31 Desember 2008

Tahun 2008 Prestasi GEN-FM

oleh Andy Rustam

Tahun 2008 ini, berdasarkan data Nielsen, bisa dibilang sebagai tahunnya GEN-FM. Sebuah radio baru di Jakarta yang dengan cepat sekali merebut sejumlah pendengar dari radio-radio lain yang sudah mapan, menyebabkan sebagian besar radio kehilangan sebahagian pendengarnya, dan GEN-FM melonjak menjadi radio dengan pendengar mencapai sekitar tiga juta orang. Tahun 2007 GEN-FM belumlah termasuk radio yang “memiliki” pendengar.

Gebrakannya ini membuat radio-radio di Jakarta pusing 7 keliling. Apa rahasia GEN-FM ? Ternyata sederhana sekali, yaitu hanya memainkan musik Indonesia yang populer (sedang digemari) sambung menyambung tanpa diselingi iklan dan tanpa diselingi suara penyiar ngomong (dan tentu saja daya pancarnya cukup merata). Sesekali mereka memasang sisipan stasiun ID agar pendengar yang menikmati sajian musiknya tetap ingat bahwa mereka bukan sedang mendengar CD, MP3, atau stasiun lain, melainkan sedang mendengarkan stasiun radio GEN-FM. Kadang-kadang ada juga lagu barat yang juga populer diselipkan se-jam sekali. Pengudaraan iklan hanya setiap 30 menit sekali. Kenikmatan mendengar sangat terjaga.

Puter Musik Populer Saja = Ampuh

Memang resep ini resep yang sangat ampuh untuk meraih pendengar banyak, dan caranya pun mudah. Cukup siarkan musik beken saja terutama kalau musik itu musik Indonesia populer. Format seperti ini pernah dilakukan di pertengahan tahun 80-an di Jakarta oleh Radio TMI (Terminal Musik Indonesia). Hasilnya juga hebat menurut SRI-Nielsen (nama Nielsen di jaman itu). Radio TMI langsung duduk di nomor dua dengan pendengar terbanyak dan hanya kalah oleh Radio Dangdut (Agustina atau CBB? saya agak lupa). Radio TOP-FM 89.7 di tahun 1990 juga merajai dengan format juke box tetapi untuk lagu-lagu barat nostalgia dan sedikit lagu Indonesia dari jenis Pop Kreatif. TOP-FM juga mendadak melejit dalam waktu satu tahun menjadi radio papan atas, meraih pendengar terbanyak untuk segmen masyarakat menengah atas (itu karena walaupun juke-box-format tetapi sajian musiknya nostalgis lagu barat. Kalau saja seleksinya lagu-lagu Indonesia saja pastilah pendengar all people-nya akan tinggi).

Kalau memang semudah itu caranya untuk meraih pendengar terbanyak, lalu mengapa tidak semua radio saja ramai-ramai memakai resep ini? Mengapa di Jakarta ini tidak ada yang mau segera meniru sukses Gen-FM, bukankah telah terbukti berhasil dan gampang lagi menirunya? Di dunia televisi kita, kalau satu stasiun TV sukses dengan satu acara maka yang lain akan menirunya. Untungnya orang radio bukan orang televisi, ya?

Melihat Celah Kosong

Memang kalau kita memasang radio set kita di mobil sekarang-sekarang ini, pada gelombang berapa saja secara sembarang, maka mayoritas yang akan terdengar pada saat itu pastilah “orang ngomong”, apakah itu yang terdengar sebuah wawancara, atau dua orang penyiar yang saling bercanda, atau suara reporter, atau suara percakapan orang di telpon, atau ada sandiwara pendek, atau penyiar yang membacakan sms, atau dialog dalam sebuah iklan, pokoknya... isinya orang ngomong melulu. Gejala ini sudah mulai di awal era reformasi. Jadi maksud hati memasang radio mau dengar hiburan, alih-alih yang terdengar orang ngomong, dan musiknya lama sekali ditunggu nggak keluar-keluar karena penyiar jatuh cinta sama suara sendiri. Maka Gen-FM melihat celah ini, dengan membuat format musik populer Indonesia sepanjang hari, tanpa ngomong, sambung menyambung. Hasilnya, keinginan masyarakat menyalakan radio (untuk mencari hiburan) langsung terpenuhi. Pindahlah mereka ramai-ramai ke gelombang Gen-FM.

Faktor Pendengar Berpindah

Tentu saja kalau pendengar pindah dari gelombang stasiun radio A ke stasiun radio B, sudah pastilah karena di radio A pada saat itu ada yang tidak disukainya. Apakah karena seleksi lagunya tidak sesuai seleranya, atau apa yang dibicarakan penyiar tidak mengenakkan hatinya, atau suara penyiarnya cempreng tak mengenakkan telinganya, atau penyiarnya yang asik sendiri kebanyakan omong kosong dan becanda, atau daya pancarnya kresek-kresek. Banyak sekali faktor internal yang harus dijaga agar pendengar tak sampai berpindah.

Tetapi apabila radio A hanya siaran memainkan musik Indonesia populer saja, maka faktor internal yang dapat menyebabkan pendengar berpindah hanya tinggal dua saja, yaitu: faktor daya pancar yang jelek dan faktor pilihan lagu yang tak disukai. Jadi lebih mudah menjaga pendengar agar tak berpindah melalui format musik/lagu saja, ketimbang kombinasi antara siaran kata dan siaran musik.

Format Musik Saja Lebih Disuka?

Pendengar itu menyetel radionya tentulah bukan hanya ingin mendengarkan musik saja. Bukankah kalau memang hanya untuk mendengarkan musik saja ia akan lebih senang memasang MP3 atau CD-nya?

Jadi, sebenarnya pendengar itu menyetel radionya karena ingin merasa ada teman. Lagu-lagu/musik yang dipasang bisa membuatnya merasa ditemani, penyiar yang berbicara dengan gaya bahasa, cara bicara, nada suara yang tepat dan berbicara tentang hal-hal yang memang ingin didengarnya saat itu, juga akan membuat si pendengar merasa tak sendiri lagi. Oleh karena itu, bukanlah berarti radio dengan format musik saja lebih disukai, tetapi bagi pendengar: “lebih baik radio siaran pasang musik/lagu saja deh.. daripada kalau memakai suara penyiar (atau si penyiar ngomong) malah justru membuat kenikmatan mendengarnya hilang.”

Ketika musik-musik lagi diudarakan, pendengar menyukai, dan seharusnya ketika si penyiar bicara, pendengar akan tambah suka. Tetapi kenyataannya, ketika penyiar ngomong, suara; gaya; bahasa; apa yang dibicarakan, bukannya mendatangkan kenikmatan, malah mengganggu kenikmatan yang sudah diperoleh pendengar ketika mendengarkan lagu. Lucunya lagi, si penyiar tidak sadar, dan menyangka dirinya membuat banyak pendengar senang, maka tambah banyaklah omongannya. Jadinya, semakin tambah banyak pendengar yang lari berpindah.

GEN-FM dengan Format Juke Box

Pada situasi dunia radio di Jakarta sedang seperti inilah Gen FM tampil dengan menghilangkan faktor yang secara tak disadari justru sering merupakan gangguan bagi kenikmatan mendengarkan radio, yaitu faktor penyiar. Dengan format Juke-Box-nya, pendengar mendapatkan alternatif baru. Seperti yang sudah diekspresikan diatas, “lebih baik pasang lagu aja deh, daripada kalo penyiarnya ngomong bukannya bikin tambah enak, malah ngeganggu aja”. Barangkali radio-radio lain di Jakarta sekarang sedang berpikir keras, bagaimana caranya supaya kalau penyiarnya ngomong (setelah sebelumnya memasang lagu yang enak), akan membuat siarannya bertambah enak. Sebab hanya dengan cara inilah format juke-box-nya Gen-FM bisa dikalahkan.

Tetapi kalau mereka tak bisa menemukannya, maka barangkali barulah mereka akan meniru saja format juke-box-nya Gen-FM. Selamat buat Gen-FM yang sukses besar di tahun 2008 dan... SELAMAT TAHUN BARU 2009 bagi seluruh pembaca Broadcastsukses. (arm)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Pak Andy, saya kok jadi ingat tulisan bapak mengenai kisah M yang akhirnya gagal. Di tempat saya bekerja sekarang [di Solo], pada saat kali pertama mengudara juga menggunakan format juke box dan pendengarnya banyak. Tapi, setelah resmi mengudara dengan mengkombinasikan antara news and musik malah sedikit turun. Kini, kami berusaha meningkatkan interaksi dari pendengar baik melalui telephone atau sms. Di samping memperbaiki sisi program.
[Oh, ya Pak Andi. Saya beberapa tahun lalu pernah ketemu Bapak. Mungkin Bapak sudah lupa. Saat itu, saya dan beberapa teman dikirim ke Jogja mengikuti pertemuan seluruh network Trijaya di Parangtritis.
Kata - kata Bapak masih saya mengenai kerja di radio masih saya ingat. Terima kasih.]

Anonim mengatakan...

Hallo Ary, apa kabar? Terima kasih utk comment-nya di broadcastsukses.com. Memang betul, kasus yang Anda alami di Solo pasti akan terjadi dimana saja.. Bahkan di Amerika tahun 1987 saya lihat sendiri bagaimana radio dengan format juke-box, dimana siarannya semua sudah di otomatisasi (computerized). Jadi penyiar itu hanya datang sekali-sekali ke studio, rekaman suara hanya menyebut nama-nama lagu dan jam. Lalu nanti, semuanya komputer yang secara otomatis mengudarakan, bahkan komputer pula yang mixing, jadi sangat perfect (sempurna).

Ternyata radio itu awalnya banyak menarik pendengar, tetapi akhirnya ia juga gulung tikar. Itu membuktikan lagi bahwa rupanya memang bukan begitu yang diinginkan pendengar. Karena pendengar sebetulnya, jauh di bawah sadarnya, menginginkan hilangnya rasa kesendirian. Rasa kesendirian memang bisa berkurang dengan mendengarkan musik, tetapi lebih berkurang lagi kalau ada "orang" yang menemani.

Demikian Ary tambahan penjelasannya. Kalaupun kita belum punya kesempatan bertemu muka lagi, tapi kontak dengan cara begini juga OK, 'kan?

Salam juga untuk teman-teman di Solo.

Andy RM