oleh Andy Rustam
Surat Kabar menjadikan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Jawa Barat sebagai berita utama pagi ini. Televisi menayangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah kepada pengusaha Nirwan Bakrie karena urusan ganti-rugi korban Lapindo tak kunjung diselesaikannya padahal sudah lama Keppres untuk itu diterbitkan. Radio memberitakan terjadi kemacetan lalu-lintas di ruas jalan-jalan utama di Jakarta. SMS bertebaran mengatakan bank anu bangkrut. Internet dan millist menyebarkan kabar “katanya-katanya” terkait soal-soal picik tentang teroris Amrozi cs yang dihukum mati, gereja setan, bulan kembar, batu melayang, dan lain-lain, yang akan kita saksikan pasti bakalan masih banyak lagi...
Semua model tayangan berita betulan maupun berita “katanya-katanya”, serta penyebarluasan informasi oleh siapa saja yang ingin nulis/ngomong apa saja, yang sering dengan euphimisme (istilah yang dibagus-baguskan) bernama “jurnalisme warga”, memang semua ini merupakan fenomena tak terhindarkan di era reformasi yang sedang kita jalani.
Faktor yang Berpengaruh
Sekarang, saya ajak anda berpikir mencari tahu terlebih dahulu, apa penyebabnya seseorang mau atau berinisiatif untuk menulis atau menyebarkan informasi (termasuk informasi yang tidak benar), baik dari mulut ke mulut, melalui telpon/sms/blog atau media massa? Menurut ilmunya, semua komunikasi selalu punya keterkaitan dengan dorongan diri, “ego”. Jadi, sekalipun ia seorang wartawan yang memang pekerjaannya memperoleh/menulis/menyebarkan berita dan memang ia hidup dan digaji untuk itu secara profesional oleh sebuah perusahaan media, tetap saja faktor “ego” banyak berperan di dalamnya. Dengan demikian sisi objektifitas menjadi kendala yang paling sulit. Apalagi kalau memang ia atau perusahaan media tempatnya bekerja itu memiliki “agenda” tertentu, maka sudah pasti objektifitas menjadi tidak ada sama sekali. Jeleknya lagi, bahwa faktor “ego” ini tidak pernah disadari oleh, si insiator komunikasi/si penyebar gosip/si penulis, editor dan penyebar berita termasuk si pembaca berita.
Kalau seandainya kita mengingatkan mereka, malah reaksi yang kita terima dari mereka membuat posisi kita jadi cocok dengan lagunya DewiQ: “Eh..eh kok gitu sih. Lho..kok marah”. Tetapi reaksi seperti ini justru membuat kita semakin yakin bahwa memang faktor ego-lah yang menjadi asal-muasalnya (bukankah kalau ego disinggung orang bisa kebakaran jenggot?). Barangkali tentang adanya faktor ego yang turut melatarbelakangi tulisanpun mereka belum pernah tahu, apalagi untuk menyadarinya. Humor sinis bilang, “Dulu dia Tidak Tahu, sekarang dia Lupa”.
Ego
Kini kita tahu pasti, bahwa Ego juga berperan dalam menjadikan dasar penetapan “angle (sudut pandang)” sebuah berita/info yang akan diangkat. Misal, mengapa koran XY mengangkat soal kerusakan lingkungan hidup sebagai headline? Ternyata karena ada “ego” ingin “menembak (cari-cari kesalahan)” seorang konglomerat tertentu yang memang selama ini terkesan kebal hukum.
Dengan teori “ego” kita jadi mengerti mengapa sebuah media milik konglomerat tentu tidak bakalan akan menyiarkan berita dengan sudut pandang yang bisa merugikan si konglomerat pemilik media atau teman-temannya. Tentulah lupakan saja kredibilitas para wartawan dan pimpinan pemberitaannya yang bekerja di media seperti itu, karena pasti sudah jauh terkubur di dalam septic tank yang berbubur dan berbau.
Tetapi situasinya seringkali disadari bahwa media milik si konglomerat dirasakan tak cukup punya pengaruh di masyarakat. Bagi si konglomerat hal ini bukan masalah. Karena tentu saja dengan uang yang berlimpah, mudah saja ia berpromosi/beriklan besar-besaran di media lain untuk mengangkat citranya.
Misalnya, begitu kemarin harian Kompas memberitakan bahwa aktivitas perusahaan ABCD milik konglomerat ABC merusak lingkungan hutan, maka keesokan harinya di harian yang sama akan muncul “advertorial” satu halaman penuh: “ABCD menanam sejuta pohon sebagai wujud kepedulian lingkungan”. Lagi-lagi “ego” yang mendorong si inisiator untuk menulis dan menebar “pesan”.
SMS, Millist/Mail List, Blog
Lalu bagaimana dengan dorongan si insiator penyebar issue, gosip, berita, info, dan lain-lain yang dilakukan melalui sms atau millist? Ya tentu saja sama, ego juga. Dengan mengirimkan info (benar atau tidak benar) melalui millist, si inisiator sebenarnya ingin “tampil” di hadapan para anggota millist atau yang dikirimi sms, “Eh saya tahu duluan lho, sebelum anda tahu. Jadi aku lebih dari anda lho”. Atau apabila gosip di antara ibu-ibu arisan, si ibu inisiator gosip terdorong oleh ego-nya, dalam hati ia berkata, “Eh saya lebih tahu lho Bu, anda tidak tahu kalau bukan dari saya. Karena saya gaulnya lebih luas sih. Saya kan temannya si Anu”. Pemuasan Ego secara tak sadar merupakan alasan dibalik itu semua.
Tanggapan Pendengar/Pemirsa/Pembaca/Komunikan
Jadi sekarang kita tahu bahwa akibat faktor “ego”, objektifitas yang betul-betul objektif sangat sulit kita harapkan datang dari pihak komunikator (media). Maka, kalau kita sebagai komunikan (pemirsa, pendengar, pembaca) menerima pesan melalui media apapun yang disampaikan oleh siapapun, justru sikap kita dalam menanggapi atau respon kitalah yang harus objektif. Kita tidak boleh reaktif dalam menanggapi pesan-pesan yang dikirimkan dan sampai kepada kita.
Kita tahu bahwa ada maksud tertentu (baik atau buruk) yang dilatarbelakangi oleh ego diri (jurnalis/tim berita/pimpinan media) yang menyebabkan mereka (media) memilih, mengangkat dan menyiarkan berita/informasi tertentu.
Tentu saja mereka tak jelas-jelas menyatakannya. Karena, bukankah media harus netral? Bukankah berita di media harus apa adanya? Begitulah menurut etika pemberitaan. Tetapi itu punya akibat lain lagi, yaitu, uraian berita, atau info yang mereka angkat dan siarkan menjadi sering tak tuntas mau kemana, tidak jelas menunjukkan apa maksudnya alias “So What?/Terus apa? Jadi Kenapa? Lalu apa yang Anda (komunikator) harapkan dari saya (si komunikan) ?”. Cobalah sekarang sama-sama kita review lagi berita-berita yang baru kita dengan dengar/baca. Kemudian masukkan kata “so what” sebagai reaksi/respon kita terhadap tayangan/siaran/uraian sebuah berita, sbb:
- Presiden SBY marah kepada Nirwan Bakrie – “Jadi kenapa?”, “So What?”
- Banjir melanda kabupaten Bandung – “Terus apa?”, “Lalu..?”
- Ariel Peterpan kepergok berduaan dengan Luna Maya – “So What?“, “Terus apa?”
- Tanggal 10 nanti ada fenomena alam 1000 tahun sekali – “Jadi kenapa ?”, “Terus ..?"
- Kemacetan di Jakarta makin parah – “Terus apa yang anda harapkan dari saya?”, “Terus maksudnya supaya apa memberitakan itu kepada saya/publik, padahal masyarakat Jakarta juga sudah tahu kalau macet itu semakin parah ?”
Nah betul, bukan? Ternyata tidak jelas, bukan? Yang pasti kita tahu mereka punya “maksud” dengan memberitakan itu. Ini berlaku buat blog saya juga loh. Ego saya sudah berbangga-bangga menulis, maksudnya supaya para pembaca blog ini jangan mudah percaya oleh berita, info, sms-blast, internet, berita katanya-katanya di millist dsb. dsb... eh tahunya para pembaca blog cuma bilang, “So What?“ (arm)
Surat Kabar menjadikan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Jawa Barat sebagai berita utama pagi ini. Televisi menayangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono marah kepada pengusaha Nirwan Bakrie karena urusan ganti-rugi korban Lapindo tak kunjung diselesaikannya padahal sudah lama Keppres untuk itu diterbitkan. Radio memberitakan terjadi kemacetan lalu-lintas di ruas jalan-jalan utama di Jakarta. SMS bertebaran mengatakan bank anu bangkrut. Internet dan millist menyebarkan kabar “katanya-katanya” terkait soal-soal picik tentang teroris Amrozi cs yang dihukum mati, gereja setan, bulan kembar, batu melayang, dan lain-lain, yang akan kita saksikan pasti bakalan masih banyak lagi...
Semua model tayangan berita betulan maupun berita “katanya-katanya”, serta penyebarluasan informasi oleh siapa saja yang ingin nulis/ngomong apa saja, yang sering dengan euphimisme (istilah yang dibagus-baguskan) bernama “jurnalisme warga”, memang semua ini merupakan fenomena tak terhindarkan di era reformasi yang sedang kita jalani.
Faktor yang Berpengaruh
Sekarang, saya ajak anda berpikir mencari tahu terlebih dahulu, apa penyebabnya seseorang mau atau berinisiatif untuk menulis atau menyebarkan informasi (termasuk informasi yang tidak benar), baik dari mulut ke mulut, melalui telpon/sms/blog atau media massa? Menurut ilmunya, semua komunikasi selalu punya keterkaitan dengan dorongan diri, “ego”. Jadi, sekalipun ia seorang wartawan yang memang pekerjaannya memperoleh/menulis/menyebarkan berita dan memang ia hidup dan digaji untuk itu secara profesional oleh sebuah perusahaan media, tetap saja faktor “ego” banyak berperan di dalamnya. Dengan demikian sisi objektifitas menjadi kendala yang paling sulit. Apalagi kalau memang ia atau perusahaan media tempatnya bekerja itu memiliki “agenda” tertentu, maka sudah pasti objektifitas menjadi tidak ada sama sekali. Jeleknya lagi, bahwa faktor “ego” ini tidak pernah disadari oleh, si insiator komunikasi/si penyebar gosip/si penulis, editor dan penyebar berita termasuk si pembaca berita.
Kalau seandainya kita mengingatkan mereka, malah reaksi yang kita terima dari mereka membuat posisi kita jadi cocok dengan lagunya DewiQ: “Eh..eh kok gitu sih. Lho..kok marah”. Tetapi reaksi seperti ini justru membuat kita semakin yakin bahwa memang faktor ego-lah yang menjadi asal-muasalnya (bukankah kalau ego disinggung orang bisa kebakaran jenggot?). Barangkali tentang adanya faktor ego yang turut melatarbelakangi tulisanpun mereka belum pernah tahu, apalagi untuk menyadarinya. Humor sinis bilang, “Dulu dia Tidak Tahu, sekarang dia Lupa”.
Ego
Kini kita tahu pasti, bahwa Ego juga berperan dalam menjadikan dasar penetapan “angle (sudut pandang)” sebuah berita/info yang akan diangkat. Misal, mengapa koran XY mengangkat soal kerusakan lingkungan hidup sebagai headline? Ternyata karena ada “ego” ingin “menembak (cari-cari kesalahan)” seorang konglomerat tertentu yang memang selama ini terkesan kebal hukum.
Dengan teori “ego” kita jadi mengerti mengapa sebuah media milik konglomerat tentu tidak bakalan akan menyiarkan berita dengan sudut pandang yang bisa merugikan si konglomerat pemilik media atau teman-temannya. Tentulah lupakan saja kredibilitas para wartawan dan pimpinan pemberitaannya yang bekerja di media seperti itu, karena pasti sudah jauh terkubur di dalam septic tank yang berbubur dan berbau.
Tetapi situasinya seringkali disadari bahwa media milik si konglomerat dirasakan tak cukup punya pengaruh di masyarakat. Bagi si konglomerat hal ini bukan masalah. Karena tentu saja dengan uang yang berlimpah, mudah saja ia berpromosi/beriklan besar-besaran di media lain untuk mengangkat citranya.
Misalnya, begitu kemarin harian Kompas memberitakan bahwa aktivitas perusahaan ABCD milik konglomerat ABC merusak lingkungan hutan, maka keesokan harinya di harian yang sama akan muncul “advertorial” satu halaman penuh: “ABCD menanam sejuta pohon sebagai wujud kepedulian lingkungan”. Lagi-lagi “ego” yang mendorong si inisiator untuk menulis dan menebar “pesan”.
SMS, Millist/Mail List, Blog
Lalu bagaimana dengan dorongan si insiator penyebar issue, gosip, berita, info, dan lain-lain yang dilakukan melalui sms atau millist? Ya tentu saja sama, ego juga. Dengan mengirimkan info (benar atau tidak benar) melalui millist, si inisiator sebenarnya ingin “tampil” di hadapan para anggota millist atau yang dikirimi sms, “Eh saya tahu duluan lho, sebelum anda tahu. Jadi aku lebih dari anda lho”. Atau apabila gosip di antara ibu-ibu arisan, si ibu inisiator gosip terdorong oleh ego-nya, dalam hati ia berkata, “Eh saya lebih tahu lho Bu, anda tidak tahu kalau bukan dari saya. Karena saya gaulnya lebih luas sih. Saya kan temannya si Anu”. Pemuasan Ego secara tak sadar merupakan alasan dibalik itu semua.
Tanggapan Pendengar/Pemirsa/Pembaca/Komunikan
Jadi sekarang kita tahu bahwa akibat faktor “ego”, objektifitas yang betul-betul objektif sangat sulit kita harapkan datang dari pihak komunikator (media). Maka, kalau kita sebagai komunikan (pemirsa, pendengar, pembaca) menerima pesan melalui media apapun yang disampaikan oleh siapapun, justru sikap kita dalam menanggapi atau respon kitalah yang harus objektif. Kita tidak boleh reaktif dalam menanggapi pesan-pesan yang dikirimkan dan sampai kepada kita.
Kita tahu bahwa ada maksud tertentu (baik atau buruk) yang dilatarbelakangi oleh ego diri (jurnalis/tim berita/pimpinan media) yang menyebabkan mereka (media) memilih, mengangkat dan menyiarkan berita/informasi tertentu.
Tentu saja mereka tak jelas-jelas menyatakannya. Karena, bukankah media harus netral? Bukankah berita di media harus apa adanya? Begitulah menurut etika pemberitaan. Tetapi itu punya akibat lain lagi, yaitu, uraian berita, atau info yang mereka angkat dan siarkan menjadi sering tak tuntas mau kemana, tidak jelas menunjukkan apa maksudnya alias “So What?/Terus apa? Jadi Kenapa? Lalu apa yang Anda (komunikator) harapkan dari saya (si komunikan) ?”. Cobalah sekarang sama-sama kita review lagi berita-berita yang baru kita dengan dengar/baca. Kemudian masukkan kata “so what” sebagai reaksi/respon kita terhadap tayangan/siaran/uraian sebuah berita, sbb:
- Presiden SBY marah kepada Nirwan Bakrie – “Jadi kenapa?”, “So What?”
- Banjir melanda kabupaten Bandung – “Terus apa?”, “Lalu..?”
- Ariel Peterpan kepergok berduaan dengan Luna Maya – “So What?“, “Terus apa?”
- Tanggal 10 nanti ada fenomena alam 1000 tahun sekali – “Jadi kenapa ?”, “Terus ..?"
- Kemacetan di Jakarta makin parah – “Terus apa yang anda harapkan dari saya?”, “Terus maksudnya supaya apa memberitakan itu kepada saya/publik, padahal masyarakat Jakarta juga sudah tahu kalau macet itu semakin parah ?”
Nah betul, bukan? Ternyata tidak jelas, bukan? Yang pasti kita tahu mereka punya “maksud” dengan memberitakan itu. Ini berlaku buat blog saya juga loh. Ego saya sudah berbangga-bangga menulis, maksudnya supaya para pembaca blog ini jangan mudah percaya oleh berita, info, sms-blast, internet, berita katanya-katanya di millist dsb. dsb... eh tahunya para pembaca blog cuma bilang, “So What?“ (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar