Cuplikan Ceplas - Ceplosnya GUS DUR
oleh Andy Rustam

Pada periode dekade 90-an, salah satu aktivitas saya ketika itu adalah sebagai penanggung-jawab RRI Pro 2 FM. Pada tanggal 31 Maret 1999, acara live “Jakarta Pagi Ini” yang dipandu oleh J. Manuju & R. Fadli mewawancarai Gus Dur. Dalam acara “live” seperti inilah kelihatan sekali bagaimana Gus Dur itu mempunyai gaya bicara yang sangat ceplas-ceplos. Tetapi jangan salah, ceplas-ceplosnya yang seolah-olah “enteng” itu sebenarnya mengandung pelajaran-pelajaran hidup yang mampu menjadi mata air inspirasi bagi kebanyakan kita orang-orang yang mau merenung dan berpikir secara mendalam. Pelajaran-pelajaran dari beliau mencakup bidang yang sangat luas, baik politik, ekonomi dan terutama tentang humanisme.
Beliau pernah berkata dalam suatu perbincangan bahwa, sebelum seseorang itu, bisa jadi seperti sekarang ini, baik sebagai agamawan, politisi, ekonom, pebisnis, tukang koran, bakul jamu, akademisi, bule, negro, anak kecil, orang tua, pria, wanita... kita semua lahir sebagai manusia. Maka “kemanusiaan” itulah yang tidak boleh kita tinggalkan. Begitu intisari ucapan beliau dalam suatu kesempatan. Tapi bukan begitu gaya penyampaiannya, melainkan begini, “..habis kalo gitu, kita bukan orang dong. Mau ngga’ dianggap bukan orang? ”, ujar beliau ceplas-ceplos.
Tentang (calon) Presiden RI seorang wanita, Gus Dur ceplas-ceplos, “Lho, ini kan soal pilihan. Artinya orang memilih, mau ngambil Megawati apa nggak? Lha kalo mereka ngga ngambil lalu siapa yang mau dimarahin? Kan pilihan. Dua-dua sama berhak. Lalu dipilih, yang wanita dan yang pria. Lalu mereka mau pilih si pria. Di Amerika yang sudah merdeka 200 tahun lebih saja, itu belum ada presiden wanita sampai sekarang.“
“Yang jelas orang itu (NU/PKB) berpegang pada hukum formal. Hukum formal itu ada dua, gitu lho. Hukum Islam formal yang ada di kitab-kitab fikih itu ‘kan? Lalu satu lagi ada Keputusan Munas NU di Lombok yang memutuskan wanita dan pria itu mempunyai hak yang sama, gitu. Lha, mempunyai hak yang sama itu kan pilihan. ‘kan bukan keharusan ‘kan?. Lha iya. Lha orang ya milih perempuannya aja atau lakinya aja. Itu nggak bisa disalahkan, karena itu faktor pendidikan dan faktor budaya itu. Saya juga dimarahin istri saya itu. Habis kok aneh wong saya ini mau mbantu Megawati kok malah dimarahin.”
Tentang Sultan Hamengku Buwono X yang juga anggota Golkar, Gus Dur ceplas-ceplos, “..dengan Sultan Hamengku Buwono X saya itu cocok, gitu lho. Kalau dibilang dia itu Golkar, ...alaaa.. Golkar itu cuma sambilan. Waktu itu (jaman orde baru) siapa sih yang nggak Golkar? Hanya beberapa orang yang berani-berani aja, yang lainnya yaa Golkar. Kalau kita terlalu suci, sok suci... ah lu Golkar lu ngga bisa. Alaa..lu sok suci. Kapan sih lu... Lu dulu ambil enaknya doang. Saya ini digencet karena bukan Golkar, habis-habisan saya nggak peduli. Sekarang orang yang (pada) begitu.. saya ngga ada apa-apa sama Golkar, kok. “
Begitulah gaya KH Abdurrahman Wahid “mengajari” kita semua. Memang kebenaran pelajaran ucapan beliau hanyalah bisa dicerna apabila kita memiliki wawasan yang luas dan jiwa yang besar. Tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta, beliau pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Terima kasih Guru, selamat jalan Gus, kami iringi engkau menuju Ar Rahman, dengan senyum, airmata dan doa. (arm)
oleh Andy Rustam
Pada periode dekade 90-an, salah satu aktivitas saya ketika itu adalah sebagai penanggung-jawab RRI Pro 2 FM. Pada tanggal 31 Maret 1999, acara live “Jakarta Pagi Ini” yang dipandu oleh J. Manuju & R. Fadli mewawancarai Gus Dur. Dalam acara “live” seperti inilah kelihatan sekali bagaimana Gus Dur itu mempunyai gaya bicara yang sangat ceplas-ceplos. Tetapi jangan salah, ceplas-ceplosnya yang seolah-olah “enteng” itu sebenarnya mengandung pelajaran-pelajaran hidup yang mampu menjadi mata air inspirasi bagi kebanyakan kita orang-orang yang mau merenung dan berpikir secara mendalam. Pelajaran-pelajaran dari beliau mencakup bidang yang sangat luas, baik politik, ekonomi dan terutama tentang humanisme.
Beliau pernah berkata dalam suatu perbincangan bahwa, sebelum seseorang itu, bisa jadi seperti sekarang ini, baik sebagai agamawan, politisi, ekonom, pebisnis, tukang koran, bakul jamu, akademisi, bule, negro, anak kecil, orang tua, pria, wanita... kita semua lahir sebagai manusia. Maka “kemanusiaan” itulah yang tidak boleh kita tinggalkan. Begitu intisari ucapan beliau dalam suatu kesempatan. Tapi bukan begitu gaya penyampaiannya, melainkan begini, “..habis kalo gitu, kita bukan orang dong. Mau ngga’ dianggap bukan orang? ”, ujar beliau ceplas-ceplos.
Tentang (calon) Presiden RI seorang wanita, Gus Dur ceplas-ceplos, “Lho, ini kan soal pilihan. Artinya orang memilih, mau ngambil Megawati apa nggak? Lha kalo mereka ngga ngambil lalu siapa yang mau dimarahin? Kan pilihan. Dua-dua sama berhak. Lalu dipilih, yang wanita dan yang pria. Lalu mereka mau pilih si pria. Di Amerika yang sudah merdeka 200 tahun lebih saja, itu belum ada presiden wanita sampai sekarang.“
“Yang jelas orang itu (NU/PKB) berpegang pada hukum formal. Hukum formal itu ada dua, gitu lho. Hukum Islam formal yang ada di kitab-kitab fikih itu ‘kan? Lalu satu lagi ada Keputusan Munas NU di Lombok yang memutuskan wanita dan pria itu mempunyai hak yang sama, gitu. Lha, mempunyai hak yang sama itu kan pilihan. ‘kan bukan keharusan ‘kan?. Lha iya. Lha orang ya milih perempuannya aja atau lakinya aja. Itu nggak bisa disalahkan, karena itu faktor pendidikan dan faktor budaya itu. Saya juga dimarahin istri saya itu. Habis kok aneh wong saya ini mau mbantu Megawati kok malah dimarahin.”
Tentang Sultan Hamengku Buwono X yang juga anggota Golkar, Gus Dur ceplas-ceplos, “..dengan Sultan Hamengku Buwono X saya itu cocok, gitu lho. Kalau dibilang dia itu Golkar, ...alaaa.. Golkar itu cuma sambilan. Waktu itu (jaman orde baru) siapa sih yang nggak Golkar? Hanya beberapa orang yang berani-berani aja, yang lainnya yaa Golkar. Kalau kita terlalu suci, sok suci... ah lu Golkar lu ngga bisa. Alaa..lu sok suci. Kapan sih lu... Lu dulu ambil enaknya doang. Saya ini digencet karena bukan Golkar, habis-habisan saya nggak peduli. Sekarang orang yang (pada) begitu.. saya ngga ada apa-apa sama Golkar, kok. “
Begitulah gaya KH Abdurrahman Wahid “mengajari” kita semua. Memang kebenaran pelajaran ucapan beliau hanyalah bisa dicerna apabila kita memiliki wawasan yang luas dan jiwa yang besar. Tanggal 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB di RSCM Jakarta, beliau pergi meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
Terima kasih Guru, selamat jalan Gus, kami iringi engkau menuju Ar Rahman, dengan senyum, airmata dan doa. (arm)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar