Jawaban

Untuk mengetahui apakah manusia menginginkan hasil yang berbeda, tidak perlulah anda melakukan penelitian bagai seorang mahasiswa tingkat doktoral, melainkan cukup anda lontarkan pertanyaan kepada siapa saja yang anda temui pagi ini (termasuk bicara dengan diri anda sendiri ketika berdandan di depan cermin), sebagai berikut, “Apakah saya/Anda menginginkan kehidupan yang lebih baik hari ini? Apakah Anda ingin siaran Anda menjadi lebih baik hari ini? Apakah Anda ingin hidup Anda lebih terjamin ketika sudah jadi manula nanti? Apakah Anda mengharap keluarga Anda akan tetap utuh dan lebih bahagia walau masa bulan madu telah lama lewat? Apakah Anda ingin lulus kuliah dengan nilai yang lebih baik? Apakah Anda ingin bisa diterima ketika melamar bekerja di sebuah perusahaan secara lebih pasti? Apakah Anda ingin lebih kaya, lebih sehat, lebih puas, lebih cantik, lebih keren, lebih..lebih..lebih dsb. dsb.?

Jawabannya sudah pasti “Ya”. Artinya, kita semua selalu menginginkan hasil/keadaan/situasi yang lebih baik. Masalahnya kenapa tidak kita mulai lakukan langkah ke arah sana?

Pertanyaan Lanjutan dan Terakhir

Kalau sudah jelas kemauannya, atau harapannya, atau keinginannya, maka masalahnya tinggal, betul-betul maukah? Kalau ya, tanyakanlah pertanyaan ini, "Aku harus bagaimana? Mulainya dari mana? Siapa yang bisa aku ajak bicara? Untuk itu aku harus melakukan apa? Untuk melakukan itu aku harus mengorbankan/menukarkan dengan apa? Apakah pengorbanan/pertukaran itu cukup bernilai dengan hasil yang akan saya peroleh? Bagaimana kalau pengorbanan/pertukaran itu sudah aku lakukan ternyata hasil yang diperoleh tak sesuai harapan? Bagaimana aku harus mengurangi risiko terjadinya hal yang tak diharapkan ini?" Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dicarikan jawabannya.

Kalau sudah ketemu jawabannya, tinggal ajukan satu pertanyaan lagi sebelum Anda action, yaitu, “Apa yang harus aku lakukan yang berbeda setiap harinya dari apa yang selama ini biasa aku lakukan, sebagai langkah dini untuk perubahan?”. Setelah ketemu jawabannya, maka lakukan mulai sekarang juga (Do it, man!), pastilah Anda bisa. “Yes, we can”, kata Obama.

Cobalah ketika Anda mengemudikan sepeda motor nanti, janganlah berbangga kalau bisa mengemudi selap-selip, tetapi berbanggalah kalau Anda patuh peraturan, tak membahayakan diri dan orang lain, sementara para pengemudi sepeda motor yang lain tidak begitu. Di sini Anda berbeda, Anda menjadi pengendara sepeda motor yang berlaku baik, tidak seperti yang biasanya Anda lakukan, maka hasilnya pun pasti akan lebih baik (dari sisi keamanan diri dan ketenangan jiwa).

Coba Anda memutar kembali rekaman siaran anda, perhatikanlah bagaimana buruknya Anda siaran (sampai anda malu sendiri!). Lalu Anda bertekad bahwa nanti kalau siaran lagi harus lebih baik. Untuk itu, apa yang harus Anda lakukan, lalu lakukanlah sekarang juga. Mudah-mudahan pastilah siaran Anda besok sudah mulai berubah ke arah yang lebih baik. Lakukan terus perbaikan itu, evaluasi lagi, maka pasti apa yang Anda inginkan akan tercapai. Karena perbaikan juga membutuhkan proses dalam tahapan-tahapan. Tetapi kalau Anda tidak melakukan langkah kecil itu, maka kemajuan sekecil apapun tidak akan terwujud.

Sebab kalau Anda lakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang beda, itu artinya orang gila. Menurut Einstein looohhh.... (arm)

Tidak ada komentar: